Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 51


__ADS_3

Xx Hotel, Jakarta pusat.


Di meja makan restoran hotel tempat Ardo menginap, kini Ardo bersama Jinan dan kedua orang tua Ria sedang melaksanakan acara makan malam bersama.


Jika saat siang Ardo tidak bisa mengajak Jinan jalan-jalan keliling kota Jakarta, maka malam ini ia berhasil mengajak wanita itu makan malam bersama, meski Sila dan Dedy juga ikut hadir dalam acara makan malamnya. Lagipula, berkat Dedy dan Sila jugalah ia sampai bisa mengajak Jinan untuk makan malam pada malam hari ini.


Ardo memang sengaja meminta bantuan Dedy untuk mengajak Jinan makan malam di luar karena besok pagi ia akan terbang lagi menuju negara asalnya, Turki. Ia ingin menghabiskan waktunya di sini bersama Jinan sebelum mereka berpisah besok. Meski tidak bisa berduaan seperti layaknya pasangan kekasih yang sering ia lihat di setiap restoran yang sering ia kunjungi, setidaknya kehadiran Jinan di dekatnya saja itu sudah lebih dari cukup.


"Mungkin tidak sekarang, tapi suatu saat nanti aku akan membuat impianku itu menjadi kenyataan," batin Ardo.


Saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Jinan dan kedua orang tua Ria berpamitan untuk pulang kepada Ardo. Mereka tidak bisa pulang lebih dari jam sembilan karena adanya baby Ayla bersama mereka. Lagipula angin malam sangat tidak baik untuk bayi yang masih berusia hampir tiga bulan seperti Ayla.


Ardo mengantar mereka sampai di depan pintu masuk hotel. Tak lupa Ardo membukakan pintu mobil untuk Jinan saat mobil Dedy sudah tiba di depan pintu hotel.


"Terima kasih," ucap Jinan.


"Untuk?"


"Untuk makan malamnya dan juga untuk pintunya," ucap Jinan dengan mengarahkan pandangannya pada pintu mobil.


Ardo tertawa pelan. "Tidak masalah. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau sudah mau memenuhi undangan makan malamku."


Jinan membalas ucapan Ardo dengan senyuman tipisnya.


"Masuklah, aku akan memasukkan stroller anakmu ke bagasi."


Jinan mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil. Saat mobil yang dikendarai Dedy mulai menjauh, Ardo langsung masuk ke dalam hotel dan berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua puluh lima.


...


Di dalam mobil.


Suasana di dalam mobil nampak sunyi, hanya ada deru mesin yang mengisi kekosongan pada malam hari itu. Semua yang ada di dalam mobil sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Dedy yang fokus dengan kemudi dan jalanan di depan, sedangkan Sila dan Jinan sibuk dengan ponselnya masing-masing


Merasa bosan dengan ponselnya, Sila mendongakkan kepalanya dan melirik ke arah spion dalam mobil untuk melihat Jinan yang duduk di kursi penumpang. Sila meletakkan ponselnya ke dalam tas, dan meletakkan tasnya di atas dashboard mobil.


"Jinan," panggil Sila dengan menghadap ke arah Jinan.


Jinan mendongakkan kepalanya. "Ada apa, Mi?" tanya Jinan.

__ADS_1


"Apa kamu mencintai Ardo?" tanya Sila dengan tiba-tiba.


???


Jinan terbengong dengan pertanyaan Sila yang tiba-tiba itu. Sila menaikkan kedua alisnya untuk meminta jawaban dari Jinan.


"Kenapa Mami tiba-tiba bertanya seperti itu?"


"Ria bilang kalau Ardo itu calon suamimu. Tapi Papi bilang, kamu belum bisa menerima perasaan Ardo. Kenapa sayang? Ardo pria yang baik. Kenapa kamu tidak mau menerimanya."


Jinan melirik sekilas pada Dedy yang masih fokus dengan kemudinya, kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya pada Sila.


"Jinan ... em, Jinan ..."


"Jinan, kamu harus membuka hati, Sayang. Tidak selamanya semua pria itu sama seperti mantan suami kamu. Mami sangat yakin jika Ardo itu adalah pria sempurna yang Tuhan kirimkan khusus untuk kamu, dan kamu akan sangat menyesal jika melepaskan Ardo bergitu saja untuk wanita lain."


"Mami berlebihan sekali," ucap Jinan pelan dengan tertawa geli.


"Jinaaan, Mami tidak bercanda, Sayang. Pokoknya Mami dukung kamu seribu persen dengan Ardo. Dan pokoknya, kamu juga harus mau sama Ardo. Titik dan tidak pakai koma."


Sila mengatur kembali posisi duduknya menghadap ke arah depan. Ia tidak ingin Jinan membantah perkataannya. Jika Jinan masih terus ragu dengan perasaannya, maka ia yang akan turun tangan.


"Jinan sudah dua malam ini sholat istikharah, Mi."


Sila dan Dedy mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Jinan yang sangat tiba-tiba itu. Sedetik kemudian Sila membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Jinan dengan wajah terkejutnya. Sedangkan Dedy saat itu masih fokus dengan kemudinya.


Namun meski pandangannya fokus ke depan, tapi telinga Putra ternyata juga tak ingin ketinggalan satu katapun yang keluar dari mulut Jinan. Ia juga kepo dengan pembicaraan kedua wanita itu.


"Sholat istikharah?" tanya Sila memastikan.


Jinan menganggukkan kepalanya dengan sedikit malu.


"Kamu mau menerima Ardo, Nak?" tanya Sila antusias.


"Em, Jinan belum mendapatkan petunjuk apa pun dari istikharah Jinan, Mi."


"Jinan sayang, dengar ya. Ibu kamu dulu pernah bilang sama Mami. Katanya, petunjuk dari istikharah itu bukan hanya datangnya dari mimpi. Tapi juga dari sini," tunjuk Sila pada dadanya. "pada hati kita, pada perasaan kita, Nak."


Ibunya?

__ADS_1


Mata Jinan sedikit berkaca-kaca. Entah kenapa tiba-tiba saja ia sangat merindukan ibu dan ayahnya. Sedetik kemudian, Jinan mengusap sudut matanya yang berair, jangan sampai ia menangis di depan Sila dan Dedy.


"Mami tanya sama kamu, apa kamu merasakan ada sesuatu yang berbeda di hati kamu saat sedang bersama Ardo?" tanya Sila tanpa menghiraukan mata Jinan yang berkaca-kaca.


Sebenarnya ia tahu jika Jinan merindukan orang tuanya ketika ia berbicara tentang ibunya, tapi Sila sengaja tidak menghiraukan itu. Jujur, ia juga merindukan tetangga sekaligus teman baiknya itu. Tapi ia juga tidak mau terlalu berlarut dalam kenangan yang memilukan ini. Fokus Sila sekarang hanyalah untuk membalas budi baik kedua orang tua Jinan dan merancang masa depan yang indah untuk kedua anaknya.


"Bagaimana Jinan?" tanya Sila lagi karena Jinan hanya diam saja.


"Jinan tidak tahu perasaan seperti apa yang Mami maksud. Tapi ... tapi Jinan merasa sedikit nyaman dengan kebaikan Ardo pada Jinan selama ini, Mi."


"Nah," seru Sila cepat dan berhasil membuat Jinan terkejut. "Mungkin itulah petunjuk dari Allah atas sholat istikharah kamu, Nak."


"Tapi, Mi. Em ... awal pernikahan Jinan dulu, mas Romi dan tante Linda juga begitu baik dengan Jinan."


Jinan menundukkan kepalanya sembari melipat bibirnya ke dalam. Sungguh, ia tidak sengaja mengatakan hal itu pada Sila. Ia tidak bermaksud menyamakan Ardo dengan masa lalunya.


"Astaga, kenapa kamu bodoh banget, Jinan," batin Jinan menyesal.


"Jinan, jangan pernah memukul rata semua sifat ataupun sikap semua orang, Nak. Ardo dan Romi itu berbeda. Ardo itu pria langkah, Jinan. Di baik pada kita semua memang karena dia orang baik. Sedangkan Romi? Dari awal saat kamu bilang dengan Mami akan menikah dengan Romi, Mami udah nggak setuju sama keputusan kamu. Tapi kamunya saja yang kekeh ingin menikah dengan pria itu dengan alasan balas budi pada si Linda itu."


"Yang dikatakan Mami ada benarnya juga, Jinan. Kamu tidak bisa memukul rata semua sifat manusia. Terlepas dari kegagalan pernikahan pertama kamu, jika kamu sudah nyaman dengan Ardo, tunggu apa lagi.l, Nak. Jangan sampai kamu menyesal suatu saat nanti," ujar Dedy yang setuju dengan perkataan istrinya.


Jinan menatap baby Ayla sejenak, kemudian ia menghembuskan nafasnya dan kembali menatap Sila.


"Do'akan Jinan ya, Mi, Pi."


"Kami selalu mendoakan kamu, Sayang," ujar Sila dan diikuti anggukan kepala oleh Dedy.


Sila mengubah posisi duduknya seperti semula, lalu ia menghela nafasnya panjang.


"Seandainya saja saat itu Mami, Papi, dan Ria tidak pergi ke Jepang, mungkin saja kamu tidak akan menyandang status janda di usia yang masih muda seperti ini, Nak. Mami sangat merasa bersalah dengan orang tua kamu, Jinan," batin Sila sembari menatap samping kirinya ke arah luar jendela.


******


Jadi males double up karena likenya sepi😥


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung karya Nai dengan cara memberi GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT pada kisah PERJALANAN HIDUP JINAN 💕


Piupiu, see u nxt bab 😘

__ADS_1


__ADS_2