
Setelah pertemuannya kemarin bersama Romi, pagi ini setelah ia memandikan Ayla, Jinan dikejutkan dengan kehadiran Linda dan Putra yang sudah berdiri di depan rumahnya. Ia sungguh terkejut melihat orang tua dari mantan suaminya itu mengunjunginya sepagi ini. Bahkan ia saja masih memakai daster dan belum mandi. Namun karena tidak mau bersikap tidak sopan kepada seorang tamu, yang di mana tamu itu sendiri adalah mertua dari mantan suaminya, jadi Jinan mempersilahkan Linda dan Putra masuk ke dalam rumahnya.
Sebelum mendudukkan tubuhnya di kursi, Jinan pergi ke dapur terlebih dahulu untuk membuatkan minuman ringan untuk kedua tamunya. Baru saja sampai di ambang pintu dapur, Jinan berbalik badan, ia masuk ke dalam kamarnya dan keluar dengan membawa sesetel pakaian pria.
Ia ingin memberikan pakaian itu untuk suaminya yang sedang mandi, agar saat keluar nanti suaminya itu tidak melewati para tamunya hanya dengan menggunakan handuk yang dililitkan dipinggang saja. Maklum saja, kamar Jinan saat itu berada di samping ruang tamu, dan di kamarnya juga tidak ada kamar mandi dalam.
Setelah dua gelas teh manis hangat selesai dibuat, Jinan menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum menuju ruang tamu untuk bertemu kedua tamunya.
"Silahkan diminum, Om, Tante. Maaf hanya ada teh, Jinan belum masak soalnya," ujar Jinan basa-basi. Meski sudah sering dikecewakan, tapi Jinan tetap bersikap ramah dan menyambut baik kedatangan mertuanya itu. Karena menurutnya, memaafkan adalah salah satu kunci dari kebahagiaan. Begitula yang selalu ia ingat dari perkataan mendiang kedua orang tuanya dulu.
"Tidak apa-apa, Nak. Kamu jangan repot-repot," sahut Putra.
Jinan hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya pelan. Lima menit awal Linda dan Putra terlihat hanya berbasa-basi dengannya, mencoba menanyakan kabar dan lain sebagainya agar suasana tidak terlihat canggung. Namun tetap saja, meski begitu Jinan tetap merasa canggung saat berinteraksi dengan mereka berdua.
Hingga saat Linda masuk dalam pembicaraan serius, barulah Jinan mengerti akan tujuan kedatangan mereka ke rumahnya.
"Nak, maafin Mama. Maafin kekhilafan Mama, Nak. Mama ... Mama tidak bermaksud menuduhmu yang macam-macam. Mama hanya terpancing rumor di luar sana, Nak," lirih Linda dengan wajah sedihnya. Terlihat jelas jika wanita itu seperti merasa bersalah padanya.
"Iya, Jinan. Maafkan kami, Nak. Papa juga tidak ada maksud untuk menuduh kamu. Sebenarnya Papa percaya sama kamu, tapi ... tapi ...."
Putra tidak melanjutkan ucapannya, terlihat sepertinya pria itu bingung ingin mengatakan apa.
"Tidak apa-apa, Om, Tante. Jinan ... Jinan sudah melupakannya," seru Jinan.
Sebenarnya Jinan ingin mengatakan bahwa ia sudah memaafkan mereka, namun kata memaafkan saat ini terkesan seolah ia menganggap bahwa kedua orang itu yang sepenuhnya bersalah padanya. Padahal ia juga bersalah karena telah berbohong mengenai alasannya yang sudah berselingkuh. Ya, meskipun tuduhan Linda tentang kehamilannya yang di luar nikah membuat goresan di hatinya semakin dalam, tapi Jinan juga tak sampai hati untuk mengatakan bahwa ia memaafkan mereka.
"Jinan, apa boleh Mama bertemu dengan cucu Mama," pinta Linda dengan ragu.
Ia sangat takut jika Jinan tidak mengizinkannya untuk bertemu dengan Ayla. Namun beruntungnya mereka, ternyata Jinan dengan senang hati mempersilahkan Linda dan Putra untuk bertemu dengan anaknya.
Karena bagaimanapun juga, Jinan masih memiliki hati untuk menjauhkan seorang nenek dari cucunya.
Saat Jinan keluar dari kamarnya dengan membawa baby Ayla, Linda segera berdiri dari duduknya dengan mata berbinar. Melihat cucunya dalam gendongan Jinan, rasanya ia tidak sabar sekali untuk menggendong cucunya itu. Cucu kandungnya.
"Mama gendong ya, Nak," ucap Linda saat Jinan hendak menyerahkan Ayla padanya.
Untungnya saat itu Ayla tidak menangis layaknya seorang anak kecil yang sedang berada di tangan orang baru. Entah karena bayi itu yang masih belum mengerti akan siapa yang menggendongnya, atau karena memang bayi itu mudah untuk ikut pada siapapun.
__ADS_1
Saat Linda dan Putra sedang asik-asiknya bermain dengan Ayla, saat itu juga Ardo terlihat keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap di tubuhnya. Ardo menghampiri Jinan dan mendudukan tubuhnya tepat di samping Jinan. Ia tersenyum sekilas sebagai bentuk sapaan kepada kedua orang tamunya itu saat pandangan mereka bertemu.
"Cantik sekali Cucu Mama, Pa. Hidungnya mancung," seru Linda kepada suaminya.
"Iya, Ma. Cucu kita cantik ya. Papa yakin, saat besar nanti Ayla akan menjadi wanita yang cantik," sahut Putra.
Kedua orang itu tampak bahagia saat bermain bersama Ayla. Bahkan saking senangnya, mereka tak menghiraukan Jinan dan Ardo yang sedang menatap ke arah mereka.
"Nak," seru Linda menatap ke arah Jinan setelah sepuluh menit berlalu.
Jinan yang saat itu sedang menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa dalam pelukan Ardo lantas menegakkan tubuhnya.
"Ada apa, Tan?"
"Romi bilang ... kamu dan Ayla akan ikut bersama suamimu ke negara asalnya. Apa itu benar?" tanya Linda.
Ya, sepulang dari bertemu Ayla kemarin, Romi memang menceritakan semuanya -kecuali perdebatannya bersama Ardo- pada mamanya. Termasuk rencana kepergian Jinan dan anaknya ke negara asal Ardo.
Dan saat mengetahui bahwa Jinan akan pergi ke luar negeri, saat itu juga wanita paruh baya itu berencana untuk mengunjungi kediaman Jinan bersama suaminya untuk bertemu dengan cucunya. Ia takut Jinan akan sangat lama berada di luar negeri dan ia tidak memiliki kesempatan untuk bertemu cucunya. Karena untuk melarangpun ia cukup tahu diri atas semua kesalahan yang pernah ia lakukan kepada Jinan.
Kembali ke Jinan.
"Besok? Kenapa dadakan sekali?" tanya Linda kaget.
"Em ...."
"Tidak dadakan. Semua sudah diatur sebelum kami menikah," sambar Ardo saat melihat Jinan yang tampak kesulitan untuk menjelaskan.
Linda menatap pada suaminya. Tatapan itu seolah ia sedang berkata pada suaminya. 'Pa, kita tidak akan bertemu dengan Ayla lagi,'
"Nak, apa boleh kita membawa Ayla ke rumah kami."
Linda menatap penuh harap kepada Jinan atas permintaan suaminya itu. Ia benar-benar butuh waktu lebih bersama cucunya. Ia sangat merindukan cucunya. Cucunya yang sempat ia tuduh dan ia sangat menyesali itu.
Sementara Jinan saat itu, saat ia mendengar Putra yang mengatakan ingin membawa Ayla ke rumah mereka, Jinan membelalakkan matanya. Begitu juga dengan Ardo ia tak kalah terkejutnya dengan Jinan saat mendengar perkataan Putra. Berani sekali pria itu meminta hal yang lebih atas kebaikan mereka, pikir Ardo.
"Pertemuan kalian dengan Ayla di sini itu sudah lebih dari cukup. Tidak perlu membawanya ke manapun," ujar Ardo yang jelas tak setuju dengan permintaan Putra.
__ADS_1
"Nak Ardo, kami hanya ingin menghabiskan waktu bersama cucu kami saja sebelum kalian pergi. Kami tahu kalian akan sangat lama untuk kembali lagi ke sini. Jadi kami mohon, izinkan kami membawa Ayla ke rumah kami agar kami bisa menghabiskan waktu bersamanya sebelum kalian pergi," ucap Putra sedikit memohon.
"Iya, Nak. Jinan, Mama mohon sama kamu. Izinkan Ayal ikut dengan Oma-nya hari ini ya, Sayang. Mama janji, Mama akan mengembalikan Ayla sebelum kalian pergi," ujar Linda pada Jinan.
Jinan menatap pada suaminya sejenak, kemudian ia sedikit menundukkan kepalanya, menatap meja yang ada di depannya.
"Mama boleh membawa Ayla–"
"Apa kau serius, Jinan?" sambar Linda dengan antusias.
Jinan mendongak menatap Linda, namun pandangannya segera beralih pada Ardo saat Ardo menggenggam tangannya.
"Kenapa kau mengizinkan mereka membawa Ayla?" tanya Ardo pelan.
"Ar." Jinan menggelengkan kepalanya, seolah mengatakan; 'its oke. Sebentar saja.'
"Aku tidak tahu apa yang ada di kepala istriku ini. Kenapa dia sangat baik sekali? Bahkan kebaikannya ini sering terlihat seperti orang bodoh," batin Ardo kesal.
Ardo menghela nafasnya singkat. "Kembalikan Ayla sebelum pukul lima sore nanti."
"Jam lima? Sebentar sekali," protes Linda.
Ardo menatap intens pada Linda. "Kita harus ke bandara besok subuh. Tidak ada waktu untuk menunggu kalian mengantar Ayla ke sini karena kita harus beristirahat. Lagipula Ayla masih dalam tahap menyusui, dan ASI yang tersedia hanya ada dua botol. Saya harap Nyonya dan Tuan mengerti akan maksud dari saya. Jika kalian tidak mau, kalian bisa bermain bersama Ayla di sini saja."
Ucapan telak Ardo membuat kedua pasutri itu terdiam. Seolah telah dikepung oleh ribuan anak panah dan tak bisa berlari kemanapun, akhirnya Linda dan Putra mengiyakan saja perkataan Ardo. Tak apalah hanya sampai jam 5 sore, yang penting mereka ada kesempatan untuk membawa cucunya pulang ke rumah. Sekaligus memerkenalkan Ayla pada Aurel dan Andre.
******
Oh ya, yang belum masuk grup chat. Ramaikan yok. Di sana bakal ada notif untuk next story yang masih belum tau kapan mulainya.😅
__ADS_1
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
Piupiu, see u nxt bab 😘