Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 102


__ADS_3

"Dokter, tolong. Dokter!"


"Dokter!"


"Dokter!"


"Dokter, tolong temanku!"


Bersama sopir taksi yang membawa Jinan dan Ardo dari kediaman Romi, mereka mendorong brankar rumah sakit dengan berteriak memanggil petugas kesehatan. Wajah mereka tampak panik dengan melihat Romi yang tak sadarkan diri dengan kepala yang terus mengeluarkan darah.


"Astaga. Ayo cepat bawa ke sini."


Seorang Dokter yang baru saja keluar dari sebuah ruangan, segera berlari mendekati brankar yang membawa Romi untuk dibawa ke ruang operasi. Setelah ruang operasi ditutup, Ardo langsung memeluk Jinan yang tampak khawatir.


"Bagaimana ini, Ar? Apa mas Romi tidak apa-apa? Aku takut jika terjadi sesuatu–"


"Shuuut, jangan bicara sembarangan. Dia pasti tidak apa-apa. Kita doakan saja." Jinan terdiam dan mengangguk dalam pelukan Ardo.


"Sayang." Jinan menjauhkan tubuhnya dari Ardo.


"Ada apa?" tanya Ardo.


"Lukamu," serunya menyentuh pinggang Ardo yang terkena tusukan oleh Romi. "Ayo kita obati lukamu dulu."


Ardo tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


...


Baru saja dokter selesai menjahit luka pada pinggang Ardo, seorang perawat wanita masuk ke dalam ruangan tersebut untuk memberitahu kabar tentang keadaan Romi saat ini. Jinan dan Ardo terdiam saat perawat tersebut mengatakan bahwa Romi tidak bisa diselamatkan karena kondisinya yang memang cukup parah saat di bawa ke sini.


"Ar," lirih Jinan dengan bibir gemetar.


Meninggal? Kenapa bisa sampai seperti ini?


Ardo menarik Jinan dalam pelukannya, ia usap punggung wanita itu untuk menenangkannya. Ia juga tidak menyangka jika hal seperti ini akan terjadi. Hal ini benar-benar jauh dari ekspektasi.


Ayla?


Ardo tiba-tiba terpikir akan Ayla. Selain ingin mengakui kesalahannya pada Romi, tujuan mereka ke Indonesia juga adalah untuk memperkenalkan Ayla pada ayah kandungnya. Namun belum mereka memperkenalkan Ayla pada Romi, tapi kenapa Romi sudah pergi begitu saja.


Sebenarnya apa yang sedang Tuhan rencanakan pada hidup mereka, pikir Ardo.


  


🍁Flashback On🍁


Setelah Ardo menghajar Romi dengan beruntun, Romi terkapar di pinggir jalan dengan batas kesadaran yang minim. Pandangan Romi terlihat berbayang saat melihat Ardo berjalan menjauhinya. Karena di hatinya saat ini hanya ada dendam, Romi akhirnya memaksakan diri untuk bangkit kembali untuk menyerang Ardo.


Beberapa saat ia memang terlihat kesulitan untuk berdiri, namun saat pandangannya tertuju pada sebuah pisau yang ia bawa yang tergeletak di tengah-tengah jalan raya, pikiran Romi tiba-tiba berpikir akan hal yang lain. Ia seperti menginginkan suatu hal yang lebih yaitu, memiliki niatan untuk membunuh Ardo. Karena juga ia merasa, jika ia melawan Ardo dengan tangan kosong, maka ia akan kalah. Dan ia paling tidak suka dengan yang namanya kekalahan.


Romi berjalan tertatih menuju pisau tersebut, namun belum sampai ia menuju tempat di mana pisau itu berada, sebuah mobil yang melaju dengan cukup kencang yang di mana lampu mobil tersebut tidak menyala, menabrak Romi dengan sangat tragis. Romi terpental cukup jauh, mengakibatkan benturan yang sangat kencang pada tubuhnya, terutama pada bagian kepala. Semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut menjerit dengan histeris.


Jinan dan Ardo yang mendengar jeritan tersebut segera menatap ke arah asal suara. Mereka terbelalak saat melihat tubuh Romi yang sudah tak sadarkan diri dengan darah segar menggenangi aspal jalan. Mereka sempat membatu seketika karena saking terkejutnya, namun beberapa detik kemudian mereka berlari ke arah Romi saat semua orang sudah mengerumuni tubuh pria itu.

__ADS_1


🍁Flashback off🍁


  


Ardo terduduk di kursi tunggu sembari memeluk tubuh istrinya yang sedang terseguk karena kabar duka ini.


"Sayang, aku takut," lirih Jinan di sela segukannya.


"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Semua ini sudah menjadi takdirnya."


"Ta ... tapi, semua ini terjadi bermula karena kita. Bagaimana jika tante Linda menuntut kita, Sayang? Aku ... aku takut nantinya tante Linda akan menyalahkan kamu atas kematian mas Romi."


Ardo menarik pelukannya pada tubuh Jinan. Ia pegang kedua bahu wanita itu sembari menatap lurus ke arah mata sembab Jinan.


"Sayang. Sejak kapan kau mulai berprasangka buruk seperti ini? Ini bukanlah Jinan yang kukenal. Jinan yang kukenal adalah wanita yang sangat percaya pada kebebaran. Jinan yang kukenal tidak pernah takut dengan kebenaran. Kebenaran ada pada kita. Kita tidak salah, Sayang. Dia yang memulai lebih dulu. Dia yang mencegat perjalanan kita. Apa menurutmu aku harus diam saja saat dia menusukku dengan pisau?"


Air mata Jinan kembali deras. "Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku."


Ardo menghela nafasnya, ia bawa istrinya itu ke dalam rengkuhannya kembali sembari sesekali ia kecup kepala wanitanya itu.


"Maaf. Aku tidak bermaksud–"


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Aku mengerti," sela Ardo. "Baiklah. Apa sekarang kita sudah bisa menghubungi nyonya Linda?"


Jinan menarik tubuhnya dari pelukan suaminya. Dengan sedikit ragu, ia menganggukkan kepalanya.


Ardo tampak menghela nafasnya saat Linda tidak menjawab panggilannya, hingga pada panggilan ke empat barulah wanita paruh baya itu menjawab panggilannya.


"Assalamu'alaikum."


"Nyonya, saya Ardo," seru Ardo setelah Linda menjawab salamnya.


"Ah, ya. Ardo, ada apa, Nak? Apa ada masalah? Apa Romi mengejar kalian? Apa dia berbuat ulah kembali?" tanya Linda beruntun dengan cemasnya.


Ardo menatap Jinan sejenak, lalu ia alihkan pandangannya pada pintu ruangan di mana Romi terbaring kaku.


Ardo menghela nafasnya. "Nyonya, ada hal penting yang mau saya sampaikan pada Anda."


"Ada apa, Ardo? Katakan saja."


"Romi ...."


"Kenapa, Nak? Ada apa dengan Romi? Apa dia berulah–"


"Romi tertabrak mobil."


Kalimat Linda terhenti saat mendengar perkataan Ardo mengenai anaknya.


"Te ... tertabrak? Tertabrak?"


Ardo kembali menghela nafasnya. "Romi tertabrak mobil setelah kami berkelahi di jalan raya."


"Astaghfirullah. Te ... terus, bagaimana kondisi Romi sekarang, Nak? Apa dia baik-baik saja? Di mana dia sekarang?"

__ADS_1


"Benturan pada kepalanya cukup parah. Romi tidak bisa diselamatkan, Nyonya."


Taarr !!!


Suara benda yang jatuh ke lantai terdengar jelas di telinga Ardo. Sunyi. Tak ada sahutan meski satu katapun dari Linda. Entah wanita itu pingsan, terjatuh, atau hanya membatu mendengar kabar menyedihkan itu, yang jelas ia yakin bahwa Linda pasti sama tidak percayanya dengannya akan kabar duka ini.


"Halo."


"Nyonya. Nyonya Linda."


"Halo, Nyonya."


Masih tidak ada sahutan dari sebrang saba. Bahkan tidak ada sedikitpun suara dari speaker ponsel tersbut.


"Ada apa, Sayang? Kenapa dengan tante Linda?" tanya Jinan yang terlihat khawatir akan reaksi Ardo saat itu.


"Entahlah. Tidak ada suara. Nyonya Linda tidak menyahut."


"Apa tante Linda pingsan?" tebak Jinan.


Pingsan? Apa Linda benar-benar pingsan, pikir Ardo. Ardo melirih jam yang ada pada ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.22 dan ia tiba-tiba teringat akan anak-anaknya yang ia tinggalkan bersama Sila dan Ria sejak beberapa jam lalu. Ia melihat ponselnya, di mana terdapat beberapa pesan masuk serta panggilan tak terjawab dari Dedy dan beberapa nomor tak dikenal lainnya.


Ardo menatap ke arah Jinan dan ia genggam kedua tangan istrinya itu.


"Sayang, ini sudah jam tujuh lewat. Sebaiknya kamu pulanglah lebih dulu. Aku akan menyusul setelah menyelesaikan semua ini."


Jinan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku akan pulang bersamamu."


"Sayang, dengarkan aku. Saat ini situasinya sedang kacau. Aku harus mengantar mayat Romi ke rumanya. Dan lagi ibunya, ibunya pasti sangat terkejut dengan berita ini. Akan memakan waktu untuk menenangkan ibunya sampai dia bisa ditinggal. Jika kita berdua tidak pulang, anak-anak pasti akan mengkhawatirkan kita. Jadi, sebaiknya kamu pulanglah lebih dulu, katakan pada Ayla bahwa aku sedang bekerja."


"Aku akan pulang bersamamu, Ar. Aku akan menelpon Ria untuk memberitahu Ayla bahwa kita sedang a–"


"Jinan. Hey," potong Ardo cepat. "Ria tadi mengirim pesan padaku. Katanya, susu Andy tinggal setengah botol. Andy akan kehausan jika harus menunggumu lebih lama lagi. Jadi, aku mohon, kamu pulanglah lebih dulu. Setelah semuanya selesai, aku akan segera kembali."


"Tapi, Ar."


"Tidak apa-apa. Aku bisa mengatasi ini sendiri," yakin Ardo pada istrinya.


"Tapi tante Linda? Aku khawatir dengan keadaannya saat ini."


"Aku akan mengirim beberapa orangku ke sana untuk mengecek kondisinya saat ini. Kamu tenang saja, besok kita akan ke rumah duka bersama anak-anak. Lagipula, Ayla belum sempat bertemu dengan ayah kandungnya. Meski terlambat, Ayla harus tetap mengenal status Romi baginya."


Jinan menundukkan pandangannya sejenak, ia menghela nafasnya panjang, lalu ia kembali menatap Ardo. "Baiklah, aku akan pulang. Tapi kamu harus janji padaku, jangan ada kekerasan lagi setelah ini. Sudah cukup sampai di sini saja. Aku tidak mau keluarga kita terikat permasalahan seperti ini lagi kedepannya. Jika tante Linda ingin melakukan sesuatu, aku mohon untuk kamu jangan terlalu menanggapinya. Ikhlaskan saja jika ada yang berniat jahat dengan kita. Aku tidak mau jika sampai ada aksi balas dendam lagi untuk kedua kalinya."


Ardo menatap Jinan dengan dalam. "Aku janji. Aku berjanji."


"Yasudah, ayo aku antar cari taksi."


    


******


    

__ADS_1


Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys😘


__ADS_2