Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 21 : Pahlawan Elf


__ADS_3

"Silahkan nona, roti lapis."


"Banyak sayurannya?"


"Sayur baik untuk pertumbuhan Anda, jadi lebih banyak akan lebih bagus."


"Pertumbuhan, aku harap dadaku bisa sebesarmu."


"Semoga beruntung."


"Rider, kau baru mengejekku yah.."


"Tidak juga."


Kami memakan roti bersama dengan santai selagi melihat pemandangan hamparan rumput serta bunga yang tertiup angin, ketika kami kembali ke kota labirin di tengah jalan seseorang yang mengenakan mantel bertudung telah melompat padaku selagi mengarahkan belati di depan wajahku dengan ekpresi mengerikan.


Elina dan Cosetta yang melihatnya hanya memberikan komentar tidak berarti.


"Sosok Rider memang dibenci, tidak aneh bahwa ada satu atau dua orang yang ingin membunuhnya."


"Aku juga berfikiran demikian karena tuan Rider tidak peka."


"Bukan waktunya mengatakan hal tidak-tidak, bisakah kalian membantuku."


Mereka berdua mengangkat tangan.


Seorang yang menindihku memiliki tubuh mungil, meski demikian tidak diragukan lagi bahwa dia sangatlah kuat hingga bisa menjatuhkanku.

__ADS_1


"Akhirnya aku menemukanmu, sekarang bisakah kau menyerahkan pedang suciku."


"Pedang suci, aku tidak mengerti apa yang kau katakan?"


"Mungkin rasa sakit akan mengingatkanmu."


"Oi, hentikan... bukan cara seperti ini untuk mengajak seseorang berbicara."


"Kurasa kau benar."


Dia akhirnya bangun lalu melepaskan tudung dari wajahnya, yang ada di baliknya adalah wajah gadis kecil cantik dengan rambut perak bergaya twintail serta mata emas mengkilap.


Dia adalah elf, terlebih seorang yang aku sudah tahu sejak lama.


Pahlawan dari selatan, Felsia, atau sering lebih disebut pahlawan Fel.


"Aku sudah mencarimu sejak lama, tapi sudah kuduga kau terus berpindah-pindah hingga mengganti namamu, sekarang berikan."


"Tuan Rider lebih baik Anda berikan."


"Aku sarankan begitu juga, dia sepertinya sangat marah."


"Meski kalian bilang begitu aku tidak tahu soal pedang suci, jika aku ingat terakhir kali aku menemukan pedang di jalan saat melawan seekor naga, aku mendapatkannya karena itu menancap di tubuhnya karena aku sudah punya pedang jadi aku menjualnya."


"Kamu menjualnya," ucap Fel lemas sedangkan Cosetta sudah mendekatkan wajahnya dengan mata tertarik.


"Kamu seorang elf, terlebih tinggimu setara denganku.. apa elf semuanya kecil dan imut sepertimu."

__ADS_1


"Tidak begitu juga, beberapa ada yang tinggi dan juga, walau aku kecil umurku lebih tua darimu."


"Benarkah, boleh aku memelukmu."


"Namamu di sini Rider kan, siapa gadis ini? Gadis ini mengerikan."


"Sesuai yang diharapkan dari pahlawan kau langsung menyadarinya."


Fel dengan susah payah ingin melepaskan diri dari Cosetta sayangnya itu sia-sia saja saat tubuhnya benar-benar dipeluk erat olehnya.


Aku berkata padanya.


"Aku minta maaf soal pedangnya, jika aku ingat... pedangmu aku jual di daerah selatan pada seorang bangsawan, meski sudah berlalu beberapa abad, aku yakin pedang itu diwariskan secara turun menurun di keluarganya"


"Apa aku harus kembali ke sana."


Fel menodongkan pisau padaku.


"Sebaiknya kau membantuku untuk mendapatkannya kembali."


"Perjalanan ke selatan cukup jauh, aku tidak punya.."


"Tidak masalah Rider, mari lakukan... ini kesempatan bagus untuk berpetualang dengan seorang pahlawan. Aku juga sesekali ingin melihat dunia luar."


"Itu ide bagus nona."


Jika sudah sejauh ini maka aku tidak bisa menolaknya lagipula petualang seperti ini mungkin hal yang diinginkan oleh Cosetta.

__ADS_1


Sekembalinya ke wilayah kumuh yang aku lihat sekarang jauh tidak terduga, Cosetta mandi bersama dan bahkan bermain game bersama.


Yang kulihat bukan seorang mantan bangsawan dan pahlawan melainkan hanya dua gadis kecil pada umumnya.


__ADS_2