Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 49


__ADS_3

Setengah jam lebih di perjalanan, kini akhirnya Jinan dan ketiga orang lainnya tiba juga di rumah Jinan. Saat mobil yang ditumpangi Jinan berhenti menyala, tiba-tiba enam orang wanita paruh baya  dan satu orang wanita muda dari dalam rumah Jinan mulai bermunculan.


Terlihat sedikit ramai orang yang ada di teras rumahnya saat ini, dan Jinan tidak tahu kenapa semua orang itu ada di rumahnya. Jinan menoleh menatap Sila untuk menanyakan hal tersebut.


Sila tersenyum padanya. "Mami memberitahu sebagian dari tetangga kita bahwa hari ini kamu akan pulang. Dan mereka sendiri yang sengaja ingin menyambut kedatangan kamu, Nak."


"Tidak perlu berlebihan seperti ini, Mi. Dengan Mami yang menjemput Jinan saja, Jinan sudah senang sekali."


"Tidak ada yang berlebihan, Sayang. Mereka sendiri yang ingin datang. Mami senang mereka masih peduli dan menyayangi kamu, Nak."


Jinan tersenyum dengan menundukkan kepalanya, ia mengerti maksud dari ucapan Sila tersebut. 'Masih peduli dan menyayanginya' dengan artian bahwa sebagian tetangga lainnya masih memercayai gosip tentang kehamilannya. Jinan menghela nafasnya, kemudian ia tersenyum menatap Sila.


"Terima kasih, Mi." Jinan memeluk tubuh Sila dengan sayang.


"Yasudah, ayo kita turun. Mereka sudah lama menunggu kamu loh, Ji."


Jinan menganggukkan kepalanya, lalu mereka pun turun dari mobil. Pandangan pertama Jinan saat keluar dari mobil adalah rumah legendaris peninggalan orang tuanya. Rumah minimalis yang selalu membuat Jinan rindu akan hadirnya kedua orang tuanya.


Rumah itu terlihat masih sama seperti terakhir kali ia meninggalkannya satu tahun lalu. Hanya saja rumah itu terlihat lebih rapih dan lebih fresh, seperti baru di cat ulang pada beberapa bagian tertentu. Mungkin Sila dan Dedy yang sudah mengurus rumah itu selama ia berada di Jerman, pikir Jinan.


Ia tersenyum tipis dengan rasa haru, betapa beruntungnya ia yang memiliki keluarga baru yang sangat menyayanginya seperti mereka, terlepas dari semua permasalahan yang datang padanya.


Pandangan Jinan kini beralih pada ketujuh orang yang kini sedang berbisik-bisik dengan heboh di teras rumahnya sembari menatap ke arah Ardo yang baru saja keluar dari rumahnya.


Ya, Ardo yang sudah lebih dulu turun dari mobil dan memasuki rumah Jinan dengan koper-koper milik Jinan bersama Dedy, kini membuat ketujuh orang yang ada di rumah Jinan heboh sendiri.


Tak hanya para tetangga yang ada di teras rumah Jinan saja yang heboh, para tetangga yang hanya melihat kepulangan Jinan dari rumahnya masing-masing pun tak kalah hebohnya. Mereka semua yang melihat kepulangan Jinan bersama dengan seorang pria bule, kini mulai berasumsi yang aneh-aneh.


Sebagian dari mereka ada yang berasumsi bahwa Ardo adalah calon suami Jinan. Ada juga yang berasumsi bahwa Jinan sudah menikah dengan Ardo saat di Jerman. Dan ada juga yang berasumsi bahwa Ardo adalah selingkuhan Jinan yang di maksud oleh beberapa orang warga yang sering bergosip di warung sayur milik Wati.


Saat Jinan sudah berada tiga meter dari depan terasnya, suara bisik dari orang-orang itu tiba-tiba saja berhenti. Saat itu mereka langsung memasang senyum manisnya untuk menyambut kedatangan Jinan.


Jinan yang keheranan saat itu hanya bisa mengabaikan rasa penasarannya dan lebih memilih untuk memberikan senyum terbaiknya kepada para tetangga yang sudah lama tidak ia temui itu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, " ucap Jinan setelah tiba di depan ketujuh orang itu.


"Wa'alaikumsalam," sahut mereka semua


"Wah Jinan, kamu tambah cantik saja ya."


"Iya, Jinan sekarang tambah cantik ya. Kulitnya juga semakin putih dan bersih."


Jinan tersenyum senang dengan keramahan mereka semua padanya. "Terima kasih, Bude."


"Ini anak kamu ya, Jinan?" tanya salah satu warga bernama Eli saat menyadari kehadiran baby Ayla dalam gendongan Sila.


"Iya Bude, ini anak Jinan. Namanya Ayla."


"Masyaa Allah, cantik sekali anak kamu, Jinan."


"Iya ya, anaknya cantik. Hidungnya mancung, mirip sekali dengan Jinan. Em, tapi kenapa wajahnya tidak mirip dengan Jinan ya," ujar salah satu warga bernama Nanik.


"Lah iya, aku kok baru nyadar kalau wajahnya tidak mirip dengan Jinan, tapi mirip dengan siapa ya?" ujarnya bingung.


"Wah, iya benar. Aku baru sadar loh kalau wajahnya mirip dengan Romi."


"Namanya juga anaknya, ya miriplah," ujar Sila menimpali. Sedangkan Jinan sendiri tak memberi respon apa-apa atas tanggapan para tetangganya.


"Ternyata anak ini memang benar anaknya Romi. Aku kira anak ini adalah anak dari pria itu," celetuk salah satu warga bernama Ika yang menunjuk kearah Ardo yang saat ini baru saja menutup pintu mobil dengan ransel besar di punggungnya.


Jinan yang terkejut dengan celetukan wanita paruh baya itu lantas menoleh kearah Ardo berada. Ia menahan rasa malunya saat mereka masih berpikiran bahwa ia hamil karena pria lain. Ternyata para warga yang ada di sini juga sempat termakan gosip murahan, pikirnya.


"Kalian ini bicara apa. Jinan itu wanita baik-baik. Tidak mungkin dia sampai melakukan perbuatan yang dilarang seperti itu," ujar Sila yang membuka suara untuk membela Jinan.


"Ya 'kan kita tidak tahu, Ibu Sila," ujar Ika tidak enak hati.


"Makanya, jangan berbicara aneh-aneh kalau belum mengetahui kebenarannya. Itu jatuhnya fitnah. Dosa."

__ADS_1


"Iya iya, nggak lagi deh," seru Ika mengalah.


"Yasudah, ayo kita masuk. Kasihan Jinan, pasti dia lelah setelah melalui perjalanan yang sangat jauh," ujar Wati si pemilik warung sayur menengahi.


Mereka satu persatu mulai masuk ke dalam rumah Jinan. Dan saat itu juga bersamaan dengan Ardo yang sudah berada di belakang tubuh Jinan. Saat Jinan hendak masuk ke dalam rumahnya, tiba-tiba saja Ardo memanggilnya dari belakang dan Jinan sontak langsung menoleh kearah pria itu.


"Ada apa?" tanya Jinan.


"Maaf jika kehadiranku membawa rumor negatif untukmu," ucap Ardo dengan merasa bersalah karena ucapan para ibu-ibu yang mengatakan bahwa ia adalah selingkuhan Jinan. Ya, Ardo memang mengerti dan juga bisa mendengar jelas perkataan mereka semua meskipun masih ada beberapa kata dari mereka yang sulit untuk ia pahami.


"Tidak masalah, mereka hanya termakan gosip murahan saja. Tidak ada hubungannya denganmu." Jinan tersenyum sejenak kepada Ardo, kemudian ia melanjutkan kembali langkahnya untuk memasuki rumahnya.


Sejenak Ardo tertegun melihat senyuman Jinan yang ditujukan kepadanya.


"Dia tersenyum padaku?" gumam Ardo pelan.


Ardo menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. Ia benar-benar tidak percaya atas apa yang ia lihat barusan. Seorang Jinan yang terbiasa dengan cueknya, ternyata bisa juga memberikan sebuah senyuman yang indah untuknya.


Tunggu dulu!


Senyuman itu? Ya, Ardo mengenal jelas senyuman itu. Senyuman yang pernah Jinan sematkan saat wanita itu masih berusia lima tahun.


Ardo bisa merekam dengan jelas senyuman itu dalam ingatannya sejak saat Ria menunjukkan sebuah foto padanya sewaktu di restoran beberapa minggu lalu. Sebuah foto kebersamaan Jinan dan kedua orang tuanya di Bandara Berlin - Schonefeld.


Saat itu mereka terlihat sangat bahagia sekali dengan keluarga kecilnya. Jika Jinan dapat mengukir senyuman itu kembali dan ditujukan padanya, apakah itu artinya Jinan sudah bisa menerima kehadirannya?


Dengan perasaan yang tak menentu, Ardo segera menyusul Jinan untuk masuk ke dalam rumah. Ia masih belum puas melihat senyuman itu di wajah Jinan. Namun sayang, sepertinya Jinan hanya tak sengaja menyematkan senyuman itu untuknya. Karena saat di dalam sana, Jinan tak sedikitpun menunjukkan senyuman yang sama di wajahnya. Yang ada hanyalah senyum ramah seperti yang biasa wanita itu berikan kepada orang-orang di sekitarnya.


  


******


  

__ADS_1


  


Tengkyu bagi yang sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘


__ADS_2