Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 70


__ADS_3

Seperti tebakan Jinan saat di kamar setelah subuh tadi, kini ia dan Ardo menjadi bahan bercandaan para keluarga Ardo dan Ria saat sedang sarapan bersama. Mereka terus menanyakan tentang kebersamaan Jinan dan Ardo selama di dalam kamar. Bahkan mereka semua tak tanggung untuk menanyakan keberlangsungan malam pertama kedua pasangan baru itu.


Meski untuk sebagian orang hal itu terdengar memalukan dan tidak sopan, tapi yang namanya sesuatu yang berlebihan akan membuat siapapun tidak sadar akan apa yang mereka lakukan. Seperti ketiga keluarga itu, karena rasa bahagianya pada pasangan baru itu yang terlalu berlebihan, membuat mereka semua bebas mengeluarkan suaranya tanpa berpikir apakah yang mereka katakan sudah benar atau tidak.


"Ma, aku ke kamar dulu ya. Ada yang mau diambil," pamit Rico pada Ira.


Ia yang memang sudah tak tahan mendengar obrolan orang-orang di sana, dengan sangat terpaksa harus mempercepat sarapannya agar bisa segera pergi dari sana.


Tak ada yang menghalangi Rico atau sekedar menanyakan barang apa yang mau diambil, karena semua yang ada di sana masih fokus pada Jinan dan Ardo. Namun sepasang mata yang ada di meja makan itu menatap heran pada tingkah Rico yang pergi di saat acara sarapan belum selesai.


"Untungnya baby Ayla tidak mengganggu ya, Kak. Kalau dia sampai ganggu, akan kuculik bayi itu malam ini," ujar Elena dan disahuti gelak tawa sebagian orang yang ada di sana.


"Culik ke Jerman?" tanya Ria. "Kita 'kan sore ini balik ke Jerman, Kak."


"Oh iya, aku lupa. Hari ini kita akan pulang," ujar Elena yang baru sadar.


"Kenapa cepat banget kalian pulang?" tanya Jinan. Ia padahal masih ingin berbincang dan bersantai bersama dengan kedua temannya itu.


"Papa tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama, aku sama Ria juga harus kuliah, jadi kita harus pulang hari ini."


"Lagian kamu juga sih, nikah kok dadakan gini. Kita 'kan jadi nggak ada persiapan mau cuti," ujar Ira pada Jinan.


"Maafkan saya, Tante. Saya hanya tidak ingin terlalu lama menyandang status sebagai calon suami. Dan maafkan saya juga karena saya lupa mengabari kalian dari jauh-jauh dari," ujar Ardo menjelaskan.


"Yasudahlah, tidak apa-apa. Masih ada hari lain untuk bertemu kembali," ujar Marco dan diiyakan mereka semua.


"Jam berapa kalian flight?" tanya Jinan pada Elena.


"Pesawat kita flight pukul lima sore. Kalian ikut mengantar kami ke bandara?" tanya Elena pada Jinan dan Ardo.


"Harus dong," ujar Ria antusias. "Kak Jinan pasti ikut, kan?"


Ria menatap ke arah Jinan, memastikan wanita itu untuk ikut. Ia tidak sadar jika Jinan saat ini sudah memiliki suami dan harus izin terlebih dahulu sebelum bepergian kemanapun.


"Em." Jinan menoleh pada Ardo, namun pria itu berpura-pura tidak menyadari itu.


"Kita akan mengantar kalian ke bandara," ujar Ardo tiba-tiba, dan berhasil membuat Jinan tersenyum tipis.


...

__ADS_1


Dan setelah menunggu Ardo menyelesaikan ibadah sholat Ashar, kini Jinan beserta anak dan suaminya keluar kamar menuju parkiran, yang di mana Sila sudah menunggu di sana untuk ikut mengantarkan anak dan saudaranya ke bandara.


Dedy tidak bisa mengantar anaknya ke bandara karena dia sedang ada rapat. Sementara keluarga Ardo tidak ikut mengantar, mereka masih diluar, sedang menikmati suasana kota Jakarta sebelum pulang ke negara asalnya tiga hari lagi. Lagian mereka tidak terlalu dekat dengan keluarga Elena, jadi Elena dan keluarganya juga tidak mempermasalahkan itu.


Ardo, Jinan, Ayla, Ria, dan Elena berada dalam satu mobil, sedangkan yang lainnya berada di mobil lainnya. Di dalam mobil yang dikendarai Ardo, para wanita sibuk bercengkrama dengan hebohnya. Mereka bahkan tidak memedulikan Ardo yang sedang fokus menyetir.


Namum meski Ardo fokus pada setirnya, tapi telinga pria itu ternyata ikut mendengar pembicaraan para wanita-wanita itu. Dan sesekali pria itu juga tersenyum geli saat mendengar kekonyolan Ria dan Elena yang menceritakan tentang keadaan di kampus tempat mereka berkuliah.


Setelah sampai di bandara, mereka berbincang santai di ruang tunggu sebelum keberangkatan tiba. Saat pandangan Ardo menangkap kepergian Rico dari sana, ia segera menyusul pria itu dengan alasan ingin ke toilet.


Ia yang melihat Rico berdiri sendirian di dekat pintu keluar lantas menghampiri pria itu dengan berjalan pelan. Setiba di belakang Rico, Ardo tak langsung menegurnya, ia hanya diam saja sembari menatap tubuh pria itu dari belakang dengan pikirannya sendiri. Sekiranya cukup lama ia berada di sana, akhirnya ia mulai membuka suara.


"Aku tahu kau belum bisa melupakan Jinan."


Mendengar suara seorang pria dari belakang tubuhnya dengan menyebut nama Jinan, lantas Rico berbalik untuk melihat siapa orang tersebut. Ia cukup terkejut melihat sosok Ardo yang sudah ada di belakang tubuhnya dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Kenapa kau di sini?" tanya Rico dengan nada tak suka.


"Kau cukup kaya, kau lumayan baik, dak kau juga cukup tampan. Ya, meski aku lebih tampan darimu," ujar Ardo dengan volume yang sangat kecil di akhir kalimatnya. "Aku yakin kau pasti bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Jinan. Dengan catatan, kau harus membuang sikap burukmu yang akan merugikan dirimu dan orang lain."


"Apa yang kau katakan. Minggir." Rico yang tak suka dengan perkataan Ardo yang menurutnya mengganggu telinganya itu kini hendak meninggalkan pria itu. Ia menubrukkan bahu kirinya pada bahu kiri Ardo.


Rico menghentikan langkahnya sejenak. Sedetik kemudian ia melanjutkan kembali langkahnya untuk pergi meninggalkan Ardo yang banyak bicara.


...


"Kalian berhutang janji padaku untuk merayakan hari raya di Indonesia. Awas saja sampai ingkar," ujar Jinan saat Ria dan yang lainnya hendak pergi karena sebentar lagi pesawat mereka akan terbang.


"Mungkin kami tidak akan ingkar, tapi kau sendiri bagaimana? Bukankah kau akan tinggal di Turki? Apa bisa pulang ke Indo, sedangkan keluarga suamimu ada di sana semua," ujar Elena mengingatkan.


"Jadi gimana dong, Kak. Kita nggak bisa lebaran bareng dong tahun ini."


Jinan melirik ke arah suaminya yang sedang berbicara dengan Aslan, Basir, dan Elif. Ia menghela nafasnya, sepertinya ia tidak bisa merayakan hari raya idul fitri di negaranya lagi tahun ini.


"Maafkan aku. Sepertinya tahun ini kita tidak bisa berlebaran bersama," ujar Jinan sedikit kecewa.


"Nanti kita atur waktu ya, Jinan. Walaupun tidak mungkin bisa berlebaran tepat waktu di sini, tapi beberapa hari setelah lebaran kau bisa meminta Ardo untuk membawamu ke sini. Dan kalian, harus tetap stay di sini sampai Jinan datang," ujar Huri yang bermaksud memberi solusi.


...

__ADS_1


Setelah berpisah dengan Elena dan yang lainnya, Jinan dan Ardo kembali ke mobil yang mereka tumpangi tadi. Sementara Sila di mobil satunya seorang diri.


"Sayang," panggil Ardo pada Jinan.


Jinan yang belum terbiasa dengan panggilan itu terlihat tersipu. "Y ... ya?"


"Kenapa Jinan terlihat seperti baru merasakan dipanggil dengan panggilan romantis seperti ini, ya? Apakah si Romi br3ngs3k itu tidak pernah memanggil Jinan dengan panggilan romantis?" tanya Ardo dalam hati. Ia sedari pagi tadi selalu memikirkan itu, tapi ia tidak berani bertanya pada Jinan. Ia takut Jinan tersinggung dengan pertanyaannya. Lagian juga ia malas sekali membahas pria br3ngs3k itu. Tidak penting sekali, pikirnya.


"Ah ya, pria br3ngs3k itu 'kan hanya ingin bermain-main dengan Jinan. Mana berani dia memanggil Jinan dengan panggilan romantis," batin Ardo yang menjawab sendiri pertanyaannya.


Akhirnya Ardo hanya cuek saja, membiarkan Jinan dengan rasa malunya itu. Biarlah Jinan dengan pikirannya sendiri, siapa tahu dengan itu Jinan akan mulai terbiasa dengan panggilannya itu.


"Apa kau tidak ingin memberikan kesempatan pada mantan suamimu itu untuk bertemu Ayla sebelum kita pergi? Kau tahu 'kan jika akau akan sangat sibuk dengan pekerjaanku, jadi kita akan sangat jarang untuk datang ke sini lagi. Aku hanya tidak mau dia mengira bahwa aku menjauhkan anaknya darinya."


Jinan berpikir sejenak saat mendengar bahwa mereka akan sangat jarang pulang ke Indo. Bukannya bimbang tentang pertemuan Romi dan Ayla, melainkan ia sedih karena ia akan sangat merindukan rumahnya dan orang-orang baik di sekitarnya seperti, Sila dan keluarganya.


"Jinan," seru Ardo menyentuh pundak Jinan, dan berhasil menyadarkan wanita itu dari lamunannya.


"Ah, ya?"


"Melamun?" tanya Ardo.


"Em, tidak. Baiklah, aku akan mengirim pesan kepada mas Romi."


   


  


******


  


  


  


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕


Piupiu, see u nxt bab 😘

__ADS_1


__ADS_2