Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 67


__ADS_3

Kamar pengantin yang telah disulap sedemikian rupa hingga menciptakan momen romantis bagi para sepasang kekasih, membuat Jinan yang baru memasuki kamar itu menjadi tersipu malu. Sangat berbeda dengan kamar pengantinnya saat bersama Romi waktu itu.


Entahlah, ia juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini ia suka membandingkan pernikahan pertamanya dengan yang sekarang. Jujur saja ia tidak ada niatan untuk melakukan hal buruk seperti ini, tapi otaknyalah yang tiba-tiba saja memikirkan hal itu.


"Astaghfirullah." Jinan menghela nafasnya. Lagi-lagi ia tersadar akan keburukan yang ia lakukan.


Wangi dari bunga mawar yang bertaburan di atas kasur membuat Jinan hampir saja terlena untuk segera merebahkan tubuhnya di sana. Namun karena teringat ia yang belum melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, maka ia lebih memilih untuk segera membersihkan wajahnya dari make up yang sangat tebal itu agar bisa segera melaksanakan ibadah dzuhur-nya.


Di tengah aktifitasnya, suara ketukan pintu dari luar kamar membuat Jinan menghentikan aktivitasnya dan segera membuka pintu.


"Kenapa belum ganti baju?" tanya seorang pria di depan pintu yang ternyata adalah Ardo.


"Aku sedang membersihkan make up. Apa kau sudah sholat?" tanya Jinan.


"Belum, ayo kita sholat berjama'ah." Jinan menganggukkan kepalanya dan segera menutup pintu setelah Ardo masuk.


Seusai sholat mereka tetap berdiam diri di dalam kamar sembari menikmati cemilan yang disediakan oleh pihak hotel. Jinan terlihat canggung saat berada berduaan dengan Ardo di satu ruangan dengan jarak yang begitu dekat. Apalagi saat Ardo mulai menyentuh kedua tangannya, wanita itu langsung terlihat tegang.


"Kenapa?" tanya Ardo berpura-pura tidak tahu.


"Tidak apa-apa," ujar Jinan dengan wajah paniknya.


Ardo tersenyum geli, ia meraih bahu Jinan dan menarik wanita itu dalam pelukannya.


"Tenanglah. Aku hanya ingin memelukmu saja," ujar Ardo tanpa menghiraukan jantung Jinan yang hampir keluar dari tempatnya.


Sudah dua jam lebih mereka berada di dalam kamar sembari berbincang santai dengan pembahasan yang menurut Jinan lumayan menarik. Dan dengan ini juga Jinan sudah mulai merasa tenang dalam pelukan Ardo. Meski Jinan belum berani untuk membuka hijabnya di depan Ardo, namun Ardo tidak ingin mempermasalahkan itu untuk sekarang. Yang penting Jinan bisa nyaman terlebih dahulu saat berada di dekatnya saja itu sudah lebih dari cukup sebagai awal dari kedekatan mereka.


Selepas waktu maghrib, Jinan dan Ardo sudah siap untuk melaksanakan makan malam bersama di restoran hotel tersebut. Di dalam sebuah ruangan VIP restoran, kini sudah ramai berkumpul keluarga Ardo, Ria, Elena, serta kedua bibi Jinan. Mereka adalah adik dari ayah kandung Jinan yang tinggal di luar kota karena harus mengikuti suaminya.


Baru saja memasuki ruangan itu, Jinan dan Ardo langsung mendapatkan sambutan yang sangat heboh dari orang-orang yang ada di sana, terlebih Ria dan Elena.


"Wah, pengantin baru kita sudah datang nih."


"Raja dan Ratu akhirnya datang juga."


"Wah, aura pengantin baru memang beda ya. Wajahnya seger banget."


Jinan tersenyum malu mendengar godaan dari sebagian orang yang ada di sana, ia mendekati kedua bibinya dan menyalaminya.


"Bibi apa kabar?" tanya Jinan setelah melepas pelukan dari bibinya.

__ADS_1


"Alhamdulillah kita baik. Kamu sendiri kabarnya gimana, Sayang? Bibi beneran nggak nyangka kalau kamu akan menikah untuk kedua kalinya. Maafkan bibi ya, Jinan. Bibi enggak tahu masalah yang terjadi pada rumah tangga kamu dan Romi," ujar Bibi Jinan yang bernama Ika.


"Ia Sayang, maafkan kami ya. Kami tidak tahu kalau kamu sudah bercerai dengan Romi," sambung Bibi Jinan lainnya yang bernama Murni.


Jinan dan bibinya memang hampir tidak pernah berkomunikasi. Ia tidak tahu apa alasan bibinya yang tidak pernah menghubunginya, padahal sebelum bibinya pergi mereka sudah ada nomor ponsel satu sama lain. Jinan juga tidak bisa menghubungi bibinya karena nomor ponsel bibinya tidak pernah aktif lagi sejak dua hari setelah kepergian mereka dari Jakarta.


Jinan tersenyum. "Tidak apa-apa Bibi. Bibi tidak perlu merasa bersalah seperti itu, ini sudah menjadi takdir Jinan."


"Lain kali jika terjadi masalah seperti itu lagi, segera telepon Bibi ya, Nak."


Jinan hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.


"Aku pastikan mulai saat ini Jinan tidak akan pernah mendapatkan masalah lagi, Bibi. Apalagi permasalahan yang sama seperti sebelumnya."


Semua yang ada di meja makan menatap ke arah asal suara yang ternyata berasal dari Ardo. Tidak peduli bagaimana rumah tangganya ke depan nanti, yang pasti untuk saat ini ia harus memastikan bahwa wanitanya itu akan terus bahagia bersamanya.


"Terima kasih, Ardo. Semoga pernikahan kalian bisa langgeng sampai tua nanti," ujar Murni dan diaminkan oleh semua yang ada di sana.


Jinan beralih kepada suami dari kedua bibinya, ia hanya tersenyum sembari berbasa-basi, menanyakan kabar mereka berdua, kemudian ia segera mendekati Elif yang sedang menggendong anaknya. Ia memang tidak begitu dekat dengan kedua suami dari bibinya itu, karena ia bisa melihat raut tak suka di wajah kedua pria itu.


"Maaf merepotkan, Bibi," ujar Jinan kepada Elif.


Elif menatap heran ke arah Jinan. Bibi?


Jinan tersenyum malu, ia terlupa jika Elif sekarang sudah menjadi ibu mertuanya.


"Maafkan aku, Mama," ujar Jinan enak hati.


"Sudahlah, jangan dipermasalahkan lagi. Ayo duduk, kita mulai makan malamnya."


Jinan meraih baby Ayla dari Elif, kemudian ia mendudukkan tubuhnya disamping Ardo.


Setelah semua orang sudah duduk di kursinya masing-masing, kini semuanya mulai menyantap makan malamnya. Karena tidak tega melihat Jinan yang makan sambil menggendong Ayla, jadi Ardo berinisiatif untuk menyuapi istrinya itu.


Jinan yang melihat Ardo meraih piringnyapun terlihat heran.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengambil piringku?" tanya Jinan.


Ardo tak menjawab pertanyaan Jinan, ia justru meraih sendok yang ada di tangan kanan Jinan, lalu segera menyendokkan makanan yang ada di piring, kemudian mengulurkan sendok itu ke depan mulut Jinan. Jinan yang melihat Ardo yang ingin menyuapinya sungguh terkejut sekaligus malu dengan orang-orang yang ada di sana yang kini sedang menatap ke arah mereka berdua.


"Kalau pengantin baru ya gini nih. Mainnya suap-suapan. Buat yang jomblo jadi iri aja."

__ADS_1


"Iya, mana pacar gue udah pulang lagi. Nggak bisa ikut suap-suapan jadinya."


Pipi Jinan kini sudah menjadi merah seperti udang rebus karena perkataan Elena dan Ria. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya, dan sekarang ia merasa malu dengan apa yang sedang Ardo lakukan padanya.


"Aku bisa makan sendiri, Ar," ujar Jinan yang menolak suapan dari Ardo.


"Aku tahu kau kesulitan menyantap makananmu karena sedang menggendong Ayla, jadi biarkan aku menyuapimu."


Jinan menatap sekelilingnya, pandangan semua orang yang ada di meja makan ternyata masih menatap ke arah mereka berdua.


"Aku bisa makan sendiri, Ar. Aku sudah terbiasa seperti ini," tolak Jinan lagi.


"Sayang, ayo buka mulutnya."


Sebutan sayang dari mulut Ardo yang ditujukan kepada Jinan membuat semua orang yang ada di sana menahan tawanya. Sedangkan untuk Jinan sendiri, ia terbelalak dengan panggilan sayang dari Ardo padanya.


"Astaga, belum juga satu hari SAH, panggilannya sudah sayang-sayangan aja nih. Wah, sepertinya tidak lama lagi kita akan mendengar kabar bahagia dari pasangan baru ini," goda Elena.


"Kabar bahagia apa tuh?" tanya Ria yang pura-pura tak mengerti akan perkataan Elena.


"Kabar bahagia apalagi dari pasangan baru ini selain kabar mengenai kehamilannya," jawaban Elena ini membuat semua orang yang ada di sana terbahak. Sepertinya asik sekali menggoda kedua pasangan baru ini, pikir mereka. Apalagi menggoda Jinan, sungguh sangat menyenangkan.


Namun di sela tawa itu ternyata ada satu orang yang tersedak dengan makanannya karena mendengar perkataan Elena. Semua orang di sana menatap ke arah asal suara tersebut yang ternyata berasal dari Rico.


"Kenapa, Sayang? Kamu makannya hati-hati, jangan terburu-buru. Ayo minum," ujar Ira pada anak lelakinya.


"Rico ke toilet dulu, Ma."


Setelah meneguk air putih yang diberikan Ira, Rico berlalu begitu saja dari ruangan itu. Sementara Jinan yang sangat sadar akan apa yang membuat Rico tersedak kini menundukkan pandangannya. Ia tahu jika Rico suka padanya, itu kenapa selama beberapa bulan belakangan ini Jinan sering menjauhi pria itu. Tidak ada satupun panggilan dari Rico yang dijawabnya, pesan pun Jinan akan membalasnya jika itu memang penting menurutnya.


Sedetik kemudian Jinan mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Ardo yang saat itu sedang menggenggam tangannya dari bawah meja. Sepertinya Ardo juga mengerti akan apa yang terjadi pada Rico saat itu. Melihat senyuman Ardo, membuat Jinan menghela nafasnya dan membalas senyuman itu dengan tersenyum pula.


  


      


******


   


   

__ADS_1


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕


Piupiu, see u nxt bab 😘


__ADS_2