
Aku bisa menemukan Cosetta terlihat bosan selagi duduk bersandar di pohon.
"Lama sekali Rider, aku sudah lapar ini."
"Bukannya seharusnya kau yang membuatkanku makanan?"
"Maksudku aku tidak bisa makan sebelum kamu juga berada di sini."
"Lupakan saja, godaanmu tidak berpengaruh padaku."
"Apa? Padahal barusan moe-moe attack milikku."
Elina memberikan buah ke setiap orang termasuk aku sebelum mendiskusikan apa yang akan kami lakukan berikutnya.
"Fel bilang ingin menyelamatkan kota ini, jadi kurasa aku akan membantunya."
Fel memiringkan kepalanya menatap ke arahku.
"Apa yang kau rencanakan?" balasnya selagi menyembunyikan dadanya.
Orang ini mulai menyebalkan seperti Cosetta.
"Padahal sebelumnya kau bilang kau akan pergi tanpa peduli dengan kota ini."
"Aku berubah pikiran saat iblis itu bilang mau menjadikan manusia sebagai hewan peternakan, sejak dulu aku membenci hal seperti itu."
"Jadi begitu."
Claudia maupun Cosetta kini menantapku dengan mata anak kucing.
"Kalau begitu kami juga akan bertarung dengan iblis."
__ADS_1
"Aku juga ingin mencobanya guru."
"Kalian masih belum kuat untuk melakukannya, melawan monster kuat juga belum pernah kalian lakukan."
"Yah, itu benar juga tapi."
"Tidak ada tapi-tapian. Elina akan tetap di sini untuk mengawasi kalian berdua jika terjadi sesuatu kalian bisa pergi dengan cepat."
Dua melawan puluhan iblis bukan sesuatu yang sulit bagi kami berdua.
Sebuah pertemuan telah dilakukan dua iblis bersama wanita pendeta bernama Armisa. Menggunakan teropong aku bisa melihat mereka dari kejauhan.
Fel bersembunyi di sebelahku menanyakan apa saja yang aku lihat sekarang.
"Mereka saling berbicara ringan dan tertawa bersama... yang satu pria iblis dengan rambut merah dan satu lagi wanita iblis dengan rambut ungu."
"Biar aku melihatnya."
Dia mengambil teropong yang aku gunakan.
"Apa Lucifer kuat?"
"Dia ahli dalam sihir api."
Seolah ketertarikannya menghilang Fel dengan ringan mengembalikan teropongnya padaku.
Aku bisa melihat sekarang bahwa wanita iblis itu sudah menghilang.
"Dia pergi."
"Ke mana?"
__ADS_1
"Entahlah."
Suara lain datang memotong.
"Kalian berdua, mengintip orang lain adalah perbuatan tercela."
"Kami tahu itu, tapi sekarang kami punya urusan mendadak."
Ketika aku dan Fel hendak berbalik kepala kami telah didorong jatuh ke bawah hingga tidak bisa bergerak.
"Jika kalian berdua di sini maka Beelzebub sudah mati."
"Kau wanita iblis yang cerdas rupanya," kataku demikian.
Iblis ini hanya menghela nafas panjang tanpa melewatkan satu kesempatan untuk melihat apa yang dilakukan rekannya yang lain.
"Kurasa Lucifer sudah selesai di sana."
Selesai apa maksudnya?
Aku dan Fel mengalihkan pandangan dan melihat bahwa dada pendeta itu telah tertembus oleh tangan milik Lucifer sebelum akhirnya dibuang ke samping.
Tubuh Armisa yang terbang mulai jatuh ke bawah setelah menghancurkan jendela selanjutnya menabrak trotoar dengan wajah lebih dulu, tidak perlu ditanyakan lagi bahwa kepalanya hancur begitu saja.
Semua orang yang melihatnya berteriak histeris.
"Bukannya itu.."
Iblis yang sebelumnya bekerja pada mereka mulai menunjukkan taringnya, mereka melompat untuk menjatuhkan tuannya lalu mengigit leher mereka sebelum meminum darah mereka, pria, wanita, muda, tua, anak-anak ataupun dewasa semuanya dibunuh dengan brutal.
Beberapa orang melarikan diri namun hanya beberapa meter sebelum mereka dibunuh juga. Beberapa bahkan dimakan di tempat.
__ADS_1
"Pesta kami telah dimulai sekarang."
Aku menebaskan pedang hingga wanita iblis itu menghindarinya di waktu yang tepat, untuk Fel sendiri dia telah melompat turun.