
"Maaf, aku tidak ingin merepotkanmu. InsyaAllah aku bisa pergi sendiri. Ada Allah bersamaku, dia yang akan memberi keamanan padaku dan anakku," tolak Jinan.
"Tapi, Kak. Perjalanan Kakak dari Jerman ke Indo itu sangat jauh, Kak. Jika Kakak pergi sendirian saja mungkin tidak masalah, tapi Kakak harus membawa seorang bayi. Kakak akan sangat kerepotan di perjalanan nanti," ujar Ria. Ia setuju jika Jinan didampingi oleh Ardo saat pulang ke Indo nanti. Ia yakin jika Ardo bisa menjaga Jinan, dan ia juga yakin jika Ardo benar-benar serius dengan ucapannya kemarin saat di resto.
🍁Flashback On🍁
Satu hari sebelumnya, di restoran milik Jinan.
"Kenapa Kakak sangat begitu ingin tahu semua hal tentang kak Jinan?" tanya Ria.
"Bukankah kau sudah tahu bahwa aku mencintai temanmu itu?" tanya Ardo balik.
"Ya. Tapi Kak Ardo aneh sekali. Kalian belum mengenal dekat, dan kalian juga baru bertemu beberapa bulan tanpa kedekatan yang intens layaknya orang yang sedang pendekatan. Bahkan kalian saja tidak berteman. Lalu kenapa Kak Ardo bisa mencintai kak Jinan?"
"Bukankah tidak ada yang tahu kapan cinta itu akan datang? Dan tidak ada yang tahu juga pada siapa cinta itu akan berlabuh?"
Ardo tersenyum tipis saat melihat Ria yang hanya diam menatapnya tanpa menyahuti ucapannya.
"Aku tidak pernah menyangka akan memiliki perasaan seperti ini, apalagi pada wanita seperti Jinan. Jujur, sebenarnya aku tidak tahu apa itu cinta, karena ini adalah untuk pertama kalinya aku merasakan hal semacam ini. Dan saat aku bercerita tentang perasaanku ini pada kakak perempuanku, dia berkata bahwa aku sedang jatuh cinta."
Ardo tertawa sumbang. "Sebenarnya ini sangat konyol bagiku. Tapi beginilah kenyataannya, aku tidak bisa berhenti memikirkan Jinan meski sedetikpun. Hari-hariku selalu dihiasi dengan wajahnya yang melintas dalam setiap benakku."
Ardo menghentikan perkataannya, pria itu terlihat tersenyum dengan membayangkan wajah wanita yang sedang ia bicarakan, sedangkan Ria hanya diam dengan pikirannya sendiri. Cukup lama mereka saling diam hingga Ria mulai membuka suaranya.
"Sejak pertama aku bertemu kak Jinan," Ardo menatap Ria yang berucap dengan tiba-tiba itu." yang kutahu bahwa kak Jinan adalah sosok wanita pendiam yang penuh dengan senyuman. Para tetangga pun tak sedikit juga yang menyayangi kak Jinan layaknya anak sendiri." Ria menjeda ucapannya sembari tersenyum saat membayangkan wajah ayu Jinan. Ia melirik Ardo yang saat ini sedang menatapnya untuk menunggu kelanjutan dari ceritanya.
"Ibu kak Jinan yang bernama Caty berasal dari keluarga yang cukup berada. Beliau dibesarkan di Jerman saat usianya tujuh belas tahun. Singkat cerita, bibi Caty menikah dengan paman Dodi yang berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Setelah menikah, bibi Caty memilih untuk hidup sederhana bersama paman Dodi di Indonesia. Saat itu semua masih berjalan dengan normal. Tapi setelah kedua orang tua bibi Caty meninggal, tepatnya saat kak Jinan berusia sepuluh tahun, para saudara bibi Caty perlahan mulai menjauhi bibi Caty dan keluarganya. Semua harta orang tua bibi Caty diambil alih oleh ketiga saudaranya yang gila harta. Sejak saat itu, ekonomi bibi Caty perlahan menurun dari sebelumnya. Mereka hidup seadanya dengan pekerjaan paman Dodi yang hanya sebagai guru honor. Namun meski begitu, keluarga itu termasuk keluarga yang sangat harmonis di mata masyarakat sekitar. Mereka hidup bahagia dengan segala kesederhanaannya. Kebaikan dan kelembutan dari sikap paman Dodi dan bibi Caty membuat senyum di wajah kak Jinan tak pernah pudar meski sedikitpun. Kak Jinan tumbuh sebagai wanita sempurna di mata sebagian orang yang menyayanginya. Kelembutan bersikap, kesabaran, ketulusan, serta kepintaran wanita yang baru saja belajar berhijab itu ternyata memberi vibes positif pada siapapun yang dekat dengannya, termasuk aku. Dan semua hal positif itu adalah gabungan dari sikap kedua orang tuanya."
__ADS_1
Ria menghela nafasnya, ia mengusap pipinya yang basah sebelum melanjutkan ceritanya.
"Sejak kematian bibi Caty dan paman Dodi, senyuman yang selama ini menghiasi wajah kak Jinan perlahan memudar. Mulai dari kesepian, keramahan para tetangga yang mulai berkurang, pernikahan yang terpaksa, pengkhianatan suaminya, hingga fitnah dan cacian dari para tetangga dan mantan mertuanya akan kehamilannya berhasil mengubur senyuman indah itu. Saat kelahiran baby Ayla beberapa bulan lalu, rasa bahagia yang dirasakan kak Jinan ternyata bisa sedikit mengembalikan senyum di wajahnya. Aku pikir kesedihan kak Jinan akan segera berakhir saat itu. Tapi sayang sekali, apa yang aku pikirkan ternyata tidak bisa menjadi kenyataan. Senyuman yang baru saja hadir itu kembali padam saat kejadian teror dan penembakan di rumah kita saat itu terjadi. Ia takut jika orang-orang yang ia sayangi akan pergi lagi meninggalkannya karena insiden tersebut. Dan kak Jinan juga kembali merasakan kesedihan saat orang yang ia anggap sebagai saudaranya sendiri hampir saja melecehkannya. Yaitu kak Rico."
"Apakah keluarga ibu Jinan ada di Jerman?" tanya Ardo tiba-tiba.
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya iya, karena nenek dari ibu kak Jinan adalah orang Jerman."
"Saudara dari ayahnya ke mana?" tanya Ardo lagi.
"Paman Dodi hanya memiliki dua orang adik perempuan. Satu tahun sebelum orang tua kak Jinan meninggal, mereka sudah dibawa pergi oleh suami mereka ke luar kota. Dan saat orang tua kak Jinan meninggal, mereka hanya datang untuk melayat dan pergi kembali setelah acara pemakaman selesai. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin membawa kak Jinan tinggal bersamanya. Aku juga tidak tahu apa alasannya."
Ria meneguk air mineralnya yang ada di atas meja untuk menyegarkan tenggorokannya, sedangkan Ardo hanya diam sembari menatap wajah Ria dengan raut yang tidak bisa jelaskan.
"Ternyata ada banyak hal yang tidak aku ketahui dari Jinan," batin Ardo.
"Aku tidak akan pernah menyakiti Jinan. Aku berjanji akan membuat senyuman itu kembali hadir pada wajah cantik Jinan untuk selamanya," ujar Ardo dengan wajah seriusnya.
🍁Flashback Off🍁
"Yang dikatan Ria benar, kau akan sangat kerepotan di perjalanan nanti. Biarkan aku ikut denganmu ke Indonesia. Aku berjanji tidak akan terlalu dekat denganmu," ujar Ardo yang membenarkan ucapan Ria.
"Akan aku pikirkan nanti," ujar Jinan bermaksud menghindar.
Sebenarnya ia memang butuh seorang teman untuknya di perjalanan nanti. Benar kata Ria dan Ardo, ia akan sangat kerepotan di perjalanan nanti. Tapi bersama Ardo? Ia tidak yakin untuk itu.
Siapa dan bagaimana asal-usul Ardo, ia tidak tahu sama sekali. Bagaimana bisa ia harus percaya pada orang yang belum ia kenal. Rico yang sudah ia kenal selama satu tahun ini saja tega mengecewakannya, bagaimana dengan Ardo? Sebaiknya ia tidak boleh terburu-buru.
__ADS_1
Ardo yang memahami sutuasi pun hanya bisa menghela nafasnya kecewa.
"Baiklah. Tapi aku harap kau bisa mengambil keputusan yang tepat. Karena bagaimanapun juga, semua ini demi kebaikanmu dan anakmu."
Jinan menganggukkan kepalanya tanpa menyahuti ucapan Ardo.
"Em, Jinan."
Jinan menatap Ardo tanpa menjawab panggilan pria itu. "Ria bilang kau ingin menjual restoranmu. Apa sudah ada yang ingin membelinya?"
Jinan menatap Ria sembari menghela nafasnya. Sepertinya, semua planing yang ia buat sudah diketahui oleh Ardo melalui mulut ember Ria.
"Belum," jawab Jinan singkat.
"Kalau begitu, aku yang akan membeli restoranmu."
Jinan mengernyitkan keningnya. Pria ini ingin membeli restorannya?
******
Tengkyu sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘
__ADS_1