Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 34 : Rute Perjalanan


__ADS_3

Entah Claudia atau Cosetta keduanya hanya terbaring di rumput kelelahan.


"Kau benar-benar melatih mereka sangat keras."


"Aku hanya melakukan tugasku."


"Sungguh mengejutkan bahwa orang sepertimu mengatakan hal demikian."


"Berhentilah berbicara dengan nada sarkas."


"Jadi di mana kau menjual pedangku?"


"Di kota Osiana, aku tidak ingin datang ke tempat itu jadi mari pergi ke kota lain."


Fel menarik pedangnya.


"Kau menjual pedangku di sana tapi kau bilang kita harus ke kota lain, bukannya sampai kapan pun aku tidak akan bisa menemukannya."


"Yah, sejujurnya aku tidak tahu bangsawan yang mana yang telah mengambilnya."


"Kau mencoba mempermainkanku?"


"Tentu saja tidak, aku memang menjualnya kepada bangsawan namun aku tidak tahu bangsawan mana yang telah membelinya karena dijual melalui pelelangan, yang aku tahu aku dapat banyak uang."


Fel menghela nafas panjang sebelum menyarungkan kembali pedangnya.


"Aku tidak tahu kenapa orang sepertimu berhasil mengalahkan raja iblis, kita akan tetap pergi ke kota Osiana untuk mencari tahunya."


"Ugh."

__ADS_1


Aku bisa merasakan keringat dingin menjalar di punggungku.


Pagi berikutnya kami telah melewati gunung untuk singgah di sebuah kota paling dekat, Fel yang menyembunyikan wajahnya telah berdiri di depan loket perjalanan. Di selatan sendiri jasa seperti ini adalah suatu hal yang biasa.


Tidak menggunakan kuda melainkan seekor kadal yang cukup kuat dalam berlari, penumpangnya sendiri duduk di punggungnya dan muat hingga enam orang.


"Kami butuh perjalanan ke kota Osiana," kata Fel menyerahkan uang sekitar 5 koin emas.


"Angkutan ke Osiana akan tiba satu jam lagi."


"Kami mengerti."


Harganya memang jauh mahal dibandingkan menggunakan kereta kuda, selama itu kami akan menghabiskan waktu di kedai untuk menikmati makanan khas dari kota ini.


Claudia dan Cosetta tersenyum masam saat di atas piring mereka diletakkan ulat utuh yang dibumbui saos dan beberapa sayuran segar.


"A-apa ini bisa dimakan guru?"


"Tidak, tidak, aku ingin makan yang lain."


"Aku akan mencobanya sedikit."


"Kak Cosetta?


Fel, aku dan Elina sudah lebih dulu memakannya, ini seolah terdengar bohong tapi ulat ini memang terasa enak, mirip semacam daging ayam atau kambing kurasa.


"Bagaimana kak Cosetta?"


"Enak, rasanya sedikit kenyal... gurih, gurih nyoi."

__ADS_1


"Kurasa aku juga akan mencobanya... whoaaa, apa ini benar-benar daging ulat?"


Elina memberikan penjelasan.


"Ulat ini bukan larva dari lalat yang berada di dalam daging busuk atau buah-buahan, ulat ini hidup di dalam pohon-pohon raksasa yang sudah mati jadi semuanya aman."


"Begitu."


"Mereka di sini menyebutnya hidangan ulat sagu, aku tidak tahu bagaimana mereka menemukan menu seperti ini tapi syukurlah bahwa Nona Claudia ataupun Nona Cosetta menyukainya."


Sebenarnya aku sudah tahu siapa yang menemukan hidangan ini.


Seperti yang semua orang bisa duga.


Itu adalah aku.


Aku yang memperkenalkan menu ini.


"Sepertinya kau tidak terganggu dengan makanan seperti ini Fel?" tanyaku padanya.


"Kami elf tinggal di hutan, di masa lalu para elf hanya memakan serangga dan daging mentah saja tapi kebanyakan hanya memakan buah-buahan."


"Di masa lalu berarti sekarang tidak?" tanya Claudia.


"Iya, ada beberapa elf yang menikah dengan manusia dan dari sana kami mulai memiliki kehidupan berbeda."


"Setengah elf dan elf murni sepertinya terlihat akur," kataku demikian.


"Jumlah elf sedikit karena itulah mungkin akan jarang menemukan elf murni sepertiku, bukan berarti Half-elf juga banyak."

__ADS_1


"Aku bisa mengerti apa yang coba kau katakan."


__ADS_2