Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 89


__ADS_3

Di tengah acara makan malam bersama, saat Jinan hendak mengembalikan gelas minumnya di atas meja, tiba-tiba saja perutnya terasa sakit. Sakit yang sama seperti saat ia sedang berwudhu 90 menit lalu. Namun sakit yang ia rasakan saat ini rasanya jauh lebih tak tertahankan dari yang sebelumnya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Ardo saat melihat wajah istrinya yang terlihat aneh dengan sedikit berdesis.


Jinan tak menjawab pertanyaan suaminya, ia justru menghentakkan gelas kaca yang ada di tangannya ke atas meja makan sembari memejamkan matanya menahan sakit pada perutnya. Dan hal tersebut pun langsung membuat Ardo bangkit dari duduknya dan semua yang ada di meja makanpun menghentikan kegiatan makannya karena terkejut dengan suara hentakan tersebut.


"Sayang, kau kenapa?"


Ardo meninggalkan makanannya dan segera memegang tangan istrinya dengan perasaan was-was. Rasa sakit yang dirasakan Jinan membuat Ardo tak bisa berpikir lagi. Ia terus mengatakan kata 'kenapa' kepada istrinya itu tanpa berniat untuk membawa istrinya menjauh dari meja makan.


Saat Elif yang tiba-tiba mengatakan bahwa Jinan akan segera melahirkan, Ardo terlebih dahulu terbengong dengan mengernyitkan keningnya karena bingung. Namun saat Basir berteriak untuk menyadarkan Ardo dari rasa bingungnya, barulah pria tampan itu segera menggendong tubuh istrinya keluar rumah.


"Nenek, Mama kenapa? Mama sakit ya?" tanya Ayla kepada Elif yang berada di samping kirinya sembari menangis takut.


Elif mendudukkan tubuhnya pada kursi makannya dengan menghadap Ayla. Ia hapus air mata yang membasahi pipi cubi cucunya itu sembari tersenyum.


"Ayla. Ayla mau ketemu adik bayi, kan?"


Ayla mengangguk kecil dengan tangisnya yang masih berguguran.


"Hari ini adik bayi Ayla akan keluar dari perut Mama. Ayla jangan nangis ya, Sayang. Kita berdoa saja agar adik bayi-nya bisa cepat keluar dari perut Mama," ujar Elif memberi sedikit pengertian pada cucunya itu.


"Tapi, tadi Ay lihat Mama kesakitan, Nenek. Mama tadi menangis."


Tangis gadis kecil itu kini semakin menjadi saat mengingat raut wajah kesakitan Jinan beberapa menit lalu yang tertangkap jelas oleh mata mungilnya. Seolah apa yang Jinan rasakan saat itu bisa dirasakan juga oleh anak yang hampir memasuki usia dua tahun itu.


Elif yang juga ikut khawatir akan keadaan Jinan jelas tak bisa fokus menenangkan cucunya yang masih menangis itu. Ia hanya bisa memeluk Ayla dengan erat sembari mengatakan bahwa Jinan hanya sakit perut karena adik bayinya akan segera keluar.

__ADS_1


...


Setelah melalui berbagai macam drama yang membuat sang supir pusing karena Ardo yang terus berteriak meminta untuk mengebut, kini akhirnya mobil yang membawa Ardo, Jinan, dan Basir itu telah sampai di rumah sakit terdekat dari kediaman mereka. Karena saat diperjalanan Basir sudah menelepon pihak rumah sakit untuk menyiapkan ruang persalinan untuk menantunya, kini Jinan langsung saja dibawa ke ruang persalinan dengan digendong oleh Ardo.


Seperti kehamilannya yang pertama dahulu, sebelum persalinan dilakukan, Jinan kembali berjalan-jalan kecil mengitari ruangan persalinan agar jalan bagi sang bayi untuk keluar lebih mudah. Yang membedakan dari kehamilannya yang pertama dan yang kedua ini adalah, Jinan akan melahirkan dengan ditemani sang suami tercinta, bukan lagi dengan temannya ataupun orang lain. Rasa sakit yang ia rasakan saat ini bahkan sampai berkurang hampir 50% dari yang pernah ia rasakan sebelumnya. Mungkin karena rasa bahagia yang telah ia dapatkan ini yang membuat rasa sakit itu sedikit berkurang.


"Terima kasih karena sudah ada bersamaku sampai saat ini," ujar Jinan pelan di sela rasa sakitnya yang tertahankan.


"Jangan berkata seperti itu, ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang suami. Bukankah aku sudah berjanji untuk tetap bersamamu hingga akhir. Jadi, jangan pernah berkata yang aneh-aneh lagi." Ardo mengecup kening Jinan dengan sayang. Lalu ia raih bahu hingga kepala istrinya itu untuk ia bawa ke dalam rengkuhannya.


Melihat istrinya menahan sakit demi buah hatinya seperti ini membuat Ardo sungguh tak berdaya. Jadi, tak seharusnya Jinan mengucapkan kata terima kasih seperti itu kepadanya karena baginya, yang ia lakukan saat ini tidak sebanding dengan apa yang istrinya itu rasakan demi membahagiakannya dan keluarga kecil mereka.


Pada pukul 03.54 dokter mengatakan bahwa Jinan sudah siap untuk melahirkan. Dengan rasa bahagia dan khawatir yang menjadi satu, Ardo terus menggenggam erat tangan kanan Jinan sembari melantunkan segala macam ayat suci yang ia hafal.


Melihat perjuangan yang dilalui sang istri yang sangat menggetarkan jiwanya, membuat Ardo berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjadikan Jinan satu-satunya sosok ratu di hidupnya hingga akhir hayatnya kelak. Ya, tak lupa mamanya tercinta Elif juga yang akan selalu menempati posisi pertama di dalam sebuah ruang hati yang berbeda dari istrinya tercinta.


Dengan melafaskan kata Allah dan pengambilan nafas yang cukup dalam, akhirnya seorang bayi laki-laki dengan berat 3,2 kilogram berhasil dikeluarkan dari tempat singgahnya yang hampir berada di sana selama 9 bulan.


"Anak kita tampan," bisik Ardo tepat di telinga Jinan saat putranya sudah berada di atas tubuh istrinya.


Jinan tersenyum kearah Ardo sejenak, lalu ia arahkan pandangannya pada putra kecilnya yang sedang menangis itu. Wajah putranya itu terlihat persis seperti Ardo saat suaminya itu masih bayi. Benar-benar duplikat, pikirnya.


"Kenapa anakku tidak ada yang mirip denganku?" tanya Jinan pada Ardo.


"Jangan khawatir, kita bisa mencobanya lagi sampai dengan wajah anak kita mirip denganmu."


Jinan menatap Ardo dengan mengerutkan keningnya, kemudian ia tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


...


Jakarta, Indonesia.


Di waktu yang bersamaan, saat itu di dalam sebuah kamar yang tidak terlalu luas, nampak sepasang suami istri tengah bertengkar hebat. Tak sedikit barang-barang yang ada di dalam sana melayang ke segala arah. Terhempaskan begitu saja mengikuti teriakan yang menggema hingga keluar ruangan.


Seorang anak lelaki yang berusia hampir 3 tahun di luar sana sudah menangis ketakutan akan terikan kedua orang tuanya tersebut. Ia terus berteriak memanggil nama kedua orang tuanya dengan tangisnya, namun tak sedikitpun kedua orang tuanya menyahuti suara mungil itu. Membuat Linda selaku seorang nenek menjadi iba melihat ketakutan yang dirasakan pada cucunya tersebut. Padahal selama ini ia cukup tak terlalu peduli dengan kehidupan keluarga anaknya itu. Namun semenjak Romi dan Aurel sering bertengkar, hati Linda perlahan melembut pada cucu kandungnya tersebut.


Ceklek ...


Suara pintu yang terbuka membuat Linda dan Andre yang berada di ruang tamu menoleh pada asal suara. Di sana terlihat Aurel yang sedang menangis dengan sebuah koper besar di tangannya.


"Aurel, aku bilang berhenti!"


Teriakan Romi yang sangat melengking itu membuat Linda segera menutup telinga Andre dengan kedua tangannya sembari menghalang pandangan anak lelaki itu dengan tubuhnya.


"Ayo Sayang, kita pergi."


Aurel meraih pergelangan tangan Andre yang masih bersama Linda. Baru saja ia ingin menarik tangan Andre, tiba-tiba tangannya yang sedang memegang koper terlebih dahulu ditarik oleh Romi dari belakang.


   


******


   


Btw tengkyu banget bagi yang masih setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Maaf baru bisa up, dan nggak panjang juga kata2nya🙏 Pokoknya love u guys 😘

__ADS_1


__ADS_2