Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 107


__ADS_3

Pagi ini Ayla terbangun saat waktu sudah menunjukkan pukul pukul 7 pagi. Untungnya semalam gadis kecil itu bisa tidur dengan nyenyak, sehingga tidak membuat tidur Linda terganggu, namun pagi itu karena Ayla melihat suasana kamar yang cukup asing baginya dan juga tidak ada siapapun di sekitarnya, membuay gadis kecil itu menangis memanggil mamanya.


Saat itu Jinan yang sedang membantu Linda memasak, dengan segera meninggalkan pekerjaannya untuk menghampiri anaknya. Setelah berhasil menenangkan Ayla, Jinan mengajak anaknya itu untuk mandi terlebih dahulu sebelum mereka melaksanakan sarapan bersama. 


Baru saja memasuki dapur, tiba-tiba suara baby Andy yang menangis terdengar melengking dari kamar yang Jinan tempati semalam.


"Mama saja yang mandikan Ayla," ucap Linda saat ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. 


"Maaf merepotkan ya, Ma," ujar Jinan dengan tidak enak hati.


"Merepotkan apanya? Mama senang kok melakukan ini. Yasudah kamu samperin anak kamu sana," usir Linda dan Jinan langsung mengiyakannya.


Seperginya Jinan menuju kamar, Linda mengajak Ayla untuk segera mandi. Wanita paruh baya itu terlihat sangat menikmati tugasnya memandikan cucunya. Hal itulah sebenarnya yang sangat ia nanti-nantikan sejak lama. Namun sesaat kemudian tiba-tiba saja ia merasa sedih. Ia sedih saat mengingat bahwa hari ini cucunya dan menantu idamannya itu akan pergi meninggalkannya.


Begitu singkat kebahagiaan yang ia rasakan saat ini. Namun meski begitu, setidaknya ia masih memiliki kesempatan untuk memulai semuanya dari awal. Sekali lagi, ia harus mensyukuri kesempatan kedua yang diberikan Tuhan padanya ini meski apa yang ia rasakan tidak sesempurna apa yang ia inginkan.


Setelah selesai memandikan Ayla dan Jinan juga sudah selesai memandikan Andy, mereka kini duduk di meja makan untuk sarapan bersama. Sembari menghabiskan makanannya Jinan, Ardo dan Linda menghias waktu sarapan mereka dengan berbincang santai. Awal perbincangan Jinan dan Linda terlihat canggung, namun seiring berjalannya waktu mereka mulai menikmati situasi yang mereka rasakan saat ini. 


Mulai sekarang mereka harus membiasakan diri untuk melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru. Tidak akan ada akhirnya jika mereka masih menyimpan dendam satu sama lain. Itulah yang kini Linda, Ardo maupun Jinan terapkan pada diri mereka masing-masing.


"Bibi, mulai besok Bibi bisa kembali ke rumah yang dulu bibi tempati. Nanti siang rumah itu baru bisa dibersihkan jadi, bibi baru bisa menempatinya besok."


Linda menatap terkejut kearah Ardo, begitu juga dengan Jinan. Ia tidak mengetahui tentang hal ini sama sekali karena Ardo tidak pernah membicarakan hal ini padanya sebelumnya.


"Rumah?" tanya Linda.


"Ya, rumah kalian yang dulu sempat kalian gadaikan. Rumah itu sudah aku beli dan aku akan–"


"Tidak perlu, Ar," potong Linda cepat.


Ardo menatap bingung pada Linda. Tidak perlu? Apa maksudnya?

__ADS_1


"Kalian tidak perlu repot-repot mengembalikan rumah itu karena setelah kepergian kalian nanti, saya akan tinggal di panti jompo saja."


Jinan dan Ardo terkejut mendengar perkataan Linda. Panti jompo? Kenapa Linda bisa berpikir ke sana sedangkan mereka saja tidak pernah memikirkan tempat itu.


"Mama mau tinggal di panti jompo? Untuk apa, Ma?" tanya Jinan penasaran.


"Iya Bibi, untuk apa Bibi tinggal di panti jompo sedangkan Bibi punya rumah dan pendapatan yang cukup dari hasil saham yang sudah aku berikan pada Bibi."


Linda  menghela nafas sejenak lalu tersenyum.


"Saya sudah semakin tua, Ardo, Jinan. Saya juga sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di sini. Rumah itu terlalu besar untuk saya sendiri tempati dan juga saya sudah memikirkan matang-matang tentang keputusan saya yang ingin tinggal di panti jompo. Saya ingin hidup sederhana dan tenang di masa tua saya. Setidaknya di sana saya bisa memiliki teman untuk berbagi cerita. Jika kalian ingin mengunjungi saya nanti, kita bisa bertemu di suatu tempat, atau kalian bisa mengunjungi saya ke panti jompo."


"Tapi, Ma."


"Saya akan sangat senang jika kalian mau memenuhi permintaan saya yang satu ini," sela Linda dengan nada yang sangat tenang.


Jinan dan Ardo saling pandang. "Apa Bibi yakin?"


"Baiklah jika itu yang Bibi mau tapi, bagaimana dengan rumah itu?"


Linda terlihat berpikir sejenak. Ia tampak ragu dengan apa yang ia pikirkan, namun sedetik kemudian ia menatap Ardo dan Jinan bergantian. "Boleh saya minta satu permintaan lagi untuk yang terakhir?"


"Katakan saja, Bibi," sahu Ardo tanpa ragu.


"Bisakah kalian memberikan rumah itu untuk cucu saya Andre?"


Linda menelan salivanya. Mungkin permintaannya yang aneh satu ini akan membuat Jinan maupun Ardo sedikit keberatan tapi, ia harap Jinan dan Ardo mau mengabulkan permintaan terakhirnya itu.


"Tentu saja."


Dan benar saja, tanpa pikir panjang Ardo langsung mengiyakan permintaannya. Ardo sebelumnya juga sudah memikirkan tentang anak lelaki Romi, namun ia enggan untuk membahasnya apalagi Linda yang tidak pernah membahas anak itu. Dan saat Linda meminta hal yang berkaitan dengan anak itu, tanpa ragu ia langsung mengiyakannya.

__ADS_1


"A–apa kamu serius?" tanya Linda tak percaya kareno Ardo mengiyakan permintaannya begitu saja dan tanpa beban.


"Jika Bibi menginginkan itu, maka tidak masalah untuk kami. Bagaimanapun saya harus bertanggung jawab atas semua perbuatan saya."


"Terima kasih, Nak," ucap Linda dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.


Sebenarnya Linda memang masih menyimpan rasa marah pada Aurel akan perpisahan Romi dan Jinan dulu. Ia juga sempat membenci Andre dan berpiki bahwa lahirnya anak itulah yang membawa bencana pada rumah tangga Jinan dan Romi, namun setelah dipikir kembali, mau bagaimanapun juga dan bagaimana caranya Andre bisa ada di dunia ini, Andre tetaplah darah daging Romi. Cucunya.


...


Sebelum keberangkatannya ke Turki nanti malam, siang ini Ardo ingin mengajak Linda ke salah satu mall yang ada di pusat Jakarta. Ia ingin memberi waktu untuk Linda dan Jinan beserta Ayla menghabiskan waktu mereka sebelum mereka berpisah.


Tak banyak yang mereka lakukan di sana karena waktu yang mereka punya sangat singkat. di sana Mereka hanya menemani Ayla bermain game, berbelanja, dan makan siang bersama.


Terlihat jelas dari raut wajahnya, sepertinya Linda sangat menikmati momen kebersamaannya bersama Ayla dan Jinan. Semoga saja setelah ini semua bisa berjalan dengan normal dan tidak ada lagi yang namanya dendam di antara kedua keluarga itu. Meski sebelumnya Ardo sangat membenci keluarga itu yang telah membuat kehidupan Jinan hancur tapi semua sudah berlalu. Selagi Jinan baik-baik saja dan mau memaafkan serta mengikhlaskan semua yang telah terjadi, maka ia pun harus demikian.


Ia bangga memiliki istri seperti Jinan. Tidak hanya cantik parasnya saja tapi, Jinan juga memiliki jiwa seperti malaikat.


Ia mencium pucuk kepala Andy seraya menatap Jinan, Ayla, dan Linda yang sedang berbelanja sembako untuk dibawa ke panti jompo nanti. "Itu mama kamu, Nak. Dia malaikat kita."


––TAMAT––


   


******


   


Tengkyu tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai akhir cerita. Maaf kalo belakangan ini ngaretnya panjang banget, karena memang kondisinya lagi gak bisa up rutin. Semoga next story bisa lebih baik dari ini dalam segi up, kepenulisan, dan pasti ceritanya 💕


Btw selamat menunaikan **i**badah puasa buat temen-temen muslimku. Semoga amal ibadah kita semua diterima dan kita bisa menyelesaikan misi ramadhan tahun ini sampai pada hari raya idul fitri tiba. 🙏

__ADS_1


LOVE U GUYS 😘


__ADS_2