Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 48


__ADS_3

Jinan menatap Ardo dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Raut wajah Ardo saat itu sangat terlihat serius ke arahnya. Jinan tidak menyangka akan melihat raut wajah itu di wajah seorang pria seperti Ardo.


Selain kedua orang tuanya, tidak pernah ada orang yang seperhatian seperti ini kepadanya. Kini Jinan mulai berpikir, apakah Ardo benar-benar tulus mencintainya?


Cukup lama mereka saling tatap dengan pikirannya masing-masing, hingga sebuah suara yang berteriak memanggil nama Jinan menyadarkan mereka dari lamunannya.


Jinan dan Ardo menatap ke sekelilingnya untuk mencari sumber suara tersebut. Dari jarak yang tak terlalu jauh, terlihatlah sosok Sila dan Dedy yang sedang berjalan ke arah mereka.


Jinan mengusap sudut matanya yang sedikit berair, kemudian ia mengatur nafasnya sejenak, lalu ia menyematkan senyum indahnya kepada Sila dan Dedy yang mulai mendekat.


"Akhirnya kalian sampai juga," seru Sila setelah berada tepat di depan Jinan.


"Assalamu'alaikum, Pi, Mi," ucap Jinan sambil tersenyum ramah, kemudian ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Sila.


"Wa'alaikumsalam," sahut Dedy.


Sila menerima uluran tangan Jinan, "wa'alaikumsalam, Sayang," kemudian ia mencium kening Jinan, lalu bergantian menciumi seluruh wajah baby Ayla yang sedang tersenyum menatapnya.


"Waah, cucu Oma semakin cantik ya. Persis sekali seperti mamanya yang cantik ini," puji Sila dengan melirik ke arah Jinan sekilas.


"Sini, biar Mami yang menggendongnya. Kamu pasti lelah 'kan seharian menggendong baby Ayla."


"Tidak juga, Ma," seru Jinan dengan tertawa kecil, namun wanita itu tetap memberikan anaknya untuk digendong Sila.


Di samping para wanita itu, Ardo dan Dedy juga tak ketinggalan dengan perbincangan ringannya.


"Selamat datang di Indonesia, Ardo."


"Terima kasih, Tuan."


"Dua hari lalu Ria menelfon kita, dia mengatakan bahwa Jinan akan pulang ke Indonesia bersama dengamu yang berstatus sebagai calon suaminya. Saya benar-benar tidak menyangka jika kau adalah calon suami Jinan. Dan saya serta istri saya juga sangat terkejut karena Jinan sudah mau membuka hatinya kembali."


Ardo tersenyum tipis dengan perkataan Dedy. Dasar Ria, bisa-bisanya anak itu mengatakan bahwa ia calon suami Jinan. 


"Doakan saja, Tuan. Saya juga inginnya seperti itu. Menjadi calon suami Jinan. Atau lebihnya, menjadi suami Jinan," ujar Ardo yang tak memuaskan Dedy dalam kalimatnya.


"Maksudnya? Kalian belum memutuskan atau Ria hanya berbohong?"


"Jinan masih belum percaya dengan cinta saya, Tuan. Saya masih harus mendapatkan kepercayaannya terlebih dahulu sebelum meminangnya untuk menjadikannya istri saya," ujar Ardo dengan volume suara yang sedikit ditinggikan.


Dan benar saja, meski Ardo berbicara dalam bahasa Inggris, namun suaranya yang sedikit ditinggikan itu berhasil membuat Jinan dan Sila menoleh ke arah kedua pria itu.

__ADS_1


Jinan yang mendengar jelas perkataan Ardo pun dibuat salah tingkah. Entahlah, semenjak Ardo membelanya saat di pesawat beberapa waktu lalu, Jinan mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Tapi ia tidak tahu apa itu.


Sedangkan Sila yang juga mendengar perkataan Ardo hanya mengernyitkan keningnya. Apa maksudnya dengan belum mendapatkan kepercayaan?


"Apa maksudmu belum mendapatkan kepercayaan?" tanya Sila bingung.


Sama seperti yang Dedy katakan pada Ardo tadi, Sila juga mengetahui dari Ria bahwa Ardo adalah calon suami Jinan. Dan ia sekarang menjadi tidak mengerti dengan perkataan Ardo barusan.


Ardo yang ditanya Sila pun hanya menatap Sila sekilas, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Jinan yang ternyata saat itu Jinan juga sedang menatap ke arahnya dengan pandangan yang sulit untuk ia artikan.


"Ardo," seru Sila saat Ardo tak menyahuti pertanyaannya.


Saat itu tangan Sila digenggam oleh suaminya, Dedy menggelengkan kepalanya pelan kepada Sila. Mengode untuk tidak membahas hal ini sekarang.


"Nanti Papi ceritakan di rumah," ujar Dedy pelan. Dan dengan terpaksa, Sila akhirnya mengiyakan saja apa kata suaminya. Mungkin ada sesuatu yang bersifat sensitif dengan perkataan Ardo, makanya Dedy tidak ingin membahasnya sekarang, begitulah pikirnya.


 


...


 


 


Jinan, Sila, dan baby Ayla saat ini duduk bersama di kursi penumpang. Sedangkan Ardo dan Dedy berada di kursi depan, dengan Dedy sebagai supir yang akan membawa mereka pada tujuan akhir perjalanannya pada hari ini. Rumah Jinan.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Jinan, Ardo dan Jinan hanya diam sembari menatap ke luar jendela dengan pikirannya masing-masing. Sedangkan Sila, wanita paruh baya itu sedang sibuk bermain dengan anak bayi lucu yang saat ini ada dalam pelukannya.


Ting !


Notifikasi pesan masuk pada aplikasi gmail yang tertuju pada ponsel Jinan berhasil membuat wanita itu mengalihkan pandangannya dari luar jendela. Ia meraih ponselnya yang ada di dalam ranselnya untuk melihat siapa dan apa isi dari pesan masuk tersebut.


Jinan terdiam sejenak saat matanya membaca sebuah nama email yang bertuliskan 'Romi Saputra' pada layar ponselnya. Melihat nama pengirimnya saja Jinan sudah mengetahui apa pesan yang dikirimkan Romi untuknya, karena selama satu minggu belakangan ini Romi sudah mengiriminya email sebanyak lima kali dengan isi pesan yang begitu sama persis. Romi mengirimi Jinan email karena Jinan sudah menonaktifkan simcard luar negerinya satu minggu sebelum kepulangannya ke Indo. Dan Jinan juga tidak tahu Romi bisa mengetahui alamat emailnya dari mana.


Saat Jinan membuka pesan dari Romi, benar sekali dugaannya, isi pesan yang sama kembali ia dapatkan dari mantan suaminya tersebut.


'Jinan, saya minta tolong sama kamu untuk mengirimkan foto anak kita. Aku ingin melihat wajahnya, Jinan. Aku merindukan anakku.'


Selama lima kali ia menerima pesan seperti itu, Jinan hanya membalas pesan itu sebanyak satu kali dengan berupa sebuah potret baby Ayla yang sedang tertidur tanpa menyisipkan perkataan apa pun yang mendampingi foto tersebut.


Jinan masih diam menatap barisan kata yang tertulis pada layar ponselnya. Ia menoleh ke arah Sila saat wanita paruh baya itu menyentuh lengan kanannya.

__ADS_1


"Kenapa melamun, Jinan?" tanya Sila. "Siapa yang mengirim pesan?" tanya Sila lagi sebelum Jinan menjawab pertanyaan pertamanya.


"Em, mas Romi, Mi," ujar Jinan pelan. Namun ternyata suara pelannya itu masih bisa didengar oleh Ardo yang duduk di depannya.


"Kenapa dia mengirim pesan padamu, Sayang? Apa kalian masih sering berkomunikasi?" tanya Sila heran.


Mendengar itu, Ardo melirik kaca spion dalam mobil untuk mengamati wajah wanita pujaannya sembari mencoba mencuri dengar akan apa yang ingin Jinan katakan selanjutnya.


"Kita hampir tidak pernah komunikasi, Mi. Selama satu minggu belakangan ini, mas Romi sering sekali mengirimi Jinan email untuk minta dikirimkan foto baby Ayla, Mi. Jinan tidak tahu dia mendapatkan alamat email Jinan dari siapa."


Meski tak sepenuhnya mengerti semua perkataan Jinan yang berbahasa Indonesia, tapi sedikitnya Ardo paham jika Romi mengimkan pesan pada Jinan hanya semata karena seorang anak. Namun meski terdengar normal, Ardo masih setia mencuri dengar pembicaraan Jinan dan Sila. Ia ingin mengetahui semua yang berkaitan dengan Jinan meski ia sendiri tahu bahwa apa yang ia lakukan saat itu tidaklah benar.


"Kamu ragu, Nak?" tanya Sila.


Jinan menatap Sila ragu. "Jinan hanya takut, Mi," ucap Jinan dengan volume suara yang sangat rendah.


"Takut?" tanya Sila memastikan.


Jinan menatap Sila dalam diamnya. Jujur, di satu sisi ia takut jika permintaan sederhana Romi yang berterusan ini akan membuatnya jauh dari anaknya. Dan di sisi lain juga ia takut jika anaknya akan mendapatkan cacian dari orang tua Romi saat mereka mengetahui keberadaannya di sini melalui Romi. Ia ingin sekali pergi jauh dari keluarga mantan suaminya itu, tapi ia juga tidak bisa jika harus kabur-kaburan terus seperti itu. Ia tidak mau bersembunyi dibalik sebuah kebenaran. Ya, anaknya ini adalah sebuah kebenaran yang orang lain anggap sebagai sebuah kesalahan.


"Jinan, dengarkan Mami. Romi memang bersalah atas pernikahan kalian. Romi juga bukanlah suami kamu lagi. Tapi Romi, dia adalah ayah kandung dari Ayla. Terlepas dari semua kesalahannya pada pernikahan kalian, dia berhak atas anak ini," ujar Sila dengan serius sembari menggenggam tangan kanan Jinan.


"Jangan pernah sekalipun kamu menghalangi seorang ayah untuk bertemu dengan anaknya. Darah Romi mengalir di tubuh Ayla, Nak. Mami yakin kamu tahu itu," sambung Sila.


Jinan menatap ke arah layar ponselnya, lalu ia menghela nafasnya.


"Oke Jinan, jangan pernah berpikiran buruk tentang sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Cobalah untuk ikhlas menjalani ini semua," batin Jinan mencoba menguatkan.


Jinan menatap Sila. "Iya, Mi. Jinan tidak akan menghalangi mas Romi untuk bertemu Ayla."


Sila tersenyum senang kepada Jinan. "Mami yakin kamu bisa, Nak. Kamu orang baik. Allah akan melindungimu dalam situasi apa pun."


"Terima kasih, Mi."


Saat itu Jinan mulai mengirimkan satu buah foto baby Ayla kepada Romi. Sama seperti sebelumnya, ia tidak menyematkan perkataan apa pun pada foto tersebut untuk Romi. Setelah pesan terkirim, Jinan menonaktifkan ponselnya dan memasukkannya ke dalam ranselnya.


  


******


  

__ADS_1


Tengkyu bagi yang sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘


__ADS_2