Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 28


__ADS_3

"Kau tenang saja, aku tidak ada niat jahat padamu atau restoranmu, aku di sini hanya ingin membantumu," ujar Ardo saat melihat raut tak suka di wajah Jinan.


Jinan menatap Ardo penuh pertimbangan. Ia bingung harus berbuat apa. Masalahnya ia sendiri tidak mengenal siapa Ardo sebenarnya. Pria ini tiba-tiba saja datang di kehidupannya dengan sebuah penawaran aneh, dan sekarang pria ini malah mengatakan ingin membantunya. Tapi jika dilihat dari wajah dan cara bicaranya, sepertinya pria ini serius akan ucapannya yang ingin membantunya.


"Kita tidak pernah saling kenal, bahkan kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Kenapa kau begitunya ingin membantuku? Apa niatmu sebenarnya padaku?" tanya Jinan.


"Bukankah sudah kubilang sebelumnya bahwa aku mencinta–"


"Cukup," potong Jinan. "Apa kau ingin mengatakan bahwa kau mencintaiku dan ingin menikahiku?"


"Begitulah kenyataannya, Jinan. Aku mem–"


"Apa kau tidak mengerti akan ucapanku tadi? Kita tidak pernah saling kenal dan kita juga tidak pernah bertemu sebelumnya. Apakah menurutmu perkataanmu itu masuk akal?" ucap Jinan dengan kembali memotong perkataan Ardo.


Ardo terdiam sejenak mendengar ucapan Jinan. Benar sekali, mereka memang tidak pernah saling kenal, bahkan untuk bertemu pun baru sekitar dua bulan lalu saat ia mendatangi restoran wanita itu. Tidak akan masuk akal jika ada seorang pria yang mengatakan bahwa ia mencintai seorang wanita di waktu yang bisa di bilang sangat cepat seperti ini.


Tapi bagaimana dengan perasaannya? Ia benar-benar tidak berbohong akan perasaannya saat ini. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup Ardo bisa merasakan hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Merasakan adanya gelenyar aneh di dadanya saat berbicara, bersitatap, bahkan hanya sekedar membayangkan wajah Jinan.


Ini adalah untuk pertama kalinya ia merasakan adanya ketertarikan pada seorang wanita, karena selama ini ia hanya mengabaikan para wanita yang mendekatinya, baik secara terang-terangan atau yang melalui kakak perempuannya.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya agar bisa membuatmu percaya padaku. Tapi aku hanya ingin kau tahu. Kau adalah wanita pertama yang bisa membuatku memiliki ketertarikan dengan seorang wanita, Jinan. Meski terdengar aneh, tapi aku tidak main-main dengan perasaanku ini."


Ardo menghentikan ucapannya sejenak, ia ingin melihat reaksi Jinan akan apa yang ia ucapakan. Namun hingga beberapa saat pun mereka berdua hanya berdiam diri dengan saling bertatapan saja.


"Apa kau juga mencurigaiku atas kejadian itu?" tanya Ardo tiba-tiba.


Jinan mengernyitkan keningnya, kemudian ia memalingkan wajahnya menghadap ke depan.


Jinan diam sejenak, lalu ia menghela nafasnya. "Sepertinya apa yang dikatakan Rico memang ada benarnya. Kejadian itu terjadi satu hari setelah kita berbincang seperti ini di restoranku. Tapi meski begitu, kau tenang saja, aku tidak akan menuduhmu sebelum aku menemukan bukti yang kuat," ujar Jinan tanpa mengubah posisinya yang sedang memandang lurus ke depan.


"Aku akan membuktikan padamu bahwa aku tidak ada kaitannya dengan teror di restoranmu itu. Jikapun aku ada kaitannya, kau tenang saja, aku akan bertanggung jawab penuh atas restoranmu. Terlepas siapapun pelakunya, aku berjanji padamu bahwa aku akan menghentikan permasalahan ini secepatnya," ujar Ardo serius.


"Dan untuk ungkapan cintamu. Aku tidak tahu apakah kau serius atau hanya sekedar membual. Tapi aku sarankan padamu untuk mengubur saja rasa itu sebelum rasa itu tumbuh menjadi rasa cinta yang sesungguhnya," lanjut Jinan tanpa menghiraukan ucapan Ardo. Bukan tak menghiraukan, lebih tepatnya ia tak ingin mendengar janji apa pun dari seseorang, apa lagi ia tak mengenalnya.


Ardo menghela nafasnya. "Apa yang membuatmu menolakku, Jinan? Apa kau trauma dengan pernikahan pertamamu?" tanya Ardo menahan kesal akan perkataan Jinan.


"Tidak," jawab Jinan singkat.


"Lalu apa?" tanya Ardo mendesak.


Jinan menatap Ardo intens. Namun belum juga ia berucap, tiba-tiba suara deheman seseorang dari arah pintu masuk berhasil mengambil alih pandangan mereka berdua. Setelah dilihat, ternyata suara itu berasal dari Marco.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Marco pada sosok yang ada di balik dinding.

__ADS_1


Ardo dan Jinan mengernyitkan keningnya. Pada siapa Marco berbicara, pikir mereka. Namun sedetik kemudian, muncullah sosok seorang Ria dibalik diding itu setelah ditarik keluar oleh Marco.


"Ria," seru Jinan heran.


"Kau menguping, hem?" tanya Marco pada keponakannya itu.


Ria menyengir kuda, kemudian ia melirik Jinan dan Ardo sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lihat, Jinan. Temanmu satu ini sedang menguping pembicaraan kalian," ujar Marco.


"Astaga, Ri. Kamu menguping?" tanya Jinan memastikan.


"Maaf, Kak. Nggak sengaja," ucapnya pelan di akhir kalimat.


Jinan menggelengkan kepalanya. "Sudah berapa kali Kakak bilang sama kamu, jangan pernah menguping pembicaraan orang. Tidak baik, Ri."


"Iya, nggak lagi," ujar Ria. "Yaudah kalian lanjut deh, aku mau masuk dulu," ujar Ria, lalu ia berlari kecil masuk ke dalam rumah.


Marco menggelengkan kepalanya melihat tingkah keponakannya itu. "Dasar anak muda. Memalukan sekali," gumamnya sembari menatap kepergian Ria. Kemudian pandangannya kini menatap ke arah Jinan dan Ardo.


"Temannya tidak diberi minum, Ji?" tanya Marco dan berhasil membuat Jinan terbengong. "Ah?" Sedangkan Ardo di sana hanya menarik salah satu sudut bibirnya.


"Em, iya. Paman duduklah, aku akan ambilkan minuman dulu," ujar Jinan sembari bangkit dari duduknya hendak masuk ke dalam rumah.


Ardo bangkit dari duduknya untuk bersiap pulang.


"Kenapa cepat sekali?" tanya Marco.


"Maaf Tuan, saya harus pergi. Masih ada yang harus saya urus di luar."


"Oh, baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan, jangan lupa untuk datang di aqiqah Ayla besok ya, Ardo," ujar Marco dan berhasil membuat Jinan terkejut.


"Astaga, kenapa paman Marco mengajak pria ini datang ke acara besok?" batin Jinan heran.


Ardo melirik Jinan sekilas. Ia tersenyum tipis melihat raut tidak suka di wajah Jinan.


"Baiklah, saya akan datang besok," ujar Ardo dan berhasil mendapatkan tatapan tidak setuju dari Jinan. Namun Ardo hanya diam saja tanpa menghiraukan penolakan yang Jinan berikan melalui tatapannya itu.


Setelah kepergian Ardo dari rumahnya, Marco pun berpamitan masuk ke dalam rumah. Dan saat itu juga Jinan langsung memberengutkan wajahnya. Ia benar-benar tidak setuju akan tindakan Marco yang mengajak Ardo ke acara Aqiqah anaknya. Ada hubungan apa Marco dan Ardo? Kenapa Marco hangat sekali pada pria itu? Mereka terlihat seperti orang yang sudah mengenal lama saja, pikir Jinan. Tapi ia bisa apa, untuk melarang pun Jinan tidak berani.


Jinan menghela nafasnya, ia berharap semoga Ardo tidak akan datang ke acara Aqiqah anaknya dua hari lagi.


Dan dua hari kemudian, Ternyata apa yang diharapkan Jinan tidak menjadi kenyataan. hari ini Ardo benar-benar datang ke acara aqiqah baby Ayla. Ia datang seorang diri dengan pakaian yang sangat formal. tak terlupa kacamata hitam bertengger kokoh di batang hidungnya. Jika dilihat sekilas, Ardo memang terlihat sangat tampan dengan wajah dan bentuk tubuhnya yang nyaris sempurna.

__ADS_1


Terbukti dari cara para wanita yang ada di sana yang menatap kagum akan penampilan Ardo. Dan beberapa dari mereka juga terlihat seperti sedang berbisik mengagumi ketampanan Ardo. Bahkan Ria dan Elena pun tak tertinggal menjadi bagian dari para wanita-wanita itu.


Jinan menggelengkan kepalanya. "Kenapa dia yang menjadi pemeran utamanya? Bukankah yang seharusnya menjadi topik hari ini adalah anakku," batin Jinan.


Jinan menghela nafasnya, kemudian ia hendak berlalu menuju kamarnya untuk melihat baby Ayla yang masih tidur. Terseralah apa yang mau dilakukan pria itu, yang penting pria itu tidak menghambat acara hari ini saja, itu sudah cukup bagi Jinan.


Baru saja Jinan berbalik, tiba-tiba ia dikejutkan akan sosok Rico yang sudah berdiri tegak di hadapannya dengan wajah datarnya.


"Ada apa, Co?" tanya Jinan.


"Apa kau yang mengajak pria itu ke sini, Ji?"


Jinan menatap bingung akan pertanyaan Rico, nmun sedetik kemudian ia faham akan maksud dari pertanyaan Rico saat tatapan pria itu mengarah pada sosok Ardo yang sedang duduk di sofa bersama Marco dan Dedy.


"Papamu yang mengajaknya ke sini."


Rico menatap Jinan dengan wajah terkejut. Papanya?


"Bagaimana bisa? Apa mereka saling kenal?" tanya Rico.


Jinan mengedikkan bahunya. "Entahla, aku tidak sempat menanyakan hal itu pada mereka," jawab Jinan.


Jika urusannya sudah pada papanya, Rico tidak bisa berkutik lagi. Jangan sampai saja pria itu mengganggu acara hari ini. Dan jangan sampai saja akan ada bahaya lainnya lagi setelah kehadiran pria itu di sini.


Tak lama dari itu acara pun kini di mulai. Dan alhamdulillah semua rangkai acara berjalan dengan lancar hingga acara selesai. Kini saatnya para tamu undangan yang hanya ada beberapa orang itu menyantap hidangan yang telah disediakan.


Di tengah-tengah acara makan bersama itu, pandangan Ardo tak sengaja menatap sosok pria berpakaian serba hitam di balik dinding salah satu rumah warga sekitar. Awalnya Ardo hanya mengawasi orang itu sembari menyantap makannya. Namun saat pandangannya tak sengaja menangkap sosok orang lain yang berpakaian sama di dalam sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari kediaman Jinan, kini Ardo meletakkan piring makannya dan bangkit dari duduknya.


Beberapa orang yang duduk didekat Ardo -termasuk teman-teman Jinan- terlihat kebingungan akan tingkah Ardo yang mencurigakan. Apalagi kini Ardo berdiri di balik jendela kaca yang tertutup gordeng dengan posisi seperti sedang mengawasi seseorang di luar sana, membuat mereka semakin curiga akan tingkahnya.


"Apa yang kau lakukan?"


Ardo menatap sosok Elena yang sudah berdiri di belakang tubuhnya dengan raut penasarannya.


Ssstt ...


Ardo meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, kemudian ia kembali akan posisi awalnya. Mata Ardo terbelalak saat melihat sebuah senapan yang nongol di jendela pintu belakang mobil yang ia curigai. Dan Ardo kembali terkejut saat melihat arah senapan itu yang ternyata tertuju kearah Jinan yang sedang mengambil makanan di meja makan.


Sebelum peluruh yang ada di senapan itu keluar dari tempatnya, dengan cepat Ardo menutup pintu rumah Jinan. Bersamaan juga saat itu suara tembakan terdengar mengenai pintu rumah Jinan.


Semua orang yang ada di dalam maupun di luar rumah Jinan tampak terkejut akan suara pintu yang ditutup Ardo dengan kuat, dan dengan disusul suara tembakan yang sangat menakutkan itu.


******

__ADS_1


LIKE, COMENT, and VOTE 💕


__ADS_2