Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 27


__ADS_3

Sore hari setelah pulang dari restoran Jinan, Elena menepati janjinya pada Ardo untuk menceritakan permasalahan yang terjadi pada restoran Jinan. Keputusan yang dibuat Elena untuk menceritakan semua ini pada Ardo memang terdengar sangat beresiko. Beresiko karena ia yang tidak mengenal siapa Ardo sebenarnya.


Tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa bahwa ia harus menceritakan semua ini pada Ardo. Semoga saja fillingnya kali ini benar, karena memang selama ini Elena selalu memiliki filling yang sangat kuat, persis seperti kakek dari ayahnya.


"Ya, jadi begitulah ceritanya. Kita mengira bahwa itu hanyalah ketidaksengajaan atau kesalahfahaman saja, tapi jika sudah berulang seperti ini, sepertinya ini bukanlah lagi ketidaksengajaan. Pasti ada dalang dibalik kejadian ini," ujar Elena.


"Apa ada yang kalian curigai? Mungkin dari para pegawai kalian atau salah satu orang terdekat kalian?" tanya Ardo.


Elena tampak memikirkan pertanyaan Ardo. Para pegawai Jinan termasuk orang-orang yang kurang mampu serta tidak memiliki jejaring sosial yang luas. Untuk masalah semacam ini sangat tidaklah mungkin jika mereka ada yang terlibat. Lagipula semua pegawai juga sudah di cek latar belakang kehidupannya, dan sepertinya tidak ada masalah.


Sedangkan untuk orang terdekat Jinan yang ada di sini hanya ada ia dan keluarganya. Tapi setau dirinya, keluarganya tidak pernah memiliki masalah dengan orang-orang yang berbahaya seperti itu. Satu-satunya musuh keluarganya hanyalah rival bisnis orang tuanya. Tapi apakah mungkin, demi bisnis mereka sampai berani melakukan tindakan kejahatan seperti ini? Dan jikapun iya, kenapa harus Jinan?


Elena menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Aku tidak boleh salah menilai," batinnya.


"Sepertinya tidak ada," jawab Elena pada Ardo yang masih menunggu jawaban darinya.


"Apakah ia memiliki teman, atau semacam kenalan di sini?" tanya Ardo lagi.


"Tidak. Jinan bukan tipe orang yang mudah bergaul, teman dia satu-satunya hanyalah aku dan keluargaku. Dan untuk kenalan, sepertinya tidak ada ... kecuali kau," ujar Elena dengan menatap Ardo datar.


Ardo menatap Elena dengan intens, kemudian ia mengernyitkan keningnya. "Apa maksudmu aku terlibat dalam masalah kalian?"


"Hah? Em, bukan. Bukan itu maksudku. Aku tidak bermaksud menuduhmu, aku hanya ... hanya–"


"Sudahlah," potong Ardo. "Aku akan mencaritahu penyebab dari kejadian ini. Jikapun benar bahwa aku ikut terlibat, kalian tenang saja, aku akan bertanggung jawab," ujar Ardo dengan wajah seriusnya dan dibalas anggukan kepala oleh Elena.


Setelah selesai dengan pembahasannya, kini mereka memilih untuk bersantai sejenak di coffee shop itu sembari berbincang ringan dengan menikmati desert dan kopi pesanannya. Elena yang awal bertemu mengira bahwa Ardo orang yang hangat, setelah berbincang mengenai masalah restoran Jinan, ternyata Ardo adalah termasuk orang yang serius dan dingin.


Dan saat mereka mulai berbincang santai sembari menghabiskan waktu di coffee shop itu, Elena kembali mendapati sosok Ardo yang cukup hangat dan sweet menurutnya. Apalagi dari cara pria itu memperlakukannya dengan sangat baik, membuat Elena merasa sangat diistimewahkan.


"Ternyata pria ini memiliki kepribadian yang cukup menarik," batinnya sembari tersenyum tipis.


Setelah waktu menunjukkan pukul 18.35 Ardo berpamitan untuk pulang kepada Elena. Saat Elena handak memasuki mobilnya, ia membalikkan tubuhnya menghadap Ardo.


"Ada apa?" tanya Ardo.


"Boleh aku bertanya?"


"Ya?" Ardo menaikka kedua alisnya.


"Apa kau pernah terlibat sebuah permasalahan dengan sekelompok anggota mafia?" tanya Elena ragu.


Ardo mengernyirkan keningnya akan pertanyaan Elena.


"Apa maksudmu?" tanya Ardo.


"Em, tidak ada. Lupakan saja," ujar Elena sembari menyengir kuda. "Aku duluan, sampai bertemu lagi," lanjutnya, lalu ia segera masuk ke dalam mobilnya.


Ardo masih menatap mobil Elena sampai mobil itu menjauhinya. Ia masih bertanya-tanya, kenapa wanita itu menanyakan hal semacam itu secara tiba-tiba padanya. Apakah Elena juga mencurigainya seperti Rico?


"Sebaiknya aku menanyakan kejadian ini langsung pada Jinan. Siapa tahu ada sesuatu yang dilewatkan oleh Elena," gumam Ardo.


Dan keesokan harinya, pukul 10.21 kini Ardo sudah berada di sebuah restoran Asia favorite-nya. Milik siapa lagi jika bukan milik Jinan, wanita incarannya.


Sembari mengutak-atik laptopnya, Ardo sesekali melirik ke arah pintu masuk untuk melihat kedatangan Jinan. Namun hingga menjelang waktu makan siangpun Jinan tak kunjung juga kelihatan batang hidungnya. Bahkan teman-teman Jinan yang biasa menemani Jinan pun juga tak terlihat sejak ia mendudukkan tubuhnya di kursi restoran itu.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Ardo akhirnya menanyakan keberadaan Jinan kepada salah satu pegawainya.


"Maaf, Tuan. Kita juga tidak tahu kenapa nona tidak datang. Mungkin saja nona akan datang sebentar lagi," ujar pegawai lelaki itu.


"Teman-temannya yang sering datang bersama Jinan, apa belum datang juga?" tanya Ardo.


"Tadi pagi nona Elena dan tuan Rico datang ke sini. Tapi hanya sebentar, setelah itu mereka pergi lagi," jawabnya.


"Baiklah, terima kasih."


Ardo keluar dari restoran itu, namun ia belum pergi dari sana. Ia hanya duduk diam sembari menunggu kedatangan Jinan dari dalam mobilnya yang terparkir tepat di depan restoran Jinan. Hingga waktu menunjukkan pukul 13.10 Jinan masih tak kunjung terlihat oleh pandangannya. Dengan rasa penasarannya, akhirnya Ardo pergi dari sana menuju kediaman Jinan untuk melihat keadaan wanita itu.


Setiba di sana, ternyata keadaan rumah Jinan terlihat lebih ramai dari biasanya. Ada beberapa orang pria maupun wanita muda yang terlihat bolak-balik seperti sedang mengerjakan sesuatu. Jika dilihat dari pakaiannya, sepertinya beberapa orang itu adalah pegawai Jinan di restoran. Dan di depan rumah itu juga terdapat dua orang pria paruh baya yang sedang berbincang santai dengan ditemani segelas minuman yang mungkin berupa kopi atau sejenisnya. 


Ardo mengernyitkan keningnya sembari memasati salah satu dari pria paruh baya itu.


"Sepertinya aku mengenal pria itu," gumam Ardo pelan.


"Ah ya, pria itu 'kan salah satu rekan bisnis tuan Masti dulu. Tapi siapa namanya?" tanya Ardo pada dirinya sendiri.


Beberapa saat memikirkan nama pria yang di maksud, namun setelah dua menit berjalan Ardo tak juga mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Karena posisi Ardo saat ini yang masih di depan salah satu coffee shop, dengan memberanikan diri, akhirnya Ardo melajukan mobilnya lebih mendekat ke depan rumah Jinan.


Dua orang paruh baya yang melihat kedatangan sebuah mobil SUV hitam yang tak mereka kenali pun hanya memandangi mobil itu tanpa beranjak dari duduknya. Hingga saat Ardo keluar dari mobil, barulah kedua paruh baya itu bangkit dari duduknya.


"Selamat siang," sapa Ardo kepada kedua paruh baya itu.


"Selamat siang," sahut mereka berdua.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya salah satu pria paruh baya itu.


"Ya. Apa Anda teman Jinan?"


Ardo tersenyum tipis. "Ya. Apa aku bisa bertemu dengannya?"


"Tentu saja. Silahkan duduk, saya akan penggilkan Jinan," ujar salah satu pria paruh baya yang berperawakan seperti orang Asia.


Setelah pria paruh baya itu pergi, Ardo mendudukkan tubuhnya di kursi yang telah tak berpenghuni itu.


"Maaf, Tuan. Jika boleh tahu, apa akan ada acara di rumah ini?" tanya Ardo pada pria paruh baya di sampingnya yang berperawakan layaknya orang asli Jerman.


"Ya, dua hari lagi akan ada acara aqiqah untuk anak perempuan Jinan. Apa kau belum diberitahu Jinan?"


Ardo terlihat bingung menjawab pertanyaan sederhana pria itu. Bukannya belum diberitahu, mungkin ia tidak akan diberitahu Jinan karena Jinan saat ini masih belum menganggap kehadirannya.


"Jinan memang belum memberitahuku, mungkin dia sedang sibuk," jawab Ardo asal.


Pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya sembari menatap wajah Ardo dengan intens.


"Sepertinya kita pernah bertemu," ujarnya tiba-tiba.


"Hah?"


"Siapa namamu?" tanya pria itu.


"Namaku Evardo," jawab Ardo.

__ADS_1


"Apa kita pernah terlibat kerjasama bisnis? Sepertinya saya tidak asing dengan wajah Anda, Evardo."


"Ya, saya pikir begitu. Tapi maaf, sepertinya saya lupa dengan Anda, Tuan ...."


"Sebastian Marco."


"Ah ya, Tuan Sebastian," lanjut Ardo.


Ingat siapa Marco? Ya, dia adalah ayah Rico dan Elena. Sedangkan pria paruh baya satunya tadi adalah Dedy. Ayah dari Ria. Kedua orang tua Ria memang sengaja datang ke Jerman secara dadakan karena ingin memberi kejutan kepada anak mereka, sekaligus mereka ingin berjumpa dengan anak Jinan yang biasa mereka jumpai hanya melalui panggilan video.


"Oh ya, Ardo. Kalau boleh saya tahu, apa nama perusahaanmu? Saya sangat yakin jika kita memang pernah menjalin kerjasama," tanya Marco yang masih penasaran akan siapa Ardo.


"Maaf Tuan, saya tidak memiliki perusahaan. Saya di sini hanya bekerja."


"Oh ya?" ujar Marco tak percaya. "Apa nama perusahaan tempatmu bekerja itu?"


Ardo menyebutkan nama kedua perusahaan tempatnya dulu pernah bekerja. Dan tenyata Marco mengenal salah satu dari mantan bos Ardo itu. Ternyata Marco dan salah satu mantan bos Ardo itu memang pernah bekerja sama saat Ardo masih bekerja di sana tiga tahun lalu. Pantas saja mereka sama-sama merasa tak asing satu sama lain.


"Bekerja di mana kau sekarang?"


"Saya sudah tidak bekerja sejak tiga bulan lalu, Tuan."


"Kenapa? Apa kau ingin mendirikan perusahaan sendiri?"


Belum juga Ardo menjawab, kini Jinan sudah berada di samping ke dua pria beda usia itu dan berhasil menghentikan percakapan mereka.


"Baiklah, kalian bicaralah dulu. Saya tinggal ke dalam," ujar Marco lalu beranjak meninggalkan kedua manusia itu.


Setelah kepergian Marco, Ardo berdiri dari duduknya.


"Hai, Jinan," sapanya pada Jinan dengan senyum tipisnya.


"Ada apa kau kemari?" tanya Jinan to the point.


"Tidak mau duduk?"


Jinan menghela nafasnya, kemudian ia duduk di kursi yang tadi ditempati Marco.


"Jinan," panggil Ardo karena Jinan hanya diam saja tanpa menatapnya.


"Jinan, aku ingin menanyakan perihal teror yang terjadi di restoranmu," ujar Ardo lagi karena Jinan masih tak menghiraukannya. Dan benar saja, setelah Ardo mengatakan niatnya, Jinan langsung menatap Ardo.


"Sudah kubilang bahwa tidak ada masalah apa pun pada restoranku."


"Elena sudah menceritakan semuanya padaku."


Jinan membelalakkan matanya terkejut. Elena?


"Astaga, tuh orang kok lemes banget sih mulutnya," batin Jinan kesal.


"Kau tenang saja, aku tidak ada niat jahat padamu atau restoranmu, aku di sini hanya ingin membantumu," ujar Ardo saat melihat raut tak suka di wajah Jinan.


*******


LIKE, COMENT, VOTEEEE 💕

__ADS_1


__ADS_2