
Jinan terdiam cukup lama setelah mendengar semua penjelasan dari Ardo mengenai pria itu yang telah meretas semua komputer perusahaan Putra hingga menjadi penyebab kebangkrutan keluarga mantan suaminya itu. Mereka berdua saat ini hanya diam dan saling pandang dengan pikirannya masing-masing. Ardo yang takut jika istri tercintanya itu marah padanya, sedangkan Jinan sendiri sedang bingung bagaimana harus menanggapi semua pengakuan suaminya.
Terkejut? Tak percaya? Shok? Itu pasti. Tapi ia bingung harus bagaimana. Di satu sisi ia mengerti maksud dari alasan Ardo yang kesal akibat perbuatan tak terpuji Romi padanya, tapi di sisi lain ia juga kecewa karena suaminya itu bisa tega melakukan perbuatan yang sama tak terpujinya.
"Sayang."
Ardo menggenggam kedua tangan Jinan yang saat ini masih berada di hadapannya, sedang menatapnya dengan tatapan kosong.
"Sayang, maafkan aku. Aku tahu yang kulakukan ini salah, tapi aku bersumpah, aku tidak sampai melewati batasanku. Mereka bangkrut memang karena ada pengaruh dari perbuatanku, tapi itu semua tidak sepenuhnya kesalahanku. Mereka bangkrut dikarena para kolega mereka sendiri yang menarik semua saham dan ingin membatalkan kerja samanya secara pribadi. Karena kau tahu? Dalam dunia bisnis itu, masalah pribadi tidak bisa dicampur adukkan dengan pekerjaan." Ardo mengambil nafasnya sejenak. "Ya ... mungkin saja ada beberapa yang memang terpengaruh akan berita itu, tapi itu tidak akan sampai 50% sehingga sampai membuatnya jatuh miskin. Aku mohon Jinan sayang, maafkan aku."
Begitu banyak kalimat yang Ardo sampaikan demi membuat istrinya itu agar tidak marah padanya, namun hingga sampai saat ini Jinan masih belum juga menanggapi semua perkataan suaminya itu. Ia benar-benar bingung harus bagaimana menanggapi ini semua. Ia sungguh takut akan salah bicara ataupun salah yang lainnya jika ia berkomentar.
"Sayang."
Ardo menarik Jinan ke dalam pelukannya dengan terus mengucapkan kata maaf yang ia harap Jinan akan memaafkannya. Namun sayangnya bukan maaf yang ia dapatkan, melainkan rasa basah pada bahu kanannya yang ia dapatkan. Di mana air mata sang istri tercinta yang ternyata berguguran di bahunya.
"Astaga, Sayang." Dengan rasa terkejutnya, Ardo segera menarik pelukannya untuk menangkup kedua pipi istrinya dan mengusap air mata itu dari wajah cantik istrinya. "Sayang please, jangan seperti ini. Aku minta maaf. Aku ... aku benar-benar menyesal telah melakukan semua itu. Aku–"
"Semua yang terjadi padaku, baik hari ini ataupun kemarin, itu semua terjadi atas kehendak Allah, Ar," potong Jinan pada perkataan Ardo.
Ardo terdiam dengan kalimat pertama yang Jinan katakan. Ia tatap wajah lelah wanita itu dengan sangat dalam. Tiga hingga lima detik mereka masih terdiam dengan tatapan itu hingga sampai Jinan kembali berucap, "begitu juga dengan yang terjadi pada mereka saat ini, semua itu terjadi atas kehendak Allah."
Ardo mengerutkan keningnya mendengar kalimat kedua istrinya itu. Apa maksudnya?
"Tapi, kita sebagai manusia yang diberikan akal dan pikiran oleh Allah, seharusnya kita bisa berpikir mana yang baik, dan mana yang buruk untuk dilakukan. Kita harus tahu, kira-kira apa konsekuensi yang akan kita dapatkan atas apa yang kita lakukan itu."
Ardo kembali mengenggam kedua tangan Jinan. Ia tahu jika Jinan sangat kecewa padanya, tapi ia masih berharap jika Jinan akan memaafkan kekhilafannya itu.
"Ini sudah malam, ayo kita tidur. Aku sudah sangat mengantuk," ujar Jinan yang dengan tiba-tiba mengalihkan topik.
Ardo menghela nafasnya, lalu menganggukkan kepalanya dan ikut berbaring di samping istrinya. Mungkin istrinya itu butuh istirahat setelah seharian menjaga anak mereka, dan ditambah berita mengejutkan ini yang membuatnya harus mengistirahatkan pikirannya terlebih dahulu.
......
Semenjak malam itu, Jinan terlihat berbeda di mata Ardo. Memang Jinan masih melayaninya dengan sangat baik, tersenyum manis padanya, bersikap ceria di hadapan semua orang, perhatian padanya dan kedua anaknya, bahkan Jinan terlihat seperti tak pernah mengetahui kebenaran yang pernah ia akui yang membuat wanita itu kecewa. Namun dibalik itu semua, Ardo sempat menangkap sesuatu yang aneh dari mata wanita itu. Seperti ada sesuatu yang ditutupi oleh Jinan padanya. Dan sepertinya ... hal itu ada kaitannya dengan kejadian malam itu.
__ADS_1
Malam ini saat Jinan hendak mematikan lampu kamar untuk bersiap tidur, tiba-tiba saja sepasang tangan kekar milik Ardo dengan perlahan masuk melalui sisi lengannya dan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Ar, aku masih dalam–"
"Aku tahu. Biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar saja," sela Ardo saat Jinan ingin mengatakan tentang masa nifasnya yang belum selesai.
Jinan menghela nafasnya pelan. Ia turuti kemauan suaminya itu tanpa berniat untuk berkomentar apapun.
"Kau marah padaku?" tanya Ardo setelah sekian detik mereka saling diam dengan posisi itu.
Jinan menatap ke arah samping kiri, di mana kepala Ardo saat itu sedang bersandar pada bahunya dengan menghadap ke arah lain.
"Em, tidak."
Ardo mengeratkan pelukannya pada perut Jinan.
"Kau marah padaku."
Kali ini pria itu tidak lagi bertanya, melainkan memberi pernyataan atas apa yang ia rasakan.
"Lalu?" tanya Ardo cepat.
Jinan mengernyitkan keningnya bingung. "Maksudnya?"
Ardo menghela nafasnya sejenak, kemudian ia lepas pelukannya pada tubuh istrinya itu. Ia balik tubuh Jinan agar posisi mereka saling berhadapan, lalu ia tatap dengan dalam mata indah wanita tercintanya itu.
"Mata ini." Aro mengusap sudut mata Jinan setelah beberapa detik dengan diamnya. "Sudah beberapa hari ini aku tidak pernah lagi melihat adanya kejujuran di mata indah ini."
Jinan masih diam dengan posisinya.
"Setelah kejadian malam itu, aku selalu menangkap sesuatu yang aneh di matamu meski kau bersikap normal padaku. Aku melihat seperti adanya sosok Jinan yang lain yang tidak kukenali di mata ini. Jinan yang seolah sedang menahan sebuah kejujuran."
Mendengar itu, Jinan mulai menundukkan kepalanya. Namun belum sepuluh detik ia menatap lantai kamarnya itu, kini kepalanya kembali dihadapkan pada wajah tampan suaminya itu dengan gerakan lembut oleh pria yang ada di depannya.
"Katakan, apa yang membuatmu seperti ini, Ji. Apa karena perbuatanku pada keluarga mantan suamimu itu?"
__ADS_1
"Ar." Jinan menyentuh punggung tangan Ardo yang sedang menangkup wajahnya.
"Maafkan aku," serunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Melihat itu, Ardo segera menarik istrinya itu ke dalam pelukannya karena ia tidak akan bisa lagi melihat air mata dari wajah cantik itu.
"Aku tidak bermaksud untuk tidak jujur padamu. Aku ... aku–"
"Katakan saja," ujar Ardo saat dirasa istrinya itu kesulitan berbicara.
"Aku hanya ingin berusaha menahan rasa kecewaku atas apa yang sudah kau lakukan."
Jinan menggigit bibir bawahnya setelah mengatakan kalimat itu. Sementara Ardo hanya bisa menghela nafasnya berat. Ia tahu istrinya itu pasti sangat kecewa atas semua perbuatannya, tapi ia tidak menyangka jika istrinya itu rela menahan rasa kecewa itu demi dirinya.
"Apa yang harus kulakukan agar kau tidak lagi kecewa padaku, Ji?" tanya Ardo yang masih dengan posisinya memeluk Jinan. "Katakan saja. Aku akan melakukan apapun untukmu."
"Aku tidak ingin kau melakukan apapun untukku, Ar. Aku hanya ingin kau mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu pada mereka."
"Kau ingin aku mengembalikan perusahaan mereka yang sudah bangkrut itu?"
Jinan menggelengkan kepalanya. "Aku ... aku hanya belum merasa tenang sebelum kita minta maaf dari mereka, Ar."
"Maaf?" tanya Ardo dengan mengerutkan keningnya.
"Ar, jangan pernah membalas perbuatan buruk orang lain terhadap kita. Kita bukan Tuhan yang bisa memberi hukuman atas perbuatan buruk orang lain. Kesalahannya padaku saat itu biarlah menjadi tanggung jawab dia sendiri pada Allah. Aku sekarang sudah bahagia bersamamu, jadi aku mohon, jangan membuat semua yang sudah kita jalani ini menjadi berat hanya karena perasaan kesalmu pada mereka. Aku sudah melupakan semua itu, Ar. Saat ini aku hanya ingin hidup damai bersamamu dan keluarga kecil kita ini. Dan ... dan aku sekarang tidak bisa tenang sebelum kita mengakui kesalahan kita pada mereka."
"Tapi aku masih belum terima dengan pengkhianatan yang dilakukan pria itu padamu–"
"Pengkhianatan mas Romi padaku adalah salah satu takdir Allah agar bisa mempertemukan kita, Ar," potong Jinan cepat.
******
Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys 😘
__ADS_1