Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 33


__ADS_3

"Jadi benar, itu semua ada kaitannya denganmu, Co?" tanya Jinan lirih.


Rico menatap Jinan. "Ji, aku tidak tahu apa-apa soal kejadian itu. Aku bahkan tidak tahu jika Clara patah hati karena aku. Kami hanya berteman, Ji. Aku tidak tahu jika Clara memiliki perasaan denganku."


Ria yang mendengar itu pun menutup mulutnya dengan tangan kanannya sembari menggelengkan kepala. Ia tidak percaya akan apa yang ia dengar. Ternyata semua ini benar ada kaitannya dengan sepupunya itu.


"Apa kau juga yang merusak cctv di restoranku, agar aku tidak bisa mengetahui siapa pelaku dari teror itu?" tanya Jinan dengan disertai isakan yang tak lagi bisa dibendung. Ia sengaja menghiraukan ucapan Rico dan lanjut dengan pertanyaannya, baginya sudah cukup jelas apa yang ia dengar barusan, bahwa Rico lah yang menjadi awal mula dari semua ketakutan pada dirinya akan teror dan tembakan beberapa hari lalu.


"Cctv?" gumam Rico.


Ya, saat mereka mengecek cctv beberapa hari lalu, rekaman video cctv pada saat itu memang sedikit kabur. Seperti ada suatu cairan kental yang melumuri semua kamera cctv yang ada di dalam maupun di luar restoran. Dan cairan tersebut tak lain adalah darah dari bangkai itu sendiri. Mereka juga saat itu tidak bisa melihat kapan cctv itu mulai kabur, karena rekaman cctv itu sudah terpotong di beberapa bagian tertentu.


"Sumpah, Ji. Aku tidak melakukan itu. Aku juga tidak tahu jika tuan Octav yang melakukan semua itu. Aku berani bersumpah, Ji."


Rico duduk bersimpuh di depan Jinan. Namun dengan cepat Jinan menggeser posisi duduknya merapat ke arah Ria. "Jangan seperti ini, Co."


"Em, maaf." Rico bangkit dan duduk kembali di tempat sebelumnya ia duduk. "Ji, aku janji akan menyelesaikan ini semua. Aku janji, restoranmu tidak akan di teror oleh tuan Octav atau siapapun lagi Ji, aku akan pastikan itu."


"Restoran Jinan sudah kuamankan," sela Ardo tanpa dosa.


Rico menatap Ardo. "Kau." Rico menggeram marah pada Ardo.


"Co." Rico menoleh, menatap Jinan. "Pulanglah. Untuk saat ini kumohon jangan mendekat padaku atau siapapun yang ada di rumah ini dulu sebelum masalahmu selesai. Aku takut kejadian kemarin akan terulang lagi."


"Tapi, Ji–"


"Kau juga pulanglah, aku butuh istirahat," ucap Jinan pada Ardo tanpa menanggapi Rico yang hendak bicara. Jinan bangkit dari duduknya, lalu ia berjalan pelan menuju kamarnya dengan dituntun Ria.


Setelah Ria menutup pintu kamar, Rico menatap Ardo penuh amarah.


"Semua ini gara-gara kau. Kau pasti yang merancang semuanya. Kau pasti yang ingin menjebakku, kan?" teriak Rico.


Rico hendak melayangkan pukulannya pada Ardo yang duduk di seberangnya. Namun baru saja ia hendak melangkah, kerah bajunya tiba-tiba saja ditarik oleh seseorang yang berdiri di belakangnya.


Rico menoleh ke belakang, ternyata papanya yang menarik kerah bajunya. Ya, Marco dan para saudara lainnya yang sedang duduk di teras rumah terkejut ketika mendengar Rico berteriak, dan saat itu mereka langsung saja berlari cepat memasuki rumah. Untungnya saja ia datang tepat waktu, jika tidak, sudah dipastikan akan ada perkelahian di dalam rumah ini.


"Mau buat ulah lagi hah?" tanya Marco.


"Dia memfitnahku, Pa. Dia menjelek-jelekkanku di depan Jinan."

__ADS_1


"Memangnya aku menjelekkan kau seperti apa?" tanya Ardo dengan menaikkan salah satu alis dan sudut bibirnya mengejek.


Marco menatap Ardo sejenak, lalu ia menatap anak lelakinya untuk menuntut jawaban. Bukannya menjawab, Rico malah diam saja dengan raut bingung dan paniknya.


Setelah dipikir-pikir, tidak mungkin juga jika ia memberitahukan masalah ini pada papanya. Bisa-bisa papanya akan mencari tahu sendiri dari Octav, rekan kerjanya. Ia juga tidak mau pekerjaan orang tuanya menjadi berantakan karena permasalahannya.


"Aku harus pergi, aku ada urusan. Nanti aku akan minta Elena untuk menjemput kalian."


Rico berlalu dari sana dengan meninggalkan banyaknya pertanyaan bagi kedua orang tua serta paman dan bibinya. Setelah kepergian Rico, semua orang kini menatap ke arah Ardo.


Ardo yang ditatap begitupun tampak canggung dalam waktu sekejap. "Em, maaf Tuan Marco, sepertinya saya harus pulang sekarang."


 


 


***


 


 


 


Meski tidak ada lagi kejadian aneh di setiap hari-harinya, tapi Jinan saat ini harus jauh lebih waspada dari sebelumnya. Dan Jinan juga saat ini lebih membatasi diri dalam berhubungan dengan Rico. Ia takut jika Rico masih memiliki musuh atau apapun itu namanya yang akan membahayakan orang-orang disekitarnya. 


Bukan hanya Rico, Jinan juga sekarang lebih membatasi dirinya untuk bergaul dengan orang baru. Bahkan Ardo saja yang sudah membantunya tidak diizinkan Jinan untuk bertemu sesering mungkin dengannya. Menurutnya, tidak ada jaminan jika Ardo yang sudah membantunya adalah orang yang seratus persen bersih dari hal yang bersangkutan dengan dunia bawah tanah. Apalagi dari cara Ardo yang menangani permasalahannya dengan sangat mudah, ia yakin jika Ardo bukan sekedar pria normal pada umumnya yang hanya berstatus sebagai pekerja atau perantau saja.


...


Hari ini kedua orang tua Ria akan pulang ke tanah air. Rencana satu bulan di Jerman terpaksa harus mereka persingkat menjadi tiga minggu karena perusahaan milik Dedy saat ini tiba-tiba saja sedang terjadi kekacauan.


Semua suadara Ria ikut mengantarkan kepulangan Sila dan Dedy ke bandara, tak terkecuali Jinan dan baby Ayla. Rico yang selama dua minggu belakangan ini sering mendapatkan sahutan dingin dari Jinan menjadi canggung saat berdekatan dengan wanita itu. Selama bersama di bandara, mereka tidak bertegur sapa sama sekali. Dan itu bukan hanya membuat mereka berdua saja yang canggung, tapi beberapa orang lainnya yang ada di sekitar mereka juga menjadi ikut canggung dengan keadaan itu.


"Mami pulang ya, Sayang. InsyaAllah lebaran tahun ini Mami dan Papi akan ke sini lagi," ucap Sila sembari menciumi wajah anak gadisnya.


Ria memberengutkan wajahnya. "Lebaran tahun ini Ria aja yang pulang ke Indo ya, Mi. Di sini nggak asik banget, lebarannya nggak seramai di Indo."


"Kita atur jadwal saja nanti. Sekalian ajak baby Ayla pulang ke Indo juga, biar dia bisa mencicipi udara Indonesia," ujar Dedy menimpali dan disambut tawa kecil beberapa orang di sana.

__ADS_1


"Wah bener juga tuh, Kak. Lebaran tahun ini kita pulang ya, Kak," ujar Ria pada Jinan dengan antusias.


"InsyaAllah," sahut Jinan dengan tersenyum tipis. Sebenarnya ia juga rindu dengan kampung halamannya. Rindu dengan rumah peninggalan kedua orang tuanya. Rindu dengan kehangatan matahari pagi di teras depan rumahnya. Dan masih banyak lagi yang ia rindukan kecuali semua yang berhubungan dengan pernikahannya.


 


...


 


Setelah Sila dan Dedy pergi untuk menaiki pesawatnya, kini mereka bergegas pulang ke rumah.


"Ji, kamu dan Ria di mobilku saja ya. Biar orang tuaku sama Elena."


Jinan menatap sosok yang bersuara di belakang tubuhnya sekilas, lalu ia segera menundukkan pandangannya dan menghadap ke Elena yang ada di sampingnya.


"Aku dan Elena mau pergi ke restoran. Kau saja yang mengantar orang tuamu pulang, Co," ujar Jinan tanpa menatap Rico. Suasana di antara mereka saat ini amatlah canggung. Jinan bahkan ingin sekali berteriak karena kecanggungan ini. Rasanya tidak nyaman sekali.


Rico menghela nafas. "Baiklah," ucapnya pasrah. Lebih baik mengalah dari pada harus berdebat, yang di mana ia sendiri tahu bahwa ia tidak akan bisa menang selagi semua orang berada dipihak Jinan.


   


   


******


   


  


Kau \= percakapan bahasa asing


Kamu \= percakapan bahasa Indo


Berhubung mereka bukan 100% orang Jerman dan bisa bahasa Indonesia sedikit-sedikit, jadi percakapan mereka digabung dengan 3 bahasa yaitu, Indo, Inggris, Jerman. Dan berhubung Nai tidak mahir bahasa Inggris dan buta bahasa Jerman, jadi Nai nulisnya hanya bisa pakek bahasa Indonesia.


Kalian pasti bisa membedakan mana percakapan formal seperti terjemahan kata dari bahasa asing, atau percakapan orang Indonesia pada umumnya, right?


  

__ADS_1


LIKE, COMENT, and VOOOTTEE 😘💕


__ADS_2