Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 99


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti apa yang mereka janjikan pada Linda kemarin, hari ini Jinan dan Ardo akan kembali mengunjungi rumah Linda. Kali ini mereka hanya akan datang berdua saja, tidak ada Ayla maupun Andy yang ikut bersama mereka. Mereka sengaja menitipkan kedua anaknya kepada Ria dan Sila sesuai apa yang mereka sepakati berdua kemarin.


"Jangan nakal ya, Sayang. Mama dan Papa tidak lama kok perginya," ujar Jinan kepada anak perempuannya saat ia hendak memasuki taksi yang sudah dipesannya.


"Hati-hati ya, Kak. Semoga semuanya berjalan lancar tanpa hambatan," seru Ria kepada Jinan.


"Aamiin. Titip Ayla dan Andy ya, Ri. Kalau susu Andy habis sebelum Kakak pulang, langsung telfon saja, ya."


Ria menganggukkan kepalanya.


"Mami, Jinan titip anak-anak, ya. Maaf sudah merepotkan Mami dan Ria," ujar Jinan kepada Sila yang sedang menggendong Andy.


"Tidak apa-apa, Sayang. Mami senang kok dititipin Andy dan Ayla. Kamu sama Ardo hati-hati, ya." Jinan mengiyakan ucapan Linda.


"Jaga Jinan ya, Ar. Saya harap mereka bisa menerima pengakuan kalian," ujarnya kini pada Ardo yang baru saja datang dari rumahnya karena ada sesuatu yang tertinggal.


"Aamiin. Saya titip Ayla dan Andy ya, Bibi. Maaf sudah merepotkan kalian."


"Tidak masalah. Kalian cepatlah kembali, jangan terlalu lama di sana."


Ardo menganggukkan kepalanya. Ia menghampiri kedua anaknya terlebih dahulu untuk berpamitan sebelum benar-benar pergi.


...


Setiba di kediaman Romi, berbeda dari hari kemarin, yang di mana rumah tersebut tampak sepi tak berpenghuni. Kini pintu rumah tersebut terbuka lebar, seperti rumah orang yang nampak tinggi jiwa sosialnya. Entahlah, mungkin si pemilik rumah sedang ada di rumah semua, atau mungkin si pemilik rumah sengaja ingin menyambut tamunya yang akan datang.

__ADS_1


Saat sudah tiba di depan pintu rumag tersebut, Jinan dan Ardo langsung disambut hangat oleh Linda yang kini tengah berjalan ke arahnya. Mereka dipersilahkan masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


Tak lama dari mereka mendudukkan tubuhnya di atas sofa, muncul sosok pria bertubuh kurus tinggi dari arah dapur. Pria tersebut tak lain adalah Romi.


Melihat dari kondisinya yang sedang tidak mengenakan baju dan rambut basahnya yang sedang diusap menggunakan handuk kecil, sudah dipastikan jika pria itu baru saja selesai mandi. Jinan yang tidak sengaja melihat pemandangan itu pun dengan cepat segera menundukkan pandangannya. Dan tak lupa ia mengucap istighfar karena sudah tidak sengaja melihat sesuatu yang tidak selayaknya ia lihat itu.


"Eh, maaf," ucap Romi terkejut akan sosok pasutri yang ada di ruang tamu rumahnya. Ia pun segera berlari menuju kamarnya tanpa menunggu respo dari orang yang ada di sana.


Seperginya Romi, terlihat Linda keluar dari dapur dengan sebuah nampan hitam yang diatasnya terdapat satu toples bening berisikan roti dan dua gelas air berwarna hijau. Sepertinya sebuah air sirup jika dilihat dari kejauhan.


"Silahkan diminum, Nak. Maaf kita hanya bisa menyajikan roti dan sirup," ujar Linda seraya meletakkan barang bawaannya ke atas meja.


"Tidak perlu repot-repot, Tante."


Linda ikut mendudukkan tubuhnya di sofa yang berhadapan dengan pasutri tersebut.


"Em, Ayla dan Andy sedang main sama mami Sila dan Ria, Tante. Kita sengaja nggak ngajak mereka karena takut kemaghriban dijalan saat pulangnya nanti. Kasihan mereka kalau sampai maghrib di jalan," jawab Jinan yang tidak sepenuhnya berbohong. Ya, Jinan memang tidak mengatakan alasan sebenarnya kenapa anaknya tidak ikut, tapi ia juga tidak berbohong tentang alasannya yang ia ucapkan.


"Ah, begitu, ya," serunya dengan raut kecewa.


Sejenak mereka berbincang santai sembari menunggu Romi yang sedang mengenakan baju. Dan tidak perlu menunggu lama, kini Romi sudah keluar dari kamarnya dan duduk di sofa samping Linda.


"Maaf membuat kalian menunggu. Mama bilang kalian ingin mengatakan sesuatu yang cukup serius. Apa?"


Jinan menatap ke arah Ardo, memberi kode agar suaminya segera mengatakan tujuan awal mereka ke sana. Karena jika ia yang mengatakannya, ia tidak akan bisa.

__ADS_1


"Sebelumnya saya pribadi ingin meminta maaf kepada Romi sekeluarga."


Linda dan Romi terlihat bingung dengan kalimat pertama yang Ardo ucapkan. Minta maaf? Untuk apa? Bukankah selama ini merekalah yang banyak menyakiti Jinan, istrinya. Lalu kenapa Ardo tiba-tiba minta maaf pada mereka?


"Sebelum saya berkata lebih banyak. Boleh saya meminta pada Nyonya Linda dan juga Anda untuk tidak menyela perkataan saya sebelum saya menyelesaikannya."


Linda dan Romi masih tidak mengerti dengan tentang apa yang ingin Ardo katakan. Dari raut wajahnya, Ardo memang terlihat sangat serius, namun mereka hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa berniat untuk bertanya.


"Baiklah. " Ardo menghela nafasnya, lalu menatap ke arah istrinya sejenak. Saat melihat senyum istrinya yang menenangkan, Ardo dengan yakinnya mulai menceritakan tentang ia yang menyebarkan berita perselingkuhannya saat bersama Aurel dulu. Dan Ardo juga memberitahu Romi dan Linda tentang komputer di perusahaan Putra yang sempat ia masukkan virus di dalamnya.


Romi dan Linda yang mendengar penjelasan Ardo terkejut bukan main, bahkan mereka tak mengeluarkan sepatah kata pun karena saking terkejutnya akan kabar tersebut. Jinan yang berada di samping Ardo pun terlihat panik saat suaminya Itu menjelaskan semuanya, apalagi melihat wajah dari Linda dan Romi yang sepertinya tidak percaya akan semua ini. Ia benar-benar takut jika pengakuan suaminya itu akan berdampak negatif bagi keadaan sekarang yang sudah mulai membaik. Terlebih bagi keluarganya dan anak-anaknya.


"Saya tahu bahwa apa yang saya lakukan kepada kalian ini salah. Jadi, sebagai permintaan maaf dari saya, saya akan memberikan kalian modal 50% dari kerugian yang kalian dapatkan atas perbuatan saya kemarin. Dari modal ini, kalian bisa memulai kembali bisnis kalian yang sebelumnya kalian jalani. Saya juga akan memberikan 2% saham di perusahaan kalian atas nama tuan Putra pribadi. Saya harap apa yang saya berikan ini bisa setimpal dengan apa yang sudah saya lakukan pada–"


Braakk !!!


Karena terkejut akan pukulan yang dilakukan Romi pada meja di depan mereka, dengan spontan Ardo menghentikan kalimatnya. Bahkan Linda dan Jinan yang ada di sana pun tak kalah terkejutnya akan pukulan dari pria itu. Mereka semua terdiam, tidak ada satupun yang mau membuka suara. Suasana di ruangan itu Kimi tampak dingin karena diliputi oleh emosi membara yang tengah ditahan oleh Romi.


Baru saja Ardo hendak membuka suaranya kembali, namun dengan cepat Romi memukul meja yang ada di depan mereka untuk kedua kalinya sembari berteriak, "s3tan!"


******


Malam ini malam nifsu sya'ban, semoga senua hajat teman2 semua diijabah oleh Allah subhanahuwata'ala aamiin.


Jangan lupa doain author juga ya😅 Doa apa aja yg penting positif😅😅

__ADS_1


   


Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys😘


__ADS_2