Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 56


__ADS_3

Istanbul, Turki. 14:35 PM.


Evardo Rafandra. Setelah berhasil mengirim pesan kepada calon wanita masa depannya, pria yang sebentar lagi akan menginjak usianya dua puluh sembilan tahun itu terlihat sibuk dengan segudang tugas yang diberikan papanya sebelum ia resmi menerima jabatan sebagai Direktur Utama pada perusahaan retail yang selama ini dipimpin oleh papanya sendiri, Basir Rafandra.


"Ar."


Ardo menghentikan aktifitasnya, ia mendongak menatap sang papa yang sedang menatapnya dari kursi kebesarannya.


"Ada apa, Pa?"


"Bagaimana persiapanmu untuk melamar Jinan nanti?" tanya Basir.


"Insyaa Allah sudah aman semua, Pa. Hanya saja Ardo belum menyiapkan tempat untuk acara pernikahannya nanti. Ardo ingin membuat pesta pernikahan sesuai dengan kemauan Jinan, dan Ardo akan menanyakan itu saat kita bertemu Jinan nanti."


"Kenapa harus nanti? Kenapa tidak sekarang saja?"


"Ardo belum ingin membahas hal ini dengan Jinan sekarang, Pa. Ardo ingin memberikan kejutan untuk Jinan nanti."


"Tapi, apakah sempat, Ar?" tanya Basir tak yakin.


"Semua bisa dikendalikan selama uang masih bisa berjalan, Pa."


Basir menggelengkan kepalanya dengan kelakuan putranya satu ini. Pertama kalinya jatuh cinta, sudah harus membuat orang lain repot.


 


 


🍁Flashback On🍁


 


 


Dua hari setelah kepulangannya ke Turki, Ardo baru bisa mengumpulkan semua anggota keluarga intinya dalam satu pertemuan. Tidak terlalu ramai, hanya kedua orang tua, kakak perempuan, kakak ipar, serta keponakan cantiknya saja yang ikut hadir dalam pertemuan keluarga itu. Mereka berkumpul di salah satu restoran hotel bintang lima milik Aslan yang merupakan kakak ipar Ardo, sekaligus mengadakan makan malam bersama.


"Apa yang ingin kau bicarakan, Ar?" tanya Huri -kakak perempuan Ardo- yang sudah tak sabaran dengan tema dari perbincangan pada malam hari ini.


"Em ... Ma, Pa, Kak, Ardo ingin menikah."


"Apa!" pekik Huri dan Elif bersamaan.


Basir yang sedang meminum kopinya pun tak kalah terkejutnya dengan kedua wanita itu, ia bahkan sampai tersedak karena minumannya dan membuat sebagian kerah bajunya basah. Sementara Aslan yang juga tak kalah terkejutnya dengan mereka hanya menatap aneh ke arah Ardo, ia tak sampai menjerit ataupun melakukan hal konyol lainnya. Pria itu memang terkenal dengan sikap tenangnya.

__ADS_1


"Apa katamu? Menikah? Jangan asal bicara ya, Ar," ujar Basir sembari membersihkan bajunya yang basah dengan tisu.


"Ardo serius, Pa. Ardo sudah memutuskan untuk menikah dalam waktu dekat ini."


"Wanita mana yang mau kau nikahi, Ar? Apa wanita Jerman yang bisa membuatmu jatuh cinta itu?" tanya Huri dengan nada menggoda.


Ardo memang menceritakan pada kakaknya tentang rasa sukanya pada Jinan, namun ia tidak memberitahu detail kehidupan Jinan pada kakaknya. Menurut Ardo sendiri, tanpa diberitahupun ia sudah sangat yakin jika keluarganya pasti akan sangat menyukai sosok wanita seperti Jinan.


"Wanita mana, Hur?" tanya mama Ardo bernama Elif pada anak perempuannya.


"Entahlah, Ma. Ardo tidak mau cerita dangan Huri."


"Kenapa tiba-tiba kau mengatakan ingin menikah?" tanya Basir penasaran.


Anaknya itu tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan manapun, jelas sekali sangat aneh jika Ardo mengatakan ingin menikah secara tiba-tiba seperti ini. Apalagi ia mengatakan ingin menikah dalam waktu dekat. Basir penasaran, pasti ada sesuatu yang disembunyikan anaknya itu dari mereka semua.


"Ada banyak alasan kenapa Ardo ingin menikahinya dalam waktu dekat ini, Pa."


"Katakan saja, kita semua punya banyak waktu malam ini," ujar Basir santai.


"Katakanlah, Nak," ujar Elif yang juga ingin mendengar alasan dari anak lelakinya itu. Ia juga sama seperti suaminya yang terkejut dengan perkataan Ardo yang sangat mengejutkan itu.


Mendapatkan tatapan penuh penasaran dari para keluarganya, Ardo akhirnya mulai menceritakan alasan kenapa dia ingin menikahi Jinan.


Belum juga Ardo melanjutkan ceritanya, Huri lebih dulu melepas tawanya saat mendengar kalimat pertama Ardo tentang cinta pada pandangan pertama. Sedangkan ketiga orang lainnya hanya menatap bingung ke arah Ardo.


Mungkin bagi mereka kata cinta seolah terlihat konyol bila keluar dari mulut Ardo. Masalahnya, mereka tak pernah sekalipun melihat adanya kata cinta dalam hidup Ardo selain cinta pada keluarganya.


Melihat Ardo yang tak kunjung melanjutkan ceritanya karena Huri yang masih tertawa, akhirnya Basir berdehem sembari menatap ke arah Huri dengan tatapan tajamnya. Tanpa menunggu waktu lama, Huri akhirnya menghentikan tawanya dan Ardo kembali melanjutkan ceritanya yang sempat tertunda.


"Ardo tidak tahu kenapa Ardo bisa menyukai wanita itu, Ma. Awalnya Ardo hanya kagum dengannya, namun semakin Ardo mengenalnya lebih dalam melalui temannya, entah sejak kapan perasaan ini semakin tumbuh di hati Ardo. Namanya Jinan. Meski terkadang dia terlihat galak kepada Ardo, tapi dia wanita yang baik, Ma, Pa. Nada bicaranya begitu lembut, wajahnya cantik, dia memiliki hati yang sangat tulus, dan dia juga merupakan wanita salihah."


"Selain dengan kepribadiannya yang membuat Ardo kagum, alasan lain Ardo yang ingin menikahinya tak lain karena Ardo ingin melindunginya dari fitnah buruk para tetangga di sekitar tempat tinggalnya dan juga mantan mertuanya."


"Tunggu dulu," potong Basir. "Mantan mertua? Maksudmu wanita itu seorang janda?" tanya Basir dengan wajah penasarannya.


"Ya, dia seorang janda dan memiliki satu orang putri yang masih berusia tiga bulan."


Semua orang yang ada di meja makan itu terkejut mendengar perkataan Ardo, mereka tidak percaya jika Ardo bisa mencintai seorang single Mom.


"Kau mau menikahi seorang janda, Ar?" tanya Elif tak percaya.


"Apa yang salah dengan seorang janda? Jatuhnya perasaan tidak bisa kita tentukan hanya dengan sebuah status, Ma. Hati Ardo saat ini telah tertuju pada satu nama, yaitu Jinan, wanita berstatus janda dengan satu orang anak."

__ADS_1


Hening seketika melanda, rasa terkejut membuat kedua orang tua Ardo belum bisa memberikan jawaban atas restunya pada niat baik anak lelakinya yang ingin menikahi Jinan.


Namun setelah Ardo menceritakan dengan jelas tentang kehidupan Jinan secara panjang lebar, akhirnya kedua orang tua Ardo mau merestuinya untuk menikahi Jinan. Ardo menceritakan semua kehidupan Jinan kepada keluarganya sama persis seperti yang pernah Ria ceritakan padanya saat mereka berbagi cerita di restoran milik Jinan beberapa waktu lalu. Bahkan Elif yang mendengar cerita dari Ardo itu sempat meneteskan air matanya karena tak sanggup saat ia membayangkan bagaimana rasanya menjadi Jinan.


"Jadi, kapan kita akan melamarnya, Ar? Mama sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Jinan."


"Ardo akan menyelesaikan semua tugas yang Papa berikan pada Ardo terlebih dahulu, Ma. Setelah itu barulah kita semua pergi ke Indonesia untuk melamar Jinan. Ardo juga ingin pernikahan Ardo dan Jinan dilaksanakan di Indonesia. Karena setelah kita menikah nanti, Ardo ingin membawa Jinan dan anaknya untuk tinggal di sini saja, Ma. Ardo tidak mau Jinan tinggal berdekatan dengan mantan suaminya itu."


"Kita semua setuju, Nak. Biarkan Jinan tinggal di sini dengan anaknya. Jika dia merindukan kampung halamannya, kalian bisa sesekali berlibur ke sana," ujar Elif dan disahuti yang lainnya dengan anggukan kepala, menandakan mereka setuju dengan apa yang dikatakan Elif.


 


 


🍁Flashback Off🍁


"Pa," panggil Ardo pada Basir yang mulai fokus pada layak komputernya.


"Ada apa?" tanya Basir tanpa meninggalkan pandangannya dari layar komputer.


"Bolehkah Ardo meminjam Adli selama dua hari?"


Basir mendongak menatap Ardo dengan mengernyitkan keningnya. Adli adalah satu-satunya hakers handal di dunia yang bekerja pada Basir. Lalu untuk apa Ardo meminjam Adli, pikir Basir heran. Siapa yang ingin diselidiki anaknya itu?


"Mau apa kau meminjam Adli?"


"Menyelidiki masa lalu seseorang."


 


 


******


 


 


 


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕


Piupiu, see u nxt bab 😘

__ADS_1


 


__ADS_2