
Sudah hampir satu minggu Ardo berada di Turki. Hari ini semua pekerjaan yang diberikan papanya sudah terselesaikan dengan sangat baik, dan hal itu juga membuat Basir merasa sangat senang karena anaknya ternyata sudah bisa diandalkan dalam mengelola perusahaannya.
Sembari menunggu waktu keberangkatannya ke Indonesia bersama para keluarganya beberapa hari lagi, Ardo memilih menyibukkan dirinya bersama Adli di depan komputer canggih milik Adli. Sebenarnya ia bisa sendiri jika hanya menyelidiki hal kecil tentang seseorang, tapi jika untuk sedetail mungkin dan sampai ke akar-akarnya, Adli-lah jagonya.
Setelah dua hari berkutat di depan komputer, akhirnya semua yang Ardo inginkan sudah ada di depan mata. Ardo menarik salah satu sudut bibirnya dengan mata yang terus memasati layar komputer.
"Akhirnya aku menemukan bangkai yang selama ini kau simpan. Kita lihat saja, hukuman apa yang pantas kau dapatkan," batin Ardo dengan tersenyum licik.
"Ad," panggil Ardo pada seorang pria yang seusia dengannya.
"Ya, Tuan," sahut Adli.
"Aku butuh bantuanmu satu kali lagi, apa kau bisa?" tanya Ardo.
"Selagi saya mampu, maka akan saya lakukan, Tuan."
Ardo tersenyum tipis. "Aku ingin kau membuatkanku sebuah virus yang bisa menghilangkan semua data dari seluruh komputer yang saling terhubung."
Adli menatap heran ke arah Ardo.
"Untuk apa, Tuan?" tanya Adli penasaran.
"Tidak ada, hanya hukuman kecil untuk seekor tikus yang sedang membuat masalah."
"Em, maafkan saya Tuan. Bukan maksud saya menolak perintahmu, tapi tugas saya disini hanyalah untuk menyelidiki sesuatu atau mencari informasi ataupun meretas beberapa jaringan tanpa merusaknya. Saya tidak diperbolehkan oleh tuan Basir untuk membuat hal berbahaya seperti itu, Tuan."
"Ayolah Ad, ini hanya rahasia kita berdua. Aku akan membayarmu tiga kali lipat untuk satu buah virus. Bagaimana?" Ardo menaik turunkan alisnya kepada Adli.
"Maaf Tuan, saya tidak bisa. Saya tidak mau mengecewakan tuan Basir. Beliau begitu berharga dari pada uang yang akan Tuan berikan pada saya."
Ardo menghela nafasnya. Adli ini sungguh lurus sekali dalam kawasan papanya. Seandainya saja saat ia bekerja dengan tuan X dulu ia mau bermain nakal sedikit, mungkin sekedar membuat virus saja bukan urusan rumit, pikirnya. Tapi semua sudah berlalu, ia juga tidak tahu jika kenakalan seperti ini akan diperlukan dimasa yang akan mendatang.
"Baiklah jika kau tidak mau membuatkanku. Kalau begitu, ajarkan saja aku cara membuatnya," ujaran Ardo dengan menaikkan salah satu alisnya.
Adli terbengong dengan permintaan Ardo yang menurutnya cukup beresiko. Bukankah jika ia mengajarkan Ardo untuk membuat virus, itu artinya Ardo akan memiliki peluang untuk membuat lebih banyak virus lagi kedepannya.
"Maaf Tuan, saya tidak bisa," tolak Adli lagi.
Ardo menghembuskan nafasnya kasar. "Kau mau membuatkanku virus itu, atau aku sendiri yang akan belajar dari temanku yang merupakan seorang anggota mafia? Dan jangan lupa, aku akan mengganggu Feliciamu itu. Kau tahu 'kan kalau pacarmu itu mengidolakanku? Sekali saja aku merayunya, aku jamin wanita itu akan mengucapkan kata putus padamu," ancam Ardo dengan wajah yang dibuat seserius mungkin.
"Aku akan membuatkanmu virus itu," ucap Adli cepat.
Ardo menahan senyum gelinya mendengar jawaban Adli.
"Tapi Tuan, ini yang pertama dan terakhir kalinya saya membuatkan virus berbahaya seperti ini untukmu. Setelah ini saya tidak mau lagi."
Ardo mengiyakan saja ucapan Adli, yang terpenting saat ini adalah apa yang ia butuhkan sudah ia dapatkan. Dan untuk urusan bagaimana kedepannya nanti, biarlah itu menjadi urusan nanti.
***
Jakarta, Indonesia.
Pasang surut sebuah usaha pasti akan selalu dialami baik oleh para pengusaha kecil maupun pengusaha besar. Seperti yang dialami Jinan saat ini, setelah beberapa hari dagangannya ramai, kini dagangannya mulai sepi kembali. Meskipun setiap harinya hanya ada satu atau dua orang yang memesan kue buatannya, tapi Jinan selalu mensyukuri itu. Baginya, sedikit apa pun orderan yang masuk, itulah rejeki yang sudah Allah tetapkan untuknya.
Sembari bermain bersama baby Ayla, tangan Jinan tak henti membalas chat masuk dari orang-orang yang menanyakan tentang kue buatannya melalui aplikasi penjualanannya.
Drrrtt ... Drrrtt ...
Panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal di nomor khusus bisnis miliknya. Ya, Jinan sengaja membedakan nomor pribadi dengan nomor bisnisnya, agar ia tahu jika ada nomor asing yang menelponnya itu berarti adalah calon pelanggannya. Dengan cepat Jinan menjawab panggilan tersebut sebelum panggilan tersebut mati.
"Assalamu'alaikum," sapa Jinan lebih dulu.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Apa benar ini yang menjual kue bolu di facebook?" tanya seorang wanita diseberang sana.
"Iya benar, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Jinan.
"Saya mau pesan bolu kukus 5 loyang dan bolu panggang 5 loyang. Apa besok jam 1 bisa diantar ke sini?"
"Insyaa Allah bisa, Kak. Mau bolu apa ya, Kak?" tanya Jinan lagi.
"Ada apa aja, Kak?"
"Kita ada lima macam jenis bolu, Kak. Nanti saya kirim di whatsapp saja ya semua list varian dan harganya."
"Baiklah. Saya tunggu ya, Kak."
Orang di seberang sana memutuskan panggilannya sebelum Jinan menyahuti ucapannya. Jinan tidak memersalahkan itu, ia langsung saja mengirim list varian serta harga kepada orang tersebut.
Keesokan harinya, selepas sholat subuh Jinan sudah berkutat dengan alat dapurnya untuk membuat pesanan dari pelanggan barunya. Di tengah-tengah membuat kue, Jinan tiba-tiba teringat jika hari ini ekspedisi tempat ia menitipkan kue-kuenya sedang libur.
"Astaghfirullah, kenapa aku bisa lupa ya? Aduh, bagaimana ini. Siapa yang akan mengantarkan kue-kue ini?"
Sambil terus melanjutkan kerjaannya, Jinan terus berpikir bagaimana caranya mengantarkan semua kue pesanan ini. Ia sudah mengiyakan untuk mengantar pesanan ini, tidak mungkin jika ia meminta pelanggannya untuk mengambil kue ini ke sini. Tapi jika ia mengantar sendiri kue ini ke tujuannya, lalu bagaimana dengan Ayla?
Jinan menghela nafasnya panjang. "Apa aku titip Ayla sama mami Sila saja ya?" batin Jinan.
Belum satu menit ia berpikir ingin meminta tolong Sila, tiba-tiba saja orang yang dipikirkannya itu datang ke rumahnya.
"Wah, tumben banyak banget buat bolunya, Ji," ujar Sila saat melihat tujuh loyang kue bolu yang sudah siap untuk ditoping.
"Alhamdulillah lagi banyak pesanan, Mi."
"Mami bantu kasih toping ya, Ji," ujar Sila yang ingin membantu.
"Nggak usah, Mi. Biar Jinan saja. Mami mau kue? Nanti Jinan ambilkan, kebetulan semalam ada yang membatalkan pesanan, jadi Jinan masukin kulkas."
"Nanti Mami ambil sendiri kalau mau, Mami mau noping dulu."
Sila tidak memedulikan perkataan Jinan, wanita itu terus saja melakukan kemauannya yang ingin membantu Jinan menoping kue. Sementara Jinan sendiri yang melihat Sila sudah mengambil alih tugasnya hanya bisa menghela nafas. Ia sungguh tak enak hati karena sudah membuat Sila mengerjakan pekerjaannya, meski itu kemauan Sila sendiri.
"Em, Mi," panggil Jinan ragu.
"Kenapa?" sahut Sila tanpa menghentikan aktifitasnya.
Jinan berjalan menghampiri Sila. "Jinan boleh minta tolong nggak."
"Apa Sayang? Katakan saja," ujar Sila.
"Em, Jinan mau mengantar bolu-bolu ini nanti siang. Jinan boleh titip Ayla sebentar nggak, Mi?" tanya Jinan tak enak hati. Sepertinya ia benar-benar tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan Sila.
"Kenapa harus bertanya? Boleh banget dong. Kamu itu sudah Mami anggap sebagai anak Mami sendiri, jadi jangan sungkan-sungkan kalau mau minta tolong sama Mami. Lagipula Mami seneng kok main sama Ayla."
"Makasih ya, Mi. Jinan nggak tau mau minta tolong sama siapa lagi selain sama Mami."
Sila menghentikan aktifitas menopingnya. "Astaga Jinan. Sekali lagi kamu bilang begitu, Mami bakal marah loh."
Jinan tersenyum senang, ia memeluk Sila dengan sayang.
"Oh ya, kamu mengantar ini semua sama siapa, Ji?" tanya Sila setelah melepas pelukan mereka.
"Em, sepertinya sendirian, Mi."
"Memangnya bisa? Ini banyak loh Ji, bagaimana jika bolu-bolunya jadi tertumpuk dan hancur?"
Jinan terdiam sejenak, lagi-lagi ia terlupa akan hal terpenting seperti ini.
"Bagaimana jika kamu ditemani sama Hana saja? Tadi Mami lihat dia baru saja pulang sekolah," usul Sila dengan menyebut nama wanita SMA, anak dari Wati si pemilik warung sayur.
__ADS_1
"Jinan tidak enak, Mi. Takut merepotkan."
"Mereka yang membeli bolu ini membayar ongkir nggak?" tanya Sila diluar topik pembicaraan.
"Bayar, Mi," jawab Jinan bingung.
"Berapa?"
"Lima belas ribu," ujar Jinan yang bertambah bingung dengan pertanyaan Sila.
"Nanti Mami telpon bude Wati untuk minta Hana ke sini. Kamu ditemani dia saja mengantar bolunya, nanti uang ongkirnya kalian bagi dua. Dari pada kamu mengantar semua bolu ini sendirian, nanti bolunya hancur, kamu sendiri yang rugi, dan pelanggan kamu juga bakal kecewa sama kamu."
Jinan berpikir sejenak, sepertinya apa yang Sila katakan ada benarnya juga. Ia tidak mungkin mengantar bolu sebanyak ini sendirian. Selain akan merugikannya, itu juga akan membuat pelanggannya kecewa. Akhirnya Jinan mengiyakan saja usul dari Sila, biarlah uang ongkirnya nanti untuk Hana saja, anggap saja itu rejeki gadis belia itu.
Setelah semua kue bolu pesanan selesai dibuat, Jinan dan Hana langsung pergi ke lokasi yang sudah dikirimkan oleh si pemesan. Jinan yang bertugas membawa motor terlihat heran saat jalan yang dilaluinya seperti tak asing baginya.
"Han, apa ini benar jalannya?" tanya Jinan.
"Di maps yang dikirimkan orang ini sih ya di sini, Kak. Masuk komplek perumahan Resident Flower, blok A nomor rumah 188."
Entah kenapa tiba-tiba perasaan Jinan jadi tidak enak saat motornya mulai memasuki komplek perumahan yang dimaksud oleh Hana. Perumahan ini adalah perumahan di mana ia dulu pernah tinggal. Yaitu rumah mantan suaminya, Romi.
"Ya Allah, jangan sampai hamba bertemu mereka. Bukannya hamba tidak ingin bertemu mereka, hanya saja hamba tidak siap jika harus mendengar tuduhan mereka terhadap anak hamba lagi," batin Jinan cemas.
Motor telus melaju sesuai arah yang Hana tunjukkan. Dan Jinan mulai merasa was-was saat motornya melaju dengan mendekati rumah mantan suaminya yang terlihat cukup ramai kendaraan keluar masuk.
"Stop, Kak," ucap Hana saat motornya tepat berada di depan rumah Romi.
"Kenapa stop di sini, Han?" tanya Jinan yang semakin cemas. Ia takut jika sampai ada yang melihat kehadirannya di sini.
"Lokasinya tepat di rumah ini, Kak. Nomor rumahnya juga sama. Ayo turun Kak, ini pasti rumah yang memesan bolu."
Jinan terkejut bukan main dengan perkataan Hana. Bagaimana bisa? Wajahnya kini memucat, ia sekarang sudah benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik lagi. Ia panik. Kenapa harus begini?
Jinan meraih ponselnya yang berada di tangan Hana. Dan benar saja, ini adalah lokasi dari si pemesan bolu. Apakah ia harus ikut turun juga? Tapi jika ia sampai bertemu dengan salah satu orang yang mengenalnya bagaimana? Atau bagaimana jika ia sampai bertemu dengan Romi atau kedua orang tuanya? Apa yang harus ia lakukan?
Apa ia harus membebani Hana untuk membawa semua bolu-bolu ini ke dalam? Tidak, ia tidak boleh egois seperti ini. Sepertinya ia telpon saja orang yang memesan bolu ini? Ya, ia harus menelpon saja, agar orang yang memesan bisa mengambil sendiri pesanannya. Ia yakin jika yang memesan bukanlah Linda, Putra, ataupun Romi. Karena dari suaranya kemarin saat orang itu menelponnya, Jinan sangat yakin bahwa itu bukan suara orang yang ia kenali.
"Kak, ayo. Nanti orangnya nungguin loh," seru Hana yang berhasil menyadarkannya dari lamunan.
"Em, kita telepon orangnya saja ya, Han. Nanti takut salah rumah," alibi Jinan namun dibalas anggukan kepala oleh Hana.
Tiga kali ia menelpon tapi tidak ada jawaban dari si pemesan. Dan dengan berat hati akhirnya Jinan memutuskan untuk masuk saja dan menanyakan pada orang yang ada di depan rumah itu apakah benar orang di rumah itu memesan bolu padanya.
Baru saja Jinan memarkirkan motornya di halaman rumah itu, pandangan Jinan tiba-tiba saja bertemu dengan pandangan seorang pria yang sedang menatap ke arahanya dengan wajah terkejut.
"Astaga, Mas Romi," gumam Jinan pelan.
******
Gak bisa crazy up sorry, tapi ini udah hampir 2000 kata loh😅😅
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
__ADS_1
Piupiu, see u nxt bab 😘