Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 58


__ADS_3

Baru saja Jinan memarkirkan motornya di halaman rumah itu, pandangan Jinan tiba-tiba saja bertemu dengan pandangan seorang pria yang sedang menatap ke arahanya dengan wajah terkejut.


"Astaga, Mas Romi," gumam Jinan pelan.


Jinan membeku saat Romi berjalan menghampirinya. Jantungnya mulai tak karuan saat jaraknya dengan pria itu sudah semakin dekat.


"Kak Jinan, itu mantan suami Kakak, kan?"


Pertanyaan serta sentuhan tangan Hana pada lengannya membuat Jinan tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum kaku pada Hana tanpa menjawab pertanyaan wanita itu. Dan tanpa diduga ternyata Romi sudah berada dua langkah di hadapan mereka berdua.


"Jinan," seru Romi 


"Eh ... em, saya mau mengantar pesanan bolu. Apa benar ada yang memesan bolu sebanyak 10 loyang di sini?" tanya Jinan tanpa menatap wajah Romi.


Romi menatap ke arah Hana tanpa menghiraukan pertanyaan Jinan.


"Bisa tolong kamu masukkan bolu-bolu ini ke dalam?"


Hana yang melihat tatapan Romi yang seolah mengatakan bahwa ia ingin berbicara berdua dengan Jinan akhirnya mengiyakan ucapan Romi. Jinan dan Hana meraih masing-masing lima kantong bolu dan hendak membawanya ke dalam, namun dengan cepat Romi menghentikan langkah Jinan dengan menggenggam kantong bolu yang ada di tangan kanan Jinan tanpa merebutnya.


"Bisa kita bicara sebentar," ujar Romi.


"Maaf, aku harus membawa bolu ini masuk," ujar Jinan tanpa menjawab ucapan Romi.


Romi meraih lima kantung bolu yang ada di tangan Jinan, kemudian matanya menatap ke sekeliling rumahnya.


"Pak Asep, bisa tolong bantu bawakan bolu ini ke dalam?" tanya Romi kepada salah satu seorang pria paruh baya yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.


"Bisa, Pak," ujar pria bernama Asep itu.


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri," ujar Jinan yang hendak meraih kembali kantung berisi bolu di tangan Romi.


"Ada yang ingin aku bicarakan, Ji. Aku mohon," ujar Romi dengan wajah memohonnya.


Karena tidak ingin berdebat dengan Romi dan menjadi bahan tontonan orang-orang di sana, Jinan akhirnya membiarkan saja apa yang ini lelaki itu lakukan. Setelah pak Asep dan Hana pergi, Romi menatap Jinan dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ji."


Jinan tak menyahuti panggilan dari Romi, ia hanya menunduk sembari memainkan ujung bajunya dengan perasaan yang tak menentu.


"Jinan, bisakah kita bicara berdua?"


"Bicaralah di sini," ujar Jinan tanpa menatap Romi.


"Ji, ke mana saja kamu selama satu tahun ini?" tanya Romi basa-basi.


"Maaf Mas, sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan padaku? Katakanlah, tidak perlu berbasa-basi karena waktuku tidak banyak," ujar Jinan tanpa berniat menjawab pertanyaan Romi.


"Jinan maafkan aku, maafkan semua kesalahanku padamu."


"Aku sudah memaafkanmu, tidak perlu meminta maaf lagi, semuanya sudah menjadi takdir untukku. Semoga kali ini mas tidak mempermainkan pernaikahan mas lagi. Aku berdoa semoga pernikahan kalian langgeng hingga ke surganya Allah," ujar Jinan yang masih dengan posisinya menundukkan kepala.


Romi menelan ludahnya mendengar doa dari Jinan. Mungkin doa yang Jinan berikan untuknya terkesan indah, tapi entah kenapa kata-kata yang keluar dari mulut Jinan terdengar menakutkan di telinganya. Romi menghela nafasnya dan berusaha membuang semua pikiran buruk dikepalanya.


"Jinan, apakah saat ini kamu sudah kembali ke rumahmu?" tanya Romi lagi.

__ADS_1


Jinan menganggukkan kepalanya tanpa berucap.


"Apakah ... apakah anakku juga ada di rumahmu?" tanya Roni sedikit ragu, namun pertanyaan itu berhasil membuat Jinan mendongak menatap kearah pria itu.


Jinan belum menjawab pertanyaan Romi, ia masih terdiam sembari menatap ke arah pria itu. Ia bingung harus menjawab apa pertanyaan dari Romi. Ia tidak mungkin berbohong, sudah cukup kebohongannya selama ini yang sudah menghancurkan hidupnya. Dan untuk jujur pun Jinan sedikit ragu, ia takut jika semua pikiran buruknya selama ini akan menjadi kenyataan jika Romi mengetahui keberadaan anaknya.


Meski sebenarnya ia tidak mau berpikiran buruk mengenai hal ini, tapi tetap saja perasaannya saat ini tidak bisa dibohongi. Ia sungguh takut jika harus kehilangan satu-satunya harta berharga yang ia punya selain rumah peninggalan orangtuanya, yaitu anaknya. Dengan beristighfar sebanyak-banyaknya di dalam hati, Jinan akhirnya memutuskan untuk jujur saja kepada Romi.


"Ya," jawab Jinan singkat.


"Ji, aku ingin bertemu anakku, Ji. Izinkan aku bertemu anakku, aku ingin melihat wajahnya. Aku ... aku merindukannya, aku mohon, Ji."


"Mas, aku tidak akan pernah melarang kamu untuk bertemu dengan anakku. Tapi maafkan aku, untuk saat ini aku belum siap mempertemukan kamu dengan anakku, Mas," ucap Jinan seraya menundukkan kepalanya kembali.


Romi menatap nanar ke arah Jinan. Ia sangat ingin bertemu dengan anaknya, tapi ia juga tidak bisa memaksa Jinan. Rahasianya saat ini ada bersama Jinan. Ia tidak mau jika sampai ia memaksa, maka Jinan akan membocorkan rahasianya kepada kedua orang tuanya. 


Dengan terpaksa Romi akhirnya menuruti saja kemauan Jinan. Ia yakin cepat atau lambat Jinan pasti akan mempertemukannya dengan anaknya.


"Boleh aku tahu siapa nama anakku?" tanya Romi penuh harap.


"Namanya Ayla. Ayla Azizah."


Romi tersenyum tipis. "Baiklah, aku akan menunggu kabar darimu untuk kamu mempertemukan aku dengan anakku."


Jinan menganggukkan kepalanya pelan. Tak lama dari itu Hana terlihat berjalan keluar dari dalam rumah Romi. Jinan hendak berpamitan dengan Romi untuk pulang, namun belum juga ia berbalik badan, tiba-tiba saja namanya dipanggil dari arah teras rumah Romi.


Jinan terkejut saat melihat Putra dan Linda yang sedang berdiri di sana dengan menatap ke arahnya. Tubuhnya membeku, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghindari semua yang ingin ia hindari. Semua yang ia takutkan kini sudah ada di depan mata. Setelah Romi yang ia temui, kini kedua orang tua pria itu pun menghampirinya. 


Tanpa menghilangkan rasa hormatnya kepada orang yang lebih tua darinya, Jinan membalas tatapan kedua orang tua itu dengan senyuman yang terlihat sedikit dipaksakan. Tak lupa ia mencium punggung tangan Linda setelah kedua orang itu berada di hadapannya.


"Kamu di sini, Jinan?" tanya Putra.


"Jadi bolu-bolu itu buatan kamu, Ji" tanya Putra.


"Ya, Om. Em, maaf, sepertinya Jinan sudah harus pergi, Jinan tidak bisa berlama-lama meninggalkan rumah," pamit Jinan dengan tergugup. Ia tidak bisa berlama-lama berada di sana dengan kecanggungan yang membuatnya gerah.


"Anakmu dengan siapa jika kamu pergi ke sini, Ji?"


Jinan menatap kearah Linda yang sedang menundukkan pandangannya sejenak, kemudian ia mengalihkan kembali pandangannya kepada Putra.


"Dia bersama mami Sila di rumah, Om."


Mendengar kata 'Mami' dari mulut Jinan, membuat Putra merasa sangat bersalah. Seharusnya Jinan memanggilnya Papa, bukan Om. Tapi karena masalah yang belum diketahui apa penyebabnya ini, membuat hubungan mereka kini menjadi renggang.


Jujur saja, Putra masih berharap Jinan menjadi menantunya. Tapi Aurel? Wanita itu juga merupakan wanita baik. Dan sepertinya Romi dan Aurel juga saling mencintai. Ia tidak boleh egois dengan keadaan saat ini.


"Baiklah, kamu hati-hati di jalan ya."


Jinan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Baru saja ia berbalik badan dan hendak meraih kunci motornya, tiba-tiba saja ia mendengar suara Linda yang memanggil namanya. Ia sempat terdiam sejenak sebelum membalikan badannya menatap ke arah Linda dengan perasaan tak menentu.


"Jinan, Ma ... maafkan ... maafkan Mama, Nak. Maafkan mamah yang sudah menuduh kamu macam-macam mengenai kehamilan kamu. Maafkan mama," ucap Linda sembari meneteskan air matanya.


Sudah dua hari belakangan ini Linda selalu mendapatkan nasihat dari suaminya untuk tidak berpikiran yang macam-macam lagi kepada Jinan. Putra juga menyarankan istrinya itu untuk sholat malam dan meminta ketenangan serta petunjuk pada Allah atas semua pikiran buruknya kepada Jinan. Dan alhamdulillah, perlahan Linda mulai mau membuka hatinya untuk meminta maaf kepada Jinan atas segala tuduhan yang pernah ia tujukan kepada wanita itu.


Apalagi semenjak ia melihat wajah baby Ayla yang sangat mirip dengan wajah Romi sewaktu kecil, membuat Linda yakin bahwa Ayla adalah cucu kandungnya. Dan seperti apa yang Putra katakan juga, ia tidak ingin lagi menyesal atas kesalahan yang pernah ia lakukan untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Jinan menundukkan kepalanya, sungguh ia sangat tidak bisa jika harus melihat seorang ibu menangis, apalagi tangisan itu tertuju padanya. Jinan menghela nafasnya, kemudian ia menatap ke arah Linda.


"Tante, Jinan sudah memaafkan Tante sejak lama. Tante tidak perlu minta maaf pada Jinan." 


Romi yang masih berada di sana pun terlihat heran dan tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi saat ini. Ia bingung kenapa mamanya bisa sampai menangis dan meminta maaf kepada Jinan seperti itu. Apa mamanya sudah tahu yang sebenarnya, pikir Romi cemas.


"Apa yang sedang terjadi sebenarnya," batin Romi penasaran.


Jinan yang tak ingin berlama-lama berada di situasi seperti ini akhirnya berpamitan untuk pulang kepada Romi dan kedua orang tuanya.


Setelah kepergian Jinan, Linda memeluk suaminya dengan menumpahkan tangisnya yang sempat tertahan. Sebenarnya ia ingin menanyakan tentang keadaan cucunya kepada Jinan, tapi ia cukup malu untuk menanyakan hal itu sekarang, saat ia baru saja meminta maaf kepada Jinan.


"Ma, Pa. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mama menangis dan meminta maaf kepada Jinan?" tanya Romi penasaran.


Linda tak menanggapi pertanyaan Romi, ia masih dengan isak tangisnya dalam pelukan Putra. Sedangkan untuk Putra sendiri, ia hanya menganggukan kepalanya kepada Romi, memberi kode kepada anaknya untuk tidak menanyakan hal itu sekarang.


Melihat mamanya yang sepertinya terlihat sangat sedih, Romi akhirnya mengubur saja rasa penasarannya untuk saat ini. Ia akan menanyakan hal ini nanti saja setelah suasana hati mamanya kembali membaik.


 


 


***


 


 


Malam hari di kediaman Jinan.


Jinan masih terpikir akan kejadian siang tadi di rumah Romi. Ia bingung, takut, sekaligus senang dengan perlakuan Linda yang tidak seperti biasanya. Tidak ada hinaan, tuduhan, ataupun pertanyaan yang menyudutkannya. Tapi ia masih tidak mengerti kenapa Linda sampai seperti itu padanya.


Jinan tidak ingin berpikiran buruk atas perlakuan Linda tadi siang kepadanya, ia berharap semoga saja kejadian tadi siang adalah awal baik bagi hubungannya kepada mantan keluarga suaminya. Meskipun Jinan masih kecewa dengan perlakuan keluarga itu, tapi Jinan tidak ingin menaruh dendam sedikitpun kepada orang yang sudah menyakitinya. Ia percaya apapun yang orang lain lakukan kepadanya, entah itu baik ataupun buruk, ia yakin bahwa Tuhan pasti akan membalas segala sesuatu sesuai dengan apa yang mereka lakukan.


Saat Jinan hendak melakukan sholat malam sebelum tidur, ponsel Jinan yang ada di atas nakas tiba-tiba saja bergetar. Karena tidak ingin menunda waktu sholatnya karena ia sudah sangat mengantuk dan ingin cepat-cepat tidur, akhirnya Jinan mengabaikan notifikasi di ponsel-nya itu dan melanjutkan niatnya kembali untuk segera melaksanakan sholat malam. 


Lima belas menit Jinan berkutat dengan ibadah malamnya. Saat ia hendak memejamkan matanya, tiba-tiba saja Jinan teringat notifikasi yang masuk ke ponselnya tadi. Dengan penasaran, Jinan meraih ponselnya dan melihat ada satu pesan masuk dari kontak bernama 'Evardo' pada aplikasi WhatsApp.


Mata Jinan yang tadinya mengantuk kini menjadi segar kembali ketika ia melihat isi dari pesan yang Ardo dikirimkan kepadanya.


'Assalamualaikum, Jinan. Maaf jika aku menghubungimu malam-malam seperti ini. Semoga saja aku tidak mengganggu waktu tidurmu. Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa dua hari lagi aku akan datang ke rumahmu bersama keluargaku untuk melamarmu. Aku harap saat kau membaca pesan ini kau tidak terkejut, karena ini bukanlah kejutan yang sesungguhnya.'


   


  


******


  


 


  


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕

__ADS_1


Piupiu, see u nxt bab 😘


 


__ADS_2