
"Aku juga minta maaf atas kejadian tadi pagi, Ji. Saat itu aku sedang dalam kondisi mabuk. Aku tidak sadar atas apa yang kulakukan padamu, Ji. Dan ... dan untuk perasaanku yang kuucapkan tadi pagi, aku serius, Ji. Aku tidak main-main dengan ucapank–"
"Co," seru Jinan dengan menatap wajah pria itu. Jelas sekali tatapan itu menandakan bahwa ia tidak suka dengan kalimat yang Rico ucapkan padanya tentang perasaannya, karena itu mengingatkannya akan kejadian pagi tadi.
"Ada apa, Co? Apa maksudmu dengan perasaanmu?" tanya Marco penasaran.
"Apa kau menyukai Jinan, Co?" tanya Ira menuduh.
Marco mengernyitkan keningnya mendengar perkataan istrinya itu, sedangkan Rico hanya diam sembari menatap ke arah Jinan.
"Tidak, Bibi. Kak Rico hanya mencoba bercanda saja, agar suasana tidak menjadi tegang," seru Ria mencoba menenangkan Jinan. Ia tahu sekali tatapan yang ditujukan Jinan saat itu, dan ia tidak mau jika perbincangan ini menjadi lebih tegang dari sebelumnya.
Meski Marco dan Ira begitu penasaran akan apa yang diucapkan Rico, namun kedua orang paruh baya itu lebih memilih percaya saja dengan ucapan Ria. Mereka bukannya tidak suka jika anaknya memiliki perasaan kepada wanita sholehah seperti Jinan, mereka bahkan sangat ingin sekali anak lelakinya memiliki pasangan yang baik seperti Jinan, tapi mereka tidak mau jika wanita sebaik Jinan harus bersanding dengan anak mereka yang sudah terbiasa bergonta-ganti wanita.
"Elena bilang, kau akan pulang ke Indonsia. Apa itu benar, Ji?" tanya Marco.
Jinan menatap Marco sejenak, kemudian ia tersenyum tipis.
"Iya Pa, Jinan akan pulang dalam waktu dekat."
"Kenapa, Nak? Bukankah kau sudah memaafkan Rico?" tanya Ira.
"Jinan memang sudah memaafkan Rico, Ma. Tapi Jinan tetap akan pulang ke Indonesia. Jinan merasa, Jerman bukanlah negara yang cocok untuk Jinan."
"Bagaiman dengan usahamu di sini, Nak?" tanya Marco.
Jinan menghela nafasnya.
"Jinan akan manjualnya, Pa."
Cukup berat memang, karena ini adalah salah satu usaha pertamanya yang bisa dibilang cukup besar. Dan dengan terpaksa Jinan harus lepaskan usahanya itu dalam waktu dekat. Keputusannya untuk pulang ke Indonesia sudah bulat. Lebih baik ia hidup sederhana di kampung halamannya dengan tenang, dari pada hidup di Jerman dengan ketegangan yang tidak berkesudahan dan kesuksesan yang belum tahu kapan datangnya.
Bukannya Jinan tidak mau bersabar dalam usahanya, namun saat ini ada baby Ayla yang menjadi prioritasnya dan harus dijaganya. Ia tidak ingin masa kecil baby Ayla dipenuhi dengan semua permasalahannya.
...
Cukup lama mereka berbincang di sana. Di mana perbincangan lebih dominan dilakukan oleh Ira, Marco, Jinan, dan Ria saja. Sedangkan Rico sedari awal datang ke sana hanya diam saja karena saat di rumah Marco sudah mewanti-wantinya untuk tidak membuat ulah. Jika tidak ada pertanyaan untuknya, Rico lebih memilih untuk diam saja dari pada harus ikut berbicara yang akan membuatnya salah bicara.
"Sudah mau maghrib, kita pulang dulu ya, Jinan," seru Marco.
"Em, apa tidak mau sekalian makan malam di sini, Pa? Nanti Jinan telfon orang resto untuk mengantarkan makan malam, soalnya Jinan tidak masak hari ini."
__ADS_1
"Tidak perlu, Nak. Papa dan Mama ada acara makan malam di luar bersama klien," ujar Marco.
"Oh, baiklah kalau begitu, Pa," ujar Jinan.
"Ria panggil kak Elena dulu ya," ujar Ria dan dibalas anggukan semua orang yang ada di sana.
***
Dua hari kemudian.
Di ruang tamu kediaman Jinan, saat ini Jinan sedang duduk bersama Ardo, Ria, serta baby Ayla. Ardo datang ke kediaman Jinan karena ia ingin melihat kondisi wanita itu. Meski sedikit tidak nyaman akan kehadirannya, tapi syukurnya Jinan mau menerima kedatangannya ke rumahnya saat ini.
Selain ingin melihat kondisi wanita berhijab syar'i itu, Ardo juga ingin minta maaf pada Jinan atas perlakuan kejinya pada Rico beberapa waktu lalu. Ia tidak mau hanya karena kemarahannya yang tidak bisa dikontrol, membuat Jinan takut padanya dan akan menjauhinya. Tidak, itu tidak boleh terjadi, pikirnya.
"Tidak apa. Tapi, selagi permasalahan bisa diselesaikan dengan cara baik-baik, alangkah baiknya jika kita menghindari perkelahian."
Jinan menghela nafasnya. Yasudahlah, terserah apa yang pria ini inginkan. Sebentar lagi juga ia akan pergi dari sini, itu berarti mereka tidak akan bertemu lagi, pikirnya.
"Em, aku juga ingin mengucapkan terima kasih karena kau sudah menolongku kemarin. Aku tidak tahu apa yang akan Rico lakukan padaku jika kau tidak datang saat itu," ujar Jinan tanpa menghiraukan ucapan Ardo.
"Tidak perlu berterima kasih. Selagi aku ada di sampingmu, aku akan selalu menjagamu dari setiap permasalahan yang akan menimpamu," ujar Ardo santai.
"Jangan berlebihan."
"Tidak ada yang namanya berlebihan dalam sebuah percintaan."
Jinan mengernyitkan keningnya sembari menatap Ardo intens, ia merasa heran akan perkataan Ardo.
"Apa maksudmu?" tanya Jinan.
"Aku mencintaimu, Jinan. Dan aku tidak akan membiarkan wanita yang kucintai terluka meski sedikitpun."
Jinan terdiam sejenak. "Kenapa?" tanya Jinan.
__ADS_1
"Kenapa apanya?" tanya Ardo balik.
"Kenapa kau bisa mengatakan bahwa kau mencintaiku?" tanya Jinan.
"Itu karena aku memang mencintaimu."
"Sejak kapan?"
"Sejak pertama aku melihatmu. Lebih tepatnya sejak saat kau menjelaskan padaku tentang kebijakan slow respon yang kau buat di restoranmu."
"Cinta pandangan pertama?"
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya begitulah kenyataannya."
Jinan tidak membalas ucapan Ardo. Jujur, ia sedikit tidak percaya akan apa yang Ardo ucapkan. Ia juga tidak percaya dengan yang namanya cinta pada pandangan pertama.
"Jinan," panggil Ardo saat melihat Jinan melamun. Jika dilihat dari ekspresinya, sepertinya wanita itu tidak memercayai ucapannya. Lebih baik ia tidak terlalu terburu-buru mengatakan kata cinta pada wanita itu. Biarlah actionnya bermain lebih dulu. Setelah Jinan yakin akan tindakannya, mungkin saat itu barulah ia kembali mengutarakan perasaannya.
"Ah, ya?"
"Em, Ria bilang kau ingin pulang ke Indonesia."
Jinan mengernyitkan keningnya sembari menatap Ria yang sedang menatapnya juga. Saat pandangan mereka bertemu, Ria hanya menyengir kuda saja. Ia tahu jika Jinan tidak suka dengannya yang memberitahu Ardo rencana kepulangannya, tapi mau bagaimana lagi, kemarin siang saat ia sedang duduk sendirian di restoran, tiba-tiba Ardo mendatanginya dan menanyakan semua yang berkaitan dengan Jinan. Termasuk dengan kejadian saat Rico yang hendak melecehkan Jinan kemarin. Karena wajah tampan dan raut wajah yang terlihat serius saat memohon padanya, akhirnya Ria tak bisa untuk tidak menceritakan semuanya pada Ardo, termasuk rencana kepulangan Jinan ke Indonesia.
"Ria mengatakannya padamu? Kapan?" tanya Jinan.
"Kemarin di restoran. Aku yang memaksanya," ujar Ardo.
Jinan menghela nafasnya. "Ya, aku akan pulang ke Indonesia."
"Kapan?" tanya Ardo cepat.
Jinan menaikkan alisnya. "Kenapa?"
"Aku akan ikut padamu ke Indonesia. Ria bilang kau pergi hanya berdua dengan anakmu saja. Jerman - Indonesia itu tidaklah dekat, itu tidak aman untukmu dan anakmu. Aku akan menemanimu."
Jinan semakin heran akan apa yang diucapkan Ardo saat itu. Ada apa dengan pria ini? Apakah benar Ardo mencintainya? Tapi kenapa bisa cepat sekali?
Jinan menggelengkan kepalanya pelan. Tidak, ia tidak boleh percaya begitu saja akan ucapan Ardo. Siapa tahu pria itu hanya ingin menggodanya saja. Dan jikapun Ardo memang benar mencintainya sejak pandangan pertama, Jinan juga tidak ingin terburu-buru menerima Ardo ke dalam kehidupannya. Apalagi untuk menjalin hubungan yang serius dengannya. Mungkin saja saat ini Ardo sedang mengalami yang namanya cinta sesaat, pikir Jinan.
******
__ADS_1
Tengkyu sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘