
Pukul 14.20 waktu Turki, Ardo baru saja sampai di kediamannya. Di ruang tamu terlihat Basir yang sedang duduk seorang diri sembari membaca koran. Pria paruh baya itu memang sangat menyukai membaca berita melalui koran dari pada melalui televisi. Entah kenapa bisa begitu, menurut Ardo itu hanyalah kesenangan seseorang yang masih wajar dilakukan oleh papanya.
"Wa'alaikumsalam," ucap Basir saat menyadari bahwa anak lelakinya duduk di sofa single samping kirinya.
Ardo yang disinggung begitupun menyengir kuda. Entah kebiasaan dari mana pria itu selalu saja lupa mengucap salam. Padahal saat sebelum ia menikah, saat ia sedang berpamitan pada Jinan entah secara langsung atau melalui ponsel, ia selalu sempat untuk mengucapkan salam. Dan saat ini entah kenapa kebiasaan buruknya terulang kembali.
"Maaf. Assalamu'alaikum," seru Ardo pelan.
"Wa'alaikumsalam. Lain kali kalau masih lupa ngucap salam, sekalian saja lupa ingatan."
"Iya-iya, maaf."
"Kenapa cepat sekali pulangnya?" tanya Basir tanpa menatap Ardo.
"Rindu sama istri," jawabnya asal.
"Rindu istri atau memang karena tidak ada pekerjaan di kantor?"
Ardo menelan salivanya. "Ada, tapi sudah Ardo selesaikan. Ardo ke atas dulu ya, Pa. Ngantuk, mau tidur," ujarnya kembali dengan asal. Ardo berlalu dari sana dengan segera.
Tingkat kecurigaan papanya itu memang sangatlah tinggi, jadi jika ada satu hal saja yang aneh dalam pandangannya, maka papanya akan cepat curiga. Dan jangan sampai ia salah bicara di depan papanya hingga membuat papanya itu curiga atas perbuatan buruknya yang baru saja ia lakukan. Jika tidak, bisa habis dia dibuatnya.
Saat baru saja hendak membuka pintu kamarnya, tiba-tiba sebuah suara dari arah samping kanannya membuat Ardo menoleh.
"Paman, Ar."
Ardo melihat keponakannya yang cantik itu sedang berjalan dengan mengucek kedua matanya menggunakan kedua tangannya. Jika dilihat dari penampilannya, sepertinya Cemile baru saja bangun tidur. Tapi saat melihat keponakannya itu berjalan sendirian di luar kamar, akhirnya Ardo mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar dan lebih memilih menghampiri keponakannya itu.
"Cemile, kenapa sendirian di sini, Sayang?" tanya Ardo sembari mengangkat tubuh kecil itu dalam rengkuhannya.
"Mami tidak ada di kamar," ujarnya serak-serah basah khas anak kecil yang baru saja bangun tidur.
"Cemile mau mencari mami Cemile?"
Anak kecil itu hanya mengangguk mengiyakan.
"Yasudah, ayo kita lihat ke taman. Siapa tahu mami Cemile ada di sana. Soalnya di depan tadi Paman tidak melihat mami."
Setiba di taman, ternyata Huri tidak ada di sana. Ardo menanyakan keberadaan kakaknya itu pada Basir, dan ternyata kakaknya itu sedang pergi ke kantor suaminya untuk mengantarkan berkas yang tertinggal.
"Cemile ikut paman ke kamar saja ya. Kita main sama adik Ayla. Cemile mau, kan?"
Saat Cemile menganggukkan kepalanya pertanda setuju, langsung saja Ardo membawa keponakannya itu masuk ke dalam kamarnya. Baru saja membuka pintu kamar, ia sudah dibuat tersenyum saat melihat istrinya yang cantik sedang tertidur dengan posisi miring menghadap Ayla yang sedang bermain sendiri dengan angin dan udara yang ada di depan wajahnya.
__ADS_1
"Ssstt ...."
Ardo meletakkan jari telunjutnya di depan mulutnya, memberi kode pada Cemile agar tidak berisik karena Jinan sedang tidur. Setelah Cemile mengangguk, ia langsung membawa Cemile ke balkon kamarnya dan menurunkan keponakannya itu di atas kursi malas yang ada di samping jendela single balkon. Kemudian itu barulah ia meraih Ayla yang ada di atas kasur dengan perlahan agar istrinya tidak terbangun.
...
Malam hari setelah menyelesaikan ibadah isya' Jinan dan Ardo bergegas ke lantai satu untuk makan malam bersama. Di sana ternyata semua menu makan malam sudah tersedia di atas meja makan, bahkan Elif dan Basir juga sudah ada di sana sedang berbincang santai. Hanya Huri dan keluarga kecilnya saja yang belum muncul.
Jika ada yang bertanya kenapa Jinan tidak ikut memasak dan menyediakan makan malam itu. Jawabannya adalah karena keluarga Ardo memang tidak mengizinkan anggota keluarganya keluar kamar sebelum sholat isya'. Karena sudah menjadi tradisi dalam keluarga mereka untuk tidak meninggalkan sajadah, mukenah, dan Al-Qur'an sepanjang waktu maghrib hingga waktu isya' datang.
Keluarga Ardo memang sangat religius. Jadi, tidak heran jika Ardo selalu diomeli keluarganya jika ia tidak mengucap salam yang bagi sebagian besar orang hal seperti itu hanyalah hal yang sepele.
"Apa kau suka salad, Ji?" tanya Elif saat Jinan sudah mendudukan tubuhnya di kursi.
"Em, maaf, Ma. Jinan kurang menyukai makanan yang asam dan manis," ucap Jinan dengan sangat tak enak hati.
Ia tahu jika Elif ingin memberinya salad seperti yang sedang dimakannya. Namun bukannya bermaksud untuk menolak, tapi Jinan benar-benar tidak bisa memakan makanan masam dan yang juga terlalu manis. Jika dipaksakan, maka ia akan muntah. Tidak mungkin jika ia muntah hanya karena makanan pemberian dari mertuanya. Memalukan sekali.
"Salad adalah makanan kesukaan Ardo, Sayang. Walaupun kau tidak menyukainya, tapi Mama harap kau tahu apa makanan kesukaan suamimu ya, Nak. Tidak perlu memakannya, cukup menyediakannya saja jika suatu saat Ardo sedang ingin makan salad," ujar Elif menasehati dengan lembut.
"Jinan paham, Ma," ujar Jinan. "Jinan sudah terbiasa dengan hal seperti itu kok. Ayah Jinan dulunya juga menyukai makanan manis sejenis kue basah, tapi Jinan dan ibu tidak menyukainya. Malahan Jinan sekarang suka membuat kue, meski Jinan tidak suka memakannya lebih dari satu potong," lanjut Jinan yang mencoba menjelaskan.
"Bagus tuh menantu Mama. Benar-benar menantu idaman. Tidak menyesal Ardo sudah memilihmu menjadi istrinya. Sudah cantik fisiknya, cantik juga hatinya."
Ardo yang mendengar percakapan mama dan istrinya itu tersenyum senang. Sebenarnya ia tidak mempermasalahkan jika Jinan tidak menyukai makanan kesukaannya, karena menurutnya, apa pun yang dimakan dan disediakan oleh istrinya itu, ia pasti akan ikut menghabiskannya.
"Bibi Jinan," teriak seorang anak kecil dari arah anak tangga yang memotong perkataan Basir.
Jinan dan ketiga orang lainnya yang ada di meja makan itu menoleh ke arah asal suara. Terlihat Huri dan keluarga kecilnya sedang menuruni anak tangga untuk ikut makan malam bersama.
"Panjang umur," gumam Ardo pelan.
"Papi, aku mau turun," ujar Cemile pada Aslan.
"Di bawah ya, Sayang. Nanti jatuh, tangganya tinggi."
Cemile mengangguk patuh. Setibanya di anak tangga terakhir, Aslan langsung menurunkan anaknya dan saat itu Cemile langsung berlari menuju Jinan.
Sejak menemani Jinan berkeliling rumah tadi pagi, Cemile tampak lebih bisa membuka diri dengan Jinan. Bahkan anak kecil itu tidak ada malunya lagi untuk meminta bermain bersama Ayla setelah berkeliling rumah hingga waktu dzuhur tiba. Padahal saat di Indonesia kemarin Cemile sangat jarang bicara jika tidak ada yang mengajaknya bicara.
"Bibi Jinan, besok Cemile mau pulang ke rumah Cemile. Bibi Jinan dan adik Ayla ikut sama Cemile, kan? Di rumah Cemile ada rumah-rumahan barbie yang sangat besar. Di sana kita bisa bermain bersama seperti tadi siang," ujarnya dengan merentangkan kedua tangannya selebar mungkin, menggambarkan betapa besarnya rumah-rumahan barbie yang ia maksud.
"Coba Cemile tanya sama paman Ardo. Apa bibi Jinan boleh main ke rumah Cemile?" ujar Jinan dengan melirik Ardo sekilas. Karena setahunya, Ardo pernah mengatakan padanya jika pria itu sedang sibuk beberapa hari ini. Jadi ia takut mengiyakan ajakan Cemile jika nantinya Ardo tidak mengizinkannya pergi.
__ADS_1
Mendengar itu Cemile langsung menghadap pada Ardo. Ia menanyakan persis seperti apa yang diucapkan Jinan padanya tadi. Namun yang membedakan adalah, gadis kecil itu menampilkan wajah imutnya agar Ardo mengizinkan bibi Jinannya ikut ke rumahnya untuk bermain bersamanya.
"Nanti paman dan bibi akan main ke rumah Cemile kok. Tapi saat hari libur ya Sayang, soalnya Paman sedang banyak kerjaan saat ini."
Cemile memanyunkan bibirnya. "Bibi Jinan dan adik Ayla saja yang ke rumah Cemile, Paman tidak usah ikut tidak apa-apa kok."
Ardo mengangkat Cemile ke pangkuannya. "Tidak bisa Cemile, Sayang. Adik Ayla 'kan masih kecil, nanti bibi Jinan kerepotan kalau tidak ada Paman. Paman janji, hari libur nanti Paman akan ke rumah Cemile bersama bibi Jinan dan adik Ayla. Kau tenang saja, hari libur 'kan dua hari lagi," ujar Ardo dengan menyentil lembut hidung mancung keponakannya itu.
"Paman janji?" Cemile menyodorkan jari kelingkingnya pada Ardo, dan langsung balas oleh Ardo dengan menautkan jari kelingking mereka berdua.
Setelah selesai dengan perjanjian paman dan keponakan itu, kini Cemile turun dari pangkuan Ardo untuk segera duduk pada kursi khususnya. Yang di maksud kursi khusus di sini adalah kursi yang tempat duduknya sengaja dibuat lebih tinggi dari biasanya, karena jika Cemile menduduki kursi yang seperti orang dewasa lain tampati, gadis kecil itu akan tenggelam dimakan kursi dan meja.
"Oh ya, Ma, Pa. Ardo mau mengatakan sesuatu," ujar Ardo sebelum mereka memulai makan malamnya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Elif.
"Em, Ardo berencana ingin membangun rumah sendiri untuk keluarga kecil Ardo, Ma."
"Memangnya kenapa dengan rumah ini, Sayang? Apa kalian tidak suka tinggal bersama Mama dan Papa?" tanya Elif heran.
Mendengar itu Jinan langsung menatap Ardo dengan tidak enak hati.
"Bukan begitu, Ma. Ardo hanya ingin hidup mandiri saja bersama keluarga Ardo. Lagipula rumah ini terlalu kecil untuk anak-anak Ardo nanti. Mama sendiri 'kan yang ingin rumah seperti ini?"
"Yasudah, kalau begitu perbesar saja rumah ini. Tidak usah pindah rumah lagi. Mama dan Papa sudah tua, Ar. Mama tidak mau rumah ini terbengkalai jika Mama dan Papa sudah tidak ada lagi."
"Astaghfirullah, Mama. Kenapa Mama bicara seperti itu?" ucap Ardo cepat. Ia sungguh terkejut karena mamanya bisa berkata seperti itu. Sungguh itu adalah kata keramat yang tidak pernah ingin Ardo dengar dari mulut siapapun itu yang menjadi bagian dari keluarganya.
"Mama jangan bicara sembarangan, Ma. Usia kalian masih lama kok. Mama jangan bicara seperti itu lagi. Apa Mama tidak mau melihat Cemile tumbuh dewasa? Apa Mama tidak mau melihat anak-anak Ardo lahir dan tumbuh dewasa?" omel Huri yang juga tak menyukai perkataan mamanya itu.
"Tapi Mama tidak mau jika sampai Ardo pindah dari rumah ini. Jika bukan bersama kalian, sama siapa lagi Mama dan Papa di rumah ini. Sudah cukup kepergian Ardo ke Jerman kemarin, sekarang Mama tidak mau ditinggal lagi."
"Sudah-sudah, kenapa jadi membicarakan kematian sih. Ayo makan, tidak baik berbicara seperti itu di depan makanan. Masalah rumah nanti kita bicarakan lagi dilain waktu," sela Basir.
Ia sebenarnya setuju akan perkataan istrinya untuk Ardo tidak pergi dari rumah ini. Tapi ia juga tidak setuju dengan alasan yang diberikan istrinya itu. Baginya perkataan adalah ibaratkan sebuah do'a. Jangan sampai Allah mencabut nyawanya sebelum ia melihat cucu-cucunya tumbuh dewasa.
Bukannya ingin menghalau takdir, hanya saja ia belum siap untuk pergi secepat itu meninggalkan keluarga tercintanya.
******
__ADS_1
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
Piupiu, see u nxt bab 😘