
"Bagaimana?"
"Informasi ini belum menyebar ke luar namun dipastikan dari 12 murid elit di sekolah ini, setengahnya telah dinyatakan tewas tuan."
"Kamu yakin Elina?"
"Tidak salah lagi, rinciannya sendiri mereka ditemukan dengan tubuh mengering."
Aku diam memikirkannya, jika sudah sebanyak itu yang mati seharusnya sekolah ini telah ditutup sementara waktu.
"Lalu bagaimana soal siswa lainnya?"
"Karena insiden ini, sisanya memutuskan untuk tidak sekolah lagi kecuali salah satu murid bernama Frizt, sampai saat ini hanya itu informasi yang aku temukan tuan."
"Dari yang aku dengar reputasi 12 murid elit sangatlah buruk apa menurutmu mereka diserang murid yang pernah mereka bully."
"Itu mungkin saja."
Aku dan Elina mengalihkan pandangan ke Fel. Hampir semuanya telah disampaikan oleh Elina jadi dia hanya mengangkat bahunya ringan.
"Apapun itu, sebaiknya kamu melihat kondisi mayat mereka."
Itu memang benar.
"Fel bisakah kamu melindungi satu murid elit di tempat ini?"
"Maksudmu Frizt Fulsa."
"Benar, jika bisa menyamarlah jadi siswa dan dekati dia."
"Meski kau mengatakan itu, aku tidak cocok dengan pakaian seperti itu."
"Apa maksudmu, kamu akan terlihat cantik dengan hal seperti seragam sekolah."
__ADS_1
Bukannya terlihat malu, Fel lebih suka memukulku dengan keras.
Ini kedua kalinya aku dipukul dalan waktu satu hari.
"Jangan mengatakan hal aneh, pokoknya aku hanya akan mengawasinya dari kejauhan."
Fel menghilang dan hanya menyisakan rasa sakit di tubuhku. Elina menyela.
"Apa tuan Rider sudah menemukan kemungkinan siapa dalang dari semua ini."
"Iya, tapi aku belum yakin sebelum menemukan bukti yang cukup kuat.. Elina tolong terus bersiaga di luar kota."
"Baik."
Elina menghilang.
Sudah ada siswa yang meninggal maka ini bukan masalah yang sepele, aku hanya menebak bahwa kota ini akan menjadi medan perang ke depannya.
Sebagai guru akademi aku memiliki asrama pribadi dan sekarang aku merasa bebas dari dua muridku yang menjengkelkan.
Aku ingin mengatakan itu sebanyak yang aku inginkan, ada Elina yang tertidur di sebelahku jadi peduli amat. Ketika berpetualang aku memang sering tidur bersebelahan dengannya.
Dia lebih tenang dari siapapun.
Untuk Fel aku yakin dia tidur di penginapan atau sebagainya.
"Kalau begitu selamat malam Elina."
"Selamat malam tuan Udin."
Dia menjawabku selagi mengigau.
***
__ADS_1
Lima tahun sebelum kekalahan raja iblis.
Sebuah kaki baru saja menendang wajahku, aku melihat pelakunya dan itu berasal dari Elina yang tidur secara berantakan.
"Tuan aku berhasil, lihat baik-baik."
Dia berteriak seperti itu selagi memeluk pedang yang beberapa waktu lalu diambil dari pemukiman dwarf.
Pedangnya sendiri lebih besar darinya seolah dibuat untuk orang dewasa. Dia juga memiliki sebuah mantel militer sebagai permintaan maaf karena sebelumnya kami pernah dituduh sebagai mata-mata iblis.
Ia membuka matanya.
"Selamat pagi tuan, apa tidurmu nyenyak?"
"Pagi dengkulmu, bisa kau segera bangun."
"Maafkan aku, aku telah menginjak wajah agung tuan Udin."
"Tidak masalah, lagipula wajahku pas-pasan," kataku datar.
Kami sarapan seadanya sebelum melanjutkan perjalanan.
Tempat yang akan kami tuju merupakan sebuah kerajaan bernama kerajaan Hermione.
Di sana memiliki dua fraksi kesatria dan militer, dan aku ingin mendaftarkan Elina di salah satunya.
Pada akhirnya aku tidak akan selalu bersama dirinya meski demikian aku akan mengunjunginya jika punya waktu ataupun mengirimnya surat, tidak aku sangka ternyata aku cukup sentimental untuk urusan seperti ini.
Tak lama kemudian seekor Giant Bear muncul di depan kami, dengan satu tebasan Elina berhasil menumbangkannya.
"Apa rasanya enak?"
"Berhubung dekat dengan kota, lebih baik kita menjualnya saja, kita masih perlu uang untuk membeli hal lainnya."
__ADS_1
"Dimengerti."
Kami berdua pun bergegas pergi.