Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 22 : Pembicaraan Dua Pahlawan


__ADS_3

Aku menghabiskan waktu malamku dengan duduk di genteng rumah selagi menyaksikan matahari terbit, tentu saja dari sini akan terhalang oleh tembok tinggi kendati demikian itu bukan menjadi masalah.


"Tidak biasanya orang yang suka berpetualang sendiri terikat dengan dua orang, terlebih salah satunya ras iblis, aku ingat kau sangat membenci mereka."


Suara itu berasal dari Fel yang melompat dan duduk di sampingku, dia mengenakan pakaian simpel mirip sebuah jaket putih serta celana panjang berwarna kuning, atau lebih tepatnya stoking.


Dari dulu dia memang selalu suka warna-warna cerah.


"Mungkin bisa dikatakan itu takdir," terhadapku yang menjawab seadanya Fel tersenyum.


Jika dari luar kami terlihat muda namun pada dasarnya untuk manusia, kami lebih seperti kakek dan nenek yang bisa hidup abadi sampai kapanpun.


Elf memang berumur panjang tapi aku tidak berfikir bahwa Fel bisa mati jika tidak ada seseorang membunuhnya, itu karena tubuhnya diselimuti mana yang begitu besar walaupun dia memang selalu menekannya sebaik mungkin.


Mana bisa digunakan untuk meregenerasi saraf, tubuh serta penampilan lainnya, karena itulah dia akan selalu seperti itu sampai kapan pun.


Aku bisa mengatakan dia monster dari monster namun di saat yang sama dia berkah yang diberikan semesta untuk menyelamatkan dunia ini walau pun pada akhirnya aku sendiri yang membunuh raja iblis.


"Aku memiliki kesepakatan terhadap gadis tersebut dan untuk Elina, aku yang membesarkannya sejak kecil."


"Begitu? Pantas ada yang aneh dengan wanita itu.... bagaimana penampilan iblis mereka hanya diciptakan sebagai monster, mereka akan memakan manusia dan membunuh mereka, aku sering melihat bagaimana mereka melakukan tipu daya muslihat untuk membuat mereka bisa mengendalikan manusia, mengirim anak mereka dan mencoba bernegosiasi hingga akhirnya manusia bisa dibantai, apa yang dikatakan iblis semuanya dusta, apa kau mengerti itu?"


"Tentu. Biar aku ingat, dulu ada iblis yang meminta pengampunan karena dia bilang ingin mencari adiknya yang hilang, dia bahkan sampai menangis dan di saat yang sama aku membunuhnya."

__ADS_1


"Hoh, itu cukup kejam... lalu kenapa kau membesarkan Succubus?"


"Pada awalnya Elina bukanlah iblis, dia manusia."


"Manusia? Kau mau mengatakan bahwa dia terkena kutukan."


Aku mengangguk mengiyakan lalu melanjutkan.


"Suatu hari aku pernah singgah di sebuah desa yang diserang Komandan Raja iblis, dia bernama Orion yang ahli dalam kutukan."


"Ah iblis itu kah... dia sering melakukan ekprerimen pada manusia untuk bisa mengendalikannya dengan kutukan."


"Saat itu aku berhasil melindungi Elina sayangnya saat kematian Orion dia mengirim kutukan padanya dan diluar dugaan itu berhasil."


"Aku tidak mungkin membunuh anak yang sudah berusaha aku selamatkan jadi saat Itulah aku membesarkannya."


Fel tersenyum seolah tidak terlalu mempedulikannya.


"Aku bisa mengerti itu, pantas saja dia tidak memiliki niat memakan manusia, dan bagaimana caranya manusia tidak memburunya?"


"Aku memintanya masuk ke dalam fraksi militer dan membuat namanya terkenal hingga ia mendapatkan pengakuan dari semua orang."


"Kejam sekali, kau menyuruhnya untuk melakukan hal yang tidak kau sukai."

__ADS_1


"Walau begitu aku senang bahwa dia telah bisa melewati kesusahan itu."


"Begitu."


Keheningan terasa di antara kami berdua.


"Lalu apa kau sudah berbicara dengan Cosetta?"


"Tadinya aku ingin pergi dalam waktu cepat tapi ia bilang, bisakah kau pergi saat kami selesai mengurus wilayah kumuh."


"Dan kau?"


"Tentu saja aku menolak namun dia itu gadis yang licik hingga aku terjebak untuk menurutinya."


"Apa yang dia tawarkan?"


"Final Fantasy 7."


"Game rupanya."


"Seharusnya dari awal aku tidak boleh memegangnya."


Aku hanya menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


__ADS_2