
Delapan belas bulan berlalu, kini Romi dan keluarganya harus hidup dengan sangat sederhana. Tidak ada lagi kemewahan yang mereka rasakan seperti saat dulu, sebelum masalah menerpa keluarga mereka. Dan hal itu terjadi karena perbuatan mereka sendiri.
Sejauh ini Romi sudah berusaha untuk mencari orang yang sudah menyebarkan video aibnya di komputer perusahaan, namun sayang sekali ia belum bisa menemukan petunjuk apa pun dari pencariannya. Dan sepertinya ia harus bersabar untuk itu, atau mungkin ia harus melupakannya jika memang pencariannya ini tidak membuahkan hasil lagi. Apalagi perusahaannya sekarang sudah mereka jual, jadi akan semakin sulit untuk ia mencari bukti mengenai orang dibalik pembajakan komputer-komputer itu.
Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, sudah hampir tujuh bulan ini Romi bekerja sebagai karyawan swasta pada perusahaan kecil di salah satu kota Jakarta. Ia terpaksa mengambil pekerjaan itu karena tidak ada lagi yang mau menerimanya bekerja dikarenakan permasalahan keluarganya yang sudah menyebar sejak satu setengah tahun lalu. Dan pekerjaan itupun bisa ia peroleh karena ada orang dalam yang mau membantunya.
Pukul 19.48 Romi baru saja tiba di rumah kontrakannya. Tanpa mengetuk pintu, ia langsung saja masuk ke dalam rumahnya dengan kondisi yang sedikit berantakan.
Aurel yang saat itu sedang menemani Andre bermain di ruang tamu menatap ke arah suaminya yang baru saja masuk.
"Papa," teriak Andre dengan berlari menuju Romi.
Aurel bangkit dari duduknya dan juga ikut mendekati Romi untuk menyambut kepulangannya. Saat ia sedang mencium punggung tangan suaminya itu, tiba-tiba saja hidungnya menangkap aroma yang sangat berbeda pada tubuh suaminya.
"Kamu ganti parfume, Mas?" tanya Aurel heran.
"Nggak. Kenapa memangnya?" tanya Romi balik.
"Kenapa bau tubuh kamu aneh gini ya? Kayak bau parfume mahal gitu. Bukannya sekarang kamu hanya pakai parfume yang dua ratus ribuan?"
Romi mengangkat salah satu tangannya untuk mencoba mencium aroma tubuhnya dari bahunya. Ia terlihat berpikir sejenak untuk mengingat bau apa yang ada pada tubuhnya, kemudian ia tersenyum tipis pada Aurel.
"Oh, mungkin ini bau parfume klien aku tadi. Soalnya tadi aku baru saja dapet projek yang lumayan besar setelah sekian lama aku bekerja di sana. Kamu tenang saja, kita akan segera hidup normal lagi setelah semua projek ini selesai," ujar Romi dengan mengusap pipi kanan Aurel dan mencium pipi gembul Andre.
"Mamangnya kamu ngapain aja sama klien kamu, sampai-sampai baunya nempel begini, Mas?" tanya Aurel posesif dan tak menghiraukan perkataan terakhir suaminya tentang hidup normal.
"Nggak ngapa-ngapain kok. Hanya pelukan sebentar sebagai ucapan perpisahan. Yaa, layaknya seorang rekan kerja pada umumnya, Sayang."
"Kamu nggak bohong 'kan, Mas?" Aurel menaikkan kedua alisnya curiga."
"Astaga enggak dong, Sayang. Lagian kamu kok curigaan gitu sih. Nggak biasanya banget. Dari pada kamu curigaan begitu, lebih baik kamu siapkan air hangat untukku saja. Aku mau mandi, tubuhku lengket banget."
__ADS_1
Romi menurunkan Andre dari gendongannya, dan ia langsung masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap mandi.
Aurel yang melihat itu hanya menghela nafasnya saja. Ia juga tidak tahu kenapa satu bulan terakhir ini ia sangat posesif sekali dengan suaminya itu. Entah hanya perasaannya saja yang berlebihan atau apa, yang jelas ia tidak mau menuduh suaminya yang tidak-tidak. Ia tidak mau kecemburuannya ini membuat hubungan mereka jadi sering bertengkar.
Ia harus percaya dengan suaminya itu. Romi bekerja banting tulang, kerja lembur hingga pulang malam, semua itu hanya untuk mencukup kebutuhan keluarga kecilnya dan juga mamanya yang masih harus diurus.
***
Raf Group.
Di dalam ruangan direktur utama, perdebatan antara ayah dan anak sedang terjadi. Di mana Basir saat ini sedang memarahi Ardo atas apa yang menimpa Romi dan keluarganya selama ini.
Ya, Basir sudah mengetahui kejadian satu setengah tahun lalu atas apa yang telah Ardo lakukan pada mantan suami Jinan beserta keluarganya. Ia mengetahui semua itu karena dua jam lalu ia tak sengaja mendengar percakapan antara Adli, Kemal, dan Ardo yang mengatakan bahwa mereka harus tetap mengawasi pergerakan Romi agar pria itu tidak mencari keberadaan Jinan.
Basir sejak awal memang menaruh curiga terhadap anaknya itu. Namun karena tidak ada kejadian aneh yang menimpa orang-orang di sekitarnya, Basir akhirnya berpikir bahwa kecurigaannya terhadap Ardo tidaklah benar. Dan saat mendengar percakapan antara ketiga orang pria itu, Basir akhirnya sadar bahwa kecurigaannya selama ini ternyata benar.
Ia tidak menyangka jika anak yang telah ia didik dengan sebaik mungkin itu bisa melakukan hal yang sangat merugikan orang lain seperti itu. Ia sangat yakin jika perilaku jahat anaknya itu disebabkan karena Ardo yang pernah bekerja dengan orang yang salah saat di Jerman kemarin.
"Kau baru memikirkan itu sekarang? Selama ini apa yang kau pikirkan hah!" teriak Basir. "Kau tahu, Jinan tidak akan pernah memikirkan kondisi mantan suaminya itu jika kejadian buruk yang menimpa mereka murni karena kesalahan mereka sendiri. Tapi kejadian ini? Semua ini murni disebabkan olehmu, Ardo. Dan kau harus tahu, hal sebenarnya yang akan menjadi beban pikiran Jinan bukanlah masalah mantan suaminya ... tapi dirimu. Saat ia mengetahui bahwa kau yang melakukan itu semua, Jinan akan berpikiran bahwa ia telah menikah dengan seorang penjahat sepertimu."
"Pa, Ardo hanya memberi hukuman kecil pada mereka karena sudah berbuat jahat pada Jinan. Itu saja, tidak lebih."
"Hukuman? Kenapa mudah sekali kau bicara begitu. Memangnya kau pikir kau itu siapa? Tuhan? Ingat Ardo, kita itu hidup bukan untuk menghakimi hidup seseorang. Jikapun mereka bersalah, serahkan saja semuanya pada Allah. Biarlah Allah yang membalasnya nanti. Kau tidak berhak untuk itu!"
Ardo terdiam dengan perkataan papanya, ia menghela nafasnya berat. "Maafkan Ardo, Pa."
"Kalian berdua juga. Mau-maunya saja diajak berbuat kejahatan oleh dia." Basir menunjuk ke arah Adli dan Kemal yang sedang berdiri di belakang Ardo dengan menundukkan kepala. "Apalagi kau, Adli. Kau sudah pernah berjanji padaku untuk tidak akan pernah berbuat hal negatif seperti ini. Tapi sekarang apa? Kau sungguh mengecewakanku."
"Tuan–"
"Diam kau," potong Basir cepat. "Sekarang kalian kembalikan apa yang sudah kalian rusak dari keluarga itu. Tanggung jawab atas apa yang sudah kalian lalukan."
__ADS_1
"Tapi, Pa–"
"Kenapa lagi?" sela Basir yang tak suka dengan kata tapi yang Ardo ucapkan. Seolah pria itu sedang ingin membantah perintahnya.
"Sebenarnya virus itu tidak terlalu membahayakan komputer mereka, Pa. Ternyata Adli tidak benar-benar membuat virus yang berbahaya untuk perangkat komputer mereka. Ardo juga baru mengetahui itu setelah Adli menjelaskannya pada Ardo saat Ardo meretas cctv kantor mereka satu minggu setelah kejadian itu."
"Perusahaan mereka bangkrut itu tidak ada sangkut-pautnya dengan Ardo Pa, tapi karena memang tidak ada lagi yang ingin bekerjasama dengan perusahaan mereka. Semua itu karena berita perselingkuhan anaknya dan juga berita pencemaran nama baik atas Jinan yang membuat mereka enggan menjalin kerja sama dengan mereka."
"Kau bilang tidak ada sangkut-pautnya? Apa kau tidak bisa berpikir bahwa semua yang telah terjadi ini bermula karena dirimu! Jika saja kau tidak menyebarkan aib pria itu, mungkin saja mereka tidak akan seperti ini sekarang."
"Mau bagaimana lagi, Pa. Semua sudah terlanjur. Yaa, anggap saja ini adalah karma untuk mereka yang sudah membuat hidup Jinan menderita selama beberapa tahu."
Basir menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak menyangka jika anaknya bisa berkata seperti itu. Dengan perasaan kesal Basir pergi dari ruangan itu untuk pulang ke rumahnya. Niat awal kedatangannya ke kantor untuk membicarakan perihal kejutan ulang tahun untuk Elif akhirnya ia urungkan karena mood-nya sudah hancur akibat kenyataan yang ia dengar.
Saat pintu ruangan itu baru saja terbuka setengah, Basir menghentikan langkahnya saat Ardo memanggilnya.
"Ardo mohon, jangan beritahu Jinan, Pa. Ardo tidak mau Jinan memikirkan kejadian ini."
Basir menatap wajah anaknya dengan tatapan emosi. "Papa tidak janji," ujarnya dingin, lalu melanjutkan kembali langkahnya untuk segera pergi dari sana sebelum emosinya kembali mencuat ke permukaan.
"Bagaimana jika papa sampai memberitahu Jinan? Sial. Kalau Jinan sampai tahu, bisa kacau ini. Padahal aku sudah sengaja membawanya ke sini secepat mungkin agar Jinan tidak mengetahui ini semua," gumam Ardo panik.
******
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
Piupiu, see u nxt bab 😘
__ADS_1