Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 30


__ADS_3

"Tuan Ardo, ada apa ini sebenarnya? Kenapa Anda menyerang saya? Bukankah saya tidak ada masalah dengan Anda ataupun dengan Tuan Berto?" tanya pria tua itu dengan menyebut nama salah satu mantan bos Ardo.


Dua tahun lalu Ardo sempat bekerja dengan seorang pebisnis besar asal Jerman yang bergerak di bidang otomotif. Dia adalah Berto Baden. Selama hampir dua tahun, Ardo selalu mengikuti kemanapun Berto pergi. Bahkan Ardo sudah dipercayakan oleh Berto untuk ikut hadir dalam pertemuan bisnis gelapnya.


Dengan kemampuan bela dirinya yang tidak main-main, dan karena kepintarannya yang begitu mudah menghadapi situasi separah apa pun, membuat beberapa orang dari mereka tak ingin berurusan dengan pria bernama Evardo itu. Cukup sekali saja mereka melihat kemarahan Ardo saat ada orang bodoh yang berani menipunya dan hendak mencelakainya.


Berto sebenarnya enggan melepaskan aset berharga seperti Ardo untuk pergi begitu saja. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena sejak awal Ardo bekerja padanya, Ardo sudah membuat surat perjanjian lebih dulu pada perusahaannya untuk berheti bekerja di tahun kedua.


Tidak ada yang bisa menolak permintaan Ardo, karena di sini yang membutuhkan jasanya adalah mereka, bukan Ardo. Ya, Ardo bisa masuk ke sana karena di ajak oleh seorang kenalan yang pernah ia tolong saat orang itu sedang adu tembak dengan beberapa orang lainnya. Orang yang Ardo maksud tak lain adalah Berto sendiri.


"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa mengetahui namaku dan nama tuan Berto?" tanya Ardo.


"Apa kau tidak mengenalku, Tuan? Kita pernah bekerjasama sebelumnya. Saya adalah klien tuan Berto yang berasal dari Brazil."


Ardo mengernyitkan keningnya. "Hem, ternyata pak tua bodoh itu," gumam Ardo pelan. Ia bangkit dari persembunyiannya dan berjalan mendekati pria tua itu. 


"Lalu, kenapa kau menyerang wanita berhijab itu dan meneror restorannya? Ada masalah apa kau dengannya?" tanya Ardo dengan tatapan tajam setelah berada dua meter di depan pria itu.


"Sa ... saya. Saya tidak ada masalah dengan wanita itu, Tuan."


"Lalu kenapa kau menerornya dan ingin melukainya?" teriak Ardo dengan mencengkram rahang pria itu.


Kedua bodyguard yang berbadan besar milik pria tua itu dengan panik mengarahkan senjata apinya kepada Ardo saat merasa tuannya hendak dilukai. Namun sedetik kemudian mereka kembali menurunkan senjatanya saat pria tua itu mengkode dengan tangan kanannya agar anak buahnya menurunkan senjatanya. Sepertinya pria tua itu terlihat ketakutan saat berhadapan dengan Ardo. Bahkan keempat anak buahnya pun kebingungan akan tingkah bos mereka.


"Jawab aku, atau kulubangi kepalamu dengan pistolku ini," ujar Ardo sembari meletakkan pistolnya pada pelipis pria tua itu. Dan dengan cepat juga kedua bodyguard pria tua itu mengarahkan senjatanya kembali pada Ardo. Namun kali ini pria tua itu tidak lagi memberi perintah pada anak buahnya untuk menurunkan senjata mereka. Mungkin karena merasa terancam dan tak punya pilihan lain selain bersiap menyerang.


"Saya hanya menginginkan pria bernama Rico. Dia sudah mematahkan hati anak perempuan saya hingga membuat anak saya melukai dirinya sendiri. Dan saya ingin balas dendam dengannya," ujar pria tua itu.

__ADS_1


"Rico?" ucap Ardo pelan.


Pria tua itu mengangguk. "Ya, saya hanya menginginkan Rico, Tuan Evardo."


"Lalu apa hubungannya dengan wanita berhijab itu? Kenapa kau malah menerornya? Bukankah seharusnya kau menyerang pria bernama Rico itu?"


"Sa ... saya sudah pernah menyerangnya. Ta ... tapi anak saya selalu mengancam akan bunuh diri jika saya melukai pria itu. Saya terpaksa harus melukai wanita itu karena Rico mencintai wanita itu. Dan saya hanya ingin Rico merasakan betapa sakitnya saya saat melihat orang yang saya cintai terluka."


Doorr ... Doorr ...


Aaarrhhh ...


Dua tembakan melesat dari pistol yang Ardo genggam. Kini kedua peluru itu sudah bersarang tepat di lengan kanan atas kedua bodyguard pria tua itu.


"Tuan, saya mohon. Jangan bunuh anak buah saya. Apa salah saya, Tuan? Saya bahkan tidak pernah menyentuh Anda, Tuan," ujar pria tua itu dengan raut cemas.


"Dengan kau menyentuh wanita itu, itu berarti kau sudah menyentuhku bedebah!" Raut wajah Ardo kini tampak menakutkan di mata pria tua itu. Ia bahkan hampir memejamkan matanya karena tak sanggup melihat wajah Ardo yang terlihat menyeramkan baginya.


Door ...


Satu tembakan berhasil mengenai lengan kiri pria tua itu. Kemudian dengan cepat Ardo mencengkram kedua lengan pria tua itu, lalu ia membalikkan tubuh tua itu menghadap ke arah kedua bodyguard-nya dengan pistol yang diarahkan ke samping kepala pria itu. "Jangan ada yang berani mengangkat senjata, atau kepala pria tua ini yang akan kulubangi."


"Tuan, maafkan saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya tidak akan mengganggu wanita itu lagi. Saya mohon Tuan, tolong lepaskan saya."


"Apa kau pikir semua perbuatanmu ini bisa diselesaikan hanya dengan permintaan maaf saja? Bukankah semua yang kita perbuat harus ada bayarannya, Pak Tua?" Ardo melepaskan cengkramannya pada rahang pria itu. "Luka di lenganku sudah ku anggap lunas." Pria itu mendesis kesakitan saat Ardo menekan luka tembak yang ada di lengannya.


"Sekarang pikirkan bagaimana caranya kau membayar semua yang sudah kau lakukan pada wanita berhijab itu. Jangan sampai aku yang akan menagihnya dengan caraku sendiri." Ardo menjeda kalimatnya sejenak. "Kau tahu maksudku, bukan?" lanjutnya dengan menampar pelan pipi pria itu menggunakan pistolnya.

__ADS_1


Ardo melepaskan pria itu dengan mendorongnya ke arah kedua bodyguard-nya. Ardo menatap tajam pria tua itu sejenak, lalu ia berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Ardo membuka pintu penumpang mobilnya, lalu ia mengeluarkan dua orang yang menjadi sandarannya kepada bos mereka.


***


Di kediaman Jinan.


Setelah semua orang dibubarkan akan insiden yang tak diharapkan itu, kini rumah Jinan hanya di isi oleh keluarga Ria saja. Jinan tak henti-hentinya menangis sembari memeluk baby Ayla yang juga masih menangis sejak kejadian baku tembak itu berlangsung.


Semua orang di sana menjadi bingung bagaimana caranya menenangkan Jinan dan anaknya. Badan Jinan bahkan sempat bergetar hebat saat awal-awal baku tembak terjadi. Namun untungnya saat ini hanya isakan saja yang masih tersisa. Meski begitu, semua yang ada di sana tetap merasa kasihan pada Jinan atas semua yang telah terjadi padanya.


"Kak, sudah cukup ya nangisnya. Kasihan baby Ayla, dia juga tidak mau berhenti menangis jika Kakak terus menangis seperti ini," ujar Ria sembari mengelus punggung Jinan.


"Iya, Ji. Apa kamu tidak kasihan dengan baby Ayla? Bagaimana jika dia sampai sakit karena terus-terusan menangis seperti ini? Yang kamu lakukan ini juga bisa mengganggu mental anak kamu, Sayang. Mami mohon berhentilah menangis." Sila meneteskan air matanya saat melihat Jinan yang seperti orang setres karena terus menangis sembari memeluk anaknya.


Jinan mendongakkan wajahnya, menatap Sila. Air matanya terus menetes melalui pipi tirusnya. Matanya bahkan sampai membengkak karena sangkin lamanya ia menangis.


"Cukup ya, Sayang." Sila mengusap pipi Jinan dengan air mata yang kembali menetes di pipinya.


"Jinan takut anak Jinan kenapa-napa, Mi. Jinan tidak punya siapa-sipa lagi. Jinan tidak mau kehilangan anak Jinan. Jinan takut, Mi," lirih Jinan di sela isak tangisnya.


Ria yang ada di samping Jinan pun tak tahan untuk tidak menangis saat melihat kesedihan pada wajah wanita cantik itu. Ia jelas tahu semua kisah hidup Jinan. Hidup yang cukup bahagia hanya dengan kesederhanaan yang dimiliki kedua orang tuanya. Dan kebahagiaan itu menghilang dalam sekejap saat kedua orang tua Jinan pergi meninggalkan Jinan untuk selamanya.


******


Ada yang ngira ini cerita action?


So sorry guys, ini bukan cerita action. Adegan action di sini hanya Nai buat beberapa bab karena alasan yang tidak bisa Nai ceritakan. Dan mungkin ini juga bab terakhir untuk adegan actionnya ya. Atau tidak, i dont know😅

__ADS_1


Monggo di–


LIKE, COMENT, and VOTE guyyss💕


__ADS_2