Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 83 : Bersama Party Pahlawan


__ADS_3

Tiga tahun sebelum raja iblis dikalahkan.


"Maaf tuan tapi lisensi petualang Anda sudah ditarik, Anda selama tiga bulan lebih tidak mengambil pekerjaan di guild."


Ketika resepsionis mengatakan itu aku menjatuhkan kepalaku di meja loket.


"Aku terperangkap di dungeon selama ini, apa tidak ada pengecualian."


"Sayang sekali, jika Anda mau maka Anda harus mendaftar ulang."


Resepsionis menggerakan kepalanya ke kiri ke kanan untuk mengisyaratkan perjuanganku yang sia-sia. Padahal aku sudah berada ditingkat atas kini harus memulai F lagi.


"Kalau begitu apa boleh buat, tolong daftarkan aku lagi."


"Terima kasih banyak atas pengertiannya."


Setelah punya uang banyak, aku akan berhenti bekerja lalu hidup sebagai pengganguran saja.


Aku menerima kartu yang baru yang keseluruhannya menempatkan wajahku di dalamnya.


"Aku masih ganteng seperti yang aku ingat."


Resepsionis tertawa.


"Apa aku harus meminjamkan cermin untuk Anda?"


Nih orang kurang ajar walaupun cantik.


"Hanya dua orang yang menyebutku ganteng ibuku dan aku, terserah aku ingin mengatakan apapun."


"Baik, baik, aku cuma bergurau."


Tepat aku yang berdebat dengan resepsionis, seorang wanita telah menyela pembicaraan.


"Kami ingin mengambil quest ini, mohon diurus."

__ADS_1


Ia memiliki wajah cantik khususnya satu hal darinya.


"Dadamu gede banget."


"Perkataan barusan sudah cukup membuatmu di penjara anak muda."


Aku berteriak ke arah kumpulan petualang yang hanya duduk di belakangku.


"Aku dipanggil anak muda, lihat kalian semua wajahku masih muda bukan, kakak cantik ini memanggilku begitu."


"Kenapa pria ini?"


"Abaikan saja, ia sering disebut pria tua, Orc jadi-jadian dan sebagainya, sepertinya ia senang bahwa nona Irena memanggilnya anak muda."


"Sampai segitunya."


Irena yang dimaksud mendesah pelan.


"Siapa namamu anak muda."


"Udin."


"Rank terbawah."


"Berjuanglah."


"Jangan tiba-tiba bersikap jijik padaku."


"Aku tadinya ingin mengajakmu berpetualang tapi hmm kamu kurang menjanjikan."


Semua orang di dunia ini sangat seenaknya saja, bukan berarti aku ingin juga.


Yah jika aku punya kesempatan aku mungkin bisa menyentuh dadanya.


"Kalau begitu sampai jumpa, jaga dirimu Udin."

__ADS_1


"Kau juga."


Aku memilih quest secara acak dan memilih pekerjaan paling muda dari semua hal, mengumpulkan herbal.


Dengan keranjang di punggungku aku telah pergi ke hutan sekitar, aku mengutuk dunia ini yang memperlakukan orang pas-pasan seperti ini. Padahal jika tidak ada aku orang ganteng tidak akan disebut ganteng jika tidak ada pembanding.


Aku serius.


Aku memetik setiap daun lalu memasukannya ke dalam keranjang untuk memenuhinya sampai penuh, sekembalinya ke guild wajah seseorang mengejutkanku.


Dia adalah seorang elf yang duduk dengan gelas bir di tangannya serta kelompoknya.


"Kau pahlawan elf yang datang terlambat."


"Apa maksudnya dengan sebutan itu."


"Dan kau wanita pendeta berdada besar yang ingin aku gerayangi."


"Kamu begitu jujur akan nafsumu."


"Dan kau pria Dwarf dan pria penyihir yang ingin aku kubur di belakang rumah."


Setelah aku mengatakan itu kedua orang yang aku maksud menginjak-injakku.


"Hentikan."


Fel memotong.


"Apa kalian mengenalnya?"


"Kami kebetulan bertemu dengannya di hutan, dia menghancurkan sarang lebah, sementara kami dikejar dia mengambil madu untuk dirinya sendiri."


Itulah yang terjadi sebelum aku datang kemari.


"Baiklah aku minta maaf untuk itu, aku akan mentraktir kalian minum satu gelas bir, tapi setelah aku menukarkan ini."

__ADS_1


"Sebaiknya kau tidak bohong untuk satu ini."


Aku mengangguk mengiyakan.


__ADS_2