
Penjelasan Fel membuat keduanya merasa tenang.
"Ternyata begitu, tadinya aku ingin membuat Rider di penjara, kehidupannya perlahan mulai hancur karena rumor buruk dan ia akhirnya hidup lebih parah di jalanan, saat itu aku datang menemuinya dan merangkulnya 'Tak apa Rider, ikutlah denganku kau bisa hidup di tempatku sebagai budak dan setiap hari menjilati sepatuku."
"Ka-kau?"
Bukannya dari awal kau pelakunya.
Fel mengulurkan jempol ke arah Cosetta.
"Itu bagus, Cosetta tetap berjalan di jalan setan."
"Jangan di jalan setan. Tunggu, sepertinya aku pernah melihat ini di adegan kartun kuning."
"Aye."
"Berhentilah meniru suara seperti itu atau seorang berjas hitam akan muncul."
"Kau takut dengan mereka Rider?"
"Mereka punya sihir Copy Right yang mengerikan."
Kami membiarkan candaan tersebut berlalu begitu saja, menurut Armisa di sinilah buah pertumbuhan di dapatkan.
"Mengejutkan bahwa kamu tahu banyak tentang kota ini Fel?" tanyaku padanya.
"Kota ini adalah kota yang gagal kami selamatkan.. setidaknya kami malah membiarkan kutukan menimpa semua orang."
Ketika kami berjalan ke tengah alun-alun ada empat patung perunggu yang dipamerkan di sana, yang masing-masing saling membelakangi dan terawat dengan baik.
Pertama adalah patung Fel yang menancapkan pedang miliknya, kedua seorang Dwarf berjenggot dengan perisai dan palu. Ketiga seorang pendeta wanita dengan dada besar serta membawa buku di tangannya dan yang terakhir seorang pria dengan tongkat di tangannya serta mantel di punggungnya.
__ADS_1
Mereka adalah kelompok pahlawan dari selatan.
Sesuai urutannya Fel menyebutkan masing-masing namanya.
"Gustav, Irena dan juga Marlin... kalian benar-benar seperti apa yang aku ingat."
Elina menyela.
"Jika kota ini gagal diselamatkan oleh nona pahlawan, lalu kenapa patung ini dibuat?"
"Mungkin dijadikan pengingat seberapa gagalnya kami melakukan tugas."
Jika dihitung dengan kerusakan yang terjadi pada kota Elina, ini mungkin kedua kalinya pahlawan tidak melakukan tugasnya dengan baik.
"Saat itu kami berusaha menyelamatkan kota ini dan terlambat ke kota Elina, kami benar-benar mohon maaf."
Ah, kejadiannya terjadi di waktu bersamaan.
"Tidak, mohon jangan meminta maaf.. dibandingkan kami Anda telah berjuang keras, kami seharusnya malu karena selalu mengandalkan party pahlawan untuk membantu kami."
"Lalu siapa yang kamu hadapi di kota ini Fel?"
"Iblis tinggi Veronica, aku sudah membunuhnya namun dia sempat mengutuk kotanya, tapi..."
"Tapi apa?"
"Menurut iblis yang kita temui di kota Osiana, Veronica masih hidup dia memiliki enam jantung yang terpisah."
Aku mengerenyitkan alis.
"Jika demikian, kurasa itu benar."
__ADS_1
"Guru, bukannya kita seharusnya tidak mempercayai perkataan iblis?"
"Jika menyangkut hal semacam ini mereka akan mengatakannya dengan jujur karena mereka senang membuat manusia ketakutan, aku juga sempat bertemu dengan iblis yang memiliki sifat maniak bertarung, mereka akan puas saat mereka bertarung dengan orang kuat dan mati."
"Yah, aku juga terkadang menemukan hal sama."
Kami mulai menyebar dan mulai mencari keberadaan buah pertumbuhan namun seiring waktu itu berakhir dengan sia-sia.
"Tidak ada jalan lagi, mari tunggu sampai malam hari dan kita tanyakan pada penduduknya."
"Sepertinya memang harus begitu," kata Cosetta menjatuhkan tongkatnya dan duduk di pahaku, Claudia juga duduk di paha satunya lagi.
Mereka seenaknya saja.
Kami menggunakan area patung pahlawan sebagai sandaran untuk beristirahat, ketika matahari terbenam satu persatu penduduk terlihat bermunculan bersamaan lampu cahaya yang menerangi jalanan.
Mereka tidak muncul begitu saja melainkan sudah berada di sana sejak lama dan juga mengerumuni kami.
"Kalian semua?"
Fel dihantam rasa bersalah dari masa lalu.
"Kami semua sudah mendengar semuanya dari leluhur kami."
"Aku minta..."
Sebelum Fel menyelesaikan perkataannya semua penduduk berteriak serempak.
"Selamat datang kembali kelompok pahlawan, terima kasih sudah menyelamatkan kota kami!"
Mereka juga bertepuk tangan dengan meriah.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak..."
Air mata jatuh melewati pipi Fel yang menangis.