
"Cucumu?" Ardo berdecih. "Sejak kapan anak ini menjadi cucumu? Bukankah kalian sendiri yang mengatakan bahwa anak ini adalah anak dari pria lain?"
"Tidak. Saya tidak mengatakan itu. Saya tidak pernah mengatakan itu. Jinan, Papa tidak pernah mengatakan itu, Nak," seru Putra pada Jinan.
Jinan hanya diam saja dengan tangisnya. Ia tidak tahu harus memberi respo apa pada Putra. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah anaknya, ia takut jika mereka mengetahui bahwa Ayla adalah cucu mereka, mereka akan membawa pergi Ayla darinya. Entahla kenapa Jinan sekaranng suka berpikiran buruk tentang anaknya. Mungkin saja karena pengalamannya yang sering ditinggal pergi oleh orang-orang sekitarnya juga membuat Jinan takut akan kehilangan anaknya.
Baru saja Putra hendak menghampiri Jinan, namun tubuhnya tertahan dan lebih memilih untuk menyanggah tubuh istrinya yang limbung dan tiba-tiba tak sadarkan diri.
...
Setelah kepergian Sila dan Putra dari rumahnya, Jinan hanya diam saja di sofa singlenya. Sila dan Putra sudah mengetahui bahwa anak ini adalah darah daging Romi. Apakah selanjutnya mereka akan membawa anaknya pergi jauh darinya? Jinan menggelengkan kepalanya, ia tidak mau itu terjadi.
"Jinan," panggil Ardo dari sofa double samping Jinan.
Jinan menatap Ardo dengan wajah sayunya.
"Anakmu menangis," ujar Ardo memberitahu.
Jinan menatap anaknya yang masih dalam gendongan Ardo. Ia terkejut ketika menyadari bahwa anaknya saat itu sedang menangis.
"Astaghfirullah." Jinan berdiri dari duduknya. "Em, bisa kau letakkan anakku di atas sofa?"
Tanpa berlama, Ardo segera meletakkan baby Ayla yang masih menangis di atas sofa.
"Aku menidurkan anakku dulu," ujar Jinan dan dibalas anggukan kepala oleh Jinan.
Seperginya Jinan ke kamarnya, Ardo menelisik ke setiap sudut rumah Jinan. Ia berjalan mengitar dinding rumah yang terpajang hiasan yang sangat sederhana. Tidak ada satupun foto Jinan atau keluarganya di sepanjang ruang tamu itu, padahal Ardo ingin sekali melihat wajah wanita itu saat di foto. Apalagi jika sampai bisa memotretnya dan menyimpannya di ponselnya, itu akan sangat menyenangkan sekali. Memandang potret wanita itu di saat ia lelah karena pekerjaannya, atau memandang potret wanita itu sebelum ia tidur. Astaga, bisa gila ia jika berlama-lama memikirkan hal itu.
Saat Ardo ingin mendudukkan kembali tubuhnya di sofa, tiba-tiba saja ponsel Ardo yang ada di saku jaketnya berdering. Ardo menghela nafasnya saat mengetahui bahwa papanya lah yang saat ini menelponnya. Ia berjalan ke luar untuk menjawab panggilan papanya itu.
"Assalamu'alaikum," ucap pria paruh baya dari sebrang sana.
"Wa'alaikumsalam. Papa bisa tidak, tidak usah menelponku setiap saat seperti ini. Iya aku akan pulang har ini, papa tenang saja," ujar Ardo dengan kesalnya. Ia sangat kesal karena papanya itu terus-terusan menghubunginya hampir lima kali dalam sehari. Dan itu hanya untuk menanyakan kapan ia pulang saja.
"Papa akan terus meleponmu sebelum kau berdiri tegak di hadapan Papa."
"Astaga, Papa. Aku 'kan sudah memberitahu bahwa hari ini aku akan pulang. Tolong jangan menelponku terus seperti ini."
__ADS_1
"Bagaimana Papa bisa tahu kalau kau benar-benar akan pulang? Siapa tahu kau akan membatalkan lagi penerbanganmu ini. Papa tidak percaya padamu, Ardo."
Ardo menghela nafasnya, papanya itu mengerti sekali akan dirinya yang selalu tidak pernah menepati janjinya. Tapi ia juga merasa terganggu dengan panggilan masuk dari papanya setiap hari ke ponselnya. Mau memblokir nomor papanya, itu tidak mungkin. Bisa-bisa ia tidak akan bernyawa lagi esok harinya.
"Baiklah, Ardo akan mengirimkan foto saat sudah di pesawat nanti. Papa tenang saja, kali ini Ardo pasti pulang. Sudah dulu ya Pa, Ardo sedang ada urusan penting. Ardo tutup telponnya. Oh ya, salam buat mama. Assalamu'alaikum."
Ardo menghela nafasnya kembali sembari menggelengkan kepalanya. "Dasar papa," gumamnya pelan.
Saat ia berbalik hendak masuk ke dalam rumah Jinan, ia terkejut dengan kehadiran Jinan yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Em, maaf. Aku tidak bermaksud mendengar pembicaraanmu dengan orang tuamu," ucap Jinan tak enak hati. Ia yang tadinya ingin ke teras karena tidak melihat kehadiran Ardo di ruang tamu, tak sengaja mendengar percakapan Ardo dengan orang tuanya. Saat ia hendak kembali masuk ke dalam rumahnya, ternyata Ardo sudah lebih dulu berbalik dan melihat kehadirannya. Ia sungguh merasa tidak enak hati dengan Ardo.
"Tidak masalah. Oh ya, apa anakmu sudah tidur?" tanya Ardo.
"Belum, tapi ditinggal sebentar tidak masalah kok."
Ardo menganggukkan kepalanya. Beberapa detik saling diam, Ardo kembali teringat akan niatnya datang ke rumah Jinan, yaitu untuk memberikan hadiah yang berupa sebuah kalung pada wanita itu.
"Jinan."
"Ya?"
Ardo meraih kotak kecil berisi sebuah kalung emas yang ada di saku jaketnya. Ia mengulurkan kotak itu di depan wajah Jinan.
"Untukmu," ujarnya.
"Ambillah dan lihat sendiri isinya."
Dengan ragu Jinan mengambil kotak tersebut dari tangan Ardo, kemudian ia membukanya. Mata Jinan terbelalak saat melihat sebuah kalung emas putih yang sangat cantik di atas bantalan dalam kotak tersebut.
"Masyaa Allah, cantik sekali," puji Jinan dalam hati.
"Untuk apa kau memberikan kalung ini padaku?" tanya Jinan heran.
"Sebagian kecil dari rasa cintaku padamu," ucap Ardo dengan menatap lurus ke arah mata indah Jinan.
Jinan hanya diam mendengar perkataan Ardo.
"Jinan. Mungkin kau akan bosan mendengarku mengatakan hal ini terus. Tapi kau harus tahu, bahwa aku benar-benar mencintamu. Aku serius denganmu."
"Apa kau akan meninggalkan aku juga seperti yang dilakukan mas Romi?" tanya Jinan dengan suata tercekat.
Ardo menatap Jinan dengan dalam.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Kau adalah satu-satunya wanita dalam hidupku selain mama dan kakak perempuanku. Selamanya hanya kau, Jinan. Tidak akan ada wanita lain yang mengisi hati ini selain kau."
Mata Jinan berkaca-kaca mendengar perkataan Ardo yang terdengar seperti sebuah janji manis untuknya.
"Aku tidak pernah mencintai wanita selain mama dan kakakku. Kau adalah wanita pertamaku Jinan. Dan ku pastikan bahwa kau jugalah wanita terakhirku. Aku berjanji padamu."
"Jangan pernah mengucapkan sebuah janji jika kau tidak bisa menepatinya," ujar Jinan.
"Aku akan membuktikannya jika kau mau," ucap Ardo terdengar seperti meminta jawaban.
Jinan memejamkan matanya dengan menghembuskan nafasnya panjang. Ia membuka matanya kembali dan menatap Ardo dengan tatapan penuh keyakinan.
"Pulanglah. Aku akan menunggu bukti darimu."
Ardo menatap Jinan bingung. Apa maksudnya ini? Jinan menerimanya? Atau ia hanya halu saja?
"Kau menerima cintaku?" tanya Ardo tak percaya.
"Pergilah, nanti kau akan ketinggalan pesawat," ucap Jinan dengan tak menanggapi pertanyaan Ardo.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau menjawab pertanyaanku. Aku tanya, apa kau menerima cintaku?"
"Kita sudah dewasa, Ar. Tanpa menjawab pertanyaanmu itu, seharusnya kau sudah mengerti maksud dari kalimatku tadi."
"Aku tidak mengerti dan sekarang jawab pertanyaanku. Apa kau menerima cintaku?" tanya Ardo lagi.
Jinan menghela nafasnya. Kenapa pria ini keras kepala sekali, ia 'kan malu untuk mengatakannya.
"Ayo Jinan, apa susahnya menjawab pertanyaanku," desak Ardo.
"Ya, Ar. Ya, aku menerimamu. Apakah kau puas?" ujar Jinan dengan pipi yang sudah memerah karena menahan malu.
******
__ADS_1
jangan lupa dukung juga karya Nai, UJIAN CINTA dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT💕
Piupiu, see u nxt bab 😘