Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 54 : Pertemuan Pertama Kalinya


__ADS_3

Pria di depanku mendesah pelan.


"Dia bukan iblis, dia manusia.. sepertinya dia dikutuk dan satu-satunya orang yang selamat dari serangan."


"Tidak mungkin."


Pria itu mencoba memberitahuku untuk melihat sekitarnya, jelas sekali tidak ada kehidupan di sana.


Aku menjatuhkan diriku dengan lemas.


"Yap, kita tidak bisa berbuat banyak... aku juga terlambat."


Dia berjalan melewatiku begitu saja lalu berhenti beberapa saat ketika aku bertanya kembali.


"Apa yang akan kau lakukan dengan gadis tersebut?"


"Merawatnya, bahkan jika itu satu orang aku tidak akan membiarkannya mati begitu saja."


Jika demikian maka dia berniat untuk mengambil jalan berduri.


"Siapa namamu?"


"Udin, seorang petualang."


Aku hanya bisa menahan emosiku, marah, kecewa dan kesal adalah hal yang kurasakan sekaligus. Aku berteriak setelah kepergian orang tersebut.


Di dalam penginapan aku terbangun dengan perasaan hangat menyelimuti diriku, Irena yang telanjang tengah memelukku erat dan kami saling berdekatan untuk saling merasakan nafas satu sama lain. Aku juga telanjang dengan kata lain ia menggunakan sihir penyembuhan yang melalui kontak fisik seperti ini.


"Selamat pagi Fel, apa kamu sudah baik-baik saja?"


"Bisa kita menyudahi ini, aku sedikit malu."


"Aku mengerti."


Kami berdua sama-sama mengenakan pakaian kami sebelum keluar penginapan, di lantai pertama merupakan sebuah bar dan di sana Marlin dan juga Gustav telah lebih dulu memesan makanan dengan gelas bir di tangan mereka.


"Kalian sudah bangun haha mari minum," kata Gustav.


"Terlalu pagi untuk melakukannya, dan juga Marlin sebaiknya kau tidak meminumnya," kataku.


"Aku sudah cukup umur, inilah yang membuatku menjadi pria dewasa."


"Ara, Ara, kamu sepertinya terpengaruhi oleh Gustav."

__ADS_1


Aku memilih mengabaikannya dan duduk bersama Irena untuk memesan makanan. Ini sudah seminggu semenjak kami melawan Veronica dan kami sudah mengalahkan iblis lainnya juga.


"Ngomong-ngomong soal pria yang kau temui di sana Fel, apa kau sudah menemukan sesuatu?" tanya Gustav.


"Dia seorang petualang yang berpindah-pindah, aku dengar dia menjual pedangku."


"Pedangmu haha apa kau akan memburunya?"


"Aku memiliki banyak pedang tiruan jadi itu tidak terlalu aku pikirkan."


"Begitu."


Marlin terlihat berkunang-kunang sebelum ambruk di atas meja.


"Kelihatanya Marlin tidak kuat minum, apa aku sebaiknya menyembuhkannya?"


Irena memiliki mata basah dan aksen nada yang diucapkannya sangatlah lembut dan menggoda tidak aneh banyak pria yang mendekatinya. Jika bukan karena berada di dekat kami, semua pria yang melihat ke arah sini sekarang pasti sudah menyapanya.


"Biarkan saja Irena, dia akan belajar untuk menjauhi alkohol."


"Baiklah."


"Hahaha."


Sebuah pesta telah diadakan di kota terkutuk ini, aku maupun yang lainnya disuguhi makanan terbaik sementara Fel dipaksa untuk menari bersama para gadis.


Dia telihat kaku meski demikian dia menjadi gadis yang tercantik di antara siapapun.


Cosetta tersenyum riang.


"Sepertinya kamu senang melihatnya Rider?"


"Aku pernah bertemu dengannya saat menyelematkan Elina, ekpresi saat itu tidaklah seperti yang aku lihat sekarang."


"Benarkah, sekarang dia terlihat senang dan bahagia."


"Fel merasa bersalah tidak bisa melindungi kota ini namun sebenarnya dia melakukan tugasnya dengan baik hingga masih ada orang-orang yang hidup di sini walaupun terkena kutukan."


"Begitu."


"Kamu tidak mencoba menghilangkan kutukannya."


"Walau dibilang kutukan sepertinya mereka tidak keberatan."

__ADS_1


Aku kemudian melihat ke arah patung pahlawan.


Mereka hanya ada empat orang, meski mereka kuat tidak mungkin untuk mereka selalu ada di semua tempat yang terdampak akan serangan iblis.


Itu seperti di saat mereka menyelamatkan satu kota maka di sisi lain ada kota yang dihancurkan. Karena itulah, bukan salah mereka jika mereka tidak bisa menyelamatkan semua orang.


Seperti yang dewi itu katakan, dunia ini sangatlah berbahaya dengan angka kehidupan sangatlah sedikit.


"Guru makanlah daging ini."


"Ini juga."


"Kalian berdua aku bisa makan sendiri."


Elina yang memperhatikan hanya tersenyum kecil.


Sebelum pagi menjelang kami berpamitan dengan penduduk kota ini, mereka memberikan buah pertumbuhan yang masing-masing diberikan pada Claudia dan Cosetta.


"Kalau begitu jaga diri kalian."


Fel membungkuk pada mereka yang mulai tidak terlihat satu persatu sebelum akhirnya mengikuti kami dari belakang.


Ini adalah buah yang terakhir, syukurlah bahwa mereka masih menyimpannya.


Beberapa tahun yang lalu pohonnya mati itulah alasan kenapa kami tidak bisa menemukannya di sana.


Kami membeli pakaian di kota terdekat yang tidak jauh berbeda dengan pakaian keduanya pakai.


Di dalam kamar penginapan entah Cosetta ataupun Claudia melepaskan pakaian sebelumnya lalu memakan buah yang besarnya seperti sebuah anggur tersebut, seperti yang bisa diduga tubuh mereka mulai membesar menjadi tubuh gadis berusia 15 tahun.


Aku menyaksikan bagaimana dada mereka semakin tumbuh lalu mendesah pelan.


"Ibu Claudia pasti akan terkejut bahwa putrinya telah tumbuh dengan cepat."


"Aku juga berfikiran sama tuan Rider."


Fel yang keluar sejak tadi menyelinap masuk dari jendela.


"Um, kalian jadi tambah cantik."


"Tentu saja, ini akan mampu memikat Rider."


Terhadap perkataan Cosetta yang sesat, Claudia mengangguk mantap.

__ADS_1


Sementara mereka berdua memakai pakaian baru, Fel menjelaskan situasi yang terjadi.


__ADS_2