
"Mungkin cara saya dan papa saya memimpin perusahaan ini tidaklah sama. Dan saya harap kalian semua bisa menerima apa saja yang sudah saya tetapkan pada perusahaan ini. Kalian tenang saja, saya tidak akan kejam jika kalian tidak bermain pada saya."
Ardo berucap dengan tegas pada sebagian pegawainya yang saat ini sudah dikumpilkannya di aula kantor. Tidak ada acara istimewah, hanya sebuah peresmian sederhana yang dihadiri oleh ketua masing-masing divisi.
"Baiklah. Saya harap kalian bisa bekerja dengan lebih baik lagi kedepannya dibawah kepemimpinan anak saya. Dan selain itu, saya juga ingin memperkenalkan pada kalian semua dua orang yang sangat penting yang harus kalian ingat." Basir mendekati Jinan dan meraih Ayla ke dalam rengkuhannya. "Wanita ini namanya Jinan. Dia adalah istri dari anak saya, Ardo. Tanpa saya menjelaskan panjang lebar, saya yakin kalian pasti paham akan apa yang saya maksud."
Semua orang yang ada di sana mengangguk paham.
"Dan anak bayi yang saya gendong ini namanya Ayla. Dia adalah anak kandung dari Jinan dan mantan suaminya. Yang itu artinya, Ayla sudah termasuk menjadi bagian dari keluarga Rafandra. Cucu saya."
Semua nampak terkejut akan perkataan Basir, temasuk juga dengan anak, istri dan menantunya. Keluarganya terkejut karena Basir mengatakan hal pribadi yang seharusnya tidak perlu dikatakan, sedangkan para pegawai di sana terkejut karena mereka tidak menyangka jika bos baru mereka yang nyaris sempurna itu bisa menikahi seorang janda dengan satu orang anak.
"Pa, Papa kenapa mengatakan itu?" bisik Elif. Ia merasa tidak enak hati kepada Jinan atas apa yang dikatakan suaminya itu. Apalagi saat melihat Jinan yang menundukkan pandangannya yang mungkin merasa malu atas pengakuan papa mertuanya di depan para pegawainya.
Saat itu Ardo juga hendak protes pada papanya, namun Basir lebih dulu menaikkan tangannya, memerintah Ardo untuk diam sampai ia benar-benar menyelesaikan perkataannya.
"Saya sengaja mengatakan hal ini secara langsung pada kalian, karena saya tidak ingin siapapun dari kalian semua sampai ada yang berani menuduh anak dan menantu saya memiliki hubungan gelap karena adanya Ayla bersama mereka. Saya juga tidak mau perusahaan yang sudah susah payah saya bangun sampai saat ini, harus menjadi ajang gosip bagi kalian semua atas kehadiran keluarga baru kami ini. Dan bagi kalian yang penasaran, kenapa anak saya mencintai seorang janda? Jawabannya adalah, karena Allah yang menakdirkan mereka untuk berjodoh."
"Jika sampai sini ternyata di antara kalian masih ada yang ingin bergosip tentang keluarga saya, kalian tanggung sendiri akibatnya pada Yang Maha Kuasa. Dan kalian juga harus siap untuk angkat kaki dari perusahaan ini." Basir menjeda kalimatnya. "Sampaikan apa yang sudah saya ucapkan barusan kepada semua orang yang tidak ada di sini. Saya harap kalian semua bisa mengerti maksud dari perkataanku."
Suasana aula yang tadinya heboh karena pernyataan awal Basir yang sangat mengejutkan, kini semua menjadi terdiam setelah mendengar penjelasan Basir yang menurut sebagian dari mereka ada benarnya.
Setelah acara peresmian itu selesai, kini semua pegawai diminta untuk kembali pada meja kerjanya masing-masing. Sementara Ardo dan keluarga, mereka segera berlalu menuju ruangan direktur utama.
"Papa tidak seharusnya mengatakan hal itu di depan para karyawan, Pa. Perbuatan Papa tadi itu sudah menyinggung perasaan Jinan karena sudah mengungkit status jandanya yang lalu, Pa," ujar Elif setiba mereka di ruangan Ardo.
"Cepat atau lambat mereka semua pasti akan mengetahuinya. Papa hanya tidak mau jika mereka sampai mengetahui hal itu melalui gosip yang mereka ciptakan. Itu akan lebih menyakiti perasaan Jinan karena mereka pasti akan berasumsi yang berlebihan dari pada kenyataan yang ada. Dan Papa di sini hanya berusaha untuk mengurangi kekacauan semacam itu terjadi. Tidak lebih."
"Tapi 'kan Pa–"
"Apa yang dikatakan Papa ada benarnya juga, Ma," potong Ardo pada perkataan Elif. "Saat mereka melihat Jinan ataupun Ardo menggendong seorang anak, mereka pasti akan berpikiran bahwa Ayla adalah anak kami berdua diluar nikah. Cukup sudah tuduhan itu dialami Jinan saat di kampung halamannya dulu, Ardo tidak ingin hal itu terulang kembali. Dan menurut Ardo, apa yang Papa katakan di akhir kalimatnya itu sudah cukup untuk mengancam mereka dan membuat mereka semua mengerti."
Elif menatap ragu pada anak dan suaminya, kemudian pandangannya beralih pada Jinan yang saat ini sedang menatap ke arahnya dengan tersenyum tipis.
"Jinan tidak apa-apa, Ma. Apa yang dikatakan Ardo dan Papa Basir ada benarnya juga."
Setelah dipikir-pikir, sepertinya ia setuju dengan apa yang suaminya itu katakan. Lebih baik mereka mengetahuinya secara langsung, dari pada mereka menebak sendiri dan menuduh yang tidak-tidak tentang hubungannya bersama Ardo. Karena menurutnya, jika itu yang terjadi, bukan dirinyalah yang sebenarnya dirugikan, melainkan keluarga suaminya. Ia tidak boleh egois dengan memikirkan dirinya sendiri. Biarlah orang-orang merendahkan ia yang pernah menjanda, karena itu jauh lebih baik dari pada anaknya yang harus dituduh sebagai anak haram, hasil dari hamil diluar nikah.
__ADS_1
Elif menghela nafasnya. "Yasudah, terserah kalian saja."
...
Seharian ini Jinan hanya menemani Ardo yang sedang bekerja di kantor bersama Ayla. Sementara kedua orang tua Ardo, mereka sudah pergi satu jam yang lalu. Sembari menunggu Ardo menyelesaikan pekerjaannya, Jinan bermain bersama Ayla di sofa tamu depan meja Ardo.
"Ar," seru Jinan dari sofa.
Mendengar namanya dipanggil, Ardo segera menghentikan pekerjaannya dan menatap pada istrinya yang memanggilnya.
"Kenapa, Sayang?"
"Dapur kantor ini di mana?"
"Dapur?" Jinan mengangguk. "Setiap lantai ada dapurnya, tapi untuk apa kau menanyakan dapur?"
"Aku ngantuk, aku ingin membuat kopi."
"Tidak perlu ke dapur. Aku akan minta pegawai mengantarkannya ke sini."
Ardo bangkit dari duduknya, menghampiri istrinya dan mendudukkan tubuhnya tepat di samping tubuh istrinya itu. Ia genggam tangan mulus istrinya dengan erat. "Sayang, maafkan aku karena sudah membuatmu bosan. Ayo, kita makan siang saja."
"Ar." Jinan menghentikan Ardo yang ingin mengajaknya pergi. "Pekerjaanmu belum selesai, bagaimana mungkin kita pergi makan siang."
"Tidak masalah, aku bisa mengerjakannya nanti."
"Selesaikanlah pekerjaanmu. Waktu makan siang setengah jam lagi, aku bisa menunggu. Kau tenang saja, aku tidak keberatan menunggumu di sini. Sebaiknya kau lanjutkan pekerjaanmu sekarang, aku ingin ke dapur dulu."
Jinan berdiri hendak keluar dari ruangan itu, namun langkahnya terhenti saat Ardo menarik lengannya.
"Berikan Ayla padaku."
Jinan mengernyitkan keningnya. "Kau harus be–"
"Aku bisa, Ji. Atau kau mau Ayla terkena air panas di dapur?"
"Baiklah."
__ADS_1
Jinan menyerahkan Ayla pada Ardo, ia segera melangkahkan kakinya keluar ruangan untuk menuju dapur. Sepanjang perjalanannya ke dapur, Jinan merasa sedikit gugup saat orang-orang yang melihatnya terlihat hormat kepadanya.
"Permisi," seru Jinan pada salah seorang pria yang melintas di hadapannya.
"Ya, Nyonya?"
"Em, saya mau tanya, dapur di mana ya?"
"Di sana, Nyonya." Pria tersebut menunjuk pada ruangan yang ada di samping mushollah.
"Terima kasih," ujar Jinan dengan tersenyum manis.
"Em, sama-sama, Nyonya," ujarnya dengan sedikit menunduk sebagai bentuk penghormatan. Namun hal itu justru membuat Jinan merasa tidak enak hati.
******
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
Piupiu, see u nxt bab 😘
******
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
Piupiu, see u nxt bab 😘
__ADS_1