Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 88


__ADS_3

Sore ini Jinan bersama keluarga kecilnya menghabiskan waktunya di Sultanahme Square. Tempat yang sering disebut dengan Hipodrom Konstantinopel itu merupakan sebuah area kawasan tempat wisata terkenal yang ada di turki. Karena perut Jinan yang saat ini sudah semakin membesar dan membuat mereka tidak bisa bepergian jauh, jadi tempat itulah yang kini menjadi pilihan paling tepat untuk mereka bersantai selain di taman belakang rumah utama Ardo,


Sebenarnya, semakin mendekati hari kelahiran anak keduanya, Ardo memang melarang Jinan untuk keluar rumah. Namun karena istrinya itu ingin sekali pergi piknik di luar, akhirnya dengan terpaksa ia mengiyakan permintaan istrinya itu dengan berbagai pesyaratan yang sudah diperhitungkannya.


"Papa, kejar aku."


Teriak bahagia seorang gadis kecil yang berusia hampir 2 tahun membuat Jinan mengembangkan senyum bahagianya. Ia sangat bersyukur dengan apa yang sudah ia miliki sekarang, meski sebelumnya ia harus melewati beberapa cobaan dalam perjalanan hidupnya.


Pandangan Jinan yang tadinya sedang menatap anak gadisnya berserta suaminya yang sedang berkejaran di antara bunga-bunga, kini pandangannya terarahkan pada salah satu keluarga yang sedang duduk di atas tikar pikniknya yang tak jauh dari posisinya berada. Sepasang anak kecil yang berada dalam pelukan orang tuanya membuat Jinan tiba-tiba saja mengingat sosok pria yang pernah menjadi suaminya dulu. Romi.


Sudah satu setengah tahun ia menetap di negara asal suaminya, namun hingga sampai saat ini ia tidak pernah mendengar kabar mengenai mantan suaminya itu. Bukan tanpa alasan Jinan memikirkan Romi, hanya saja ia mengkhawatirkan Ayla yang sampai saat ini belum pernah bertemu ayah kandungnya. Ia takut jika hingga dewasa nanti Ayla tidak mengenali sosok ayah kandungnya, dan justru menganggap Ardo sebagai ayah kandungnya.


Ingin rasanya ia menceritakan siapa sosok ayah kandungnya pada Ayla, namun itu akan sulit jika tidak menghadirkan orangnya secara langsung atau setidaknya hanya memperlihatkan sebuah foto. Sedangkan ia sendiri tidak memiliki satupun foto Romi. Dan untuk foto pernikahannya pun semuanya ada di rumah pribadi Romi.


"Mamaa."


Teriak serta pelukan mendadak dari Ayla membuat Jinan tersadar akan lamunannya. "Astaga, Sayang. Ngagetin aja." Jinan segera menarik tubuh anak gadisnya itu ke dalam dekapannya dan menciumi seluruh wajahnya dengan sayang.


"Ay, kenapa menabrak Mama, Sayang? Nanti Mama sama adik bayinya sakit loh."


Perkataan Ardo membuat Ayla menarik tubuhnya dari pelukan sang mama, lalu ia katupkan kedua tangannya pada kedua sisi pipi Jinan.


"Mama sakit ya?" tanya Ayla dengan suara khasnya.


Jinan tersenyum lembut. "Tidak apa-apa. Mama hanya kaget saja kok, Sayang."

__ADS_1


Pandangan Ayla kini menuju pada perut buncit Jinan. "Apa adik bayinya sakit, Mama?"


Tanpa menunggu sahutan Jinan, anak yang berusia hampir 2 tahun itu dengan cepat mendudukkan tubuhnya di hadapan Jinan. Ia sentuh perut buncit Jinan sembari mendekatkan telinga kirinya pada perut buncit itu.


"Adik bayi. Apa kau kesakitan di dalam sana?"


Jinan dan Ardo tertawa geli dengan tingkah anak gadisnya itu. Ayla selalu saja mengira bahwa adik bayinya yang masih ada di dalam perut Jinan itu bisa diajak bicara karena sering melihat Ardo yang melakukan hal tersebut saat di rumah.


"Mama, adik bayinya tidak menjawab lagi."


Sebuah perkataan yang sama setiap kali gadis kecil itu berusaha mengajak bicara pada perut buncit Jinan. Dan hal yang bisa dilakukan Jinan dan Ardo saat Ayla berkata seperti itu hanyalah tertawa geli sembari kemudian memberi pengertian pada anak mereka bahwa adik bayinya itu belum bisa berbicara. Namun entah datangnya dari mana jiwa keras kepala anak kecil itu, Ayla tetap saja mengajak bicara adik bayinya yang ada di dalam perut Jinan meski kedua orang tuanya sudah berulang kali mengatakan hal yang sama.


Di tengah kebersamaan mereka di sana, tiba-tiba seorang wanita cantik dengan pakaian yang dominan berwarna hitam menghampiri mereka. Jinan dan Ardo sempat terkejut saat mengetahui bahwa wanita tersebut adalah Elsa yang datang seorang diri dengan sebuah kantung bening di tangan kanannya yang berisikan sebuah kotak makanan manis jika dilihat dari tulisan pada kemasannya.


Karena tak tahu harus berbuat apa, Jinan akhirnya mengajak Elsa untuk bergabung bersama mereka. Dan tentunya ajakan Jinan tersebut disambut baik oleh Elsa. Ardo yang awalnya memberi kode sebagai tanda tak setuju kini hanya bisa pasrah karena tidak tega jika harus berdebat dengan istrinya hanya karena Elsa.


"Tidak apa. Aku mengerti kok," ujar Jinan dengan tersenyum.


"Oh ya, ini aku beli Cikolatali Maras Kesme Dondurma. Apa kau suka makanan manis?" tanya Elsa sembari membuka bungkusan bening dihadapannya.


"Em, maaf. Aku tidak terlalu suka makanan manis."


Elsa menghentikan gerakannya sejenak sembari menatap Jinan terkejut. Ia pikir makanan manis adalah salah satu makanan kesukaan kaum wanita, tapi ternyata Jinan bukan termasuk kaum wanita yang dimaksudnya, wanita itu ternyata tidak menyukai makanan manis.


"Apa anakmu tidak suka juga?" tanya Elsa pada Jinan.

__ADS_1


"Ayla sangat menyukai makanan manis. Sama seperti papanya," ujar Jinan sembari tersenyum menatap Ardo.


Melihat kedua pasangan itu saling tatap, Elsa menjadi salah tingkah sendiri. Ia tersenyum tak enak hati, kemudian ia melanjutkan aksinya untuk membuka kotak kue yang tadi sempat terjeda.


"Hai, Ayla. Apa kau mau cokelat?" tanya Elsa sembari menyodorkan kotak kue cokelat yang telah terbuka di hadapan anak kecil itu.


Ayla menatap kue cokelat itu selama beberapa detik. Dari raut wajahnya, sepertinya gadis kecil itu menginginkan kue yang ada di sana, namun bukannya mengambil kue tersebut, Ayla justru memeluk Jinan dan menengadahkan kepalanya ke arah Jinan. Seolah meminta izin pada mamanya untuk menerima pemberian makanan kesukaannya itu dari Elsa.


Jinan yang menyadari tingkah anaknya itu tersenyum sembari diiringi anggukan kecil. Anaknya itu memang selalu meminta izin padanya jika ingin menerima pemberian dari orang lain, karena menurut Jinan, tidak semua yang orang lain berikan pada kita itu harus diterima.


"Enak?" tanya Elsa saat Ayla sudah menelan suapan pertamanya.


Ayla mengangguk tanpa bersuara, sepertinya gadis kecil itu masih malu kepada Elsa yang baru dua kali ditemuinya. Melihat itu Elsa hanya tersenyum, lalu ia mengarahkan kotak kue itu ke hadapan Ardo.


"Apa kau mau?"


"Em, tidak. Aku sudah kenyang," sahut Ardo datar.


Elsa tersenyum kikuk, kemudian ia menghembuskan nafasnya pelan. Ardo pasti tidak nyaman dengan kehadirannya di sini, itulah kenapa pria itu tidak mau menerima kue cokelat darinya. Dengan terpaksa Elsa akhirnya berpamitan karena sudah sangat tidak enak hati dengan situasi yang membuatnya canggung itu.


   


******


   

__ADS_1


Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys 😘


__ADS_2