Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 59


__ADS_3

Sejak saat Ardo mengiriminya pesan, Jinan baru bisa tidur pukul tiga pagi, bersamaan dengan baby Ayla yang tertidur kembali setelah meneguk ASInya sedari jam dua pagi. Bahkan Jinan sampai terlambat sholat subuh karena kesulitan untuk tidur karena terus memikirkan perkataan Ardo yang ingin melamarnya dalam waktu dua hari ini. Perkataan Ardo semalam benar-benar membuat Jinan pusing tujuh keliling.


Pagi ini Jinan memaksakan matanya yang masih mengantuk untuk mengajak bermain baby Ayla sembari membuat dua loyang kue bolu pesanan tetangganya yang akan diambil pukul sepuluh pagi nanti. 


Setelah dua loyang kue matang, Jinan merebahkan tubuhnya di atas kasur bersama baby Ayla. Ia ingin memejamkan matanya sejenak sembari menunggu kue-kue itu dingin agar bisa ditoping. 


Belum dua jam Jinan terlelap, tiba-tiba suara tangis baby Ayla terdengar di telinganya. Ia terbangun dan segera memberi ASI kepada baby Ayla agar ia bisa terlelap kembali. Belum sepuluh menit baby Ayla meneguk ASInya, suara ketukan pintu dari arah luar rumah terdengar.


Sembari menghela nafasnya, Jinan bangkit dari rebahannya dan membawa baby Ayla untuk membukakan pintu. Ia melihat seorang wanita paruh baya yang merupakan tetangganya -yang memesan bolu padanya- berdiri di depan rumahnya.


"Assalamu'alaikum, Jinan," sapa wanita itu.


"Wa'alaikumsalam, Bude."


"Apa bolu pesanan Bude sudah siap, Jinan?"


Jinan terkejut dengan pertanyaan wanita itu, ia melihat ke arah jam dinding yang berada di atas pintu kamarnya. Jinan terbelalak saat melihat ternyata jam sudah menunjukkan pukul 09:45.


"Astaghfirullah. Em, Bude, bolunya belum Jinan kasih toping. Maafkan Jinan Bude, Jinan tadi ketiduran. Silahkan masuk dulu Bude, Jinan toping dulu bolunya ya, Bude."


Dengan tergesa Jinan mulai menoping kue bolu pesanannya di dapur. Tidak sampai 10 menit, kue bolu pesanan tetangganya itu sudah siap diberikan kepada pemiliknya. Jinan bernafas lega karena tetangganya itu tidak marah padanya karena ia telat memberikan kue pesanannya.


Sembari melihat kepergian tetangganya itu, Jinan mengernyitkan keningnya saat melihat ada 2 taksi yang berhenti di depan rumahnya. Jinan menatap ke arah kedua taksi itu hingga penumpang yang ada di dalamnya keluar. Jinan membatu sekaligus membelalakkan matanya saat melihat sosok yang keluar dari taksi itu adalah orang yang sudah membuatnya sulit tidur semalaman ini.


"A ... Ardo," gumam Jinan pelan.


Jinan menelan salivanya saat menyadari bahwa Ardo datang tidak sendirian, melainkan bersama beberapa orang yang tidak ia kenali. Dua orang paruh baya beserta pasutri muda dan seorang anak kecil bersamanya. Pikiran Jinan sudah melayang ke mana-mana saat melihat kehadiran mereka, apalagi beberapa bingkisan khas yang mereka bawa yang menjadi perhatian Jinan.


Ia tidak mau terlalu percaya diri, tapi pikirannya yang mengatakan bahwa apa yang ia pikirkan sedari semalam tentang Ardo yang ingin melamarnya akan terjadi hari ini juga. Tapi bukankah Ardo mengatakan akan datang dua hari lagi?


"Assalamu'alaikum," seru beberapa orang yang datang bersama Ardo.


"Wa ... wa'alaikumsalam," sahut Jinan tergugup.


"Hai, Jinan," sapa Ardo dengan tersenyum senang.


Jinan tak menyahuti sapaan Ardo, ia justru menatap pria itu dengan tatapan seolah ingin meminta penjelasan atas apa yang terjadi saat ini. Namun bukannya menjelaskan, Ardo hanya tersenyum tak jelas ke arahanya.


Pandangan Jinan terarah pada orang-orang di belakang Ardo, ia tersenyum kaku dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu.


Sebelum ia ikut mendudukkan tubuhnya di sofa bersama dengan para tamunya, Jinan berpamitan terlebih dahulu ke dapur untuk membuatkan minuman dan menyediakan beberapa cemilan. Di dapur ia terlihat menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali untuk menetralkan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Astaga, kenapa tuh orang ada di sini? Bukankah semalam dia mengatakan akan datang dua hari lagi? Ya Allah bagaimana ini, apa yang harus kulakukan jika dia benar-benar mau melamarku hari ini," gumam Jinan dengan berjalan mondar-mandir.


"Mami Sila!" Jinan berpikiran untuk menghubungi Sila agar bisa menemaninya jika benar bahwa Ardo ingin melamarnya. Tapi saat ia mengingat bahwa ponselnya ada di kamar, akhirnya Jinan mengurungkan niatnya untuk menghubungi Sil.

__ADS_1


Jinan menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian ia hembuskan dengan perlahan dan tenang sembari memejamkan matanya.


"Oke Jinan, santai. Semua akan baik-baik saja. Jangan panik, jangan gugup. Kamu bisa, Jinan," ucap Jinan pada dirinya sendiri.


Setelah merasa sedikit lebih baik, Jinan akhirnya bergegas membuatkan minuman ringan untuk para tamunya. Berhubung ia belum mempersiapkan apapun untuk kedatangan Ardo, jadi Jinan hanya bisa menyajikan beberapa potong kue bolu sebagai cemilan ringan untuk para tamunya.


Setelah semuanya siap, Jinan membawa minuman serta cemilan itu ke ruang tamu. 


"Silakan diminum, Tuan dan Nyonya," ucap Jinan dengan bahasa Indonesia.


Semua orang yang ada di ruang tamu itu hanya saling pandang kecuali Ardo yang saat ini sedang menatap ke arah Jinan.


"Mereka keluargaku. Perkenalkan, ini Mamaku, namanya Elif. Dan ini Papaku, namanya Basir," tunjuk Ardo pada Elif dan Basir yang ada di sofa double samping kanan Jinan. Kemudian pandangannya beralih pada ketiga orang yang ada di samping kiri Jinan. "Yang ini Kakak perempuanku, namanya Huri. Kalau yang ini suaminya, namanya Aslan. Dan Gadis kecil ini anak mereka, namanya Cemile. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia. Kau bisa berkomunikasi dengannya menggunakan bahasa Inggris."


"Mama, Papa, Kakak, perkenalkan ini Jinan. Dialah wanita yang sering Ardo ceritakan pada kalian beberapa hari belakangan ini. Dia belum bisa berbahasa Turki, jadi kalian bisa berkomunikasi dengannya saat ini menggunakan bahasa Inggris."


"Halo, Jinan," sapa mereka satu persatu, dan dibalas Jinan dengan sapaan yang sama serta anggukan kepala.


"Maaf, Tuan dan Nyonya. Saya tidak tahu jika kalian tidak bisa berbahasa Indonesia," ucap Jinan dalam bahasa Inggris.


"Tidak apa-apa, Jinan," sahut Elif ramah.


Jinan tersenyum kaku. "Em, ayo silahkan diminum, Tuan dan Nyonya," ujar Jinan untuk kedua kalinya saat mereka belum ada yang menyentuh hidangan yang ia sajikan.


"Apa itu anakmu, Jinan?" tanya Elif yang berhasil membuat Jinan mengalihkan pandangannya dari Ardo.


Jinan menatap baby Ayla sejenak, lalu ia kembali mengarahkan pandangannya pada Elif. "Em, iya, dia anakku, Nyonya."


"Boleh saya menggendongnya?"


Jinan terdiam sejenak, kemudian ia menyerahkan anaknya pada Elif.


"Wah, cantik sekali. Siapa namanya anak cantik?" tanya Elif pada baby Ayla.


"Namanya Ayla, Ma." Bukan Jinan yang menyahut, melainkan Ardo.


Elif menatap ke arah anak lelakinya dengan tersenyum tipis.


Cukup lama mereka bermain dengan baby Ayla dan menghiraukan Jinan dengan pikirannya yang tak menentu. Hingga sebuah salam dari arah pintu masuk membuat mereka semua mengarahkan pandangannya pada pintu masuk.


Belum juga Jinan berdiri untuk melihat siapa yang bertamu ke rumahnya, tiba-tiba sosok seorang wanita cantik berambut panjang menongolkan kepalanya pada pintu masuk.


"Ria," ucap Jinan terkejut.


Ya, Ardo sengaja mendatangkan Ria ke Indonesia sebagai teman untuk Jinan di acara pentingnya ini. Ia juga yakin jika Jinan sangat membutuhkan sosok Ria untuk mendampinginya menuju hari bahagianya nanti.

__ADS_1


"Hai, Kak," sapa Ria dengan menyengir kuda. Ria berjalan masuk, sedangkan Jinan ikut berjalan menghampiri Ria. Mereka berpelukan sejenak, melepas rindu karena tidak bertemu selama hampir dua minggu.


"Kakak kangen banget sama kamu, Ri," seru Jinan.


"Ria juga rindu sama Kakak. Sama Ayla juga," balas Ria.


Tak lama dari itu muncul sosok Sila dan Dedy dari belakang tubuh Ria.


"Mami, Papi," seru Jinan.


Jinan menatap Ardo sejenak, entah kenapa ia mulai yakin bahwa pria itu yang mendatangkan Ria ke sini. Jinan menyematkan senyum tipisnya pada Ardo, sedetik kemudian ia menghapus senyum itu dari wajahnya karena malu karena Ardo membalas senyumannya.


Berhubung sofa di ruang tamu Jinan tidak cukup untuk menampung semua orang yang ada di sana, dengan tidak enak hati Jinan meraih kursi dari meja makan untuk ia duduki bersama Ardo dan Ria. Setelah semua orang duduk di kursinya masing-masing, kini suasana tampak terlihat serius.


"Jinan," seru Basir memulai pembicaraan.


"Y ... ya, Tuan," sahut Jinan gugup.


"Saya selaku kepala keluarga Rafandra, ingin mengajukan pinangan pada Anda, saudari Jinan, untuk anak saya bernama Evardo Rafandra dengan mahar sebesar ...."


Jinan terdiam membatu mendengar perkataan Basir dengan kalimat terakhir yang menyebutkan sejumlah mahar yang sangat fantastis di telinganya.


Jinan menoleh menatap Ria dan Sila yang memegang tangannya. Mereka menganggukkan kepalanya sebagai kode untuk Jinan menerima pinangan dari Ardo. Jinan memejamkan matanya sejenak sebelum ia menerima pinangan itu dengan hati yang tulus dan ikhlas. Entah kenapa perasaannya kini sedikit lebih lega setelah menerima pinangan dari keluarga Ardo. Jujur, ia merasa ... senang, sekaligus terharu. Dan ia tidak tahu apa yang menyebabkannya merasa senang seperti ini.


Tapi dibalik itu semua, Jinan menghembuskan nafasnya panjang, acara lamaran yang seharusnya diadakan dengan persiapan yang matang kini harus berlangsung sesederhana mungkin dan terkesan apa adanya. Apalagi dengan penampilan Jinan yang terlihat kurang pantas untuk sebuah acara penting seperti ini. 


  


  


  


******


  


  


Sorry gak bisa buat acara lamaran yang romantis. Maklum, belum pernah dilamar wkwkk😅😅


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕


Piupiu, see u nxt bab 😘


  

__ADS_1


__ADS_2