
Buugg !!! Buugg !!!
Plakk !!! Plakk !!!
"Apa kau gila hah! Kau kira dia siapa? Dia itu bukan bagian dari para wanitamu yang bisa seenak jidat kau sentuh, Rico!"
Pukulan, tendangan, tamparan, serta cacian Rico terima dari papanya. Elena yang nelihat kakaknya sudah babak belur itu hanya diam saja, sesekali ia ikut menyeletuk untuk memanasi suasana. Sedangkan Ira hanya bisa menangis di sofa ruang tamu, ia tidak bisa menahan suaminya yang sedang murka itu.
Ya, Marco sangat murka saat Elena menceritakan padanya tentang apa yang telah Rico lakukan pada Jinan. Ia tidak habis pikir, anak lelakinya yang selama ini terlihat santai, nyaris tak ada permasalahan yang ia dengar, ternyata berani-beraninya melakukan hal yang memalukan pada wanita yang sudah seperti saudaranya sendiri.
Di negara bebas seperti ini memang sangat wajar jika pria dan wanita menjalin hubungan dengan saling bersentuhan. Marco pun tak mempermasalahkan kedua anaknya jika mereka ingin bermesraan dengan pasangannya asalkan kedua anaknya itu tidak sampai melewati batasan yang ia dan istrinya syaratkan. Yaitu tidak menyentuh bagian tubuh yang hanya boleh disentuh oleh suami atau istri mereka, dan juga tidak melakukan hubungan suami istri. Jika hanya sekedar berciuman saja Marco tidak mempermasalahkannya. Namun Jinan? Jinan adalah sosok seorang wanita yang nyaris tak pernah bersentuhan fisik barang sedikitpun dengan yang bukan mahramnya.
"Maafkan Rico, Pa. Rico masih dalam kondisi mabuk saat itu, Rico tidak sadar atas apa yang Rico lakukan pada Jinan. Rico juga tidak ada niatan untuk melakukan itu semua," ujar Rico yang masih terduduk di lantai.
"Mabuk? Pagi-pagi kau sudah mabuk?" tanya Marco.
"Rico ... Rico–"
"Apa? Mau mencari alasan?"
Marco hendak memukul anaknya kembali, namun kakinya lebih dulu dipeluk Ira dari belakang. Ira yang melihat anaknya sudah sangat kesakitan menjadi tidak tega dengan keadaan anaknya itu.
"Berhenti, Pa. Sudah cukup, kasihan Rico," ujar Ira dengan isak tangisnya. "Dia sudah mendapatkan pukulan dari Ardo, itu sudah cukup untuknya, Pa."
"Sudah cukup? Kau itu terlalu memanjakannya, Ira. Itu kenapa dia selalu berbuat semaunya sendiri."
"Mama, sudahlah. Kak Rico memang pantas mendapatkannya, dia itu sudah kurang ajar dengan Jinan, Ma."
"Tapi kakakmu sudah babak belur begini, El. Apa kau tidak kasihan dengannya?"
"Bukan kak Rico yang seharusnya dikasihani Ma, tapi Jinan. Kak Rico sudah hampir membuat Jinan celaka karena perbuatannya pada anak tuan Octav, dan sekarang dia mau melecehkan Jinan. Siapa yang menurut Mama harus dikasihani? Karena kak Rico juga, Jinan jadi takut untuk keluar rumah, Ma," ujar Elena emosi saat mengingat perbuatan kakaknya itu.
Ira dan Marco menatap Elena dengan tatapan penuh keterkejutan.
"Anak tuan Octav?" gumam Marco pelan.
"Kenapa dengan anak tuan Octav?" tanya Marco.
Elena membelalakkan matanya terkejut atas apa yang ia ucapkan. Ia menelan salivanya saat melihat tatapan kedua orang tuanya yang terlihat penasaran atas ucapannya.
"Astaga, apa yang kukatakan tadi?" batin Elena. Ia memegang mulutnya sembari menatap kesana kemari.
"Elena," seru Marco.
"Ah?" Elena menatap Marco panik. "A ... ada apa, Papa."
"Papa tanya, ada apa dengan anak tuan Octav? Kenapa kau menyangkut pautkan masalah Rico dan Jian dengan anak tuan Octav?" tanya Marco serius.
"Em, anu Pa. Em ..."
"Tuan Octav adalah orang yang sudah meneror restoran Jinan, Pa."
__ADS_1
Semua mata menatap ke arah asal suara dengan wajah terkejut. Di mana asal suara tersebut berasal dari Rico.
"Oh Tuhan, apa yang dia lakukan?" batin Elena.
"Apa maksudmu, Rico?" tanya Marco.
"Orang yang meneror restoran Jinan kemarin adalah orang suruhan tuan Octav ..." Rico menceritakan semua perbuatan Octav pada restoran Jinan kepada papanya. Ia juga tak segan menceritakan bahwa Octav melakukan semua itu karena pria tua itu yang sakit hati padanya karena anak perempuannya yang setres dikarenakan cintanya yang tak terbalas.
Elena yang menyaksikan kejujuran kakaknya pada papanya hanya bisa menundukkan kepalanya. Dalam hati, ia terus merutuki kebodohan Rico yang telah mengatakan semuanya pada papanya, padahal ia dan Ria sudah susah payah merangkai kata untuk menutupi kesalahan Rico. Tapi sekarang pria itu malah mengatakan semuanya dengan santainya.
Jantung Elena saat ini sudah dag dig dug menunggu reaksi papanya atas semua perkataan Rico. Elena bahkan tidak berani menatap wajah papanya, ia sangat takut jika nanti harus melihat amukan papanya.
Dan benar saja dugaannya, setelah Rico menceritakan semuanya, Marco langsung saja menampar wajah pria itu.
Plaakk !!!
Elena memejamkan matanya terkejut. Begitu juga dengan Ira yang masih terduduk disamping Rico pun terkejut akan tindakan suaminya yang tiba-tiba itu. Dengan cepat Ira memeluk tubuh tinggi anaknya yang sudah tak berdaya itu. Sebagai seorang ibu, seburuk apa pun perlakuan anaknya, ia pasti tidak akan tega saat melihat anaknya disiksa sampai tak berdaya seperti ini.
"Sudah Pa, Cukup!" teriak Ira dengan lirihnya.
"Minggir!" teriak Marco pada istrinya.
"Cukup, Pa. Rico sudah kesakitan, Pa."
"Dia pantas mendapatkan–"
"Mama mohon, cukup, Pa," lirih Ira sembari memeluk kaki suaminya. "Mama mohon."
"Ma," seru Rico. Ia mendekati Ira dan menarik tubuh Ira yang sedang bersujud di kaki papanya. "Jangan seperti ini, Ma. Rico memang pantas mendapatkan semua ini."
Ira menggelengkan kepalanya. "Mama tidak bisa melihatmu seperti ini, Sayang." Ira mengusap pipi puteranya pelan. "Jika perlu, Mama akan bersujud di kaki Jinan agar Jinan mau memaafkanmu. Tapi Mama mohon sama kamu, jangan pernah lakukan itu lagi, Nak. Apa lagi dengan wanita seperti Jinan. Mama tahu hal seperti itu sudah lumrah untuk anak muda seperti kalian di negara bebas seperti ini. Tapi kau juga harus bisa membedakan jenis-jenis wanita, Nak. Jinan bukanlah jenis wanita yang sama dengan wanita yang pernah kau temui di sini, Nak. Besok kita temui Jinan ya sayang. Kau minta maaflah yang tulus dengannya, Mama yakin Jinan pasti akan memaafkanmu," ucap Ira penuh sayang.
"Jinan tidak mau bertemu Kak Rico, Ma," ucap Elena tiba-tiba.
Ira beralih menatap Elena, sedangkan Rico hanya menundukkan kepalanya. Ia menyesal atas apa yang telah ia lakukan padanya Jinan. Karena perbuatan bodohnya tadi pagi, hubungannya dengan Jinan kini menjadi semakin merenggang.
"Mama akan berusaha untuk mendapatkan maaf dari Jinan. Yang dilakukan Rico bukanlah hal yang fatal, El. Jinan pasti bisa memaafkan Rico. Jika perlu, Mama akan membantu perkembangan restoran Jinan agar Jinan mau memaafkan Rico."
"Apa mau pikir dia mau dibujuk dengan uang?" tanya Marco.
"Lagi pula itu tidak akan terjadi, Ma. Karena dalam waktu dekat ini, Jinan akan menjual restorannya."
Ira mengernyitkan keningnya dengan menatap heran akan ucapan Elena, begitu juga dengan Rico dan Marco.
"Jinan akan pulang ke Indonesia dan tidak akan kembali lagi ke sini."
Rico membelalakkan matanya tak percaya akan apa yang Elena katakan. Pulang ke Indo dan tak akan kembali lagi ke Jerman?
Apakah yang ia lakukan pada Jinan sangat berlebihan? Seingatnya, ia tidak melakukan apa-apa pada wanita itu selain memegang tangannya saja.
__ADS_1
🍁Flashback On🍁
"Aku akan sangat rindu dengan Kakak. Aku juga akan sangat rindu bermain dengan baby Ayla," ucap Ria masih dengan memeluk Jinan.
"Kakak juga mungkin akan sangat rindu denganmu. Kamu adalah adik Kakak yang sangat baik. Selama di sini, terus kabari Kakak ya, Ri."
"Kakak yang seharusnya mengabari aku," ujar Ria.
Elena tersenyum melihat kedua wanita itu. Ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri mereka dan ikut berpelukan.
"Maafkan aku, Ji. Jika saja aku tidak terlambat datang, semua ini tidak akan terjadi," ucap Elena.
Jinan melerai pelukannya, lalu ia menatap Elena dengan tersenyum tipis. Senyuman yang bahkan hampir tidak terlihat. "Tidak, El. Ini bukan salahmu, semua ini sudah menjadi takdirku. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu."
"Aku janji, kak Rico akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang telah ia perbuat padamu. Aku akan melaporkan semua perbuatannya pada papa," ujar Elena yang menahan emosi.
Jinan menggelengkan kepalanya. "Tidak, El. Aku tidak mau kalian bertengkar karena aku. Lagian Rico juga sudah mendapatkan pukulan dari Ardo. Kurasa itu sudah cukup," cegah Jinan.
"Kau tenang saja. Kak Rico memang pantas mendapatkannya. Dan untuk pukulan Ardo, sepertinya itu tidak cukup," ujar Elena.
"Benar, Kak. Kakak tidak usah mengkhawatirkan kak Rico. Kak Rico memang pantas dihukum atas perbuatannya yang kurang ajar itu," sambung Ria membenarkan apa kata Elena. Meski ada sedikit rasa kasihan pada kakak sepupunya itu, tapi jika dipikir-pikir kembali, sepertinya Rico memang pantas mendapatkan itu semua.
...
Saat Elena keluar dari kamar Jinan, ia melihat Rico yang sudah sadar dari pingsannya sedang berdiri menatapnya. Dengan kemarahan yang masih berusaha ia tahan, Elena berjalan cepat menghampiri Rico, lalu ...
Plakk !!!
Satu tamparan mengenai pipi kiri Rico.
"Kau gila. Kau tidak waras. Kau pikir Jinan itu siapa hah?" teriak Elena dengan tertahan.
"Kau ...." Elena menunjuk wajah Rico, kemudian ia mengepalkan tangannya geram dan menghempaskan tangannya ke udara.
"Pulang sekarang juga," seru Elena, lalu ia segera pergi meninggalkan kediaman Jinan dengan kemarahan yang menghiasi hatinya.
🍁Flashback Off🍁
******
Tengkyu sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘
__ADS_1