Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 43


__ADS_3

Keesokan harinya Ardo bersama Elena mengunjungi kediaman Jinan tanpa memberi kabar pada Jinan maupun Ria lebih dulu. Elena sengaja ingin menghabiskan waktu bersama Jinan sebelum Jinan pulang ke Indo. Karena jika Jinan sudah tidak ada lagi di sini, mereka tidak akan berjumpa lagi dalam jangka waktu yang tidak diketahui.


Beruntungnya jadwal kuliah Elena saat ini tidak terlalu padat, jadi dia bisa meluangkan waktunya untuk mengunjungi teman baiknya itu. Elena juga sengaja mengajak Ardo ke rumah Jinan karena dia ingin sekali hubungan Jinan dan Ardo menjadi lebih dekat dari sebelumnya.


Tookk ... tookk ... tookk ...


Ketukan pertama tidak ada sahutan dari dalam rumah minimalis itu, begitu juga dengan ketukan kedua. Saat Elena mengintip dari kaca jendela, ia tidak melihat siapapun di dalam sana. Untuk memastikan kembali bahwa Jinan dan Ria ada di dalam rumah, Elena kembali mengetuk pintu rumah itu dengan sedikit lebih kencang dari sebelumnya. Dan pada saat ketukan keempat dilakukan, Elena melihat sosok Ria dari kaca jendela yang sedang berjalan ke arah pintu masuk dengan spatula di tangan kirinya.


"Kak Elena, Kak Ardo," seru Ria setelah ia membuka pintu.


"Lagi masak ya? Sepi sekali, Jinan mana?" tanya Elena.


Ria menganggukan kepalanya. "Iya, Kak. Aku sedang masak untuk makan siang nanti. Kak Jinan sedang mencuci baju di kamar mandi. Maaf ya lama membuka pintunya," ujar Ria dan diiyakan Elena dan Ardo.


Ria mempersilahkan Elena untuk masuk ke dalam rumah, sedangkan Ardo harus menunggu di teras rumah karena saat ini Jinan sedang tidak mengenakan hijabnya. Ria takut saat Jinan keluar nanti Ardo melihatnya yang sedang tidak memakai hijab. Jangan sampai Jinan marah padanya karena kecerobohannya ini.


Beberapa menit kemudian, Ria kembali menghampiri Ardo untuk mempersilahkan pria itu masuk karena Jinan sudah selesai mencuci dan juga sudah mengenakan hijabnya.


"Siang sekali kalian mencuci pakaiannya, Ri? Dari tadi ngapain saja?" tanya Elena setelah wanita itu meletakkan segelas air putih untuk Ardo.


"Baby Ayla badannya panas, Kak. Kak Jinan susah untuk bergerak karena baby Ayla tidak mau jauh dari mamanya," ujar Ria.


"Kamu serius, Ri? Tapi tadi aku lihat, baby Ayla nyenyak-nyenyak saja tidurnya."


Ya, Elena tadi sempat ke kamar Jinan untuk melihat baby Ayla, tapi ternyata anak bayi itu sedang tidur dengan lelapnya di atas kasur.


"Baru saja tidur, Kak. Dari pagi tadi kerjaannya nangis terus tidak berhenti-berhenti."


"Terus, kau dari tadi ke mana saja? Sudah tahu Jinan sedang sibuk, lalu kenapa tidak kau saja yang mencuci pakaian. Apa jangan-jangan kau baru bangun tidur ya?" tuduh Elena.


"Enak saja," ujar Ria tak setuju. "Aku dari subuh tadi ngerjain tugas kuliah karena siang ini mau dikumpulkan."


"Ngerjain tugas kuliah sampai siang begini?" tanya Elena lagi.


"Ya setelah sarapan, kak Jinan memintaku untuk ke pasar buat beli bahan-bahan makanan untuk makan siang dan makan malam nanti. Baru saja aku pulang setengah jam lalu. Mau mencuci, tapi kak Jinan malah menyuruhku memasak."


"Kenapa tidak meminta anak restoran untuk mengantarkan makanan saja? Kenapa harus ke pasar dadakan seperti ini?" tanya Elena.


"Em, itu 'kan bukan restoran kak Jinan lagi, Kak," ujar Ria sembari menatap ke arah Ardo.


"Oh iya ya, aku lupa," ucap Elena pelan.


"Apa sudah selesai memasaknya?" tanya Ardo.


"Em, sedang menggoreng ikan. Dan terakhir baru memasak sayur. Setelah itu selesai deh."


"Kak El dan Kak Ardo kenapa ke sini jam segini? Mau ikut makan di sini ya?" tanya Ria bercanda. Memang saat ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang, yang di mana waktu makan siang akan segera tiba.


"Mulai besok, kalian tidak perlu repot-repot memasak jika keadaannya darurat seperti ini. Kalian bisa meminta anak resto untuk mengantarkan makanan ke sini. Bukankah sudah kubilang bahwa lima hari kedepan Jinan masih memiliki hak atas restoran itu. Lagian juga 'kan anak resto belum ada yang tahu kalau aku adalah pemilik baru dari restoran itu."


Ya, restoran itu memang sudah menjadi milik Ardo, tapi mereka belum mengumumkan berita ini pada anak-anak yang ada di resto, karena rencananya mereka akan mengumkan berita ini dua hari lagi. Bersamaan juga saat itu dengan Jinan yang ingin berpamitan pada anak-anak restoran untuk pulang ke negara asalnya.

__ADS_1


"Sepertinya tidak perlu, Kak. Aku yakin Kak Jinan juga tidak akan mau," tolak Ria.


"Ya sudah, kalau begitu mulai besok aku yang akan mengantarkan makanan untuk kalian."


Pria membelalakan matanya.


"Tidak. Tidak usah, Kak. Kakak tidak perlu repot-repot seperti itu," tolak Ria kembali dengan tidak enak hati.


"Tidak ada yang direpotkan di sini. Aku suka melakukan itu untuk kalian."


"Terutama untuk Jinan," batin Ardo melanjutkan ucapannya.


Ria mengusap leher belakangnya, ia sebenarnya senang-senang saja jika Ardo ingin mengantarkan makanan setiap hari ke rumahnya. Tapi Jinan? Entahlah, ia tidak tahu apakah Jinan mau menerima bantuan dari Ardo. Tapi semoga saja Jinan mau. Karena selain aktifitas mereka yang sedikit berkurang, siapa tahu juga dengan cara ini hubungan Jinan dan Ardo bisa ada peningkatan.


Suara tangis baby Ayla dari dalam kamar membuat ketiga orang dewasa di ruang tamu itu mengalihkan pandangannya pada pintu kamar. Saat Ria baru saja hendak menuju kamar untuk menenangkan baby Ayla, tiba-tiba saja hidungnya mencium bau tidak sedap dari arah dapur.


"Astaga, masakanku gosong." ujar Ria saat teringat bahwa ia sedang memasak.


"Kak El, bisa kau tolong gendong baby Ayla sebentar? Masakanku gosong, kak Jinan sepertinya masih menjemur pakaian di belakang."


Tanpa menunggu jawaban dari Elena, Ria segera berlari ke arah dapur untuk melihat masakannya yang gosong.


Seperginya Ria dari sana, Elena bergegas ke kamar Jinan. Lima menit Elena berada di dalam kamar, namun suara tangisan baby Ayla tak kunjung berhenti. Karena panik akan tangisan baby Ayla yang semakin kencang dengan suhu tubuh yang sedikit panas, Elena berjalan cepat kearah dapur sembari menggendong baby Ayla .


"Ria, baby Ayah tidak mau berhenti menangis. Bagaimana ini? Tubuhnya juga terasa panas," ujar Elena panik.


"Tunggu sebentar, Kak. Nanti aku panggilkan kak Jinan."


Sembari menunggu Jinan datang, Elena membawa baby Ayla ke sofa ruang tamu yang di mana terdapat Ardo sedang duduk disana.


"Kenapa Jinan tidak membawanya ke rumah sakit? tanya Ardo pada Elena.


"Mana kutahu, aku 'kan baru datang ke sini tadi bersamamu."


Beberapa detik kemudian Jinan terlihat berlari dari arah belakang menuju ruang tamu. Ia tidak terkejut lagi saat melihat Ardo dan Ria ada di ruang tamunya karena sebelumnya Ria sudah mengatakan padanya bahwa Ardo dan Elena datang kemari.


"Astaghfirullah, tunggu sebentar ya, El. Aku mau mencuci tangan dulu." Jinan berjalan cepat menuju kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Elena.


Triingg ... triingg ...


Dering ponsel yang berasal dari slim bag milik Elena membuat wanita itu terlihat kebingungan saat ingin meraih ponselnya karena baby Ayla yang masih menangis dalam gendongannya.


"Apakah aku boleh menggendongnya?" tanya Ardo pada Elena.


"Apa kau bisa?" tanya yang meragukan Ardo.


"Aku memiliki seorang kakak perempuan dan aku juga sudah beberapa kali menggendong anaknya yang masih bayi dulu," ujar Ardo.


"Baiklah, tapi hati-hati," ujar Elena yang terpaksa percaya akan ucapan Ardo karena dering di ponselnya kini terhenti.


Ia memberikan baby Ayla pada Ardo dengan hati-hati. Dan bersamaan juga saat itu Jinan keluar dari kamar mandi. Sebelum Jinan sampai di depan Ardo untuk mengambil baby Ayla, tiba-tiba saja baby Ayla berhenti menangis dan kembali tertidur dalam gendongan Ardo. Hal itu jelas mengundang tatapan heran dari Jinan dan Elena. Sedangkan Ardo hanya mengedikkan bahunya acuh saat ditatap oleh kedua wanita itu.

__ADS_1


"Wah, sepertinya bayi ini sudah merestuiku lebih dulu sebelum ibunya sendiri menerimaku," batin Ardo dengan tersenyum senang.


Suara dering ponsel Elena yang sempat mati kini berdering kembali. Membuat Jinan dan Elena tersadar dari rasa terkejutnya.


"Em, aku angkat telfon dulu," ujar Elena sembari mengangkat ponselnya.


Dengan cepat Elena berjalan keluar rumah untuk menjawab panggilan dari mamanya sebelum baby Ayla kembali terbangun karena suara berisik ponselnya.


"Maaf merepotkan. Biar saya saja yang menggendong anak saya," ujar Jinan yang ingin mengambil anaknya dari Ardo.


"Tidak merepotkan. Kau selesaikanlah saja dulu pekerjaanmu, aku akan menjaga anakmu bersama Elena di sini."


"Aku akan melanjutkannya setelah anakku tidur," ujar Jinan.


"Anakmu sudah tidur, biarkan dia bersamaku. Kau selesaikanlah saja tugasmu."


"Tapi anakku sedang sakit, aku takut dia akan kembali menangis lagi."


"Jangan takut, sepertinya dia sudah nyaman dalam pelukanku," ujar Ardo yang meninggikan dirinya dan berhasil membuat Jinan menatap heran pada pria itu.


"Percaya diri sekali orang ini," batin Jinan.


Jinan memperhatikan anaknya yang berada dalam gendongan Ardo sejenak. Saat ia melihat baby Ayla yang terlelap dengan damai, dengan tidak enak hati Jinan akhirnya meninggalkan baby Ayla bersama Ardo di ruang tamu, sedangkan ia melanjutkan kembali pekerjaan yang sempat tertunda dihalaman belakang.


Ardo menatap wajah baby Ayla dengan seksama, kemudian ia mendudukan tubuhnya di sofa double. Ardo mengusap pipi cabi baby Ayla seraya tersenyum gemas.


"Cantik sekali, persis seperti ibunya," puji Ardo pada bayi mungil itu.


"Beberapa bulan lagi kau pasti sudah bisa berbicara. Dan pada saat itu, aku pastikan bahwa kau sudah akan memanggilku dengan sebutan papa," ucap Ardo pada bayi mungil itu.


Hemm ...


Deheman seorang wanita dari belakang tubuh Ardo membuat Ardo menoleh ke arah sumber suara. Di mana suara tersebut berasal dari Elena.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Elena.


"Sepertinya kau senang sekali," lanjutnya.


"Apa kau percaya bahwa sebentar lagi anak ini akan menjadi anakku juga?" tanya Ardo pada Elena.


"Semoga saja," ucap Elena yang tidak meyakinkan.


Sepuluh menit kemudian suara adzan dzuhur terdengar dari arah kamar Jinan. Ya, Jinan sengaja memasang alarm disetiap waktu sholatnya melalui ponsel pintarnya karena di sekitar rumah Jinan tidak terdapat masjid. Tak lama dari itu, Ria muncul dari dapur dan berdiri di ambang pintu dapur.


"Kak Elena dan Kak Ardo, kalian sholatlah terlebih dahulu. Setelah itu kita akan makan siang bersama," ujar Ria.


"Ya, kalian sholatlah lebih dulu, biar baby Ayla dipindahkan saja ke dalam box bayinya," ujar Jinan yang baru saja datang dari arah belakang.


"Baiklah," sahut Elena dan Ardo.


Dengan berat hati Jinan meminta Ardo untuk meletakkan baby Ayla ke dalam kamarnya. Ia tidak berani meraih baby Ayla dari tangan Ardo karena ia takut akan bersentuhan dengan Ardo.

__ADS_1


******


Tengkyu sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘


__ADS_2