
Karena ulah Ria dan Elena semalam yang mendandaninya layaknya boneka Annabelle dan membawa masuk Ardo ke dalam kamar mereka, membuat Jinan seharian ini tak berani bersitatap dengan Ardo. Bahkan sedari sarapan hingga makan malam tiba, saat Ardo hendak mendekatinya dan ingin mengajaknya berbicara, Jinan selalu melakukan berbagai cara untuk menjauh dari pria itu. Ia sungguh malu ketika semalam melihat wajah terkejut Ardo yang melihat wajahnya dengan make-up yang sangat kacau.
Saat Jinan baru saja keluar dari toilet yang ada di restoran hotel tempatnya menginap, ia dikejutkan dengan kehadiran Ardo yang sudah berdiri di samping pintu toilet perempuan.
"Jinan, kenapa kau menghindariku? Ada apa sebenarnya? Apa aku ada menyinggung perasaanmu?" tanya Ardo.
Jinan tak menanggapi pertanyaan dari Ardo, wanita itu hanya diam sembari menundukkan kepalanya.
"Apa karena kejadian semalam? Jinan, aku benar-benar minta maaf jika itu yang membuatmu marah padaku. Sumpah, aku tidak bermaksud menertawakanmu, saat itu aku ... aku hanya terkejut melihat wajahmu yang penuh dengan make up tebal."
Jinan mendongak mendengar ucapan Ardo, wajahnya kini terlihat memerah karena rasa malu akan kejadian yang semalam kembali terulang lagi.
"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa wajahmu menjadi merah seperti itu?" tanya Ardo panik.
"Aku ..."
"Apa make up yang kalian gunakan semalam sudah kadaluwarsa, sehingga membuat wajahmu menjadi seperti itu?" terka Ardo dengan kepanikan yang sudah menjadi. Ia sungguh takut jika wajah calon istrinya itu sampai iritasi karena kualitas make up yang dipakainya tidak bagus atau bahkan sudah kadaluwarsa.
Jinan menggeleng pelan. "Tidak. Aku ..."
"Atau jangan-jangan kau salah makan? Kita harus ke klinik terdekat, aku takut kau keracunan."
"Tidak, Ar. Aku tidak apa-apa, aku ... aku hanya ...."
Jinan menelan salivanya, rasanya ia tak sanggup untuk mengatakan alasan kenapa wajahnya bisa menjadi merah seperti ini.
"Kenapa, Ji?" tanya Ardo penasaran.
"Aku ... malu. Aku ... aku malu saat kau melihatku dengan kondisi yang seperti semalam," ujar Jinan pelan. Matanya kini menatap ke sana kemari agar tak bersitatap dengan Ardo yang akan membuatnya bertambah malu.
"Jinan. Lihat aku."
Jinan mantap Ardo dengan ragu.
"Kau malu karena aku melihat penampilanmu semalam?" Jinan menganggukkan kepalanya pelan.
Ardo menghela nafasnya. "Jinan. Aku memang menyukai wajah cantikmu, tapi bukan berarti aku mencintaimu hanya karena wajahmu semata. Aku mencintaimu karena memang aku mencintaimu, Jinan. Karena hati ini yang memilihmu."
"Asal kau tahu, selama ini sudah ada banyak sekali wanita cantik yang datang mendekatiku. Entah itu melalui keluargaku atau mereka sendiri yang datang kepadaku. Tapi kau tahu? Tak satupun dari mereka semua yang bisa membuatku tertarik meski hanya sekedar menjadi teman dekat. Dan kau? Kau adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat hati ini tergerak untuk melangkah pada suatu hubungan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehku."
"Sekarang aku tanya padamu. Jika suatu saat wajahku ini menjadi cacat dan jelek, apa kau akan meninggalkanku? Atau kau akan menghindariku seperti yang kau lakukan padaku hari ini?"
__ADS_1
Mata Jinan tampak berkaca-kaca mendengar semua penuturan Ardo. Dari wajahnya saja ia sudah bisa menjamin jika Ardo mengatakan semua itu tulus dari hatinya.
"Maafkan aku. Maafkan aku karena sudah menghindarimu seharian ini," ujar Jinan pelan dengan penuh penyesalan.
"Jinan, aku ingin pernikahan ini menjadi pernikahan terakhir untuk kita berdua. Aku ingin kita berdua bisa menjalin rumah tangga hingga sampai kita menua bersama. Kau tahu, saat itu wajah kita akan mulai keriput, dan kecantikan serta ketampanan yang kita miliki sekarang akan hilang seiring berjalannya waktu. Dan aku ingin, perubahan yang terjadi pada fisik kita nanti tidak akan mengurangi rasa cinta kita satu sama lain."
"Maafkan aku."
Tidak ada kata lain selain kata maaf yang keluar dari mulut Jinan saat itu. Sungguh ia benar-benar tidak ada niatan untuk berpikir sampai ke sana, ia hanya malu dengan penampilannya yang sangat kacau dihadapan calon suaminya. Itu saja, tidak lebih.
"Sudahlah, jangan meminta maaf terus. Lagipula kau tidak salah. Lebih baik sekarang kau masuk ke dalam kamarmu untuk segera beristirahat. Persiapkan dirimu untuk acara besok. Besok adalah hari yang melelahkan, aku tidak mau kau kelelahan sebelum acara besok."
"Aku ingin pergi ke ballroom sebentar. Tadi siang aku belum sempat melihat ruangan itu. Aku ingin melihatnya sebentar."
Ardo mengiyakan Jinan yang ingin melihat ballroom tempat berlangsungnya acara mereka besok dengan syarat, tidak boleh lebih dari setengah jam.
Jinan berjalan menuju arah yang berlawanan dengan lokasi ballrom berada. Ardo yang menyadari itu segera menghentikan langkah wanita itu.
"Ballroom ada di sebelah sana, kenapa kau berjalan ke arah sebaliknya?" tanya Ardo heran.
"Ayla sedang ada bersama kak Huri. Aku takut mengganggu kakakmu yang akan segera beristirahat, jadi aku ingin mengambil Ayla dulu sebelum ke ballroom."
"Pergilah, aku yang akan membawa Ayla ke ballroom."
Sampainya di ballroom, Jinan nampak tercengang melihat ruangan yang luas itu kini sudah berubah menjadi jauh lebih indah dari yang sebelumnya ia lihat. Ia menyunggingkan senyumnya akan keindahan ruangan itu. Apalagi saat ia membayangkan panggung megah di atas sana yang akan menjadi singgahsananya esok hari. Ia bagaikan sedang bermimpi dengan apa yang ada di depan matanya saat ini.
Meski sebenarnya konsep pernikahan ini bukanlah konsep pernikahan yang Jinan impikan, tapi dia tidak mungkin memberitahu Ardo tentang hal ini karena ia tidak ingin membuat semua usaha Ardo yang sudah memersiapkan semua ini menjadi sia-sia. Menurutnya, apa yang sudah Ardo berikan untuknya ini sudah lebih dari cukup. Apalagi semua kebutuhan pernikahannya ini 100% dibiayai oleh Ardo sendiri. Tidak akan pantas jika ia meminta apa yang tidak seharusnya ia pinta.
Saat sedang asik-asiknya menatap setiap sudut isi ruangan itu, tiba-tiba Jinan dikejutkan akan hadirnya sosok Rico yang ada di belakang tubuhnya.
"Rico," seru Jinan pelan.
Rico tersenyum ke arah Jinan, lalu ia berjalan mendekati Jinan.
"Apa kau bahagia dengan semua ini, Ji?" tanya Rico sembari menatap dekorasi ruangan itu.
Jinan tak menjawab pertanyaan Rico, ia hanya diam sembari menatap ke arah sembarang.
"Atau kau dipaksa untuk menikah dengan pria itu?"
Rico berbalik menatap ke arah Jinan, bersamaan dengan Jinan yang menoleh menatap ke arahnya juga. Beberapa menit mereka saling pandang dalam diam, membuat suasana di dalam ruangan itu menjadi lebih dingin dari pada AC yang ada di dalam sana.
__ADS_1
"Kenapa kau menerima pria itu, Ji? Kenapa?" tanya Rico dengan wajah tanpa ekspresi.
Cklek ...
Rico dan Jinan menatap ke arah pintu masuk yang terbuka. Terlihatlah Ardo yang sudah berada di ambang pintu dengan baby Ayla dalam gendongannya. Pria itu berjalan mendekati Jinan dan Rico sembari menatap wajah Jinan dan mengabaikan Rico yang ada di sana.
"Ini sudah larut, kembalilah ke kamarmu," ujar Ardo bagaikan perintah ditelinga Jinan.
Ardo hendak menyerahkan Ayla kepada Jinan, namun Jinan tak menerimanya, ia hanya diam saja sembari menatap ke sekelilingnya.
"Em, letakkan di lantai."
Ardo mengernyitkan keningnya. "Lantai?"
"Tidak apa, hanya sebentar," ujar Jinan.
Ardo menghela nafasnya, ia baru sadar jika Jinan tidak memperbolehkan dirinya sendiri untuk bersentuhan dengan yang bukan mahramnya.
"Sabar, Ar. Mulai besok Jinan sudah sepenuhnya menjadi milikmu," batin Ardo.
Ardo meletakkan Ayla di atas lantai ballroom, tak sampai lima detik Jinan sudah meraih kembali baby Ayla dalam rengkuhannya.
Setelah Jinan meninggalkan ballroom, Ardo berjalan mendekati Rico dengan wajah datarnya.
"Aku tahu kau menyukai Jinan. Asal kau tahu, mulai besok Jinan sudah akan resmi menjadi milikku. Jadi kusarankan kau untuk tidak berpikiran lebih pada calon istriku itu," ucap Ardo dan segera meninggalkan Rico seorang diri di sana.
"Sial," umpat Rico dengan memukul angin.
******
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
__ADS_1
Piupiu, see u nxt bab 😘