
Aku melesat di udara dengan sebuah pedang hitam di tanganku, dengan satu gerakan cepat aku mengiris satu kapal seperti sebuah bawang hingga meledak dahsyat sebelum melompat ke kapal lain untuk memberikan dampak yang serupa.
Para iblis menatapku kebingungan dan begitu juga para malaikat, tapi tidak ada yang bisa menghentikanku, aku menghancurkan semuanya dan sesekali menggunakan sihir untuk menjatuhkan mereka.
Di kapal terakhir seorang iblis pria memandangku dengan tatapan menusuk, dia berdiri di atas balon udara begitu juga aku yang berhadapan di depannya.
"Tidak kusangka ada manusia yang lebih kuat dari pahlawan Fel, siapa kau?"
Siapa Fel?
"Hanya pria biasa yang bisa kau temukan di mana pun."
Aku mengatakannya secara asal-asalan sementara iblis tersebut tidak memiliki ekpresi apapun, dia diselimuti zirah besi dengan tombak besar yang dia tikamkan padaku.
Aku menahannya dengan pedangku dan itu menciptakan ledakan luar biasa, entah aku maupun iblis tersebut jatuh ke tanah hingga menukik tajam.
Aku sebelumnya telah menggunakan Buff untuk pertahanan jadi itu baik-baik saja saat aku jatuh setinggi 100 meter.
Iblis di depanku tidak terlihat kesusahan juga, dia bangkit dan zirahnya kini diselimuti kegelapan pekat.
Gabriella mendarat di depanku.
"Aku berterima kasih atas bantuannya, meski begitu biarkan aku yang mengalahkannya sendiri."
"Kau terlihat babak belur."
Dia tidak menjawabnya melainkan hanya mengalihkan pandangan ke arah iblis tersebut dengan menggenggam tombak di tangannya.
Dia keras kepala.
__ADS_1
Aku menggunakan Heal untuk menyembuhkannya.
"Itu cuma sedikit bantuan."
"Terima kasih manusia."
Aku berjalan untuk memperhatikan pertarungan dari samping bersama Armisa yang menatap dengan pandangan bersinar.
Di saat yang sama pula Gabriella dan iblis tersebut langsung bertarung, kekuatan mereka berdua sangatlah kuat, mereka bergerak hingga sulit untuk diperhatikan melalui mata telanjang. Sebelumnya Gabriella kalah karena harus melindungi yang lainnya sepertinya sekarang dia bisa bertarung tanpa beban.
Selagi dia mengatasinya aku pergi untuk mengobati para malaikat yang lainnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Hentikan jangan mendorong wajahku, aku hanya ingin menyembuhkanmu."
"Apa kau pernah dengar istilah lady first?"
"Apaan?"
Pada akhirnya aku menyembuhkan mereka dari kejauhan.
"Terima kasih banyak, bagaimana Nona Gabriella?"
Aku menunjuk ke arah dia berada, ia berdiri setelah menusuk iblis dengan sebuah tombak di tangannya.
Beberapa hari berikutnya aku berpisah dengan Armisa yang di sekelilingnya dipenuhi para ras malaikat.
Sebagai ganti hadiah karena telah menyelamatkan kota mereka, aku meminta agar Armisa diizinkan tinggal di kota suci.
__ADS_1
Begitu aku mengatakannya mereka menyetujuinya dan akan merawatnya seperti bagian dari keluarga mereka.
"Kalau begitu aku pamit."
"Tunggu sebentar tuan Udin."
"Ada apa?" kataku pada Grabiella.
"Apa yang akan Anda lakukan mulai sekarang."
"Aku hanya akan berpetualang, walau aku tidak berniat melawan raja iblis paling tidak jika aku bertemu dengan mereka aku akan membantu."
"Dengan kekuatan seperti itu, apa Anda yakin.. aku pikir bahwa Anda sebenarnya seorang pahlawan."
"Tidak juga."
"Tapi Anda menyelamatkan kota Suci, untuk memperingatinya tolong izinkan kami membuat patung Anda di kota ini."
Aku diam memikirkannya.
"Lakukan saja sesuka kalian."
"Dengar Udin suatu hari aku akan menjadi orang yang hebat."
"Aku menantikannya."
Aku melambaikan tangan ke Armisa yang terlihat sangat senang.
Saat itu aku belum tahu bahwa dia malah jadi seperti ini, seorang yang sedang berlutut dengan wajah hampir menangis.
__ADS_1