
"Tatapan yang bagus, apa kau ingin membunuhku?"
"Itu tidak perlu ditanyakan lagi," balas Fel mengerenyitkan kening.
Aku bisa mempertahankan pandanganku karena itulah bahkan iblis di depanku tidak akan menyadarinya.
"Namaku Beelzebub, sebelumnya aku adalah salah satu wakil komandan raja iblis tapi seperti yang sekarang kau lihat aku menjadi salah satu pemimpin mereka bersama dua orang lainnya."
"Baik sekali kau mengatakannya begitu saja."
"Tidak masalah lagipula aku akan membunuh kalian berdua di sini, kau dan pelayanmu."
Aku tentu segera menyela.
"Maaf mengecewakanmu, tapi aku ini bukan pelayannya aku hanya pengangguran yang ikut dengan pahlawan."
"Pengangguran hahaha, tak kusangka ada orang yang mau berurusan dengan orang yang lebih rendah dari sampah."
"Permisi?"
Fel memasang wajah lelah.
"Kau bisa abaikan orang ini, lalu apa ini artinya kau sedang mencoba balas dendam padaku. Aku yakin bahwa semua orang mengetahui bahwa bukan aku yang mengalahkan raja iblis."
"Aku juga yakin kau hanya mencoba menyembunyikannya, sampai sekarang aku tidak yakin ada orang yang lebih kuat darimu... dan juga jangan salah paham, iblis tidak memiliki perasaan seperti manusia, kami tidak memiliki kebencian maupun kasih sayang, kami hidup layaknya monster."
__ADS_1
"Jadi apa yang ingin kau lakukan terhadap kota ini?" Fel menanyakan hal yang sama yang ingin aku ketahui.
"Kami akan menjadikan kota ini sebagai peternakan.. ketika kami sudah kuat kami akan mencoba sekali lagi mengambil alih dunia ini."
"Ironis sekali."
Beelzebub menarik sebuah pisau dari tangannya.
"Aku selalu menahan keinginan untuk memakai daging manusia tapi aku sama sekali tidak ingin memakan dagingmu, kuyakin itu karena dagingmu sangat busuk.. matilah."
Ketika dia hendak menebaskan pisau kepalanya lebih dulu terbang ke udara, ekpresinya tampak memucat saat kepalanya diinjak olehku.
"Mu-mustahil, bagaimana bisa? Seharusnya rantai itu menahan mana seseorang."
"Walau kepalamu dipenggal kau masih bisa bicara, bukannya itu luar biasa," kataku yang memegang pedang hitam.
"Kau mungkin tidak tahu, tapi aku adalah orang yang mengalahkan raja iblis," kataku bangga.
Melihat bagaimana ekspresiku berubah menjadi penuh kebencian iblis tersebut terkejut.
"Ka-kau?"
Aku menginjak kepalanya lebih kuat hingga hancur, tubuhnya mulai menguap menjadi daging busuk hingga akhirnya menyisakan tulang berulang.
Begitulah saat iblis mati.
__ADS_1
"Benar-benar tidak ada ampun."
"Jika aku tidak membunuhnya secara cepat kau akan dalam bahaya kau tahu."
Aku menebas rantai yang mengikat Fel dan ia segera menarik pedangnya sebelum berlari ke luar, aku yang memperhatikan dari belakang mendesah pelan lalu menjentikkan jariku hingga dia teriakan oleh tali.
"Rider, apa yang kau lakukan? Aku harus menyelamatkan kota ini."
"Kau ini terlalu gegebah, apapun yang kau katakan semua orang tidak akan mempercayaimu, mereka sudah terlalu percaya pada iblis.. apa jika seseorang muncul dan bilang bahwa mereka jahat mereka mau menerimanya."
"Soal itu?"
"Tentu jawabannya tidak bukan, satu hal yang bisa kita lakukan adalah bertindak setelah mereka melepas topeng mereka."
"Itu mengejutkan, ternyata kau pintar."
"Kau membuatku kesal."
Di atas bangunan rumah aku dan Fel menatap semacam bola cahaya yang melayang di sana. Kemungkinan besar itu semacam artifak sihir yang dimiliki pendeta tinggi tersebut.
"Benda itu pasti yang memberitahunya jika seseorang memiliki niat untuk membunuh iblis, karena itulah kita tidak bisa mengetahui keberadaannya."
"Jika kita menghancurkannya dia akan langsung muncul."
Aku mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
Yang bisa aku pikirkan sekarang adalah menemui yang lainnya dulu di luar kota.