
Tak jauh dari kota labirin pertempuran telah terjadi, para pasukan militer dari kerajaan Hermione mulai mendorong kembali mundur pasukan Astrea dengan pasukan mereka, sudah jelas bahwa kemenangan akan diraih oleh pasukan Hermione yang sebagian besar merupakan pasukan elit militer yang dipimpin oleh wanita bernama Lucia Braklyn, Lucia Braklyn sendiri menggunakan pedang sebagai senjatanya.
Jika berbicara penampilannya dia memiliki rambut cokelat yang diikat ekor kuda panjang sampai pinggul, memiliki mata merah Ruby yang dipenuhi tekad kuat serta tinggi badan wanita rata-rata.
"Tembak," mengikuti perintah, anak buahnya mulai menembakan meriam secara berurutan dan tak perlu waktu lama untuk mengklaim kemenangan seutuhnya.
"Amankan yang masih hidup dan bakar yang mati."
"Baik mayor."
"Jangan khawatir kami tidak seperti kalian, kami memiliki adad sebagai manusia, setiap tahanan akan diperlakukan semestinya."
Lucia menarik nafas dalam-dalam lalu menyarungkan kembali pedangnya sampai seorang bawahannya muncul.
"Mayor, saya punya informasi penting."
"Apa itu?"
"Kota labirin telah diserang musuh."
"Kota labirin memiliki cukup petualang kuat, aku pikir mereka tidak akan apa-apa."
"Menurut laporan orang yang menyerang mereka Necromancer Pride."
Mendengar nama itu membuat Lucia sedikit mual.
"Salah satu dosa besar mematikan, sial... jika dia benar-benar menyerang kota itu, maka kita akan mengalami kerugian, tolong siapkan 10 orang, aku akan memimpin langsung ke sana."
"Dimengerti."
__ADS_1
Lucia naik ke atas kuda dan ia segera memacunya dengan kecepatan tinggi, adapun bawahannya mengikuti dari belakang.
"Mayor tenanglah, Anda tidak sedang tidak berfikir jernih."
"Mana bisa aku tenang, kota labirin adalah aset terpenting bagi kerajaan ini dalam sumber daya manusia, terlebih di sana banyak orang-orang yang memutuskan hidup tanpa bertarung juga."
"Mayor."
"Sialan kalian kerjaan Astrea, kalian menyewa dosa mematikan juga."
"Apa orang itu kuat?"
"Dibandingkan dosa lainnya dialah yang paling menjijikan, kudengar bahkan saat anggotanya mati dia menjadikan mereka mayat hidup dan memberi nama mereka dengan sebutan tujuh kage bersama dirinya."
"Benar-benar orang mengerikan."
"Apa itu?"
"Datangnya dari arah kota labirin."
"Kita bergegas."
Lucia telah memikirkan situasi terburuk di dalam benaknya, mereka kemungkinan akan kehilangan kota labirin selamanya meski demikian dia berharap bisa menyelamatkan seseorang walaupun hanya satu orang saja.
"Jangan mati."
Ketika mereka melewati hutan, dan hanya sedikit lagi sampai kota labirin mereka segera dikejutkan dengan hal yang tidak terduga.
Di depan kota labirin sebuah kawah raksasa menyerupai danau telah terbentuk sangat dalam. Tidak ada apapun yang bisa digambarkan dari pemandangan itu melainkan sebuah bencana yang mengerikan.
__ADS_1
Semua orang tercengang.
"Apa-apaan ini makhluk macam apa yang bisa menggunakan sihir sebesar ini?" ucap bawahan Lucia namun Lucia sendiri lebih fokus terhadap kota yang masih berdiri tanpa kerusakan berarti.
Dia menerobos masuk dan melihat bahwa sekelilingnya telah dipenuhi oleh penduduk yang juga kebingungan.
Lucia turun dari kudanya dan bertanya pada salah satunya.
"Kalian baik-baik saja, apa yang terjadi di sini?"
"Kami juga tidak tahu, ada sebuah penyerangan besar-besaran di kota dan di luar katanya ada 50.000 pasukan tengkorak namun saat kami bersedia untuk menerima takdir kami sebuah pilar api raksasa muncul setelah itu seluruh musuh menghilang."
"Ini tidak masuk akal."
"Mayor, apa ada seseorang yang menyelamatkan kota ini?"
"Jelas seperti itu, tapi siapa?"
Lucia melirik ke segala arah hingga pandangannya terhenti pada seorang pria yang sedang berbaring di kursi panjang.
Ia memiliki rambut hitam dengan pakaian pada umumnya yang ditutup kembali mantel panjang.
"Siapa dia?"
"Dia Rider, seorang pengangguran... ia selalu tidur di sana sesekali atau berbaring di jalanan, kami menyebutnya seorang sampah masyarakat."
"Sampah masyarakat? Kalian tolong selidiki kotanya, aku akan sedikit bertanya padanya."
"Baik."
__ADS_1