Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 80


__ADS_3

Setibanya Putra di rumah, ia segera mencari keberadaan anak lelakinya dengan berteriak memanggil namanya. Semua orang yang ada di rumah itu menjadi kebingungan dengan kehebohan yang Putra lakukan sedari memasuki rumah.


"Ada apa sih, Pa? Kenapa teriak-teriak seperti itu. Ini rumah, bukan hutan," ujar Linda heran  bercampur kesal.


"Mana Romi? Dasar anak tidak tahu diuntung. Berani-beraninya dia berselingkuh selama ini!" teriak Putra.


"Selingkuh? Siapa yang selingkuh, Pa?" tanya Linda yang semakin heran akan ucapan suaminya itu.


"Anak kamu itu selama ini sudah berselingkuh, Linda! Dia yang berselingkuh dari Jinan, bukan Jinan yang berselingkuh darinya. Perceraian mereka juga terjadi pasti karena Jinan yang sudah mengetahui perselingkuhan suaminya."


Linda membelalak, ia menggelengkan kepalanya tak percaya. "Tidak. Tidak mungkin Romi seperti itu, Pa. Romi tidak mungkin berselingkuh. Papa jangan menuduh sembarangan, Romi tidak mungkin berani berselingkuh."


"Bukti sudah ada di depan mata, Ma. Seluruh komputer perusahaan sore ini menayangkan semua bukti perselingkuhan Romi bersama Aurel. Bahkan semua karyawan Papa juga sudah melihat itu semua. Mau ditaruh di mana muka Papa jika semua itu benar, Ma?"


"Ada apa sih, Ma, Pa. Kenapa ribut-ribut?"


Putra dan Linda mengarahkan pandangannya pada asal suara, yang di mana suara tersebut berasal dari Romi yang sedang menuruni tangga bersama Aurel dan Andre dalam gendongan Romi.


Saat melihat kehadiran Romi, Putra segera berjalan cepat menuju anak lelakinya itu. Ia meraih Andre dan menyerahkannya pada Aurel sebelum ia menarik kasar Romi yang baru saja sampai di ujung bawah anak tangga. Tanpa menghiraukan Romi yang keheranan, Putra langsung saja memukul wajah anaknya itu dengan satu pukulan.


"Aaaaa ...."


Linda dan Aurel memekik kaget ketika melihat Putra memukul Romi.


"Astaga Papa. Kenapa Papa mukul Romi?" tanya Romi sembari memegangi pipinya yang baru saja dipukul Putra.


"Jadi tebakan Papa selama ini benar hah! Ternyata yang selingkuh itu adalah kamu, bukan Jinan."


Romi mengernyitkan keningnya. "Papa bicara apa? Siapa yang selingkuh, Pa?"


Putra menarik kerah baju Romi, mendekatkan wajah mereka berdua dengan tatapan tajam.


"Ada yang membajak semua komputer di perusahaan, dan semua komputer di sana menyala sendiri dengan menampilkan video rekaman cctv kalian berdua saat sedang keluar masuk kamar hotel!"


Aurel dan Romi terbelalak mendengar perkataan Putra. Mereka saling pandang seolah mengatakan, 'bagaimana bisa?'


"Saking tidak tahu malunya, kalian bahkan sempat berciuman di depan pintu kamar hotel itu. Apa kau sudah gila Romi! Hari itu adalah dua hari menuju hari pernikahanmu bersama Jinan!" teriak Putra tepat di depan wajah anaknya.


"Itu ... itu tidak benar, Pa. Papa jangan percaya begitu saja dengan video itu. Romi dan Aurel tidak seperti itu. Jikapun kami keluar masuk kamar hotel, ya ... ya itu saat kami sedang bulan madu kemarin," ujar Romi yang berusaha membela diri.


"Kamu masih berani berbohong hah!" Putra semakin menarik kerah baju Romi dengan emosi karena anaknya itu masih tidak mau mengaku.


"Romi tidak berbohong, Pa. Papa–"

__ADS_1


Trriingg ... Trriingg ...


Belum Romi menyelesaikan perkataannya,, dering ponsel yang ada pada saku jas Putra membuatnya terpaksa menghentikan kalimatnya. Ia dan Putra menatap ke arah di mana ponsel itu berada, dan di saat itu juga Putra langsung mendorong kasar tubuh Romi untuk segera meraih ponselnya.


Saat layar ponselnya menampilkan sebuah panggilan yang tidak diketahui siapa yang meneleponnya karena hanya ada dua angka yang tertera di sana, ia segera menjawab panggilan tersebut.


"Semua bukti ada di ponsel istrimu."


Putra terkaget mendengar suara seorang nenek-nenek dari sebrang sana. Ia menjauhkan telinganya dari ponsel itu dan menatap heran pada layar ponselnya.


Karena panggilan tersebut sudah terputus dengan sendirinya, Putra kini menatap ke arah istrinya.


"Mana ponsel kamu?"


Linda mengernyit. "Untuk apa?"


"Kemarikan ponselmu," ujar Putra dengan intonasi yang sedikit dinaikkan.


Melihat suaminya yang sedang tak terkendali emosinya, dengan perasaan tak menentu akhirnya Linda segera berlari menuju sofa ruang tamu untuk mengambil ponselnya.


"Ini," ujarnya memberikan ponselnya pada Putra.


Saat Putra melihat isi ponsel itu, ia tidak menemukan apa pun di dalam sana. Namun beberapa detik kemudian, sebuah video yang persis seperti apa yang ia lihat saat di kantor tadi muncul dengan sendirinya di ponsel itu. Tanpa basa-basi lagi, Putra segera memperlihatkan isi dari ponsel itu kepada anaknya.


Romi yang melihat video yang sedang tayang itu membelalakkan matanya. Bagaimana bisa rekaman cctv hotel yang pernah ia dan Aurel tempati ada di tangan papanya. Jika begini caranya, ia tidak akan bisa mengelak lagi.


Romi tak menyahuti perkataan Putra karena ia masih dengan rasa terkejutnya akan apa yang ia lihat saat ini. Sementara Aurel dan Linda yang penasaran dengan apa yang Romi lihat pun ikut mendekat untuk melihat video apa yang sedang ditunjukkan Putra pada Romi.


Mata mereka berdua terbelalak saat melihat apa yang sedang terputar pada ponsel yang di pegang Romi. Terutama Aurel, wanita itu bahkan sampai gemetar saking takutnya akan rahasia yang selama ini mereka tutupi sampai harus terbongkar. Ia sudah cukup bahagia karena keluarga Romi mau menerimanya masuk ke dalam keluarga mereka, dan ia tidak bisa membayangkan jika semua kebahagiaan ini sirna begitu saja hanya karena video tersebut.


Saat video tersebut menampilkan Aurel dan Romi yang sedang memasuki kamar pribadi milik Romi sewaktu masih menjadi suami Jinan, di situ Linda mulai tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Hampir saja ia terjatuh jika saja suaminya tidak sigap menangkapnya.


"Apa-apaan ini semua, Romi, Aurel. Benarkah selama ini kalian menjalin hubungan dibelakang Jinan?" tanya Linda dengan suara yang gemetar.


"Ma," seru Romi.


"Kenapa, Nak. Kenapa?" lirih Linda.


Ia kini sudah meneteskan air matanya karena kecewa dengan perbuatan anaknya itu. Ia benar-benar tidak menyangka jika selam ini yang mencurangi pernikahan anaknya dan Jinan adalah anaknya sendiri. Bukan Jinan.


Demi apapun Linda merasa sangat bersalah karena pernah menuduh Jinan yang tidak tidak. Bahkan ia pernah menuduh Jinan hamil karena selingkuhannya. Jika begini kenyataannya, ia benar-benar tidak punya muka lagi jika suatu saat akan bertemu dengan Jinan. Ia menyesal. Ia malu.


"Ma, dengar penjelasan Romi dulu. Romi bisa menjelaskan semuanya, Ma. Romi–"

__ADS_1


"Apa? Menjelaskan apa? Menjelaskan kalau kalian tidak berselingkuh, tapi Jinan. Iya?" teriak Linda.


"Permisi, Tuan, Nyonya."


Seorang wanita paruh baya tiba-tiba datang di tengah kegaduhan yang sedang terjadi antara ibu dan anak itu. Ia datang dengan membawa sebuah amplop cokelat tipis yang entah apa isi di dalamnya.


"Maaf, Tuan. Tadi ada kurir yang mengantarkan paket ini."


"Untuk siapa?" tanya Putra.


"Di sini tertulis untuk Tuan dan Nyonya, Tuan."


"Apa ada nama pengirimnya?"


"Tidak ada, Tuan."


"Yasudah, kamu boleh pergi."


Putra membuka amplop itu dengan penasaran. Betapa terkejutnya ia saat melihat isi dari amplop itu adalah sebuah surat dari rumah sakit yang berisi sebuah hasil tes DNA. Matanya terbelalak saat nama yang ada di kertas itu tertulis jelas nama lengkap dari Romi, Aurel, dan Andre.


"Kamu lihat kelakuan anakmu ini, Linda," ujar Putra dengan gigi bergetar.


Ia menunjukkan kertas itu pada istrinya. Dan benar saja, ekspresi Linda saat melihat isi dari kertas itu tak kalah terkejutnya dengannya. Wanita itu menutup mulutnya dengan air mata yang kini sudah membanjiri wajahnya. Ia sangat tidak percaya dengan semua kenyataan yang sudah dilihatnya pada hari ini. Begitu cepat dan sangat tidak terpikirkan dalam benaknya jika hari ini ternyata ada.


Putra menatap tajam pada Romi. "Apa lagi setelah ini?" Ia lempar kertas itu tepat di wajah anaknya dengan kemarahan yang masih bisa ia coba untuk ditahan.


Mata Romi terbelalak saat melihat kertas tersebut yang ternyata berisi sebuah hasil tes DNA anaknya yang bersama Aurel.


"Kenapa bisa secara bersamaan seperti ini?" batin Romi dengan sangat terkejut.


"Pa, Ma, Romi ... Romi–"


"Cukup, Romi. Bukti sudah ada di depan mata, dan kamu masih mau mengelak lagi? Kamu gila Romi. Mama tidak menyangka jika Mama punya anak sebrengsek kamu."


"Ma!" pekik Romi. "Video hasil tes DNA ini memang benar. Itu memang Romi dan Aurel. Tapi Romi dan Aurel tidak pernah berselingkuh, Ma. Aurel dan Romi sudah menjalin hubungan jauh sebelum Mama ingin menjodohkan Romi dengan Jinan. Jadi yang sebenarnya merusak hubunganku selama ini bukanlah Aurel, tapi Jinan," ujar Romi dengan kekesalannya. 


Linda menggelengkan kepalanya tak percaya. Sedetik kemudian ia jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan suaminya. Romi dan Aurel yang hendak mendekat untuk membantu langsung dicegah oleh Putra. Ia berjalan cepat, membawa istrinya masuk ke dalam kamarnya dan tak mengizinkan Romi ataupun Aurel ikut masuk ke dalam kamarnya.


  


******


  

__ADS_1


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕


Piupiu, see u nxt bab 😘


__ADS_2