Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 22


__ADS_3

Malam harinya saat Jinan dan Ria sedang makan malam bersama, Jinan menanyakan pada Ria perihal bunga mawar merah yang ia lihat didepan rumahnya tadi siang.


"Aku tidak sedang dekat dengan siapapun kok, Kak. Pacarku juga bukan tipe pria yang suka mengirim bunga, apalagi dengan cara diam-diam seperti itu," ujar Ria pada Jinan.


"Kok aneh ya," gumam Jinan pelan.


"Terus, bunganya mana?" tanya Ria.


"Tuh di meja," tunjuk Jinan pada meja ruang tamu mereka. "Tadinya sih mau Kakak buang. Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin saja orangnya salah rumah, jadi Kakak simpan saja deh. Siapa tahu orang itu bakal balik lagi ke sini buat ambil tuh bunga," jelas Jinan.


"Hem, bisa jadi sih," ucap Ria membenarkan.


Karena merasa bunga itu berasal dari orang yang salah kirim, Jinan maupun Ria tidak memedulikan lagi akan siapa pengirim bunga mawar tersebut.


Namun dua hari kemudian, statement salah orang yang sempat mereka kira pun terbantahkan karena sudah dua hari ini setangkai bunga yang sama persis seperti kemarin siang yang ditemukan Jinan, kini kembali Jinan dapatkan di depan pintu rumahnya.


"Apakah mungkin ada orang yang salah alamat sebanyak tiga kali?" batin Jinan heran.


Tidak mungkin ada orang yang salah kirim sebanyak tiga kali berturut-turut seperti ini. Jelas hal ini merupakan sebuah kesengajaan, pikir Jinan.


Karena tidak tahu siapa dan apa motif orang yang mengiriminya bunga tersebut, akhirnya Jinan dan Ria pun sepakat untuk membuang saja bunga-bunga itu ke tempat sampah yang ada di depan rumah mereka.


Selama satu bulan berturut-turut ini, Jinan tak pernah seharipun absen mendapatkan kiriman bunga mawar merah dari seseorang yang tidak ia ketahui siapa pengirimnya. Dan selama itu juga, Jinan selalu mengabaikan bunga-bunga yang mengotori teras rumahnya itu dengan membuang semua bunga-bunga itu ke kotak sampah yang ada di depan rumah.


Jinan sangat heran, apa maksud dari orang yang mengiriminya bunga mawar merah tersebut ke rumahnya setiap hari. Jika bunga itu memang ditujukan padanya atau pada Ria, kenapa orang itu tidak langsung saja memberikannya padanya atau pada Ria? Kenapa harus dengan cara sembunyi-sembunyi seperti ini.


"Mungkin saja dia salah satu penggemar Kakak yang tidak berani menampakan wajahnya pada Kakak, " ujar Ria saat Jinan menceritakan kembali padanya tentang bunga mawar yang Jinan dapatkan kemarin siang di depan rumah mereka.


"Maksud kamu Kakak punya penggemar rahasia, begitu?" tanya Jinan dan diiyakan Ria.


"Ada-ada saja," gumam Jinan tak percaya.


"Kalau bukan penggemar rahasia, apa dong namanya? Jelas-jelas orang itu setiap hari mengirimi Kakak bunga mawar merah. Sudah pasti dia penggemar Kakak," ujar Ria.


"Yang tinggal di rumah ini 'kan bukan cuma Kakak seorang Ri, tapi kita berdua. Siapa tahu orang itu mengirimi bunga ini untuk kamu, bukan untuk Kakak,"  ujar Jinan yang sedikit masuk akal. Yang tinggal di rumah ini memang ada dua orang, dan si pengirim juga tidak memberitahu untuk siapa bunga tersebut ditujukan.


"Udahlah, dari pada kita mikirin si pengirim bunga yang tidak jelas itu, lebih baik kita ke restoran saja sekarang. Katanya bosan di rumah terus, ayo berangkat sekarang. Kasihan Kak Rico nungguin di mobil," ajak Ria pada Jinan yang memang saat itu sudah bersiap akan pergi ke restoran miliknya.


  


...


Setiba di depan restorannya, Jinan dan Ria segera turun dari mobil yang dikendarai Rico. Mereka sengaja mengajak Jinan naik mobil menuju restonya, karena biasanya wanita itu selalu berjalan kaki dari rumahnya menuju resto, namun untuk saat ini, Ria tidak mengizinkan Jinan untuk berjalan kaki. Apalagi dengan baby Ayla dalam gendongannya.


"Bagaimana jika Kakak kecapekan? Terus, sangkin capeknya, Kakak jadi setres. Terus karena setres, ASI Kakak jadi nggak keluar? Terus, kalau ASI Kakak nggak keluar, baby Ayla makan apa? Susu formula?" ujar Ria memberi alasan yang memusingkan kepala Jinan. Dan mau tidak mau, Jinan harus menuruti kemauan Ria agar wanita itu berhenti mengomel.


Saat memasuki restoran, mata Jinan tak sengaja langsung berhadapan pada mata seorang pria tampan yang sudah lama tidak ia temui. Pria yang selama dua minggu lebih berturut-turut terus mengganggunya dengan menawarkan sebuah tawaran yang tidak masuk akal menurutnya. Pria itu tak lain adalah Evardo Rafandra.


Seharusnya, setelah menyelesaikan makan siangnya itu, Ardo akan kembali mengunjungi kediaman Jian dan memberikan bunga mawar merah lagi pada wanita itu. Namun siapa sangka jika wanita itu sekarang sudah ada di hadapannya sembari menggendong seorang bayi mungil yang ... entaha, Ardo tidak bisa melihat wajah bayi itu karena saat ini bayi itu sedang digendong dengan posisi menghadap ke arah Jinan.


Ardo tersenyum tipis -nyaris tak terlihat- kepada Jinan, namun sayang sekali wanita itu hanya menatap datar pria tampan itu, lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Sebagian pegawai Jinan yang ada di sana terlihat antusias saat melihat kehadiran bos mereka yang sudah satu bulan ini tidak kelihatan kecuali jika mereka sedang mengantar makanan ke rumahnya.


"Nona, apa Anda sudah lebih baik sekarang?" tanya seorang wanita dengan profesi sebagai pramusaji.

__ADS_1


Jinan tersenyum. "Saya sudah lebih baik. Terima kasih," jawab Jinan singkat.


"MasyaAllah, cantik sekali baby Ay," puji seorang pria dengan profesi sebagai pramusaji pada baby Ayla.


Jinan tersenyum senang akan pujian yang diberikan pegawainya pada puterinya. "Terima kasih."


"Apa kalian mau makan gaji buta? Ayo kembali bekerja," ujar Rico tegas kepada para pegawai yang mendekati Jinan.


Tanpa berani untuk protes, akhirnya mereka semua membubarkan diri dari hadapan Jinan. Bahkan sebagian pegawai yang hendak mendekati Jinan pun mengurungkan niatnya untuk mendekat ketika mendengar ucapan Rico.


"Kamu kenapa sih, Co? Biarkan saja," ujar Jinan membela para pegawainya.


"Iya, Kak Rico kenapa sih, marah-marah mulu. Sensi banget," ujar Ria dalam bahasa Indonesia.


Jinan menggelengkan kepalanya, ia hendak berjalan menuju ruangannya. Namun langkahnya terhenti saat seorang pria dari arah belakang memanggil namanya.


"Jinan."


Rico dan Jinan terlihat mengerutkan keningnya saat melihat siapa yang memanggil Jinan. Sedangkan Ria hanya menatap kagum akan pria di hadapan mereka itu.


"Astaga, sudah lama sekali aku tidak melihat pria tampan ini," batin Ria dalam hati.


"Pria ini? Ada apa lagi dia menemui Jinan," batin Rico kesal.


"Astaga. Kenapa lagi dengan pria ini? Apa dia masih mau menawarkan hal konyol itu lagi padaku?" batin Jinan menebak.


Ketiga orang itu membatin dengan pikirannya masing-masing saat melihat kedatangan Ardo.


"Bisa bicara berdua?" ujar Ardo membuyarkan lamunan ketiga orang itu.


Ardo menatap heran kepada asal suara tersebut. Suara yang ternyata berasal dari Rico, bukan Jinan.


"Maaf, saya bicara pada Jinan, bukan dengan Anda," ujar Ardo datar kepada Rico.


"Jinan adalah saudaraku. Berbicara dengan Jinan itu artinya berbicara denganku juga. Jika ingin berbicara dengannya, berbicaralah di depan kami juga."


"Saudara? Saudara dari mana?" tanya Ardo dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Sa–"


"Sudah, sudah. Rico, Ria, kalian duluanlah ke ruanganku, aku ada urusan dengan pria ini," potong Jinan saat Rico hendak bersuara. Dari pada mereka berdua berdebat terus, lebih baik ia menuruti saja kemauan pria asing itu. Mungkin saja pria itu ingin membicarakan hal lain, selain tawaran konyol yang pernah ia tawarkan padanya.


"Tapi, Ji–"


"Tidak apa. Mungkin dia hanya ingin menawarkan kerjasama saja denganku. Kalian masuklah," potong Jinan lagi pada Rico yang hendak protes.


Rico menghela nafasnya kesal, dengan terpaksa akhirnya ia berlalu dari sana menuju ruangan Jinan.


"Ri," seru Jinan pada Ria yang masih berdiri di sana menatap Ardo.


"Ah?"


Jinan menaikkan kedua alisnya sebagai kode.


"Ah ya, aku pergi."

__ADS_1


Ria berbalik hendak pergi dari sana, namun belum juga berjalan, Ria kembali membalikkan tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Jinan.


"Baby Ayla biar aku yang gendong ya, Kak. Nanti takutnya mengganggu," ujar Ria.


"Oh, oke."


Jinan memberikan baby Ay serta gendongan koalanya pada Ria. Setelah memastikan Ria masuk ke dalam ruangannya, Jinan menatap Ardo dengan tatapan datar.


"Bicaralah," ucap Jinan.


"Tidak mau duduk?" tanya Ardo.


Jinan memutar bola matanya malas, lalu ia mendudukkan tubuhnya di kursi yang tak jauh dari posisi mereka berdiri tadi.


"Ada apa?" tanya Jinan.


"Anak kamu cantik sekali. Persis seperi Ibunya," puji Ardo mencoba berbasa-basi.


"Tidak perlu berbasa-basi. Katakan saja apa yang ingin kau bicarakan padaku," ujar Jinan.


Ardo menarik salah satu sudut bibirnya. "Bagaimana dengan tawaranku? Apa sekarang kau sudah mengambil keputusan?"


"Berapa kali aku bilang padamu, bahwa aku tidak akan pernah mau mempermainkan sebuah pernikahan hanya demi harta. Jikapun aku harus menutup restoran ini, aku tetap tidak akan mau menerima tawaran konyolmu itu," ucap Jinan tegas disertai emosi.


"Jika begitu, mari kita menikah secara resmi."


Jinan mengernyitkan keningnya tak mengerti akan perkataan pria ini.


"Aku ingin menikah denganmu, Jinan," ucap Ardo dengan wajah seriusnya.


Jinan tertawa sarkas. "Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, lebih baik kau pergi dari sini. Berbicara denganmu selalu tidak pernah masuk akal," gumam Jinan di akhir kalimat.


"Aku serius dengan ucapanku, Jinan. Aku serius ingin menikah denganmu. Tawaran itu hanyalah alasanku agar aku bisa menikah denganmu, tapi ternyata kau berbeda dengan wanita lain. Kau tidak tergoda akan tawaran dariku, dan itu semakin membuatku ingin menikahimu," jelas Ardo.


"Sepertinya kau sudah tidak waras, Tuan ..."


"Ardo. Evardo Raf–"


"Ya, itu maksudku. Sepertinya kau sudah tidak waras, Tuan Evardo. Semua yang kau katakan itu tidaklah masuk di akal bagiku, kau tahu itu," potong Jinan pada Ardo yang ingin meneruskan ucapannya.


"Tidak masuk akal? Tidak masuk akal bagaimana maksudmu? Apakah semua bunga mawar yang kuberi padamu tidak cukup untuk membuktikan keseriusanku padamu?"


Jinan mengernyitkan keningnya. Bunga mawar?


"Jadi ...."


"Ya, bunga itu aku yang sengaja mengirimnya untukmu. Dan dengan sengaja pula bunga itu kau buang ke kotak sampah," jawab Ardo.


   


******


LIKE, COMENT, and VOTEEEE 💕

__ADS_1


__ADS_2