Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 82


__ADS_3

18.40 PM. Jakarta. Indonesia.


Masalah datang secara bertubi-tubi kepada Putra dan Linda. Mulai dari kebohongan anak dan menantunya yang terkuak, semua klien membatalkan kerja sama, investor menarik sahamnya, hingga pada semua komputer yang ada di perusahaannya tiba-tiba saja eror beberapa menit setelah pembajakan yang terjadi pada komputer-komputer itu. Kini Putra dengan sangat terpaksa harus menjual beberapa aset pribadinya untuk mengganti semua kerugian yang terjadi pada perusahaannya, termasuk dengan menggadaikan rumahnya.


Hari ini ia dan istrinya akan pindah ke rumah kontrakan yang berukuran sekitar setengah dari rumah miliknya. Sedangkan untuk Romi dan Aurel, ia dan istrinya tidak peduli mereka ingin tinggal di mana karena mereka masih belum terima akan semua yang terjadi pada kehidupan mereka yang sekarang ini. Hidup di jalan menuju kebangkrutan yang hal itu disebabkan oleh kelakuan tidak terpuji dari anak dan menantunya.


Bahkan sudah 5 hari ini juga Linda dan Putra mendiamkan anak dan menantunya itu. Mencabut semua fasilitas yang diberikan dan melarang anak serta menantunya itu untuk bertemu dengan mereka sebelum Romi maupun Aurel dapat mempertemukan mereka pada Jinan, mengakui kesalahannya dan meminta maaf dengan tulus pada Jinan dan Ayla. Dan jangan lupakan permasalahan yang terjadi pada perusahaannya jika Romi menginginkan maaf dari mereka.


***


Berbeda yang terjadi dengan Putra dan keluarganya. Hari ini di kediaman Basir, tepatnya di dalam kamar sepasang suami istri yang tak lain adalah Ardo dan Jinan. Ardo sedang membantu istrinya itu untuk menenangkan dirinya yang sedang gugup. Jinan gugup karena hari ini adalah hari pertamanya akan mengunjungi perusahaan tempat suaminya bekerja. Lebih tepatnya perusahaan milik suaminya, karena memang Basir telah menyerahkan perusahaan tersebut untuk anak lelakinya itu. Dan hari ini juga ia akan diperkenalkan secara resmi sebagai istri dari direktur utama seorang Evardo Rafandra. Alasan yang membuat wanita berhijab syar'i itu selalu bertingkah aneh pagi ini.


"Sayang, releks. Kau tidak akan berpidato di atas aula, kau di sana hanya akan diperkenalkan sebagai istriku saja. Tidak lebih," ujar Ardo dengan tersenyum geli.


"Aku hanya takut akan salah bertindak saja saat di sana, Ar. Aku takut mempermalukanmu."


Ardo menangkup kedua pipi Jinan. "Tidak akan ada yang dipermalukan. Dan tidak akan ada juga yang mempermalukan. Kau tenang saja, mereka tidak akan ada yang berani melakukan hal yang akan merugikan diri mereka sendiri."


"Apa benar?" tanya Jinan polos.


"Tentu. Kau percaya padaku, kan?"


Jinan mengangguk mengiyakan. Meski rasa gugup itu masih ada, setidaknya ini lebih baik dari yang sebelumnya. Semoga saja kehadirannya di perusahaan suaminya tidak membawa sebuah permasalahan. Ia sungguh berpikiran berlebihan seperti ini karena sebelumnya ia memang tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke sebuah gedung perusahaan manapun. Bahkan perusahaan milik Putra saja ia tidak pernah diajak ke sana, meski baru satu bulan menikah.


"Bagus. Sekarang ayo kita ke bawah. Papa dan Mama pasti sudah menunggu kita."


Ardo mengulurkan tangannya agar diraih Jinan, namun bukannya meraih tangan itu, Jinan malah berlalu menuju kasur untuk meraih Ayla. Setelah itu barulah ia meraih tangan Ardo untuk segera turun ke lantai satu, sarapan bersama sebelum pergi ke kantor.


Ardo yang melihat itu hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Hampir saja ia terlupa akan adanya Ayla di sana.


...


"Kalian hati-hati di jalan, Mama dan Papa akan menyusul satu jam sebelum acara perkenalan di mulai," ujar Putra saat anak dan menantunya itu hendak pergi.

__ADS_1


"Baik, Pa."


"Jaga istrimu, Ar. Jangan pernah meninggalkannya sendirian di tempat yang asing baginya," nasihat Elif pada putranya itu.


"Tenang saja, Ma. Kalau perlu Jinan akan selalu ikut kemanapun Ardo pergi. Termasuk ke toilet," canda Ardo yang disertai tawa kecilnya.


"Dasar jorok," omel Elif yang juga bercanda.


"Baiklah, kita pergi dulu ya, Ma, Pa. Assalamu'alaikum."


Elif dan Basir saling pandang. "Tumben," ucap mereka kompak. Sementara Ardo hanya menyengir kuda saja, ia juga tidak tahu kenapa saat setiap bersama Jinan ia hampir tidak pernah lagi lupa untuk mengucapkan salam seperti biasanya.


Kini mobil yang ditumpangi Ardo dan Jinan sudah keluar dari halaman rumah Basir. Sepanjang perjalanan menuju perusahaan, Ardo selalu tersenyum sembari sesekali melirik pada Ayla dan Jinan yang sedang mengamati pemandangan di luar mobil dari kaca mobil.


"Ji," panggil Ardo.


Jinan menoleh. "Kenapa?"


Jinan mengernyitkan keningnya, ia tak mengerti akan maksud dari pertanyaan Ardo.


"Apa kau bahagia menikah denganku?" ulang Ardo.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" ujar Jinan yang balik bertanya sebelum menjawab pertanyaan Ardo.


"Sejauh ini aku cukup bahagia. Dan aku harap, kedepannya juga kita akan selalu bahagia bersama."


Ardo tersenyum akan jawab Jinan. "Terima kasih sudah menerimaku."


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau sudah mau memilihku. Memilih diriku yang hanyalah seorang wanita dengan satu orang anak dan segala kekurangannya."


Ardo menghentikan laju kendaraannya pada tepi Jalan. Sementara Jinan yang melihat itu terlihat heran.


"Kenapa, Ar? Apa ada masalah?" tanyanya sedikit panik.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Ardo malah meraih tangan kanan Jinan. "Kalimat terakhir yang kau ucapkan tentang kekurangan. Aku harap kau tidak mengatakannya lagi, Ji."


"Kau tahu? Aku mencintaimu bukan karena status singlemu ataupun kelebihanmu. Aku mencintaimu karena aku mencintaimu. Karena hati ini yang memilihmu. Karena Allah yang menjodohkan kita. Dan karena hati baikmu yang membawaku pada cintamu. Jadi aku mohon, jangan katakan itu lagi."


Ardo menatap Jinan dengan tatapan yang sangat intens. Sangat dalam, sehingga membuat Jinan membatu dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Terharu akan ketulusan dari perkataan yang disampaikan oleh suaminya itu.


Apakah ini hadiah yang Allah kirimkan untuknya, pikirnya.


Tanpa menunggu lama, Jinan langsung memeluk pundak Ardo dengan erat. Menumpahkan segala perasaannya yang selama ini belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Aku mencintaimu, Ar. Jangan pernah tinggalkan aku," lirih Jinan dalam pelukannya.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kita akan menua bersama." Ardo menarik tubuhnya dari pelukan mereka. "Aku mencintaimu."


Ardo menyatukan bivir mereka berdua dengan perlahan. Namun dua detik kemudian Jinan menarik tubuhnya dari sentuhan itu.


"Kenapa?" tanya Ardo heran.


"Ini di jalan raya. Lebih baik kita segera lanjutkan perjalanan sebelum polisi menghampiri kita," ujar Jinan dengan wajah yang memerah.


Ardo menghela nafasnya lega. Ia pikir Jinan menolaknya karena marah atau apa, ternyata hanya masalah sepele.


  


*****


  


Bab ini judulnya the power of kepepet, karena nulisnya hanya 1 jam. Jam 23 nulis, jam 00 selesai😬 Jadi maafkan kalau tulisannya berantakan, besoklah aku perbaiki lagi.


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕


Piupiu, see u nxt bab 😘

__ADS_1


__ADS_2