Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 62


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan kedua bagi Romi bersama wanita cantik bernama Aurel Putri. Pernikahan yang digelar secara sederhana dan juga hanya dihadiri beberapa tetangga, sahabat baik, serta keluarga dari kedua mempelai.


Acara yang dilaksanakan pada sore hingga malam hari itu kini telah usai, semua para tamu undangan juga sudah membubarkan dirinya dari kediaman Romi yang menjadi lokasi acara pernikahan. Kini di rumah itu hanya tersisa Romi dan kedua orang tuanya beserta keluarga baru mereka yaitu, Aurel dan putranya.


"Biar Andre tidur sama Mama dan Papa aja ya, Rom. Ini 'kan malam pertama kalian, kalian pasti tidak ingin ada yang mengganggu, kan," goda Linda pada anak dan menantunya.


"Mama tidak perlu repot-repot. Andre bisa tidur dengan kita kok," ujar Aurel yang tak enak hati dengan usul Linda.


"Udah, nggap papa kok. Kalian masuk kamar sana, ini sudah larut. Istirahat, jangan terlalu capek, lusa 'kan mau pergi bulan madu," ujar Linda mengingatkan.


Mendapat anggukan dari Romi, Aurel akhirnya mengiyakan ucapan Linda. Mereka segera masuk ke dalam kamar milik Romi yang sudah di hias seromantis mungkin oleh pikah WO.


Keesokan harinya saat sedang melangsungkan sarapan bersama, suasana tampak begitu hangat karena Aurel dan Romi yang menjadi bahan candaan bagi kedua orang tua Romi. Tampak mereka terlihat sangat bahagia dengan situasi saat ini. Seolah tak ada masalah apa pun yang sedang dihadapi.


"Oh ya, Rel. Ngomong-ngomong, tadi pagi saat Mama memandikan Andre, Mama nggak sengaja lihat tanda lahir Andre loh. Letaknya sama banget seperti milik Romi yang ada di punggung bagian belakang."


Aurel terdiam, ia menatap ke arah Romi dengan perasaan yang tak menentu. Sejenak mereka saling beradu pandang, sampai pada suara Putra menyadarkan mereka dari lamunnnya.


"Apa itu pertanda bahwa Romi memang ditakdirkan untuk menjadi ayah sambung Andre ya, Ma?"


Aurel tersenyum kaku pada Putra. "Aurel juga tidak tahu, Pa."


"Ma, hari ini Romi mau belanja dengan Aurel untuk persiapan besok. Mama dan Papa ada yang mau dibeli juga?" tanya Romi dengan mengalihkan topik pembicaraan.


"Sepertinya tidak ada," ujar Linda.


"Papa juga tidak ada," ujar Putra.


"Baiklah kalau tidak ada yang mau dibeli."


"Oh ya, Rom. Em ..."


"Ada apa, Ma?" tanya Romi heran saat melihat Linda yang sepertinya ragu untuk mengatakan sesuatu.


"Em ... kapan kamu akan membawa cucu Mama ke sini, Nak? Mama ... Mama ingin sekali bertemu cucu Mama," ujar Linda sembari meletakkan alat makannya di atas piring. Ia bahkan terlihat seakan sedang memohon atas apa yang ia ucapkan.

__ADS_1


Romi terdiam dengan menatap ke arah Linda. Cucu? Anaknya bersama Jinan? Demi apa pun Romi tiba-tiba jadi merindukan putrinya yang bersama Jinan. Sama seperti Linda, Romi juga ingin sekali bertemu putrinya. Tapi entah kenapa Jinan seperti memersulitnya untuk bertemu anaknya. Padahal Jinan sendiri yang bilang padanya bahwa dia tidak akan menghalanginya untuk bertemu anaknya.


"Em, Ma. Saat ini Romi juga masih belum bisa bertemu dengan anak Romi, apa lagi sampai harus membawanya ke sini."


"Kamu usaha dong, Rom. Itu 'kan anak kamu juga, Jinan juga pasti mau mempertemukan kamu dengan anakmu jika kamu mau berusaha."


"Ma," seru Putra yang ada di kursi utama meja makan. Ia menggelengkan kepalanya pelan pada istrinya itu, lalu ia mengarahkan pandangannya pada Aurel yang tampak memakan makanannya dengan tak bersemangat.


Linda yang diberi kode oleh suaminya itu lantas menatap ke arah Aurel. Ia menjadi tak enak hati dengan menantunya itu. Membicarakan cucu kandungnya di depan wanita yang baru saja menjadi bagian dari keluarganya yang kebetulan juga membawa seorang cucu untuknya, meski itu bukan cucu kandungnya sendiri menurutnya.


"Aurel."


Merasa namanya dipanggil, Aurel mendongak, menatap ke arah Linda dengan senyum pasrahnya.


"Ada apa, Ma?" tanyanya seolah tak terjadi apa-apa.


"Maafkan Mama ya, Nak. Tak seharusnya Mama–"


"Tidak apa-apa, Ma. Aurel ngerti kok," potong Aurel.


Tak ada yang bersuara lagi setelah perbincangan itu. Suasana nampak canggung hingga sarapan selasai. Saat Romi dan Aurel hendak kembali ke kamarnya untuk bersiap akan pergi ke mall, Linda memanggil Romi dengan alibi ingin minta tolong untuk diambilkan sesuatu di ruang kerja suaminya.


Saat dirasa Aurel sudah menjauh dari meja makan, Linda berbisik kepada Romi untuk meminta anaknya itu menghubungi Jinan. Berharap bisa bertemu dengan Ayla agar bisa dibawa pulang ke rumahnya.


"Romi akan berusaha, Ma. Tapi Romi tidak bisa berjanji pada Mama untuk membawanya ke sini. Mama tahu sendiri bagaimana Mama menuduh Jinan hamil karena pria lain? Mungkin ini akan sulit."


***


Setelah selesai mencoba gaun yang akan dipakai untuk acara pernikahan nanti, kini Jinan, Ria, Ardo beserta baby Ayla sedang dalam perjalanan menuju restoran untuk makan siang bersama.


Baru saja mobil yang mereka tumpangi berhenti di parkiran restoran, ponsel Jinan yang ada di atas dashboard mobil bergetar. Ia melihat sebuah pesan masuk yang ternyata berasal dari mantan suaminya, Romi. Setelah membaca pesan itu, Jinan menghela nafasnya, lalu ia segera meletakkan ponsel itu ke dalam tas dan segera keluar dari mobil.


Sejak keluar dari mobil hingga memesan makanan, Jinan tampak tidak fokus saat diajak bicara dengan Ria dan Ardo. Wanita itu terlihat seperti sedang memikirkan hal lain yang membuat pikirannya sedikit terganggu.


"Ada apa denganmu? Sejak tadi kau tidak fokus saat kita bertanya. Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu," ujar Ardo penasaran.

__ADS_1


"Em, tadi ... mas Romi mengirim pesan. Katanya ... dia ingin bertemu dengan Ayla sebelum besok dia pergi bersama istrinya."


Ria tidak terkejut lagi mendengar Jinan mengatakan itu, karena ia sudah hafal dengan Romi yang sering sekali mengirimi Jinan pesan yang sama persis seperti itu. Ria menatap ke arah Ardo yang hanya diam, menatap wajah Jinan begitu intens. Entahla apa yang dipikirkan pria itu.


Cukup lama Ardo menatap Jinan dalam diamnya, membuat Jinan maupun Ria merasa canggung akan tatapan itu.


"Setelah kita menikah nanti, aku ingin kau memberitahu padaku semua hal yang berkaitan denganmu dan Ayla. Termasuk saat mantan suamimu yang ingin bertemu dengan anaknya." Ardo menjeda kalimatnya sejenak. "Aku tidak akan melarang pria itu bertemu Ayla, tapi aku akan melarang jika kau sendiri yang mengantarkan Ayla padanya tanpa adanya aku yang mendampingi."


Kini giliran Jinan yang menatap ke arah Ardo dalam diamnya. Ia tidak tahu harus seperti apa menanggapi perkataan Ardo. Menurut pandangannya, kini Ardo terdengar seperti seorang suami yang posesif terhadap istrinya. Entah ini hanya dirinya saja yang terbawa perasaan karena tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya, atau memang Ardo tipikal seorang pria yang posesif.


"Kak Jinan," seru Ria yang berhasil menyadarkan Jinan dari lamunannya.


"Ah ya? Ada apa, Ri?" tanya Jinan bingung.


"Kakak melamun? Kak Ardo tadi bilang, katanya ajak saja mas Romi bertemu di sini. Sekaligus kita makan siang bersama."


Jinan menatap ke arah Ardo dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.


"Kenapa? Apa kau takut bertemu dengannya?" tanya Ardo saat melihat raut bingung diwajah Jinan.


"Em, aku ... aku hanya belum siap saja."


"Kenapa? Apa kau takut pria itu akan mengambil anakmu?"


Jinan menundukkan pandangannya, menatap ke arah baby Ayla yang sedang menatap langit-langit restoran. Jujur saja, ia memang memiliki sedikit ketakutan akan hal itu, tapi ia juga tidak bisa terus-terusan menghindari Romi dari anaknya seperti ini. Bukankah ia sendirilah yang sejak awal menginginkan Romi untuk mengakui Ayla sebagai anaknya agar Ayla bisa merasakan kasih sayang seorang ayah? Lalu kenapa sekarang ia sendiri yang justru menjauhkan Romi dari anaknya?


Dengan mencoba berani, Jinan akhirnya mengirim pesan kepada Romi untuk mengajaknya bertemu siang ini juga di restoran yang saat ini sedang ia kunjungi bersama Ria dan Ardo.


Beruntungnya Romi saat itu sedang berada di mall yang tak jauh dari restoran yang Jinan maksud. Hingga hanya memakan waktu 15 menit saja, mantan suami Jinan itu kini sudah terlihat memasuki restoran bersama istri barunya dan seorang anak kecil berusia sekitar 1 tahun dalam gendongan Romi.


******


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕


Piupiu, see u nxt bab 😘

__ADS_1


__ADS_2