
"Masyaa Allah, cantik banget cucu Oma. Persis seperti mamanya, ya."
Sepertinya Linda terlihat senang sekali saat berbincang bersama Ayla. Terlihat jelas di wajah wanita itu jika kebahagiaan Tengah meliputi dirinya. Bahkan sesekali ia meneteskan air mata bahagianya karena saking besar rasa bahagia yang ia rasakan saat ini.
"Oma menangis?" tanya Ayla dengan polosnya saat melihat sisa air mata di pipi Linda.
Linda mengusap pipinya seraya tersenyum. "Tidak, Sayang. Mata Oma kemasukan debu, jadinya berair."
Linda kembali tersenyum dengan lebar, ia cium kedua pipi cucunya itu dengan diikuti pelukan hangat layaknya seorang nenek pada cucunya. Ia sungguh merasa benar-benar beruntung karena masih bisa bertemu dengan cucu kandungnya dari seorang wanita yang pernah ia Sakiti. Cucu yang seharusnya ada bersamanya sejak lahir. Bukan di saat seperti ini, yang di mana setahun sekali saja belum tentu ia bisa berjumpa dengannya. Lagi-lagi sebuah penyesalan harus ia rasakan di saat semua keindahan yang ia rasakan saat ini ternyata hanyalah semu.
"Em, Tante," seru Jinan memecahkan lamunan Linda.
"Y ... ya. Ada apa, Jinan?"
"Em." Jinan menatap ke arah Ardo, setelah Ardo menganggukkan kepalanya, barulah Jinan melanjutkan perkataannya. "Apa mas Romi tidak ada di rumah?"
Linda menatap Ardo sekilas. "Romi sedang bekerja, Nak. Ada apa?"
Jinan menggenggam ujung baju Ardo, ia terlihat gugup untuk menjawab pertanyaan Linda.
"Ada apa, Jinan?" tanya Linda yang mulai penasaran akan tingkah Jinan yang tidak terlihat santai seperti sebelumnya.
"Em ...."
"Begini Nyonya Linda. Ada yang ingin kami bicarakan dengan Anda dan juga Romi."
Linda dan Jinan menatap ke arah asal suara, yang di mana suara tersebut berasal dari Ardo.
"Mau bicara apa, Nak? Katakan saja."
Jinan menatap Linda sekilas, kemudian pandangannya kini beralih pada wajah sang suami. Jinan menelan salivanya, ia kini benar-benar takut. Ia takut jika Linda maupun Romi tidak akan bisa memaafkan mereka atas perbuatannya. Ia takut jika seandainya nanti akan ada balas dendam di antara Romi dan suaminya mengenai hal ini. Sungguh ia tidak mau itu terjadi.
"Maaf Nyonya. Berhubung pembicaraan ini sedikit serius, ada baiknya jika kita membicarakannya bersama Romi nanti."
Linda terlihat mengerutkan keningnya saat mendengar bahwa apa yang akan dibicarakan oleh Ardo adalah sesuatu yang cukup serius. Apakah Romi mengganggu mereka lagi? Begitulah yang ada di pikiran Linda saat ini. Jika itu benar, ia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan anak lelakinya satu itu.
"Kenapa, Nak? Apakah kita ada menyinggung kalian? Atau Romi membuat masalah pada kalian?" tanya Linda yang sungguh sangat penasaran akan apa yang ingin dibicarakan oleh Ardo.
"Tidak, Nyonya. Romi tidak membuat masalah kepada kami, hanya saja ...."
"Tante," seru Jinan saat Ardo menjeda kalimatnya dengan melirik ke arahnya.
Dan saat mendengar Jinan memanggilnya, Linda sontak menghadap ke arah wanita itu.
"Eh, ya? Ada apa, Jinan?"
"Em ... Tante, apa boleh Jinan minta air putih dan juga sendok? Sepertinya anak lelaki Jinan haus." Jinan menggigit bibir bawahnya setelah mengatakan itu pada Linda. Memalukan sekali pikirnya, meminta sesuatu dengan menyela pembicaraan seseorang.
"Astaghfirullah, maafkan Tante, Nak. Tante hampir saja melupakan anak lelaki kalian."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Tante. Maaf sudah merepotkan."
"Tidak tidak merepotkan sama sekali. Tunggu sebentar ya, Tante ambil dulu air putihnya." Jinan menganggukkan kepalanya.
Setelah kepergian Linda, Jinan menatap ke arah Ardo dan menggenggam tangannya.
"Sayang, jangan sekarang, ya. Lebih baik kita membicarakan ini besok saja, saat ada Mas Romi. Lagipula tidak enak jika membicarakan hal serius seperti itu di depan anak-anak kita. Kita tidak tahu bagaimana reaksi mereka saat mendengar kabar ini, dan aku tidak mau jika reaksi mereka atas apa yang sudah kita lakukan akan berdampak kepada anak-anak kita saat ini."
Ardo menatap kearah Ayla dan Andi sejenak, sepertinya apa yang istrinya katakan itu ada benarnya. Tidak mungkin mereka membicarakan sesuatu yang kemungkinan hal negatif akan terjadi di depan anak-anaknya. Astaga, kenapa ia jadi terlupa akan hal sekecil ini? Hal kecil yang akan berdampak besar bagi anak-anaknya.
"Baiklah. Maafkan aku, aku lupa memikirkan itu," ujar Ado dengan mengusap punggung tangan istrinya.
Jinan tersenyum. "Tidak apa-apa, aku juga hampir melupakannya."
Beberapa detik setelah pembicaraan itu, Linda terlihat keluar dari dapur dengan secangkir gelas di tangan kanannya.
...
"Nyonya Linda. Sepertinya kita sudah cukup lama di sini. Kita mau pamit pulang dulu, ya."
"Pulang? Ke ... kenapa cepat sekali?" tanya Linda dengan wajah tidak relanya. Baru saja ia bermain bersama cucunya, tapi kini cucunya itu sudah harus meninggalkannya lagi. Rasanya tidak puas sekali.
"Maaf Nyonya Linda. Kita sudah hampir lima jam di sini, dan ... kebetulan kita juga ada janji temu dengan kerabat kita yang ada di sini."
Jinan menatap ke arah Ardo dengan mengernyitkan keningnya saat mendengar perkataan Ardo pada kalimat akhirnya. Janji temu dengan kerabat? Siapa?
"La ... lalu, bagaimana dengan hal yang ingin kalian bicarakan? Apa tidak jadi?"
"Kenapa tidak menunggu Romi pulang saja?" Linda melihat ke arah jam dinding rumahnya. "Mungkin sebentar lagi dia pulang."
"Maaf Nyonya Linda, tapi kita benar-benar harus pergi. Kita tidak mungkin membatalkan janji hanya untuk menunggu Romi pulang."
Linda menghembuskan nafasnya kecewa. "Baiklah kalau begitu. Saya akan menunggu kedatangan kalian besok."
Saat Jinan dan Ardo hendak berdiri dari duduknya, tiba-tiba saja suara Linda yang memanggil Jinan berhasil membuat mereka kembali duduk.
"Ada apa, Tante?"
"Em, apa Ayla boleh menginap di sini malam ini? Bukankah besok kalian akan ke sini lagi?"
Pertanyaan dari Linda yang tidak terduga itu berhasil membuat Jinan terdiam. Menginap?
Jinan menatap ke arah Ardo dengan pelan, lalu tatapannya beralih pada anak gadisnya yang ada di samping kanannya, dan kemudian pandangannya kini beralih kepada Linda yang masih menunggu jawaban dari mereka.
"Malam ini saja, Nak. Tante masih ingin bermain dengan cucu Tante," ujar Linda lagi dengan wajah yang mengiba.
Ardo menyentuh punggung tangan Jinan yang ada di pahanya. "Bagaimana, Sayang?"
Jinan terlihat bingung untuk memberi izin Ayla menginap di sana. Entahlah, ia seperti tidak rela atau lebih tidak percaya untuk membiarkan anaknya menginap di sini. Dan ia tidak tahu alasannya kenapa.
__ADS_1
Tapi untuk menolaknya juga itu tidak mungkin. Ia tidak mungkin menolak permintaan Linda begitu saja, apalagi di depan orangnya secara langsung.
"Em, Jinan terserah dengan Ayla-nya saja, Tante."
Sebuah kalimat yang sangat membuatnya deg-degan kini akhirnya keluar dari mulutnya sendiri. Jujur saja, apa yang ia ucapkan barusan itu sebenarnya tidak pernah ada di dalam pikirannya. Semuanya terucap begitu saja, dan sekarang ia sedikit takut jika anaknya mengiyakan permintaan dari Lindah. Ia tahu, orang-orang akan mengira bahwa ia jahat karena tidak mengizinkan anaknya tinggal bersama ayah kandungnya dan neneknya, tapi sungguh, hatinya saat ini benar-benar tidak rela jika Ayla harus menginap di sini meski hanya satu malam saja.
Namun sepertinya nasib baik sedang berpihak kepadanya. Jinan bisa bernafas lega setelah Ayla menjawab pertanyaannya tentang apakah ia mau menginap di sini bersama neneknya atau tidak. Dan Ayla menjawab bahwa ia tidak akan mau menginap jika mamanya tidak ikut bersamanya, karena ia tidak akan bisa tidur jika tidak dalam pelukan Jinan. Dan hal itu jelas membuat Ayla tidak akan bisa menginap di sana karena Jinan sendiri tidak akan mungkin menginap di rumah itu karena ....
You know guys!
...
"Baiklah Nyonya Linda, kita pamit dulu. Saya harap Romi bisa meluangkan sedikit waktunya untuk bertemu kami besok. Karena kita hanya memiliki waktu tiga hari lagi di sini."
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
Linda menatap sedih melihat kepergian keempat orang itu. Ia berharap, ini bukanlah kali terakhir ia bisa bermain bersama cucunya, meski ia tidak yakin karena cucunya itu akan ikut kembali ke Turki bersama orang tuanya.
...
Di dalam taksi yang ditumpangi Jinan dan keluarganya, Jinan terlihat memikirkan sesuatu yang di mana hal itu membuat Ardo heran.
"Kenapa, Sayang?"
Jinan menatap ke arah Ardo. "Kita ada janji dengan siapa, Ar? Apa aku terlupa sesuatu?"
Ardo tersenyum tipis mendengar pertanyaan istrinya tersebut. Ternyata istrinya itu sedang memikirkan hal itu.
"Dengan tuan Dedy dan nyonya Sila," jawab Ardo santai.
"Mami dan papi?" Ardo menganggukkan kepalanya. "Janji apa? Aku kok merasa nggak punya janji dengan mereka, ya."
"Makan malam, Sayang. Tadi aku yang ngajak tuan Dedy untuk makan malam bersama di hotel Xx malam ini."
"Tadi? Kapan?"
"Saat kau sedang ngobrol dengan nyonya Linda."
Jinan mengernyitkan keningnya heran. "Kenapa tiba-tiba sekali, Ar? Apa ...."
"Ya," jawab Ardo saat Jinan tak melanjutkan perkataannya. Dan hal itu jelas membuat Jinan tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya.
Sebelumnya Ardo memang pernah berjanji untuk tidak akan berbohong bagaimanapun situasi yang sedang mereka hadapi, tapi 'kan tidak dengan cara seperti ini juga, pikir Jinan.
******
__ADS_1
Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys