Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 25


__ADS_3

Berlin, Jerman. 07.40 AM.


Pagi ini di kediaman Jinan dan Ria, kedua wanita layaknya adik kakak itu sedang menyantap sarapannya sebelum bersiap untuk pergi ke restoran milik Jinan.


"Kak," panggil Ria di sela kunyahannya.


Jinan mendongak menatap Ria tanpa menjawab panggilan wanita itu.


"Kakak udah nyiapin berkas buat daftar kuliah nanti?" tanya Ria.


Jinan menjeda makannya sejenak. "Sepertinya Kakak tidak jadi kuliah, Ri," jawab Jinan, lalu ia melanjutkan kembali makannya.


Ria mengernyitkan keningnya, lalu ia meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya.


"Kenapa nggak jadi, Kak?" tanya Ria heran.


Jinan menghela nafasnya, ia menyelesaikan makannya yang tinggal dua suapan, lalu ia meneguk air mineral terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Ria.


"Bagaimana mau kuliah, Ri? Sedangkan restoran Kakak saja sedang mengalami penurunan seperti ini. Uang hasil menggadaikan rumah, uang dari mas Romi, dan uang saku dari tante Linda bahkan nggak bakal cukup untuk membiayai hidup Kakak di sini selama dua tahun ke depan. Bagaimana dengan biaya kuliah? Kebutuhan Ayla? Jika seperti ini terus, mungkin Kakak akan pulang saja ke Indonesia. Setidaknya di sana Kakak tidak harus pusing memikirkan biaya sewa rumah. Untuk kebutuhan Ayla, Kakak bisa berjualan seperti waktu itu."


"Kakak mau ninggalin aku di sini sendirian?" tanya Ria tak suka.


"Mau bagaimana lagi, Ri. Kakak su–"


"Aku akan minta sama Mami buat biayain kuliah Kakak. Kakak nggak usah pusing mikirin uang, Kakak fokus aja kuliah. Soal baby Ayla, biar kita urus bersama. Kita akan bergantian mengurus baby Ayla di sela waktu senggang kita," potong Ria.


"Ri," seru Jinan tak setuju akan perkataan Ria. "Kamu nggak bisa begitu. Kakak nggak mau ya kamu ngelakuin itu. Sudah cukup Kakak merepotkan kalian terus, Kakak nggak mau jika harus lebih banyak merepotkan kamu dan keluarga kamu lagi."


"Merepotkan bagimana, Kak? Kakak sama sekali nggak merepotkan siapapun. Kita ini keluarga, sudah seharusnya sesama keluarga itu saling bantu. Mami sebagai orang tua Kakak pun juga sudah seharusnya memberi nafkah pada anaknya."


Jinan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ri. Kakak tidak mau. Kakak tidak mau membebani kalian lagi dengan permasalahan hidup Kakak. Cukup sampai di sini saja bantuan kalian pada Kakak. Kakak bahkan tidak tahu harus bagaimana mengembalikan uang dari hasil menggadaikan rumah yang sudah ditebus papi kamu. Kakak tidak tahu harus bagaimana lagi untuk bisa membalas semua kebaikan kalian pada Kakak. Tolong jangan membuat Kakak semakin terbebani akan kebaikan kalian, Ri," ujar Jinan sembari menggenggam kedua tangan Ria.


"Astaga, Kak. Kenapa Kakak bicara begitu? Papi menebus rumah itu karena papi sud–"


Trriingg ... Trriingg ...


Perkataan Ria terhenti saat ponselnya yang ada di atas meja berdering kencang. Ia mengernyitkan keningnya saat melihat panggilan masuk dengan nama kontak 'Restoran' pada layar ponselnya.


"Ngapain anak resto nelfon aku? Apa ada hal buruk yang terjadi di restoran?" batin Ria heran.


Setelah kejadian satu bulan lalu, Ria memang sengaja meminta anak-anak resto untuk menelfon ke nomor ponselnya jika ada sesuatu yang tidak baik terjadi di restoran. Dan hal itu jelas saja di luar dari sepengetahuan Jinan.


Ria sengaja melakukan itu karena ia tidak ingin menambah beban fikiran pada Jinan. Apalagi wanita itu sekarang sudah memiliki anak, yang di mana perhatiannya harus diberikan lebih untuk anaknya yang masih kecil itu. Terlebih dengan kondisi Jinan yang tidak memiliki sosok suami ataupun orang tua yang ada di sampingnya, itu akan membuat Jinan menjadi lebih terbebani. Ria tidak mau jika Jinan nanti setres karena harus memikirkan hal berat lain selain anaknya.

__ADS_1


Ria mendongak, menatap Jinan ragu. Ia bingung, bagaimana caranya ia mengangkat panggilan itu jika Jinan masih berada di hadapannya.


"Kenapa tidak diangkat, Ri?" tanya Jinan heran saat melihat raut wajah panik Ria.


"Hah? Eh, ti ... tidak ada, Kak. Hanya nomor asing saja, mungkin dia salah sambung," ujar Ria lalu disertai cengiran kaku.


Ria pun akhirnya menolak panggilan itu. Biarlah nanti saja ia menghubungi restoran itu kembali. Namun belum juga satu menit berlalu, nomor itu pun menghubungi Ria lagi. Jinan yang penasaranpun akhirnya mengintip ke arah layar ponsel Ria. Ia mengernyitkan keningnya saat melihat nama kontak 'Restoran' di ponsel Ria.


Saat mendapati Jinan yang telah melihat siapa yang menelfonnya, Ria pun tak bisa lagi untuk menghindar. Tidak mungkin juga jika ia harus mengatakan bahwa itu adalah nomor telepon restoran lain. Klasik sekali.


"Restoran? Ngapin anak resto nelfon kamu, Ri?" tanya Jinan.


"Em, aku juga nggak tahu, Kak."


"Angkat aja," ujar Jinan santai sembari melanjutkan kembali sarapannya yang sempat tertunda karena perbincangan mereka tadi.


Dan dengan terpaksapun Ria akhirnya harus mengangkat panggilan itu. Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang besar pada restoran Jinan, pikirnya.


"Bangkai? Bangkai apa? Bicara yang benar," ujar Ria spontan karena terkejut. Sangkin terkejutnya, Ria bahkan tidak sadar bahwa Jinan juga mendengar ucapannya itu.


Jinan sendiri yang mendengar kata 'bangkai' pun mendongakkan kepalanya. Ia menatap Ria dengan wajah yang diliputi rasa penasaran. 


"Oke, aku ke sana sekarang."


"Astaga," batin Ria.


"Ada bangkai apa di restoran, Ri?" tanya Jinan penasaran.


"Em, Kakak tunggu di rumah saja ya, Kak. Nanti aku kabari lagi setelah aku pulang," jawab Ria yang masih menutupi apa yang terjadi.


"Jawab Kakak dulu, Ri. Bangkai apa yang kamu maksud?" desak Jinan.


"Aku nggak tahu, Kak. Pegawai Kakak cuma bilang bahwa di restoran ada bangkai. Aku juga nggak tahu bangkai apa yang mereka maksud. Makanya sekarang aku mau kesana, Kakak di rumah saja ya."


"Kakak ikut," ujar Jinan cepat. Ia ingin melihat ada kejadian apa di restorannya.


"Kak, Kakak tunggu di rumah saja. Kita memang belum tahu bangkai apa yang di maksud anak resto itu, tapi yang namanya bangkai itu sudah pasti bau, Kak. Apa Kakak mau baby Ayla mencium bau bangkai?"


Jinan terdiam sejenak, ia hampir saja terlupa akan baby Ayla. Tidak mungkin jika ia harus membawa baby Ayla kepada situasi menjijikan seperti itu. Benar kata Ria, meski mereka tidak tahu bangkai apa yang ada di sana, tapi yang namanya bangkai, sudah pasti baunya akan sangat tidak sedap.


"Begini saja." Jinan mendongak saat Ria bersuara kembali. "Aku akan ke sana lebih dulu sendirian. Setelah semuanya beres atau setidaknya tidak ada lagi bau busuk dari bangkai atau apa pun itu, aku akan segera meminta tolong kak Rico atau kak Elena untuk menjemput Kakak. Bagaimana?"


Jinan berpikir sejenak akan perkataan Ria.

__ADS_1


"Aku janji akan mengabari Kakak secepatnya," ujar Ria lagi.


Jinan menghela nafasnya. "Baiklah."


...


Dua hingga tiga jam Jinan menunggu kabar dari Ria, namun hingga siang hari pun tak ada satupun panggilan atau pesan yang masuk dari Ria di ponselnya. Panggilan serta pesan yang ia lakukan pun juga tak kunjung mendapatkan balasan dari Ria.


Saat Jinan berniat ingin sekali pergi ke sana, namun ia segera mengurungkan niatnya saat mengingat kembali akan adanya baby Ayla. Tidak mungkin jika hanya demi rasa penasarannya, ia rela mengorbankan kesehatan puteri cantiknya itu. Dan dengan mencoba bersabar, akhirnya Jinan tetap menunggu kabar atau kepulangan Ria nantinya.


Pukul 16.23 saat Jinan baru selesai memakaikan baju pada baby Ayla yang baru selesai mandi, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar rumahnya.


"Tunggu di sini ya, Sayangnya Mama. Mama buka pintu dulu," ucap Jinan pada baby Ayla. Tak lupa beberapa kecupan mendarat di kedua pipi serta hidung baby Ay.


Saat membuka pintu, terlihatlah Ria yang berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang terlihat ... kacau.


"Kamu kenapa, Ri?" tanya Jinan heran.


"Nanti saja ceritanya ya, Kak. Aku mandi dulu," ujar Ria dengan tak bersemangat.


Jinan membiarkan Ria yang berjalan masuk dengan langkah gontai. Ia memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai wajah Ria terlihat kacau seperti itu. Tapi yang ia tangkap dari raut wajah Ria, ia yakin bahwa ini bukanlah hal yang baik.


Dan benar saja, malam harinya Jinan ternyata mendapatkan berita yang sangat mengejutkan dari Ria. Berita yang mengatakan bahwa di dapur restorannya terdapat banyak sekali bangkai tikus yang berserakan di setiap sudut ruangan. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Ria mengatakan bahwa terdapat beberapa potongan tangan manusia di dalam chiller tempat penyimpanan daging.


Tangis Jinan yang berusaha ia tahan kini tak dapat lagi terbendung sejak Ria menceritakan akan potongan tangan tersebut.


"Astaghfirullah. Ada apa ini sebenarnya, Ri?" seru Jinan di sela tangisannya.


Ria memeluk Jinan erat sembari megusap-usap punggung wanita itu. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan Jinan, karena ia sendiri juga sama shok-nya dengan Jinan saat mengetahui kejadian ini. Apalagi ia sendiri yang menyaksikan semua kejadian itu secara langsung. 


Untung saja Jinan tadi tidak ikut dengannya. Jika Jinan menyaksikan semua itu secara langsung, ia yakin Jinan akan pingsan saat itu juga bersamaan dengannya. Ya, Ria sempat pingsan selama beberapa jam saat itu. Setelah ia sadar, ternyata semua bangkai itu sudah di buang oleh Rico dan teman-temannya. Ternyata anak-anak resto juga menelfon Rico setelah mereka menelfonnya.


Malam itu Jinan tidak bisa tidur dengan nyenyak karena masih memikirkan kondisi restorannya.


"Apakah mungkin semua ini karena kesalahfahaman? Tapi apa penyebabnya? Aku bahkan tidak pernah menyinggung siapapun selama tinggal di sini. Dan aku juga tidak mengenal siapapun di sini kecuali keluarga Ria. Tidak mungkin jika semua ini ulah musuh bisnis keluarga Ria. Tidak, itu tidak mungkin," gumam Jinan pelan.


Sudah jam satu malam pun Jinan masih belum juga memejamkan matanya. Ia sangat kesulitan mengontrol perasaannya yang sangat tidak tenang itu. Jujur saja, saat ini Jinan sangat mengkhawatirkan kondisi puterinya yang masih sangat kecil itu. Bagaimana jika suatu saat nanti kejadian ini sampai melukai puterinya?


Jinan megusap air matanya yang lagi-lagi tumpah dari kelopak matanya. Saat jam sudah menunjukkan pukul empat pagi, barulah Jinan bisa tertidur nyenyak. Dan saat itu juga, bersamaan dengan baby Ayla yang mulai memejamkan matanya setelah kenyang meminum ASI.


******


LIKEEEEE, COMENT, and VOOOTTEE guuyyss 😘

__ADS_1


__ADS_2