
Satu minggu telah berlalu, hari ini Jinan akan pulng ke Indonesia dengan ditemani Ardo. Hubungan Jinan dan Ardo saat ini juga bisa dibilang ada peningkatan. Ardo yang selalu menunjukkan perasaannya dan ketulusannya kepada Jinan membuat Jinan perlahan mulai menerima kehadiran Ardo di sisinya meski hanya sebagai seorang teman.
Namun jika ia diminta untuk menerima perasaan Ardo dan menjadikan Ardo sebagai ayah sambung dari anaknya, jujur saja Jinan tidak tahu harus melakukan apa. Ia tidak mau lagi tergesa-gesa dan terpaksa menerima lamaran dari seseorang hanya karena orang tersebut sangat baik kepadanya. Entahlah ini bisa dikatakan trauma atau tidak, yang jelas Jinan tidak mau hal buruk yang pernah terjadi padanya kembali terulang lagi. Apalagi saat ini ia memiliki buah hati yang harus ia jaga dengan sebaik mungkin, ia sangat tidak ingin jika harus membawa anaknya kepada permasalahannya itu.
"Jinan, kamu sudah Mama anggap seperti anak Mama sendiri, Nak. Kami semua menyayangimu," ucap Ira penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Mama. Kalian sangat baik kepada Jinan. Jinan sangat bersyukur bisa mengenal kalian," ucap Jinan dengan tersenyum.
"Jaga diri baik-baik ya, Sayang. Kalau ada waktu, nanti kita akan berkunjung ke Indonesia," ujar Ira dengan memeluk tubuh ramping Jinan.
"InsyaAllah, Ma. Jinan akan tunggu kedatangan Mama sekeluarga di rumah Jinan nanti." Ira menganggukkan kepalanya, kemudian ia menatap ke arah Ardo yang saat ini sedang berdiri tepat di samping kiri Jinan.
"Tolong jaga Jinan dan anaknya selama di perjalanan, saya percayakan dia padamu."
Setelah Ardo menganggukkan kepalanya, Ira memundurkan langkahnya, kini saatnya giliran Elena dan Ria yang mengucapkan salam perpisahan pada Jinan.
"Kakak," lirih Ria dengan memberengutkan wajahnya. Ia memeluk tubuh Jinan dengan sayang. Ia tidak menyangka jika ia akan berpisah dengan jarak yang sangat jauh seperti ini dengan Jinan. Kakak perempuan kesayangannya, dan juga satu-satunya temannya yang sangat baik.
"Aku akan sangat rindu dengan Kakak," seru Ria sedih.
Jinan tersenyum. "Belajar yang rajin. Jika kamu lulus dengan nilai yang baik, insyaAllah Kakak akan datang ke acara wisudahmu."
Ria menarik tubuhnya dari pelukannya, tiba-tiba saja ia menatap Jinan dengan wajah berbinar dan melupakan kesedihannya. "Kakak serius mau datang ke sini lagi saat aku wisudah?"
"InsyaAllah," ujar Jinan.
"Aku wisuda tiga tahun lagi, itu tandanya saat itu baby Ayla sudah berusia tiga tahun. Oh my, pasti anak kecil ini lucu sekali. Aku akan mengajaknya jalan-jalan di–"
"Sudah-sudah, kau ini mau memberi salam atau mau curhat," potong Elena sembari menarik tubuh Ria agar ia bisa berdiri di hadapan Jinan.
Ria kembali memberengutkan wajahnya kesal. Padahalkan ia belum selesai dengan kalimatnya. Tapi mau bagaimana lagi, waktu Jinan tidak banyak lagi di sini, beberapa menit lagi pesawat yang ditumpangi Jinan akan segera berangkat, dan Elena juga memiliki hak untuk mengucapkan salam perpisahannya dengan Jinan. Baiklah, sepertinya ia harus mengalah.
Elena memeluk Jinan cukup lama. Ini untuk pertama kalinya ia memiliki teman sebaik, sesalihah, sesabar, dan selembut Jinan. Dan beberapa menit lagi teman baiknya ini akan pergi dalam jangka waktu yang tidak pernah ia ketahui.
"Ingat pesanku. Kau akan menyesal jika menolak pria sesempurna Ardo," bisik Elena tepat di telinga Jinan.
Jinan tak bereaksi apa pun mendengar ucapan Elena, ia hanya diam dengan raut wajah yang tak bisa diartikan.
...
Setelah para wanita yang berpamitan dengan Jinan, kini saatnya giliran para laki-laki, Rico dan Marco.
"Jaga dirimu baik-baik di sana ya, Nak. Jangan pernah lupakan Papa dan Mama. Kapanpun kau ingin ke sini, rumah kami akan selalu terbuka untukmu dan anakmu."
__ADS_1
"InsyaAllah Jinan tidak akan pernah melupakan kalian. Kalian adalah orang terbaik yang pernah Jinan kenal setelah keluarga Jinan. Bahkan kalian sudah Jinan anggap sebagai keluarga Jinan sendiri, sama seperti mami Sila dan papi Dedy."
Marco tersenyum senang mendengar perkataan Jinan.
"Nak," seru Marco kembali.
"Ya, Papa."
"Papa memang belum mengenal Ardo dengan baik. Tapi Papa bisa menjamin bahwa pria ini bisa menjadi suami yang baik untukmu," ujar Marco dengan menatap sekilas ke arah Ardo.
Jinan terdiam mendengar ucapan Marco. Kenapa Marco tiba-tiba mengatakan hal yang serupa dengan Elena? Mirip sekali mereka berdua, pikir Jinan. Jinan tergagu, ia tidak tahu harus bagaimana menyahuti perkataan Marco.
"Pikirkan baik-baik. Papa tidak memaksa," ujar Marco kembali. Ia tersenyum ke arah Jinan, kemudian pandangannya kini beralih menatap Ardo.
"Jaga Jinan dengan baik. Saya percaya padamu. Dan saya harap Jinan tidak akan lagi mengeluarkan air matanya."
"Kau tenang saja, Tuan. Jinan akan terus bahagia jika bersamaku," ucap Ardo dengan menatap ke arah Jinan pada kalimat terakhirnya.
Pandangan kedua insan itu kini saling beradu. Namun sedetik kemudian Jinan menundukkan pandangannya saat Ardo mulai menyematkan senyuman manisnya ke arahnya. Entahlah, sepertinya wanita itu mulai merasa malu saat di tatap oleh Ardo dengan sedemikiannya.
Jinan mendongakkan wajahnya, ia menatap pada sosok Rico yang saat ini sedang berjalan mendekat ke arahnya. Jinan menelan salivanya saat pandangannya bertemu pada pandangan Rico. Kecanggungan itu kini terjadi lagi. Sungguh ini momen yang sangat menyebalkan, pikir Jinan.
"Ji."
"Maafkan aku," seru Rico lagi.
Jinan menganggukkan kepalanya tanpa menatap ke arah Rico. "Aku sudah memaafkanmu."
"Maafkan aku, Ji. Aku sungguh khilaf melakukan itu padamu. Aku mabuk saat itu, Ji. Aku khilaf," ucap Rico dengan tulus.
Jinan mendongak, memberanikan diri untuk menatap Rico.
"Aku sudah memaafkanmu sejak kemarin. Tapi aku minta padamu, jangan pernah berbuat sesuatu yang akan merugikanmu dan orang lain."
Saat Rico ingin menyahuti ucapan Jinan, tiba-tiba panggilan keberangkatan dari arah speaker menghentikan gerakan mulutnya. Saat suara itu berhenti, Rico hendak berucap kembali, namun sayangnya gerakan mulutnya kembali terhenti saat Ardo menyela ucapannya.
"Ayo, Jinan. Kita sudah harus pergi."
"Ah?" Jinan menatap ke arah Ardo sejenak, kemudian pandangannya kini beralih menatap Rico.
"Em maaf, aku sudah harus pergi," ujar Jinan dengan sangat tak enak hati. Jinan benar-benar tak enak hati dengan Rico meski sebenarnya ia juga sedikit lega, karena suara panggilan keberangkatan itu membuatnya terlepas dari kecanggungannya pada Rico.
Jinan berjalan pelan menghampiri Ira, Marco, Ria, dan Elena. "Mama, Papa, Jinan pergi dulu ya."
__ADS_1
"Hati-hati sayang." Ira mengusap kepala Jinan dengan sayang, kemudian ia menghampiri baby Ayla yang sedang di gendong Ardo. Ia mengusap kepala bayi mungil itu dan mencium keningnya.
"Kakak, hati-hati."
"Hati-hati, Ji."
Elena dan Ria memeluk tubuh Jinan erat secara bersamaan.
"Kabari kita jika sudah sampai," ucap Elena dalam pelukannya dan dibalas anggukan oleh Jinan.
"Jinan," seru Ardo dari arah belakang tubuh Jinan.
Jinan melerai pelukannya, ia menoleh menatap Ardo.
"Ayo," ucap Ardo dengan menganggukkan kepalanya pelan.
Jinan membalas anggukan itu, kemudian ia menatap kelima orang yang ada di depannya.
"Aku pergi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," sahut mereka.
Jinan berbalik dan mulai berjalan menjauhi kelima orang itu dengan diiringi Ardo dari belakang tubuhnya. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk melihat Ria dan yang lainnya yang masih menatap kepergiannya.
...
Baru saja Jinan melangkahkan kakinya ke dalam pesawat, tiba-tiba saja pundaknya ditepuk dari arah belakang. Ia pikir itu ulah Ardo, namun saat ia menghadap ke belakang, ia amat terkejut saat sosok yang tak asing baginya berada di hadapannya saat ini.
"Aunty," gumam Jinan pelan dengan nada tak percaya.
******
Ini hari senin ya? VOTE-nya dong hehe ...
__ADS_1
Btw, tengkyu bagi yang sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘