Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 95


__ADS_3

Hari ini, tepat satu minggu setelah hari raya idul fitri, di mana Jinan beserta suami dan kedua anaknya akan pergi menuju negara asalnya yaitu, Indonesia. Waktu yang sangat dinanti-nanti oleh Jinan untuk pulang ke kampung halamannya setelah dua tahun meninggalkan negara tropis itu untuk ikut bersama suaminya.


Dengan semangat yang menggebu, sebelum keberangkatannya menuju bandara, Jinan menyempatkan diri untuk memasukkan semua oleh-oleh yang sudah ia siapkan untuk semua tetangganya di sana. Tak terlupa beberapa hadiah yang cukup menarik ia persiapkan untuk orang-orang terdekatnya seperti, Ria sekeluarga dan yang lainnya.


Tookk ... Tookk ...


Suara ketukan pintu yang bersamaan dengan saat Jinan meletakkan koper-kopernya di ujung ranjang tak membuat Jinan membutuhkan waktu lama untuk membuka pintu tersebut. Di sana terlihat seorang wanita paruh baya yang menyampaikan pesan pada Jinan untuk menemui Basir di dalam ruang kerjanya yang ada di lantai dua.


"Baiklah, aku akan segera ke sana."


Jinan kembali menutup pintu kamarnya setelah wanita paruh baya itu pergi.


Tookk ... Tookk ...


"Ar, bisa kau cepat mandinya? Papa memanggilku ke ruang kerjanya."


Tidak ada sahutan saat Jinan mengetuk dan memanggil suaminya yang sedang mandi di dalam kamar mandi. Saat Jinan hendak mengetuk pintu kamar mandi untuk kedua kalinya, baru saja tangannya mengudara, tiba-tiba pintu itu terbuka bersamaan dengan munculnya Ardo dari dalam sana.


"Ada apa papa memanggilmu?" tanya Ardo sembari menggosok kepalanya dengan handuk kecil.


"Tidak tahu. Apa kau sudah selesai mandi?"


"Ya."


"Baiklah. Kalau begitu, tolong jaga Andy sebentar ya. Aku ke ruang kerja papa dulu."


Setelah Ardo menganggukkan kepalanya, Jinan segera berbalik hendak pergi menuju ruang kerja Basir. Namun belum dua langkah ia berjalan, tiba-tiba saja perutnya dipeluk dan ditarik dari arah belakang oleh Ardo.


"Aaah," teriak Jinan terkejut. "Astaga Sayang, apa yang kau lakukan? Ayo lepaskan."


Bukannya melepaskan, Ardo malah mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya sembari mengendus aroma tubuh istrinya bagian leher hingga bahu.


"Ar, apa yang kau lakukan. Geli sekali," protes Jinan atas apa yang Ardo lakukan.


"Aku mencintaimu, Jinan."


Jinan mengernyitkan keningnya heran, namun sedetik kemudian ia kembali berekspresi seperi biasa.

__ADS_1


"Aku tahu," sahutnya cuek.


"Aku mencintaimu, Jinan," ulang Ardo akan ucapannya.


"Iya, aku juga mencintaimu, Evardo Rafandra. Kau ini kenapa sih? Aneh sekali."


"Hari ini kita akan pergi ke Indonesia. Di sana kita akan bertemu dengan mantan suamimu, aku takut kau akan kembali padanya karena saat ini dia sudah bercerai dengan istrinya," ujar Ardo dengan kalimat yang sangat aneh di telinga Jinan.


"Apa yang kau bicarakan, Ar? Kenapa kau aneh sekali?" tanya Jinan yang saat ini mulai heran dengan tingkah suaminya yang terlihat aneh itu.


"Entahlah, aku hanya merasa pria itu akan memintamu untuk kembali padanya, apalagi setelah aku mengakui kesalahanku padanya. Tapi meski begitu, aku tidak akan pernah rela jika kau kembali pada pria brengsek itu. Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin melepaskanmu kepada siapapun, apalagi pada pria brengsek seperti itu."


Jinan menghela nafasnya panjang. Ia raih kedua tangan suaminya yang ada di perutnya untuk ia lepaskan, namun sayang, sepertinya Ardo tidak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh istrinya itu.


Jinan kembali menghela nafasnya. "Kenapa kau berpikiran bahwa dia akan mengajakku kembali padanya? Itu tidak akan mungkin Ar, karena dia tidak pernah mencintaiku. Lagi pula, jika pun dia ingin kembali padaku, aku tidak akan mau, karena aku sudah memiliki kebahagiaanku di sini yaitu, bersamamu dan kedua anak kita," ujar Jinan dengan sangat percaya diri. 


"Apa kau tidak akan meninggalkanku?" tanya Ardo.


"Ar, kenapa kau menanyakan pertanyaan yang seharusnya kau sendiri sudah tahu jawabannya?"


"Aku hanya ingin mendengar jawaban itu langsung dari mulutmu."


"Iya, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu bersamamu, bahkan sampai di akhirat sana jika Allah menghendaki."


Ardo tersenyum lebar mendengar jawaban dari istrinya itu. Ia lepas pelukannya dari tubuh istrinya, kemudian ia berbalik dan masuk ke dalam walk-in closet.


Jinan yang melihat suaminya pergi begitu saja setelah memberikan pertanyaan-pertanyaan aneh padanya dibuat kebingungan. Apa maksud semua ini? Apakah Ardo sedang iseng melakukan semua ini padanya? Atau jangan-jangan ada hal lain yang ia tidak ketahui yang sedang disembunyikan Ardo darinya?


Saat Jinan hendak menyusul suaminya itu ke dalam walk in closet untuk menanyakan apa yang sedang terjadi, ternyata suara ketukan pintu yang diketuk dari luar membuatnya mengurungkan niatnya untuk menyusul suaminya, dan segera pergi menuju ruang kerja papa mertuanya.


"Ar. Sayang, aku keluar sebentar. Tolong jagain Andy sebentar, ya," teriak Jinan dengan volume yang tidak terlalu keras karena takut anak lelakinya itu terbangun.


...


Bandara Turki.


"Kalian hati-hati, ya. Kalau sudah sampai di Jakarta, segera hubungi kami," ujar Elif kepada Jinan dan Ardo yang saat ini hendak pergi karena waktu keberangkatan mereka sudah tiba.

__ADS_1


"Insyaa Allah, Ma. Mama dan Papa baik-baik di sini, ya."


"Ardo, jaga anak dan istrimu dengan baik. Jangan sampai Papa mendengar ada kabar buruk mengenai menantu dan cucu Papa selama kalian berada di sana. Jika itu sampai terjadi, kau akan tahu akibatnya. Kau mengerti?"


"Papa tenang saja, satu helai rambut mereka itu bahkan lebih berharga jika dibandingkan dengan nyawa Ardo sendiri." 


Mendengar celotehan suaminya yang seperti itu, Jina dengan cepat mencubit pinggang Ardo pelan.


"Kalau bercanda jangan bawa-bawa nyawa. Tidak lucu," omel Jinan dengan wajah tak ramahnya.


Ardo tertawa dengan menunjukkan deretan gigi putihnya. "Maaf, Sayang."


...


Kurang lebih 15 jam perjalanan dari kota Istanbul menuju kota Jakarta, kini akhirnya Jinan dan keluarga kecilnya itu berhasil tiba di bandara Soekarno-Hatta dengan selamat. 


Karena tidak ada yang menjemput mereka di bandara, jadi mereka memutuskan untuk pulang ke rumah Jinan dengan menggunakan taksi. Ia memang sengaja tidak memberitahu siapapun jika saat ini ia akan pulang ke Jakarta karena ia ingin membuat kejutan untuk sahabatnya Ria, yang kebetulan saat ini wanita itu sedang ada di Jakarta juga. 


Selama di perjalanan menuju kediamannya, mata Jinan tak lepas dari pemandangan kota yang sangat padat akan kendaraan itu. Ia juga dengan semangat memperkenalkan kota kelahirannya itu kepada anak sulungnya yaitu, Ayla.


Dari apa yang ia lihat, sepertinya hampir tidak ada yang berubah dari kota itu semenjak kepergiannya ke Turki dua tahun lalu. Semua terlihat sama seperti terakhir kali ia di sana, hanya saja ada terdapat beberapa bangunan yang mungkin baru saja dibangun, atau beberapa jalan yang dulunya berlubang sekarang sudah rata dengan aspal.


Hampir 1 jam di perjalana, akhirnya mobil yang Jinan tumpangi sampai di depan rumahnya. Karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sekitar 6 sore, jadi tak banyak orang yang melihat kedatangan Jinan dan keluarganya di sana. Hanya beberapa bapak-bapak yang lewat untuk pergi ke masjid terdekat untuk melaksanakan sholat maghrib berjama'ah.


"Mama, ini rumah siapa?" tanya Ayla seraya memerhatikan rumah peninggalan orang tua Jinan di depannya.


"Ini rumah kita, Sayang," sahut Jinan sembari menuntun anak gadisnya itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Kenapa rumah kita banyak sekali? 'Kan rumah kita sudah ada, Mama."


"Rumah kita ada dua, Sayang. Satu ada di Turki, satu lagi ada di Indonesia."


"Tapi, kenapa yang ini kecil sekali. Tidak seperti rumah kita yang ada di Turki?" tanya Ayla dengan polosnya.


  


******

__ADS_1


   


Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys 😘 iya


__ADS_2