Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 45


__ADS_3

Sedari awal Rico mendudukkan tubuhnya di meja makan hingga semua makanan yang ada di atas meja tak bersisa, ia tak sekalipun melepaskan pandangannya dari Ardo. Saat itu Rico jelas sekali memperlihatkan wajah tak sukanya kepada Ardo di depan semua orang. Apalagi saat ini Ardo duduk tepat di samping Jinan. Itu jelas menambah rasa kekesalan Rico. Entahla apa yang membuat pria itu tak menyukai Ardo, hanya dirinya sendirilah yang tahu itu.


Tingkah Rico pada Ardo membuat suasana yang tadinya hangat oleh senyum dan tawa, kini menjadi canggung dengan seketika. Saat Marco menendang kaki Rico dan menatap tajam pada putranya satu itu, Rico langsung saja menundukkan pandangannya menatap kearah makanannya. Jika bukan karena ada Jinan dan kedua orang tuanya, mungkin saja Riko saat ini sudah berkelahi dengan Ardo.


"Oh ya Jinan, apakah kamu jadi untuk pulang ke Indonesia?" tanya Ira.


"InsyaAllah jadi, Ma," jawab Jinan. 


"Berdua dengan anakmu saja?" tanya Marco tak setuju.


"Tidak, Pa. Aku pergi bersama Ardo," celetuk Jinan tanpa sadar.


Semua orang selain Marco dan Ira yang berada di meja makan itu menatap terkejut kepada Jinan, sedangkan untuk Rico sendiri, pria itu bukan terkejut lagi, melainkan sangat dan amat terkejut saat Jinan mengatakan akan pergi bersama Ardo dan Rico juga terkejut saat wanita itu menyebut nama Ardo dengan begitu santainya. Bukankah selama ini Jinan terlihat cuek dengan Ardo, pikirnya.


Jinan terlihat bingung dengan wajah-wajah terkejut Ardo, Rico, dan Elena.


"Kenapa mereka menatapku seperti itu?" batin Jinan.


"Denganku?" tanya Ardo dengan sedikit berbisik kepada Jinan.


Jinan mengernyitkan keningnya saat melihat Ardo yang berbicara nyaris tanpa suara. Apa maksudnya, begitulah pikirnya.


Namun sedetik kemudian ... "Wait, bukankah aku belum memberi tahu siapapun bahwa aku mengizinkan Ardo untuk ikut denganku ke Indo?" batin Jinan dengan terkejut. Jinan membelalakkan matanya saat ia mulai tersadar akan ucapannya dua menit lalu.


Mata Jinan berlarian kesana kemari, ia terlihat panik dengan ucapannya sendiri.


"Em, ma ... ma ... maksudku, ak–"


"Ya Tuan, Nyonya. Jinan akan pergi bersamaku," ujar Ardo tiba-tiba.


Saat melihat raut panik Jinan, Ardo mulai mengerti jika wanita itu salah bicara. Namun karena ia yang memang ingin menemani Jinan pulang ke Indo, dengan senang hati dan tanpa pikir panjang, akhirnya ia mengiyakan saja perkataan Jinan. Anggap saja keberuntungan sedang ada dipihaknya.


Jinan menatap terkejut kepada Ardo. "Pria ini ...," batinnya.


Jinan tak bisa melanjutkan perkataannya. Di satu sisi Jinan memang ingin Ardo menemaninya karena ia juga bingung ingin pergi dengan siapa. Jujur saja, Jinan sebenarnya juga takut bepergian jauh jika hanya berdua dengan anaknya yang masih balita. Tapi di sisi lain, ia juga sangat malu atas perkataannya. 


"Kau mau ke Indonesia, Ar?" tanya Marco heran.


"Ya, Tuan."


"Ada bisnis barukah di sana?" tanya Marco. 

__ADS_1


"Tidak ada Tuan, aku hanya ingin mengantar Jinan saja pulang ke negara asalnya. Karena tidak mungkin jika Jinan pulang sendirian bersama seorang bayi. Jerman - Indo itu sangatlah jauh, dia akan sangat kerepotan selama di perjalanan."


Ira dan Marco menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang diucapkan Ardo. Memang seharusnya begitu, pikir mereka. Begitu juga dengan Elena, ia seratus persen pasti akan setuju dengan hal itu. Namun lain halnya dengan Rico. Ia yang mendengar bahwa Jinan akan pergi bersama Ardo jelas saja tak suka.


"Kenapa Jinan pulang dengan pria ini?" batin Rico kesal. "Lagipula, sejak kapan Jinan dekat dengan pria ini? Sial, ternyata aku kalah cepat dengan pria ini."


"Jadi, kapan kalian akan berangkat?" tanya Ira.


"Rencananya seminggu lagi, Ma. Karena dua hari lagi Jinan mau mengadakan perpisahan dengan anak-anak restoran."


"Restoranmu sudah terjual?" tanya Marco. 


"Sudah, Pa."


"Cepat sekali. Siapa yang membelinya?" tanya Marco


"Em, Ardo, Pa," jawab jinan.


Semua yang ada di meja makan saat ini menatap kearah Ardo kecuali Elena, karena wanita itu saat ini mulai sibuk dengan ponsel pintarnya.


"Kau yang membeli restoran itu, Ar?" tanya Marco tak percaya.


"Ya, Tuan Marco. Aku yang membeli restoran Jinan."


Jinan menatap heran ke arah Ardo, ia terlupa dengan perkataan Ria bahwa pria itu adalah orang Turkey dan akan kembali ke negara asalnya sebentar lagi. Lalu untuk apa ia membeli restoran ini, pikir Jinan.


"Saya hanya ingin membantu saja, Tuan. Lagi pula, jika aku menikah dengan Jinan nanti, restoran itu akan tetap menjadi milik Jinan. Itu juga jika Jinan masih ingin tinggal di Jerman."


Semua yang ada di meja makan terkejut dengan ucapan Ardo, begitu juga dengan Jinan dan juga Elena yang sedang memainkan ponselnya. Elena


"Menikah? Apa maksudnya Ardo?" tanya Marco kaget.


"Em, tidak ... tidak ada, Pa. Ardo ... Ardo hanya asal bicara saja. Mu ... mungkin maksudnya, jika aku sudah menikah lagi nanti dan kembali lagi ke Jerman, aku bisa membeli restoran itu padanya dengan harga yang sama," ujar Jinan sembari menelan salivanya.


Saat Marco ingin berucap, Ardo lebih dulu menyelanya.


"Aku tidak asal bicara, Tuan. Aku memang mencintai Jinan." Jinan membelalakkan matanya tak percaya akan ucapan Ardo. "Dan aku ingin menikahinya. Saat ini kami sedang memulai pendekatan. Doakan saja agar semuanya berjalan dengan lancar."


Rasanya oksigen di sekitar Jinan sudah mulai menipis saat mendengar semua ucapan Ardo.


Kenapa?

__ADS_1


Karena senang?


No!


Tapi malu!


Jinan. Wanita yang jarang atau bahkan mungkin tidak pernah berhubungan dengan seorang pria selain Romi, jelas saja merasa malu dengan hal sederhana semacam ini. Hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Apa-apaan pria ini, kenapa dia bicara yang tidak-tidak di depan mereka," batin Jinan dengan wajah pucatnya.


Marco dan Ira yang mendengar itu pun tak percaya akan ucapan Ardo. Mereka bahkan mengedipkan matanya beberapa kali, berharap semua ini bukanlah mimpi.


Ardo. Pria hebat yang tidak sengaja dikenal Marco karena sempat bekerja sama dengan mantan bos Ardo, bisa mencintai wanita sederhana seperti Jinan. Wanita cantik, salihah, lembut, bahkan nyaris tak pernah menunjukkan rasa marahnya.


Elena yang ada duduk di kursi depan samping Ardo tersenyum senang mendengar semua penuturan Ardo pada orang tuanya.


"Ternyata pria ini keren juga," batin Elena.


Lain hal dengan mereka semua, seorang pria yang duduk bersebrangan dengan Elena kini tampak mengepalkan tangannya erat. Warna kemerahan karena kepalan yang sangat kuat membuktikan bahwa pria tersebut siap untuk menghantam sesuatu di depannya.


Traang !!!


Dentingan sendok dan piring beling yang sangat kuat membuat semua yang ada di meja makan terlonjak kaget. Mereka semua menatap ke arah Rico yang menjadi dalang dari suara berisik tersebut.


"Apa-apaan kau ini," teriak Marco pada Rico.


Ya, Marco masih emosi dengan puteranya satu itu. Apalagi semenjak kejadian buruk yang terjadi pada Jinan beberapa hari lalu, Rico semakin berulah dan membuat Marco tak habis pikir dengan anak sulungnya itu.


"Maaf, Pa. Aku lupa kalau ada janji dengan temanku," ujar Rico dengan menahan emosinya.


Sebelum emosinya kembali meledak, ia dengan cepat berlalu dari sana tanpa menghiraukan teriakam dari kedua orang tuanya yang terus memanggilnya.


  


  


  


******


  

__ADS_1


Pengen banget up 2bab /hari. Tapi berhubung banyak banget halangannya, jadi segini dulu aja ya.


Btw, tengkyu bagi yang sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘


__ADS_2