
Berhubung rumah Jinan tidak memiliki ruangan khusus untuk sholat, jadi Ardo terpaksa sholat di ruang tamu, sedangkan Elena sholat di kamar Jinan.
"Kakak sholatlah juga, masakannya sebentar lagi sudah matang kok. Setelah ini baru aku sholat."
Jinan menganggukkan kepalanya dan berlalu untuk segera melaksanakan sholat dzuhur.
Tepat pukul 12.30 siang, Jinan, Ria, Elena beserta Ardo sudah duduk di meja makan untuk menyantap makan siang bersama. Baru saja Jinan hendak memasukkan nasi ke dalam piringnya, tiba-tiba suara tangis baby Ayla dari dalam kamar membuat Jinan mengurungkan niatnya dan segera pergi ke dalam kamar untuk menenangkan anaknya yang sedang menangis itu.
"MasyaAllah, sayangnya Mama lapar ya, Nak? Iya-iya, kita minum susu oke," ujar Jinan kepada bayi mungil itu.
Belum lama baby Ayla meneguk makannya, tiba-tiba saja bayi mungil itu kembali tertidur. Saat Jinan meletakkan kembali baby Ayla pada tempat tidurnya, saat itu juga baby Ayla kembali terbangun dan menangis. Saat Jinan kembali memberi ASI kepada baby Ayla, ternyata bayi mungil itu menolak makanannya. Dan saat Jinan menggendong kembali baby Ayla, bayi mungil itu kembali berhenti menangis.
Jinan menghela nafas, lebih baik ia membawa saja baby Ayla ke meja makan agar ia bisa melanjutkan kembali makan siangnya yang sempat tertunda, karena saat ini ia sudah sangat lapar. Setelah Jinan sampai di meja makan, ternyata Elena dan Ardo belum menyantap makan siangnya, sedangkan Ria sendiri sudah asik mengunyah makan siangnya tanpa memedulikan sekitarnya.
"Kenapa kalian belum makan?" tanya Jinan heran.
"Kita menunggumu, Ji," ujar Elena.
"Astaga, kenapa harus menungguku? Makan saja, aku bisa menyusul. Ria saja sudah memulai makannya, kenapa kalian tidak ikut makan juga," ujar Jinan sembari mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Nih anak memang kurang ajar. Tuan rumahnya belum makan tapi dia sudah makan duluan," cibir Elena.
Ria mendongakkan kepalanya saat mendengar perkataan Elena.
"Hello, aku juga tuan rumah di sini. Dan semua makanan di atas meja ini, aku yang memasaknya. Lagian juga aku mau pergi kuliah setengah jam lagi, jadi aku tidak ada waktu menunggu kalian."
Elena memutar bola matanya tak peduli dengan ucapan Ria, sedangkan Jinan hanya tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, kalian makan lah. Nanti makanannya menjadi dingin kalau kelamaan dianggurin."
"Oke," sahut Elena.
Ardo yang masih diam tanpa menyentuh makanannya pun membuat Jinan menatap ke arahnya.
"Kenapa kau tidak makan?" tanya Jinan.
"Suhu tubuhnya lumayan tinggi, kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?" tanya Ardo.
Jinan menatap baby Ayla sejenak. "Em, aku tidak ingin membiasakan diri untuk berpangku tangan pada rumah sakit."
"Kenapa?" tanya Ardo dengan mengernyitkan keningnya.
"Kak Jinan sudah dibiasakan oleh paman Dodi dan Bibi Caty untuk tidak pergi ke rumah sakit jika sedang sakit. Apalagi hanya demam biasa. Kata paman Dodi, jika sakit lebih baik segera minta pertolongan Allah, dan juga makan atau minum minuman herbal saja. Kalau penyakitnya semakin menjadi barulah dibawa ke klinik, yang penting Allah first."
__ADS_1
Ardo, Elena, dan Jinan menatap ke arah Ria. Ya, yang mengatakan itu bukanlah Jinan, melainkan Ria.
"Kemarikan anakmu, kau makanlah lebih dulu," ujar Ardo dengan tiba-tiba.
"Hah?" seru Jinan bingung.
Ardo bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri kursi di mana Jinan duduk. Sedangkan Jinan menatap Ardo bingung sampai pada pria itu sudah berada di sampingnya.
"Kau akan kesulitan makan jika terus menggendong anakmu. Ayo kemarikan anakmu, aku akan menggendongnya selama kau makan," ujar Ardo sembari mengulurkan tangannya.
"Tidak perlu merepotkan diri seperti itu, aku bisa makan sendiri nanti. Kalian makan saja."
"Aku tidak bisa membiarkan seorang wanita menahan lapar, sedangkan aku sendiri sedang asik menyantap makanan yang berasal darinya."
"Kak Jinan makanlah. Saat sarapan tadi 'kan Kak Jinan hanya makan sedikit, pasti sekarang sudah sangat lapar. Apa lagi Kakak harus memberi ASI pada baby Ayla, Kakak pasti membutuhkan banyak asupan," seru Ria yang setuju dengan ucapan Ardo.
"Benar, Ji. Kau makanlah saja. Ardo itu laki-laki, dia bisa makan nanti-nanti," sambung Elena.
Jinan yang saat itu memang sudah sangat lapar, tanpa pikir panjang ia berdiri dan berjalan menuju sofa ruang tamu. Ardo, Ria, serta Elena yang melihat Jinan pergi pun tampak bingung.
"Jinan, kau mau ke mana?" tanya Elena.
Jinan tak menghiraukan pertanyaan Elena, ia terus saja berjalan dan berhenti di depan sofa ruang tamu. Saat Jinan meletakkan baby Ayla pada sofa double, saat itu juga tangis baby Ayla kembali pecah. Namun kali ini Jinan tidak meraih tubuh bayi mungil itu, melainkan ia berdiri dengan menatap ke arah Ardo.
Jinan Menggerakkan kepalanya bermaksud memberi kode kepada Ardo agar pria itu menghampirinya. Namun sayang, sepertinya Ardo tidak mengerti maksud dari Jinan.
Mendengar ucapan Jinan tersebut, Ardo langsung saja berjalan cepat menghampiri Jinan dan meraih tubuh mungil baby Ayla ke dalam rengkuhannya. Dan saat itu juga, baby Ayla langsung menghentikan tangisnya. Jinan menghela nafasnya sambil menatap wajah cantik putrinya, ia tidak tahu anaknya itu berhenti menangis karena tidak mau diletakkan di atas kasur atau karena memang bayi mungil itu sudah nyaman dengan sosok Ardo.
"Jaga anakku baik-baik, jangan sampai jatuh," ujar Jinan mengingatkan.
"Tenang saja, dia aman bersamaku."
Jinan tak menghiraukan perkataan Ardo, ia meninggalkan Ardo begitu saja menuju meja makan untuk segera menyantap makan siangnya yang telah menunggu.
Sembari menyantap makan siangnya, Jinan terus saja memperhatikan Ardo yang sedang menggendong baby Ayla sambil mengajaknya bermain. Seolah tak percaya jika anaknya aman bersama Ardo. Namun pikiran buruknya terbantahkan saat melihat putrinya tertidur lelap dalam pelukan Ardo. Sepertinya pria itu sudah berpengalaman mengasuh anak kecil jika dilihat dari caranya menimang baby Ayla, pikir Jinan. Tanpa sadar, sebuah senyuman tipis tiba-tiba terbit di wajah wanita berhijab hijau botol itu.
Ria dan Elena yang melihat Jinan terus saja memperhatikan Ardo sambil tersenyum pun kini saling pandang dengan tersenyum geli.
Eheemm ...
Jinan menatap terkejut pada Ria dan Elena saat kedua orang itu berdehem ke arahnya dalam waktu yang bersamaan.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang mulai tertarik nih dengan pesona seorang pria asal Turkey yang sedang menimang seorang bayi perempuan," celetuk Elena tanpa menatap ke arah Jinan.
"Hah?" Jinan terlihat bingung dengan ucapan Elena. Apa maksudnya? Begitulah pikirnya.
"Kakak mulai suka ya dengan Kak Ardo?" tanya Ria dengan nada menggoda.
"Hah?" Jinan terkejut dengan ucapan Ria. Suka?
"Jangan asal bicara. Siapa yang suka?" ujar Jinan yang masih belum menyadari tingkahnya beberapa menit lalu.
"Kakak dari tadi memandang Kak Ardo dengan tersenyum. Apa lagi kalau bukan suka? Cinta kah?" goda Ria lagi.
"Hah?" Jinan semakin tak mengerti maksud dari kedua wanita itu. Ia memandang Ardo dengan tersenyum? Yang benar saja, pikirnya.
"Kalian salah lihat. Siapa juga yang tersenyum menatapnya," bantah Jinan.
"Suka juga tidak apa-apa, Ji. Apa lagi cinta. Bukankah itu bagus?" goda Elena.
"Betul tuh, Kak. Bukankah dengan begitu baby Ayla akan segera memiliki papa?" ujar Ria yang ikut menggoda.
Jinan menggelengkan kepalanya pusing. Bukan pusing karena sakit, melainkan pusing dengan tingkah berlebihan kedua wanita itu.
"Kamu tidak mau kuliah, Ri? Ini sudah hampir jam satu loh," ujar Jinan bermaksud menghentikan percakapan konyol kedua temannya itu.
Ria melirik jam dinding di atas pintu kamar, kemudian ia membelalakkan matanya dengan terkejut.
"Astaga sudah jam satu. Aku harus pergi, aku harus pergi," pekik Ria dengan paniknya.
Ia berlarian kesana kemari sembari mengumpulkan barang-barang yang akan ia bawa ke kampus. Elena dan Jinan hanya tertawa saja melihat kepanikan Ria, sedangkan Ardo yang ada di sofa hanya menatap heran pada Ria.
"Semuanya, aku pergi. Assalamu'alaikum," teriak Ria dengan berlari menuju pintu.
"Wa'alaikumsalam," sahut ketiga orang yang berada di dalam rumah tersebut.
Saat Ria membuka pintu, ia terkejut dengan kedatangan Rico dan kedua orang tuanya yang sudah ada tepat di depan pintu rumahnya.
"Astaga Bibi. Mengagetkan saja," ujar Ria dengan mengusap dadanya.
"Kenapa terburu-buru, Ri? Kamu mau ke mana?" tanya Ira.
"Mau kuliah, Bi. Oh ya, aku pergi dulu ya, sudah telat banget ini. Paman, Kak Rico, aku pergi ya. Assalamu'aikum."
Ria berlari menjauh setelah berpamitan dan mencium punggung tangan Marco dan Ira.
__ADS_1
******
Tengkyu bagi yang sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘